Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 296


__ADS_3

"Ku dengar kau bertengkar dengan Mira," ucap Li, meminta penjelasan dari Elina.


"Ya, dia meragukan keputusan Karina mengenai pernikahan Satya dan Riska. Sebenarnya aku tidak masalah dengan hal itu, tapi aku lepas kendali saat ia mengatakan kita bagai kuda. Selalu menurut tanpa bertanya, sedangkan kau tahu sendiri aku bagaimana bukan?"jelas Elina.


Li tersenyum.


"Aku tahu. Kau hanya melalukan apa yang seharusnya kau lakukan. Tidak perlu takut seandainya Gerry marah. Dan satu lagi, kami termasuk dirimu, sudah pernah menjalani hidup lebih dari kuda. Kuda hanya dibutuhkan tenaga juga kecepatannya, sedangkan kita, nyawapun menjadi taruhan," ujar Li, merangkul pundak Elina.


"Kau menyesal masuk dunia mafia?" Li menggeleng.


"Tidak. Tidak pernah. Aku bahagia dengan apa yang telah aku jalani dan sekarang aku lebih bahagia dengan adanya dirimu di sisiku," jawab Li, mantap.


"Ah kau memujiku?"


"Anggap saja begitu."


*


*


*


Kini Bayu dan Syaka telah berada di depan pintu ruang kerja Karina. 


"Kami dipanggil oleh Queen. Syaka dan Bayu," ucap Syaka kepada pengawal yang menjaga pintu.


Salah seorang pengawal mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan Karina.


"Queen, Syaka dan Bayu meminta izin masuk," ucap pengawal tersebut. 


"Hm."


Karina hanya berdehem, tapi pengawal tersebut sudah mengerti. Ia segera keluar dan mempersilahkan Syaka dan Bayu masuk.


"Queen," sapa Bayu dan Syaka bersamaan. 


"Duduk!"ucap Karina tanpa beralih dari kertas penting yang ia baca. 


"Ada apa Kak kau memanggil kami berdua sepagi ini?"tanya Bayu, ia sepertinya lupa dengan pembicaraan beberapa jam lalu dengan Karina. 


"Tentu saja membahas keputusanmu," jawab Karina.


"Keputusanku?"tanya Bayu menunjuk dirinya sendiri.


Syaka sendiri hanya mengeryit penasaran. Ia tetap duduk sopan, tersentak saat mata Karina menatap dirinya. Syaka merasa kedua telapak tangannya dingin saat Karina tersenyum, perasaan tidak nyaman hinggap di hati Syaka.


"Syaka," panggil Karina.


"Sa-ya Queen," jawab Syaka tergagap.


Bayu menoleh dengan senyum tipis mengejek.


"Aku yakin Li sudah memberitahumu mengenai masa depanmu di sini," ujar Karina.


"Benar. Tuan Li memberitahu saya bahwa setelah tahun baru saya akan pergi ke luar negeri untuk pembelajaran yang lebih serius. Masa depan saya adalah bertanggung jawab melindungi pewaris Pedang Biru. Tuan Li mengatakan bahwa saya akan menjadi pengawal pribadi mereka kelak," ucap Syaka, mengatakan apa yang dikatakan Li padanya.


Karina tersenyum puas.


"Untuk menjadi seorang pengawal bagi pewaris Pedang Biru, bukan hanya harus memiliki keterampilan beladiri yang bagus tetapi juga kecerdasan yang mumpuni. Kamu cenderung ke arah beladiri. Kecerdasan yang kau miliki, hanyalah kecerdasan umum," ucap Karina.


Syaka menunjukkan wajah bertanya.


"Maksudnya yang hanya kamu pelajari di sekolah," ucap Bayu memberitahu.


Syaka mengangguk mengerti.


"Oleh sebab itu, untuk menutupi kekuranganmu itu, kau butuh seorang rekan. Bayu akan menjadi rekanmu."


Karina menatap Bayu. Bayu tersenyum tipis. 


"Bayu? Menjadi rekanku?"tanya Syaka, sangat terkejut. 


Ayolah kami seperti Tom and Jerry. Tapi mengapa kelinci kecil ini tidak menolaknya? Apa dia setuju? Aih lihatlah senyum menyebalkan itu! 


"Aku harap kita bisa akrab!"ucap Bayu, datar. 


Ck. Nada menyebalkan. 


Syaka menggerutu, tapi aku tidak mau, ia hanya bisa menerima titah Karina. Walaupun Bayu sebentar bergabung, Syaka sudah banyak mendengar mengenai sikap Karina dari Li dan Gerry.


Karina tidak akan memutuskan sesuatu tanpa analisis dan hasil yang mantap. Jika begitu, ia dan Bayu hanya perlu berdamai.


"Kalau begitu, aku menerima keputusan ini," ucap Syaka tegas.


Karina mengangguk puas.


"Bayu," panggil Karina.


Bayu mendongak, menatap Karina. 

__ADS_1


"Apa Kak?"


"Kakak sudah menguruskan pengunduran dirimu dari sekolah. Kamu bukan lagi seorang siswa," ucap Karina.


"Secepat itu?"tanya Bayu, membulatkan matanya.


Karina mengangguk.


Bayu tidak heran dengan cepatnya surat pengunduran diri. Karina adalah pemilik sekolah, kepala sekolah tidak akan berani menentang keputusan Karina.


Bayu yakin kepala sekolahnya sangat pusing dengan keputusan kakaknya ini, secara Bayu termasuk anak yang sangat berprestasi. 


"Kakak memang yang terbaik," puji Bayu. Karina tersenyum.


"Kamu cepatlah bersiap. Kita harus ke kediaman keluarga Graham untuk memutus rencana mereka. Setelah itu kau juga harus ke negara A," ucap Karina lagi. 


"Ah benar. Hampir saja aku lupa," seru Bayu, menepuk dahinya sendiri seraya tertawa kecil.


"Ke negara A? Sendirian? Mengapa?"tanya Syaka, penasaran.


"Mengapa? Kau mau ikut? Kalau mau bersiaplah," sahut Bayu. 


"Memang boleh? Eh kau lebih hangat sekarang."


Bayu mendengus. 


"Kalian bersiaplah. Bayu, kau sudah memberitahu ayahmu bukan?"tanya Karina.


Bayu mengangguk.


"Sudah. Ayah setuju, mungkin ia sudah berangkat. Soalnya aku katakan jam 07.00," ucap Bayu tertawa, ia menjahili Enji.


Karina terkekeh.


"Anak nakal."


"Jadi saya boleh ikut?"tanya Syaka memastikan.


"Iya. Segeralah bersiap. Aku juga harus menyelesaikan berkas ini," usir Karina, halus.


Syaka dan Bayu mengangguk. Keduanya izin keluar. Karina menghela nafas lega.


"Akan lebih baik jika mereka pergi bersama. Ikatan tanpa darah terkadang lebih erat daripada ikatan darah," pikir Karina, menutup berkas yang baru saja ia tandatangani.


Karina kemudian minum lalu berdiri dan melangkah keluar ruangan. Ia juga harus bersiap.


Kini mereka berjalan berdampingan menuju kamar masing-masing.


"Ziarah," jawab Bayu.


"Apa kau dilahirkan di sana?"


"Hm. Sebelum ikut dengan Kakak, aku tinggal di panti asuhan. Aku akan ziarah sekalian mengunjungi panti," jelas Bayu.


"Tidak usah menggali lagi. Kau akan tahu dengan sendirinya nanti mengenai diriku. Mengapa kau tidak memperkenalkan dirimu padaku? Ingat, kita ini rekan loh."


Bayu ingin mengenal Syaka lebih dalam.


"Sama seperti yang kau katakan, kau juga akan tahu dengan sendirinya," jawab Syaka dengan tersenyum lebar lalu berlari meninggalkan Bayu yang mengeram kesal.


"Kau tetap menyebalkan!!"pekik Bayu.


*


*


*


Karina mendapati Arion sudah bersiap dengan celana hitam dan kemeja putih bercampur dengan hitam membentuk pola abstrak. Arion yang baru selesai merapikan rambut langsung menyambut Karina dengan pelukan hangat.


"Darimana saja kau Sayang?"tanya Arion, memberi ciuman di dahi Karina.


"Ruang kerja," jawab Karina, membalas Arion dengan ciuman di pipi.


"Aiya … ini hari libur Sayang. Waktunya mengistirahatkan fisik dan pikiran. Sepagi ini kau malah berbaur dengan tumpukan berkas yang tiada habisnya," keluh Arion.


"Kesehatanmu sangat penting Sayang," lanjut Arion, menatap Karina dengan tatapan tegas dan mengisyaratkan agar Karina tidak membantah.


Karina tersenyum lebar. Ia melangkah menuju walk in closet. Arion mengikut.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita piknik, hanya berdua, bagaimana?"tawar Karina. 


"Piknik? Kencan maksudnya?" Karina mengangguk. 


"Setuju," ucap Arion, bersemangat. 


"Bantu aku melepaskannya," pinta Karina.


Arion yang sudah terbiasa, membantu melepas dress yang Karina gunakan. 

__ADS_1


Selagi menunggu Karina mandi, Arion tenggelam dalam handphone, memeriksa email, media sosial, serta berita terbaru mengenai bisnis, juga mengenai berita sport juga politik. 


"Hm, reuni kampus?"gumam Arion membuka file yang dikirim di grub alumni yang selama ini hanya Arion baca sekilas, tanpa berniat bergabung.


Karena ada yang mengetag dirinya makanya Arion baca dengan serius.


"Dua minggu lagi? Bebas membawa keluarga. Gedung Serbaguna kampus. KS Tirta Grub, sponsor utama?"


Arion mengeryit dengan sponsor utama acara reuni tersebut. 


Arion yang penasaran, langsung mencari tahu. Setelah beberapa saat, Arion menemukan sesuatu yang membuatnya sedikit tercengang.


"Karina donatur utama universitas?"


"Tapi … mengapa harus heran? Itu hal biasa," ucap Arion, menaikkan bahunya.


Tatapan Arion beralih ke arah pintu saat mendengar suara ketukan. Arion berdiri dan meletakkan handphone di atas ranjang kemudian melangkah untuk membuka pintu.


Ternyata bagian dari dapur yang mengantar sarapan untuk Karina dan dirinya.


Dua orang itu meminta izin masuk, menata sarapan di atas meja. Saat Arion berbalik seusai menutup pintu, Arion mendapati Karina tengah memegang handphone miliknya.


Karina tampil sederhana namun elegan, dress biru muda dengan rambut yang digerai. 


"Reuni? Kau akan datang?"tanya Karina.


"Belum tahu, jadwalku padat, kemungkinan tidak pergi, lagipula itu acara yang membosankan. Aku malas bertemu dengan orang tebal muka," jawab Arion, acuh.


"Oh, tapi kemungkinan aku akan hadir, salah seorang dekan mengirim undangan padaku," ucap Karina.


"Kalau kau hadir, aku juga akan hadir," putus Arion.


Karina tersenyum lebar, ia melangkah mendekati Arion, mengalungkan kedua tangan ke leher Arion.


Arion merasa sedikit gugup, mata Karina menatap lekat dirinya. Arion menutup mata saat merasakan deru nafas Karina.


Kena kau! 


Karina tersenyum puas karena berhasil menggoda Arion. 


"Ayo sarapan, kita harus segera pergi," ucap Karina, melepaskan leher Arion. Karina lalu melangkah duduk di sofa untuk sarapan.


Aku dikerjai, gerutu Arion, melangkah kesal, duduk di samping Karina dengan wajah cemberut.


"Wajahmu seperti baju belum disetrika," ledek Karina.


"Biarin."


"Ye ngambek? Suamiku merajuk, usia sudah hampir kepala tiga tapi masih seperti anak kecil," goda Karina.


"Hanya padamu."


"Aku tahu, ayo sarapan. Bayi besarku ayo buka mulut," sahut Karina, mengarahkan sendok berisi makanan ke arah Arion.


Dengan wajah yang masih kusut Arion membuka mulut, mengunyah dengan lambat.


Heh, masih kusut? 


"Sebelum kencan, kita ke kediaman Graham dulu. Aku harus segera menyelesaikan rumor mengenai perjodohan Bayu dan anak perempuan keluarga itu," ucap Karina, mengalihkan pembicaraan ke yang lebih serius, ia berhenti merayu Arion.


Benar saja, Arion langsung merubah wajah menjadi serius.


"Enji juga akan datang?" tanya Arion.


"Hm. Setelah itu kita ke bandara, mengantar Bayu, Enji dan Syaka berangkat ke negara A," jelas Arion.


"Tidak masalah, tapi mengapa Syaka juga ikut? Dia kan tidak ada urusannya dengan ini?"


Jika hanya Enji dan Bayu, Arion tidak penasaran, tapi Syaka, dia termasuk orang luar. 


"Mereka akan jadi saudara," jawab Karina.


"Saudara?"


"Ya. Saudara seperjuangan."


"Jangan katakan bahwa kau akan menyatukan Bayu dan Syaka dalam satu ruang. Apa bisa mereka akur? Selama yang ku lihat, setiap bertemu mereka seperti mau cakar - cakaran. Ya walaupun setelah itu diam-diaman, aku ragu mereka mampu bertahan," ucap Arion, mengeluarkan pendapatnya.


Karina mengangguk mengerti. Ia paham maksud Arion.


"Tapi Ar … kau lupa bahwa musuh atau seseorang yang kita benci, bisa menjadi seseorang yang paling penting dalam hidup ini. Mereka berdua tidak memiliki dendam di hati. Mereka hanya merasa paling mampu. Tapi percayalah, mereka mampu mengatasi pertentangan di hati mereka sendiri," jelas Karina.


Arion tampaknya sudah mengerti. Ia mengangguk.


"Ya kau benar. Di dunia ini tidak ada yang kekal, semua bisa berubah. Sayang berjanjilah bahwa hatimu tidak akan pernah berubah. Tetaplah berada di sisiku, selamanya," ucap Arion, memegang pipi Karina dan menatap dalam Karina.


"Aku berjanji. Kau pun harus berjanji hal yang sama," sahut Karina.


"Aku berjanji. Hanya kau, satu dan selamanya hanya dirimu, istriku Sayang," jawab mantap Arion.

__ADS_1


__ADS_2