Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 315


__ADS_3

Mira langsung kembali mengikuti pembelajaran ketika acara di rumah Karina selesai. Acara itu berlangsung sampai sore. Waktu yang singkat itu dimanfaatkan baik-baik oleh Gerry. Tentu saja menyalurkan rasa rindu yang menggebu di hati. 


Keesokan harinya, setelah sarapan Karina langsung menguji hasil penelitiannya. Pengujian dilakukan di sebuah ruangan yang berada di tanah, bersebelahan dengan garasi bawah tanah. Di dalamnya terdapat beberapa tempat tidur khusus pasien lengkap dengan berbagai alat yang menunjang. 


Pasien tersebut menatap Karina dengan wajah yang tampak pasrah. Matanya yang tidak terbuka lebar mengikuti kemana saja Karina melangkah. Karina yang masih sibuk berdiskusi dengan dua dokter yang merupakan spesialis kanker di rumah sakitnya.


Setelah beberapa saat, Karina dan kedua dokter itu menghampiri pasien. Pasien berusia sekitar 25 tahunan bernama Arga itu menatap sayu.


"Apakah Anda benar-benar yakin?"


 Karina memastikan sekali lagi. Arga mengangguk lemah.


"Penyakitku sudah tidak ada harapan sembuh. Aku akan sangat senang jika di sisa hidupku bisa berguna untuk kebaikan," ujar Arga lemah.


 Karina tersenyum.


"Keluargamu ada di ruang tamu, apakah kau mau bertemu dengan mereka dulu?"tawar Karina. 


Karina tidak dapat memastikan apakah uji coba ini akan berhasil atau sebaliknya.


Arga mengangguk. Karina mengajak kedua dokter keluar. Sekitar lima menit kemudian, keluarga Arga yang terdiri atas Ayah, Ibu, Kakak, dan Adiknya masuk dengan wajah yang tampak sedih.


Arga menyambut mereka dengan senyum lebar.


Karina menunggu di depan pintu. Ia duduk sembari menikmati secangkir coklat hangat. 


"Nona, jika uji coba ini berhasil, apakah Anda akan memproduksinya untuk publik?"tanya salah seorang dokter. 


Karina melirik dengan senyum tipis.


"Tergantung. Tapi jika aku akan memproduksinya, aku akan mempercayakannya kepada Alantas Company," jawab Karina.


"Jika benar begitu, hal ini akan menjadi kabar gembira di dunia kedokteran," ujar dokter yang satu lagi. 


Karina hanya mengangguk.


Sepuluh menit berlalu, keluarga Arga keluar dengan mata sembab. 


"Nona, apapun hasilnya kami akan menerimanya," ujar Ayah Arga.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Harapan kita sama tapi hasil belum tentu saja. Berdoalah agar harapan kalian terkabul," ujar Karina.


"Kalian boleh langsung pulang atau menungguku. Hasil uji coba keluar dalam waktu 24 jam," lanjut Karina.


"Kami akan pulang saja," ujar Ayah Arga.


Pelayan mengantar keluarga Arga. Karina dan kedua dokter masuk.


Setelah menyuntikkan obat uji coba, Arga tertidur pulas. Kedua dokter memantau kondisi Arga dari waktu ke waktu. 


Setelah melakukan uji coba, Karina keluar dari ruangan, menuju ruang keluarga di mana Arion menunggu sambil memeriksa laporan di laptop. 


Karina langsung bersandar manja pada Karina. Satu tangan Arion merangkul Karina, sedangkan satu tangan dan kedua mata tetap pada laptop.


"Ada apa hm?"tanya Arion, mencium sekilas rambut Karina.


"Tidak ada. Aku hanya ingin memelukmu," jawab Karina, mendongak menatap Arion yang menatap laptop.


"Baiklah. Peluklah sepuasmu, Sayang," sahut Arion.


"Kau mengerjakan apa?"tanya Karina.


"Rancangan pembangunan tol bawah laut. Kau ketinggalan informasi?" 


Arion sedikit kaget, biasanya tanpa Arion beri tahu pun Karina sudah tahu.


"Aku ingin mendengarnya darimu. Aku bosan mendengar dari orang lain," sahut Karina.


Arion menghela nafas pelan.


"Baiklah. Selanjutnya aku akan memberitahumu apa saja yang ku capai, kamu akan jadi yang pertama tahu. Tapi Sayang, proyek ini belum diumumkan ke publik. Bahkan Mama dan Papa saja belum tahu. Ah kamu yang pertama tahu," ucap Arion.


"Baguslah."


Karina kemudian berbaring dengan paha Arion sebagai bantal. Ternyata terselip buat jahil di hati Karina. Tangan Karina menyelinap masuk ke dalam baju Arion. Meraba perut sampai dada. 


Arion terdiam sejenak. Ia menunduk menatap Karina yang tersenyum jahil. Ia menghembuskan nafas.


"Lakukanlah sepuasmu," ujar Arion tersenyum. 

__ADS_1


*


*


*


Keberangkatan Bayu dan Syaka ditunda beberapa hari. Yang seharusnya hari ini menjadi hari Senin, dua hari lagi. 


Kedua kini lebih menyibukkan diri di dalam perpustakaan. Membaca untuk menambah dan menjadi bekal mereka nanti. 


Setiap pagi setelah sarapan, siang setelah makan siang, dan malam setelah makan malam, Bayu mengunjungi Enji yang entah kapan sadarnya. Syaka setia berada di samping Bayu. 


Menepuk pundak Bayu saat Bayu menunduk dengan memegang jemari Enji. Saat perasaan bersalah datang memenuhi relung hati, Syaka selalu membawa Bayu untuk belajar ikhlas dan agar tidak merasa bersalah.


Kini keduanya berada di perpustakaan. Keduanya diam, fokus pada buku yang mereka baca.


Bayu melepas kacamata saat merasa kepalanya pusing. Buku yang ia baca ia letakkan dulu. Bayu memegang kepalanya, menggeleng pelan mengusir rasa pusing.


"Kepalamu pusing lagi?"tanya Syaka, menatap Bayu cemas. 


Bayu mengangguk pelan. Syaka segera meletakkan bukunya, menghampiri Bayu dan memberikan pijatan lembut di kepala Syaka.


"Sudah lebih baik?"tanya Syaka. 


"Tidak. Rasanya tetap sama," ujar Bayu, memejamkan mata.


"Kita ke klinik saja," ajak Syaka. 


Bayu menurut. Syaka segera memapah Bayu meninggalkan perpustakaan menuju klinik. 


Setibanya di klinik, Bayu langsung diperiksa. Syaka menunggu dengan cemas, mengigit jari.


"Bagaimana keadaannya?"tanya Syaka cepat setelah dokter keluar dari ruang periksa.


"Dia baik-baik saja. Aku sudah menyuntikkan obat pereda rasa sakit. Dia tertidur sekarang. Ikut aku sebentar," jawab dokter. 


Syaka menghela nafas lega. Memang setelah sadar, Bayu beberapa kali merasa pusing. Efek dari benturan yang dialaminya. Tapi hari ini sudah lebih dari dua kali. Biasanya tanpa obat pun pusingnya akan mereda sendiri dalam waktu singkat. Tapi kini harus menggunakan obat.


"Tapi tidak ada pendarahan kan?"tanya Syaka memastikan. 


Dokter menggeleng.


"Berikan satu pil padanya saat merasa pusing. Ini akan meredakan pusingnya," ujar Dokter. 


Syaka menerima botol pil tersebut. Pil berwarna kuning bulat itu memiliki aroma yang menyegarkan. 


"Aku pergi dulu," ujar Dokter. 


Syaka mengangguk kemudian menundukkan kepala, ucapan terima kasih.


Syaka kemudian melangkah memasuki ruang rawat Bayu. Dilihatnya Bayu tertidur pulas dengan infus melekat di pergelangan tangan. 


"Kau terlalu memaksakan diri, Bayu," gumam Syaka menatap sendu Bayu.


*


*


Rian dan Satya melangkah lebar keluar dari bandara. Mereka tiba di Mexico City International Airport sekitar pukul 08.00 waktu setempat setelah kurang lebih 20 jam penerbangan menggunakan pesawat pribadi Casino Heart of Queen. 


Keduanya tidak merubah penampilan, hanya menyamarkan identitas. Kalung tanda identitas mereka sebagai anggota Pedang Biru dilepas dan disimpan rapi di dalam koper.


Keluar bandara mereka segera masuk ke dalam mobil yang memang sengaja dibawa. 


Mobil melaju membelah jalanan kota Meksiko menuju restoran terdekat. Tiba di restoran mereka langsung memesan ruang VIP dan beberapa menu sarapan.


Rian dan Satya menyandarkan punggung mereka di kursi sofa.


Setelah pesanan tiba, keduanya langsung sarapan. Mereka memang tidak sarapan tadi di pesawat. Mereka sepakat begitu mendarat langsung memanjakan lidah. 


Satya meletakkan sendok dan garpu menandakan ia telah selesai. Disusul oleh Rian. 


"Setelah pulang aku akan menyuruh koki membuat sarapan ini," ujar Rian, merasa cocok dan puas dengan sarapannya.


"Ah kau ini. Asal ada yang enak langsung masuk daftar menu di rumah. Kau tahu, semua menu aneh yang disajikan koki itu adalah ulahmu," gerutu Satya yang disambut tawa Rian.


"Iya-iya aku tahu," sahut Rian.


"Oh ya Ya, bisakah kita ke sana besok saja? Aku rasanya mabuk udara," pinta Rian dengan mata berharap.

__ADS_1


"Tidak!"tolak tegas Satya tanpa pertimbangan.


"Yes. Please. Besok saja ya. Kau mau aku muntah-muntah di pesawat?"desak Rian.


"Tidak!"tolak Satya tetap pada pendiriannya.


"Kita bisa lewat darat," lanjut Satya.


"Aku lelah. Aku tidak kuat mengemudi …." ujar Rian.


"Aku yang mengemudi," potong Satya cepat, mulai jengah dengan tingkah Rian.


"Ayolah Ya! Aku juga perlu persiapan mental. Kau tega sekali padaku," rajuk Rian dengan wajah jeruk purut. 


Satya mendengus.


"Kau punya waktu seminggu untuk itu. Kita hanya perlu melihat mereka dari dekat," ujar Satya.


"Tetap saja. Besok saja ya," kekeh Rian.


"Ayolah Yan. Jangan seperti anak kecil?! Kau tahu kan lima hari ke depan aku akan menikah? Anggap saja ini jalan-jalan," omel Satya.


"His kau ini. Ah ya sudahlah. Aku kalah. Tapi setidaknya bisa kan kita berangkat dua jam lagi? Katamu ini anggap saja jalan-jalan, maka aku akan jalan-jalan dulu. Kau bisa ikut atau tetap di sini," ucap Rian yang membuat Satya menggeleng pelan. 


"Okay. No problem. Aku akan ikut denganmu," jawab Satya yang membuat senyum Rian melebar.


*


*


*


Awalnya semua berjalan sesuai dengan harapan. Arga dinyatakan sembuh total dari kanker setelah dua puluh empat jam dengan pemantauan penuh. Akan tetapi, baru saja Karina dan lainnya tersenyum lega, hal tidak terduga terjadi. Efek samping dari obat. 


Saat senyum Arga melebar dengan mata sembab, tiba-tiba saja dadanya terasa sakit disertai dengan sesak nafas disusul dengan kejang-kejang. Ternyata efek samping obat tersebut adalah mengganggu kerja jantung. 


Bak dijatuhkan setelah memenangkan, Karina dan dua dokter tersebut terdiam setelah berusaha keras menyelamatkan nyawa Arga. Pasien uji coba itu meninggal akibat gagal jantung. 


Karina menutup mata, berdoa untuk Arga. 


"Pasien ini ada riwayat anemia. Hal ini yang menambah buruk efek samping. Apakah perlu kita lakukan uji coba lagi?"


"Tentu saja! Kali ini cari pasien yang benar-benar hanya menderita kanker dan bersih dari penyakit atau riwayat penyakit apapun!"tegas Karina, keluar dari ruangan menuju ruang tamu untuk memberi kabar pada keluarga Arga.


"Bagaimana hasilnya?"tanya Ibu Arga cepat mendekati Karina. 


Karina menatap satu persatu wajah keluarga Arga yang menatapnya penuh harap. Karina menghela nafas pelan.


"Saya turut berduka cita. Bagaimanapun ini bukan kemauan ataupun tujuan saya tapi sudah menjadi suratan takdir. Putra kalian, telah meninggal," ungkap Karina menunduk sedikit.


"Arga," panggil lirik Ibu Arga. 


 Air mata mengalir tanpa diminta. Ibu Arga mundur selangkah. Ayah, Kakak, serta Adik Arga refleks memegangi Ibu Arga.


"Tapi bagaimana hasilnya?"tanya Ibu Arga.


"Awalnya semua berjalan lancar. Tapi kejadian tidak terduga terjadi. Anak kalian pernah menderita anemia bukan? Hal itu menambah buruk efek samping obat. Putra kalian meninggal karena gagal jantung setelah dinyatakan sembuh dari kanker," jelas Karina.


 Ia duduk di sofa.


"Gagal jantung?" 


Kakak Arga menatap Karina memastikan.


"Itu diluar kendali kami, saya harap kalian mengikhlaskan Arga. Saya berutang budi padanya. Saya tahu ini bukan waktu yang cocok, tapi saya akan memberi kompensasi atas kejadian ini. Ya saya sadar, berapapun kompensasi yang saya berikan tidak akan pernah sebanding dengan nyawa seseorang, tapi saya harap kalian bisa menerimanya," tegas Karina dengan sorot mata tajam.


Keempat orang itu menelan ludah takut. Mereka mengangguk. Terlebih mereka memang sudah ikhlas dengan kepergian Arga, ditambah mereka sudah menandatangi surat perjanjian. Mereka tidak ada hak untuk menuntut atau marah karena semua sudah disepakati.


Jenasah Arga dibawa pulang oleh keluarga. Karina juga langsung memberikan uang konpensasi. Karina tidak ingin ke depannya ia berurusan lagi dengan keluarga Arga. Urusan mereka telah usai. 


Arion memang sedang tidak berada di rumah. Suami Karina itu sedang meeting dengan Ferry untuk membahas hal-hal yang penting mengenai proyek besar yang akan segera dibangun.


Kehidupan dan kematian itu sejalan. Mereka adalah rahasia yang tidak bisa diketahui sebelum terjadi. 


Kadang sebuah kehidupan sangat dinanti, tapi ada kehidupan yang tidak diinginkan.


Sama halnya dengan kematian. Ada yang sangat ingin mati, ada juga yang tidak ingin mati. 


Tapi apapun itu, kematian dan kehidupan sudah ditetapkan. Keduanya tidak akan pernah berubah, kecuali jika alam semesta sudah berakhir. Kehidupan akan menjadi kekal tanpa ada yang namanya kematian

__ADS_1


__ADS_2