
Pukul 14.00, Darwis dengan mobil Honda kepunyaan Karina memasuki gerbang utama Pedang Biru. Wajahnya tampak berbinar. Siulan pun ia dendangkan.
Setibanya di garasi, Darwis turun dengan langkah gembira. Walaupun wajahnya riang, tak dapat menutupi lebam di wajahnya. Terlihat jelas bibirnya pecah dan pelipisnya luka.
Darwis memegang perut sebelah kanannya.
"Auh … akibat terlalu senang, jadinya aku tak merasakan sakit akibat tendangan mereka," ringis Darwis. Dengan cepat ia melangkah menuju klinik markas yang terletak terpisah dari bangunan markas utama.
Setibanya di depan pintu, Darwis membuka pintu dengan tergesa dan langsung duduk di brankar.
"Astaga, Darwis kamu kenapa bisa begini?" tanya khawatir dokter Ren, Kepala dokter klinik Pedang Biru. Langsung memberondong Darwis dengan pemeriksaan tanpa diminta.
Darwis tersenyum. Meringis sesaat saat lukanya diobati.
"Tidak apa. Hanya battle saja untuk mendapat restu menikah," jawab Darwis.
Dokter Ren menggelengkan kepalanya kecil. Ia kemudian menyuruh Darwis berbaring, untuk memeriksa apakah ada cedera luka dalam.
"Kau benar-benar ingin menjadikan wanita yang kau sekap itu istrimu? Kau tahu aturan Pedang Biru kan? Jika kau mengambil pasangan dari luar?" tanya Dokter Ren, mengingatkan Darwis akan satu peraturan tak tertulis lagi.
Darwis terdiam. Senyumnya ia tenggelamkan. Mengingat itulah yang ia lakukan.
"Apa kau sudah memberitahunya bahwa kau adalah anggota Pedang Biru? Ya kau memang Tuan muda dari Heart of Queen, tetapi itu hanya di depan. Itu adalah kasino milik Queen. Satu lagi, apakah dia tahu bahwa jika dia menikah denganmu, otomatis dia adalah anggota Pedang Biru, menjadi bawahan Queen. Aku ragu bahwa Ketua muda itu mau," terang Dokter Ren tajam. Darwis memejamkan matanya sejenak.
Ia menghembuskan nafas kasar.
"Itulah yang seru, Ren. Anggap saja ini karma bagi Ayahnya. Lagian juga setelah dia menjadi istriku, otomatis pengabdiannya adalah padaku. Kau tak perlu khawatir. Aku tak akan terlena dan ceroboh." Darwis menjawab mantap.
"Baguslah. Sudah selesai. Kau tetap berbaring. Untung saja tak ada luka dalam, tapi kau harus istirahat full selama dua hari," ucap Dokter Ren setelah selesai memeriksa dan mengobati Darwis.
Darwis menurut. Ia memilih untuk tidur. Dokter Ren membereskan peralatan dan keluar dari ruang rawat Darwis, menuju ruangannya sendiri.
***
Sedangkan di kediaman Argantara, di dalam kamarnya, Joya tengah berbaring di ranjang, menatap langit-langit kamar. Bibirnya mengulas senyum manis.
Satu tangannya bergerak mengusap lembut perutnya.
"Syukurlah Papa setuju. Semoga Darwis adalah yang terakhir bagiku. Anakku sayang, Mama akhirnya menemukan Papa kandungmu. Walaupun hati Mama masih ragu, tetapi tak ada salahnya menerima Darwis. Itu lebih baik daripada Mama harus berurusan dengan Karina. Arion sudah tak bisa diharapkan lagi," gumam Joya.
"Apa Darwis sudah mengobati lukanya ya? Dia kan langsung pergi setelah Papa ngasih persetujuan." Joya mendadak khawatir dengan Darwis.
"Tapi dia kan bukan orang bodoh. Lebih baik aku tidur saja. Sejak aku hamil, aku mudah lelah," putus Joya memejamkan matanya.
***
Flashback Darwis dan Joya.
Hanya butuh waktu sekitar satu jam dengan kecepatan kendaraan sedang. Kini mobil Honda Civic Type-R berwarna merah terang yang dikemudikan Darwis tiba di depan gerbang kediaman Argantara.
Darwis membunyikan klakson mobil. Membuat penjaga gerbang menoleh dan membuka gerbang sedikit, pas hanya untuk tubuhnya.
"Dengan siapa? Mau bertemu siapa dan ada urusan apa?" tanya penjaga gerbang itu tegas. Wajahnya garang ia tunjukkan. Joya memutar bola matanya malas. Ia membuka kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya.
"Apa aku harus lapor dulu padamu saat ingin masuk ke dalam rumahku?" tanya Joya kesal. Mata penjaga gerbang itu membulat.
"Nona besar? Andakah itu?" tanya penjaga gerbang itu memastikan.
"Jadi siapa lagi? Hantu?" sahut Joya kembali memasukkan kepalanya. Darwis terkekeh geli. Penjaga gerbang itu segera membuka lebar gerbang. Mempersilahkan mobil Darwis masuk.
"Aneh. Masa putri pemilik rumah harus dijadikan seperti tamu sih?" ucap Darwis meledek Joya.
"Jangan meledekku. Ini semua gara-gara kamu. Andai saja kau tak menculikku pasti aku tengah bersantai sekarang."
Joya menggerutu kesal sekaligus mencubit perut Darwis. Darwis mengaduh sakit.
Setelah cubitan Joya lepas, Darwis segera melajukan mobil memasuki halaman utama kediaman Argantara. Para pekerja di kediaman Argantara segera berbaris rapi menyambut Joya yang hilang selama tiga hari.
"Di mana Papa?" tanya Joya saat keluar dari mobil. Disusul oleh Darwis yang membuat para pekerja Karina waspada.
"Dia kekasihku," ucap Joya memberitahu.
"Maaf Nona. Tuan besar berada di perusahaan, tetapi saya telah memberitahu beliau jika Anda sudah kembali," terang kepala pengurus rumah tangga Argantara, Andri.
"Baguslah," ucap Joya segera mengajak Darwis masuk. Darwis mengikut sembari memperhatikan sekeliling dalam diam.
"Silahkan Nona, Tuan," ujar Bik Asi saat menyajikan minum dan makanan ringan di meja ruang tamu.
Darwis hanya mengangguk samar. Joya diam saja tak menjawab. Sudah hal biasa bagi para pekerja kediaman Argantara.
__ADS_1
Sekitar dua puluh menit kemudian, Reza datang tergopoh-gopoh setelah keluar dari mobil.
Setelah mendapat kabar dari Andri, Reza dengan Dion sebagai pengemudi, menyetir bak kesurupan. Tancap gas dan babat habis apa yang ada di hadapan jika tak mau menyingkir.
"Joya," panggil Reza lantang saat tiba di depan pintu, membuka pintu dengan keras.
Joya menoleh dan bangkit.
"Papa," jawab Joya berlari menuju Reza. Reza merentangkan tangan dan Joya langsung memeluk papanya dengan erat.
"Syukurlah kamu kembali," ucap lega Reza mengelus kepala Joya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa penculik itu melukaimu? Siapa yang berani menculikmu sayang?" tanya Reza berutun, melepas pelukan dan menatap Joya serius.
"Joya gak papa, Pa. Penculik Joya ada di sini kok," jawab Joya.
Dia tak melukaiku Pa, Tetapi memasuki dan menghamiliku, tambah Joya dalam hati.
"Di sini? Di mana dia? Biar Papa beri dia pelajaran berharga."Reza mengedarkan pandangannya waspada.
Merasa terpanggil, Darwis berdiri dan menunjukkan batang hidungnya dengan senyum menawannya.
"Hai Tuan Reza," sapa Darwis ramah.
Reza menoleh ke arah Darwis. Wajahnya memerah menahan amarah. Dengan cepat Reza menghampiri Darwis di ruang tamu.
"Dasar sialan kau," geram Reza menarik kerah kemeja Darwis. Darwis hanya tersenyum. Tak ada niat melawan.
"Stop Pa. Dia memang menculik tapi bukan tanpa alasan. Dia menculikku karena dia mencintaiku dan ingin memastikan cintanya padaku. Pa dia kekasihku sekarang."
Joya mencegah Reza menghajar Darwis dengan menahan tangan Reza. Reza mengernyit.
"Cinta? Kekasih?" beo Reza tak paham.
"Intinya saya sudah mengantar Joya pulang. Sekalian saya ingin meminta izin dan restu anda untuk saya menikahi Joya. Sebab dalam rahimnya sudah ada anak kami berdua," jelas Darwis tenang. Reza mendengus dan melepaskan kerah kemeja Darwis.
Duduk di sofa diikuti Joya dan Darwis. Reza menatap datar Joya dan Darwis.
"Bisa kau jelaskan Joya? Bagaimana kau bisa hamil dengan pria ini? Apa kau menyukai dan mencintainya?" tanya Reza datar dan serius pada Joya.
"Tentu saja dia bisa hamil karena kami sudah berhubungan. Apa Anda terlalu polos menanyakan hal itu?"Darwis menjawab santai. Joya melirik.
"Oh. Bicara soal izin. Alasanmu memang cukup kuat. Bertanggung jawab atas benih yang kau tebar. Tetapi aku tak akan setuju begitu saja. Jika mau menjadi menantuku kau harus punya kualifikasi yang bagus. Baik bobot dan bibit. Untuk bibit ku rasa cukup memuaskan. Kau bisa dikatakan tampan."Reza berkata sembari mengambil cerutu dari saku jasnya. Darwis menarik senyum tipis. Joya malah menunggu dengan jantung berdebar.
"Untuk bobot? Apa kau memenuhinya?" tanya Reza serius.
"Pa, dia Tuan Muda dari kasino Heart of Queen," cicit Joya memberitahu. Darwis dia tak menjawab. Biarlah Joya yang menjawabnya. Mata Reza membulat. Tetapi dengan cepat ia kembalikan seperti semula.
"Hmm … kasino terbesar di negara K. Cukup memuaskan. Tetapi bukankah masih ada dua Tuan muda lagi?" Reza menanggapi dengan lebih serius.
"Dia yang utama Pa." Lagi-lagi Joya yang menjawab.
"Kok malah kau yang menjawab? Apa kau sudah kenal lama dengan pria ini," ketus Reza tak senang.
"Ya sejak satu bulan lalu," jawab Joya.
"Baik. Finansial yang bagus. Tetapi bagaimana dengan ketahanan fisik dalam melindungi putriku? Bukan hanya kekuatan harta, kekuatan fisik juga penting," lanjut Reza.
"Ku rasa aku memenuhinya. Bukankah anda tak bisa menemukan Joya selama aku menculiknya?" jawab Darwis.
Reza terdiam. Meneliti Darwis lebih jauh lagi. Tatapan matanya seolah menelanjangi Darwis. Joya memegang tangan Darwis mencoba memberi semangat agar Darwis tak gentar ataupun gugup. Darwis membalas pegangan tangan Joya dan tersenyum.
"Tak apa," ujar Darwis pelan.
"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan restu Anda?" tanya Darwis menatap Reza. Reza tersentak kaget.
Ia berdeham. Matanya beralih menatap Joya.
"Papa butuh bicara empat mata padamu, Joya," ucap Reza tegas. Joya mengangguk. Reza bangkit dari sofa dan berjalan lebih dalam lagi memasuki rumah.
"Sebentar ya," ucap Joya pada Darwis. Darwis mengangguk saja. Joya segera menyusul Reza.
Kini Reza dan Joya berbicara empat mata di ruang kerja Reza.
Wajah Joya tegang. Khawatir Reza akan memarahinya.
"Bukan Arion lagi yang kau kejar? Lalu memutuskan menikah dengan pria itu. Apa kau mencintainya? Jawab dengan jujur," ucap Reza serius. Pernikahan adalah hal yang sakral. Reza tak mau anaknya salah langkah dalam memilih pasangan.
Perasaan lega ia rasakan saat Joya membawa Darwis dan memperkenalkannya sebagai kekasih. Reza menilai bahwa Darwis serius pada Joya, bukan sekedar main-main.
__ADS_1
Setidaknya, Ia tak akan menerima ancaman dan kemungkinan tekanan dari Karina dapat ditarik.
Membayangkan berhubungan dengan Karina saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Nasib baik, putrinya juga punya pemikiran yang sama.
"Untuk Arion, aku menyerah. Karina itu memang santuy tetapi puluhan rencana sudah tersimpan rapi di kepalanya. Aku tak merasa rendah, tetapi kedudukannya sangat tinggi. Lagipula aku hamil anaknya Darwis, bagaimana bisa aku meminta tanggung jawab Arion. Ya ku akui aku pernah berhubungan dengannya saat kembali dari negara K. Tapi Darwis ngotot bahwa aku hamil anaknya. Setelah ku pikir-pikir tak ada salahnya aku menerima Darwis. Untuk cinta, aku bisa membinanya. Dengan sikap lembutnya, kemungkinan aku tak membutuhkan waktu lama untuk jatuh cinta padanya," terang Joya panjang lebar.
Apalagi kegagahannya di ranjang. Sungguh membuatku terlena, tambah Joya lagi dalam hati.
"Papa mengerti," ujar Reza.
"Papa setuju bukan?" tanya Joya berbinar.
"Tergantung satu tes lagi. Aku harus melihat sendiri dengan mata kepalaku tentang ketahanan dan kekuatannya," jawab Reza berdiri. Joya membulatkan matanya.
"Apa yang akan Papa lakukan?" Joya khawatir Papanya akan menggunakan pengawal keluarga Argantara yang dididik keras.
Reza tak menjawab dan segera keluar ruangan. Menemui Darwis yang setia menunggu di ruang tamu. Joya mengikuti Reza.
Semoga saja dugaanku salah.
"Ikut aku," titah Reza pada Darwis.
Darwis lagi-lagi hanya mengangguk.
Cih. Andai saja aku tak mencintai putrimu sudah aku hajar kau, Pak Tua. Beraninya menyuruhku, umpat Darwis dalam hati.
Dengan langkah ogah-ogahan, Darwis mengikuti Reza yang mengarah ke halaman belakang. Di sana sudah terdapat arena seluas 4x4 meter persegi. Di pinggirnya terdapat lima orang berbadan kekar. Dengan seragam hitam menyalang melekat pada mereka.
Astaga? Dugaanku benar. Papa menggunakan pasukan crocodile untuk menguji Darwis. Bagaimana ini? resah Joya.
"Lawan orang-orangku, jika kau menang kau bisa menikah dengan Joya. Jika kau kalah, mungkin kau pulang tinggal nama," ucap Reza tegas. Melirik Darwis apakah gentar atau tidak.
Darwis malah menarik senyum.
Cara lama, batin Darwis.
"Darwis,"panggil Joya memegang tangan Darwis. Matanya menatap Darwis menyiratkan jangan menerima, bahaya.
Darwis melepaskan pegangan tangan Joya. Maju beberapa langkah. Menatap darat lima orang pasukan crocodile.
"Aku terima," tegas Darwis mulai memasuki arena. Kelima orang itu berpandangan. Tangan mereka mengepal bersiap untuk bertengkar atau menghajar.
"Pilihanmu," sahut Reza.
"Pa."Joya memelas, menggelengkan kepalanya.
"Ini adalah tesnya. Jika dia mau menikah denganmu, dia harus punya kemampuan di atasmu. Jangan cari yang setara atau di bawahmu," tegas Reza pada Joya.
Akhirnya Darwis battle melawan lima orang suruhan Reza. Kemampuan kelimanya adalah sepuluh yang terbaik di pasukan crocodile. Darwis yang awalnya santai menghadapi mereka kini harus lebih serius, apalagi ketika kelimanya menyerang bersamaan. Sialnya lagi tak boleh menggunakan senjata, harus murni kekuatan fisik.
Singkat cerita. Akhirnya Darwis berhasil menumbangkan satu-persatu lawannya. Walaupun harus dengan wajah yang babak belur dan luka di sekujur tubuhnya. Darwis masih mampu berdiri. Joya segera menghampiri Darwis.
"Bagaimana?" tanya Darwis menatap Reza dengan nafas ngos-ngosan.
Reza bertepuk tangan. Kagum dengan Darwis.
"Dua minggu lagi, kalian akan menikah," jawab Reza.
"Syukurlah," ujar Joya lega. Memeluk Darwis.
Darwis mencium pucuk kepala Joya.
"Aku pergi dulu. Tunggulah aku menjadi imanmu sepenuhnya," ucap Darwis.
"Tapi lukamu?"Joya menahan kepergian Darwis.
"Tak apa. Akan aku obati setelah sampai di rumah. Atau bisa jadi aku ke rumah sakit," jawab Darwis. Dia segera melangkahkan kakinya walaupun agak tertatih meninggalkan halaman belakang.
"Terima kasih," ujar Darwis pelan saat bersinggungan dengan Reza. Reza hanya mengangguk.
Joya menatap kepergian Darwis dengan gelisah.
"Tenanglah. Dia bukan orang lemah," ujar Reza.
Joya mengangguk dan memeluk Reza.
Sesampainya di mobil, Darwis langsung menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan kediaman Argantara.
Senyum puas terukir di wajahnya. Untung saja mobil ini adalah salah satu hasil modifikasi Karina, jadi bisa dikendalikan melalui suara. Karina memberi izin pada Darwis untuk memakai mobil ini, tentu saja Karina juga memberikan kartu akses agar perintah Darwis dapat diterima.
__ADS_1
Flashback off.