
Dua hari ini, Karina pulang seperti biasa, tidak lembur. Mobil yang dikemudikan Pak Anton melaju membelah jalanan menuju kediaman Karina. Di perjalanan, Karina menginginkan sesuatu. Mulutnya ingin merasakan sesuatu yang pahit namun manis.
"Pak, nanti berhenti di warung kopi yang di daerah ini ya," ucap Karina, menunjukkan lokasi yang mau disinggahi.
"Baik Non," jawab singkat Pak Anton. Sepuluh menit kemudian, Pak Anton memarkirkan mobil di parkiran warung kopi dan membuka pintu untuk Karina. Karina menghirup nafas dan tersenyum seraya melepas kaca matanya.
Dengan langkah teratur, Karina memasuki kedai yang dekorasinya mengambil konsep kota romantis, Paris. Lukisan di dinding bertemakan menara eiffel dan icon kota Paris lainnya.
Lonceng berbunyi saat Karina membuka pintu. Pelayan menyambutnya dengan ramah. Karina memilih salah satu meja dan duduk dengan santainya. Karina melihat daftar menu. Ternyata mereka tidak hanya menjual minuman kopi, tetapi juga es krim dan makanan pencuci mulut lainnya, seperti cake.
"Solo shot exspreso satu," ujar Karina menyebutkan pesanannya pada pelayan.
Pelayan itu mengangguk, namun berhenti mencatat saat melihat perut Karina.
"Anda hamil? Kami sarankan agar Anda memesan kopi tanpa kafein," ujar pelayan itu memberi saran. Karina mengeryit tidak suka.
"Memangnya mengapa?" tanya Karina datar.
"Itu lebih baik bagi kehamilan Anda," sahut pelayan itu. Karina ingin membantahnya, namun pelayan itu sudah berteriak pada rekannya.
"Kopi tanpa kafein satu," teriaknya. Karina mendengus dan memilih memainkan handphonenya.
Di sisi meja lain, Pak Anton menahan tawanya melihat keinginan Nonanya yang tidak terkabul. Dia sendiri memesan latte sembari menunggu Karina selesai nongkrong.
Tak berapa lama, datanglah kopi tanpa kafein ke meja Karina. Karina menaikkan pandangannya menatap datar kopi tanpa kafein tersebut.
"Silahkan dinikmati, Nyonya," ujar pelayan itu ramah. Karina mendehem sebagai jawaban.
"Huh," keluh Karina. Meraih gelas kopi dan menggoyangkannya perlahan.
"Aku minum wine saja aman," keluh Karina lagi.
Saat Karina hendak menyesap kopinya, ada perempuan tua yang menghampirinya dan mencegahnya. Di tangannya ada sebuah gelas dengan isi berwarna hijau dan biji-biji kecil berwarna hitam.
"Ada apa, Nyonya?" tanya datar Karina, meletakkan kembali cangkir kopi di atas meja.
"Walaupun dikatakan tanpa kafein, kopi itu masih mengandung kafein. Ibu hamil tidak baik mengonsumsi kafein, lebih baik kami minum jus kiwi ini saja. Kiwi mengandung folat dan protein yang berperan penting dalam mendukung pembentukan jaringan saraf dan otak janin. Jadi anakmu kelak cerdas dan sehat," ujar wanita tua itu menyodorkan jus kiwi itu pada Karina. Karina menatapnya datar. Mood-nya menjadi buruk. Ia inginnya apa malah dikasih apa?
"Tapi saya inginnya kopi, Nyonya," ucap tegas wanita itu.
Wanita itu menggeleng dan tangannya yang sudah keriput meraih cangkir kopi Karina lalu pergi begitu saja, meninggalkan Karina yang mengepalkan kedua tangannya kesal.
"Maafkan Nyonya Tua, pelanggan yang baik. Nyonya memang begitu jika ada wanita hamil yang meminum kopi atau es krim di sini. Beliau trauma karena kopi menyebabkan nyawa calon cicitnya melayang," jelas pelayan yang melayani Karina tadi dengan wajah menunduk melihat wajah kesal Karina. Karina menghela nafas.
"Ya sudah. Kiwi pun jadi," ucap Karina melambaikan tangannya menyuruh pelayan itu kembali bekerja. Dengan hati dongkol, Karina menyeruput jus kiwi tersebut. Tatapan matanya lurus ke depan. Pak Anton tetap menahan tawanya, terhenti saat mata Karina menatap tajam dirinya.
Huh, orang-orang ini menyebalkan! Apakah mereka tidak tahu, bahwa kandungan kafein di kopi yang ku pesan tidak akan mengganggu kehamilanku. Hish, kadar kafeinnya kan cuma 75 mg, sedangkan batas untuk ibu hamil adalah 200 mg. Ckckck, seharusnya yang paling khawatir dan paham tentang kondisi anak-anakku dan diriku adalah aku sendiri. Jika mereka tiada hanya karena kafein, mereka bukan anakku! Tapi, aku akui perhatiannya. Dan jus kiwi ini juga okey! batin Karina. Dan ingatlah, kondisi tubuh dan ketahanan serta kekebalan tubuh Karina berbeda dari orang pada umumnya.
Karina mengulas senyum lebar. Ia segera membayar pesanannya dan Pak Anton. Dan segera kembali ke mobil untuk menuju ke rumah, sebab hari sudah petang.
*
*
*
Saat Karina yang badmood, Faisal malah cemas dan khawatir akan kondisi Riri. Saat ini ia berada di ruang UGD, menunggu Riri yang sedang ditangani oleh dokter. Tadi, saat mereka hendak pulang ke rumah sebab jam praktik yang sudah usai, tiba-tiba saja, Riri mengalami sakit pada perutnya, ditambah ada bercak darah.
__ADS_1
Dengan panik, Faisal menggendong Riri yang kesakitan kembali masuk ke rumah sakit. Harap-harap cemas akan kondisi Riri, Faisal memejamkan mata memohon pada yang kuasa.
Setengah jam kemudian, Dokter keluar dengan wajah tegangnya.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya? Anak dan istri saja baik-baik saja kan Dok?" tanya Faisal mendesak. Ia memegang dan mengguncang pundak sang dokter. Dokter menghela nafas panjang dan menatap Faisal.
"Istri Anda tidak apa-apa Dokter Faisal. Hanya saja, kami gagal menyelamatkan janin istri Anda. Istri Anda keguguran. Kondisi asam pada rahim serta janin tidak berkembang dengan baik menjadi alasannya. Maaf Tuan," ucap dokter dengan nada prihatin dan turut bersedih. Bak tersambar petir, Faisal menggeleng keras. Ia tidak percaya dan segera masuk ke ruangan melihat Riri. Terlihat perut Riri yang awalnya sudah sedikit menonjol, kini rata dan darat. Faisal menangis pilu. Buah hati yang mereka dambakan, sekarang pergi ke pangkuan Illahi. Menyisakan duka baginya dan Riri. Faisal saja tidak bisa menerima, bagaimana dengan Riri?
Faisal menenggelamkan wajahnya di balik telapak tangannya dan masih terisak. Tak berapa lama, terlihat pergerakan dari Riri. Pelan, tapi pasti, Riri membuka matanya. Mengerang dan mengeryit heran dengan sang suami yang menangis.
"Sal? Kamu kenapa nangis? Anak kita baik-baik saja kan?" tanya Riri serak.
Faisal mengangkat wajahnya dan menatap Riri. Bibir Faisal tidak menjawab, namun air mata dan tatapan kesedihan menjawab pertanyaan Riri seketika. Riri meraba perutnya dan mendapati ada yang berubah.
"Enggak, ini gak mungkin. Anak kita masih ada kan Sal? Ini masih berada di rahim aku kan?"
Riri histeris dan mengguncang tubuh Faisal. Faisal tetap bungkam dan memeluk Riri.
"Maafin aku Ri, aku enggak bisa menjaga kamu dan anak kita. Maafin aku Ri," ucap Faisal lirik.
Riri, kini menatap kosong ke depan. Hatinya sakit dan sedih. Pelukan sang suami, tidak dapat mengurangi rasa sakit di hati.
"Sayang, ini ujian untuk kita. Kita harus sabar ya, mungkin Allah belum percaya pada kita untuk mengurus seorang anak. Riri, kamu harus tegar dan kuat ya," pinta Faisal melihat kebungkaman Riri.
Riri diam tak menjawab, dan kembali terisak di pelukan Faisal hingga tertidur. Faisal, dalam hati bertekad untuk membuat Riri kembali ceria dan bersemangat. Tidak dapat dipungkiri, keguguran dapat menganggu fisik juga emosional. Terlebih ini adalah anak pertama mereka.
*
*
*
Arion memejamkan matanya, terasa nyaman apalagi jemari tangan Karina yang mengusap dan memijat pelan kepalanya.
"Astaga? Woah … jujur sekali dia. Sekecil ini hahahaha," tawa Karina geli melihat adegan komedi di drama yang ia tonton. Arion membuka matanya sebelah.
"Apanya yang kecil?" tanya Arion penasaran melihat televisi sekilas namun adegan sudah berganti.
"Itunya," jawab Karina tanpa melihat Arion. Arion mengeryit dan segera duduk.
"Apanya?" tanya Arion yang tidak mengerti.
"Itunya loh, alat repsoduksinya," jawab Karina.
"Sekecil apa rupanya?" tanya Arion langsung nyambung.
Karina mengangkat telunjuknya dan meletakkan jempolnya di pangkal telunjuk.
"Sekecil ini," ujar Karina.
"Aduh lucunya, jenderal kerajaan, tapi itunya segini. Hahahaha." Karina kembali tertawa.
"Kau melihatnya?" tanya Arion, dengan nada cemburu seketika. Karina menoleh ke arah Arion dan menyipitkan matanya.
"Tidak, peran utama wanitanya yang melihatnya," sahut Karina.
"Oh, baguslah," ucap lega Arion.
__ADS_1
"Tapi, punyamu tetap lebih besar kok daripada Li," ujar Karina yang membuat wajah Arion menggelap dan menatap cemburu Karina.
"Kau melihatnya apa mendengarnya?" Astaga, Karina masih tetap santai saat suaminya hendak menerkamnya.
"Melihat dan memegangnya. Ingat kembali episode hukuman Li, Gerry pun melihatnya." Arion mendengus kesal dan segera memegang pipi Karina.
"Jangan lakukan itu lagi. Kami hanya bisa melihat dan memiliki punyaku, begitupun aku, jangan pernah mengintip punya pria lainnya," ujar Arion memberi peringatan.
"Hm," sahut Karina. Arion lantas kembali menyingkir saat Karina mendorong tubuhnya.
"Ah, Sam Yong, mengapa kau menggemaskan? Ingin rasanya aku menculikmu!" pekik Karina dengan gayanya. Arion tersenyum sebal dengan itu dan segera meraih remote mematikan televisi.
"Aih, apa yang kau lakukan?" protes Karina.
"Sudah malam, ayo tidur," ajak Arion memegang pundak Karina dan membawanya berbaring. Kesal, tapi harus nurut, Karina akhirnya terlelap di pelukan Arion.
"Enak saja, siapa Sam Yong itu? Imutan juga aku," gumam kesal Arion.
*
*
*
Dua hari sudah Sam, Calvin dan Arion menyelidiki tentang Dayana. Selama dua itu, Lila tidak pulang ke rumah Anggara atau memberi kabar pada Sam. Apalagi pada mertua, mertuanya itu masih asyik di luar kota. Dengar-dengar, besok baru kembali.
Sam, selama dua hari itu hanya memandang Lila dari kejauhan saat masuk dan pulang kerja. Lila, Lila sebenarnya tahu Sam memperhatikannya, namun Lila tetap diam dan seolah masih kecewa pada Sam. Padahal dalam hati, ingin rasanya berlari dan memeluk Sam.
Raina yang memang dasarnya tidak peka, menganggap Lila pusing dengan pekerjaan.
*
*
*
Siang itu, ketiga sahabat itu kembali bertemu di cafe di mana mereka bertemu beberapa hari lalu. Wajah mereka terlihat serius dan saling lirik.
"Akhirnya! Akhirnya gue nemu kebenarannya! Gue ternyata enggak menyelingkuhi Lila dan bermain api dengan wanita itu!"pekik Sam bahagia seakan ketimpahan uang. Arion dan Calvin mengubah mimik wajahnya mereka menjadi tersenyum lebar.
"Syukurlah," ucap lega Arion dan Calvin bersamaan.
Jadi cerita sebenarnya adalah, Dayana itu sudah tidak suci lagi sebelum Sam tidur dengan Dayana. Eit, mereka hanya tidur, sebab Sam langsung tidak sadarkan diri saat baru saja menggerayai dada Dayana. Mengenai darah, itu adalah memang darah asli, namun bukan selaput darah.
"Dan, ternyata, yang ngambil kesuciannya itu abangnya sendiri. Mantap kan?" tambah Calvin.
"Informan gue bilang, tuh orang kemarin lusa ke hotel xx, dan tidur dengan kakaknya. Dan mereka juga bilang mau menghancurkan kita. Gila kan ambisi wanita itu?" ujar Arion.
Sam dan Calvin menunjukkan wajah geram mereka dan meremas gelas mereka kuat. Untung gelasnya kuat, kalau enggak, berdarah tuh tangan mereka berdua.
"Keluarga menjijikan. Gue habisi keluarga itu sekarang juga!" pekik Sam emosi.
"Wajarlah, orang bukan abang kandungnya. Setahu gue, dia itu abang angkatnya Dayana. Tapi, menyalahi aturan juga sih," ujar Arion lagi.
"Tapi Sam, yang terpenting saat ini adalah loe harus jemput Lila dan menjelaskannya semuanya. Masalah Dayana dan keluarga itu, akan kita urus setelah loe baikkan sama Lila. Bagaimana?" saran Calvin.
"Yap, kamu benar. Gue harus segera menemui Lila!" jawab Sam, dengan segera beranjak dan membawa berkas di atas meja.
__ADS_1
Calvin lalu mengkode Arion untuk bertindak.
"Tekan perusahaannya!" ucap mereka serentak dan tertawa.