Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
BAYU


__ADS_3

Karina kekeh ingin menghabiskan gula kapasnya. Matanya menatap Arion kesal bercampur harap. Tak tahan, Arion pun mengalah dan menunggu Karina menghabiskan gula kapasnya.


"Gula kapas ini gak akan membuat gigiku sakit. Pemanis yang digunakan bukan pemanis buatan melainkan gula asli ditambah madu dan juga pewarnanya juga pewarna alami. Jadi ini aman dikonsumsi dalam jumlah banyak," terang Karina setelah memakan bagian terakhir gula kapasnya.


"Dari mana kamu tahu? Kamu kan baru pertama kemari?" tanya Arion.


Karina terkekeh pelan mendengar pertanyaan Arion.


"Ya jelas aku tahu. Kamu aja yang ketinggalan informasi. Sebelum nikah sama kamu aku hampir setahun sekali kemari," jawab Karina tertawa manis.


"Benarkah?" selidik Arion.


"Hmm … sudah cepat sana beli semua gula kapasnya itu," ujar Karina mendorong Arion.


"Tapi untuk apa? Kamu kan gak mungkin habisi sebanyak itu?" tanya Arion lagi.


"Kamu benar. Sudah beli saja nanti aku jelaskan," jawab Karina mendorong Arion lagi.


Arion berjalan kembali menuju stand dengan pandangan tetap mengarah pada Karina.


Brukkk ….


Arion meringis mengusap pinggangnya karena menabrak stand gula kapas. Karina tertawa kecil melihatnya. Arion segera memesan semua gula kapas yang tersisa.


Tentu saja penjualnya sangat senang. Baru dua jam berjualan sudah habis diborong. Dengan cepat mereka membuat gula kapas yang tersisa dibantu dua temannya. Tak sampai setengah jam 50 batang gula kapas berbagai bentuk sudah selesai.


Arion segera membayarnya dan kembali berjalan menuju sepedanya dengan membawa beberapa batang gula kapas diikuti dengan 3 orang yang membantunya membawa sisa gula kapas.


"Sudah siap. Lalu bagaimana?" tanya Arion yang kesusahan memegang gula kapas.


"Kita ke panti asuhan itu. Aku lihat dari tadi anak panti itu melihat gula kapas di tanganku tadi dengan tatapan ingin tapi sepertinya anak itu ketakutan," jelas Karina menunjuk salah satu bangunan yang terletak beberapa meter dari stand.


"Baiklah ayo," jawab Arion tersenyum. Mereka kemudian berjalan menuju panti asuhan yang nampak usang daripada bangunan di sekitarnya.


Pagar-pagarnya yang terbuat dari kayu mulai lapuk dimakan rayap, warna dinding bangunan yang sudah pudar dan keropos dimakan semakin menambah kesan yang memprihatinkan. 


"Apakah tidak ada yang prihatin dengan kondisi anak-anak panti ini?" tanya Karina pada salah satu penjual gula kapas yang berada di belakangnya.


"Kami kurang tahu Nona. Sebab kami baru hari ini berjualan di sini," jawab sopan penjual itu. Karina mengangguk mengerti.


Saat memasuki halaman panti asuhan, mereka disambut dengan tatapan takut anak-anak panti yang membuat Karina berkerut dahi. 


"Hei boy, bisa bertemu dengan penanggung jawab panti asuhan ini?" tanya Karina ramah pada salah satu anak berambut cepak.


Anak itu mengangguk dan segera berlari masuk ke dalam. Sedang anak-anak yang lain berdiri diam mengamati mereka. Tak lama ia keluar dengan seorang perempuan sekitar berusia 40 tahunan. Wajahnya tampak keriput dan juga lelah. Dapat dilihat samar matanya sembab seperti habis menangis.


"Ya saya pengurus panti ini. Jika boleh tahu saya berbicara dengan siapa ya?" tanya ramah wanita itu.


"Perkenalkan saya Karina. Ini suami saya," jawab Karina mengulurkan tangannya.


"Saya Marisa. Salam kenal Nona, Tuan muda."


Marisa membalas uluran tangan Karina dan saling berjabat tangan.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya ramah Marisa.


"Hmm … jika saya boleh tahu mengapa anak-anak panti ini begitu ketakutan melihat saya? Apa saya menakutkan? Dan satu lagi mengapa panti ini tidak direnovasi?" tanya Karina heran. Wajah Marisa berubah jadi muram.


"Mari bicara di ruangan saya saja Nona," ajak Marisa.


"Oke. Arion tolong bagikan gula kapasnya ya," pinta Karina pada Arion.


Arion membalasnya dengan tersenyum seraya mengacungkan ibu jarinya. Marisa segera masuk menuju ruangannya diikuti Karina.


Sesampainya di ruangannya, Marisa segera menjawab segala pertanyaan Karina.


Ternyata panti asuhan yang berdiri di lahan seluas 200 meter persegi ini adalah pemberian dari salah satu perusahaan yang pernah berhutang budi pada Marisa.


Namun setelah pemilik perusahaan itu meninggal, ahli warisnya menuntut kembali tanah panti asuhan.


Setiap hari mereka selalu mengancam dan meneror anak-anak panti. Itulah yang membuat anak-anak panti takut dengan orang baru sebab mereka mengira Karina adalah orang yang mau menyakiti mereka.


"Apa nama perusahaan yang berhutang budi pada Anda?" tanya Karina penasaran.


"ST Company," jawab Marisa.


"ST Company? Bukankah perusahaan itu milik Arsuf Stephanson? Dan sepengetahuanku dia hanya memiliki seorang anak angkat?" tanya Karina menyelidik kebenaran yang diungkapkan Marisa.


ST Company adalah perusahaan yang dibangun ayah angkatnya, Pak Suf alias Asruf Stephanson.

__ADS_1


Dan sepuluh tahun lalu perusahaan itu sudah ia gabungkan dengan perusahan yang ia dirikan sendiri.


"Anda benar. Sekarang namanya adalah KS TIRTA GRUB, saya heran mengapa perusahan tak berbelas kasih itu menjadi perusahaan yang terbesar?" jawab Marisa berapi-api.


Karina memegang erat gelas di tangannya. Darahnya mendidih seketika. 


"Apakah Anda tahu siapa saya?" tanya dingin Karina menatap tajam Marisa.


Marisa bergidik merasakan hawa yang mencekam dari tubuh Karina. 


"Bukankah nama Anda Karina …," jawab Marisa namun sudah terpotong oleh Karina.


"Karina Stephanson Tirta Sanjaya. Pemilik dari KS TIRTA GRUB. Putri angkat dari Arsuf Stephanson dan saya tegaskan saya tidak tahu menahu mengenai sengketa tanah ini. Dan saya tidak pernah sekalipun memerintahkan orang-orang saya untuk meminta kembali lahan ini,l ungkap Karina semakin meremas gelas di tangannya hingga hancur.


Darah mulai keluar dari telapak tangan Karina. Marisa menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang Karina katakan.


"Lalu … dari mana datangnya orang-orang yang meneror kami?" tanya bingung Marisa. Tangannya terarah menyentuh tangan Karina.


"Tikus-tikus nakal yang harus segera dibasmi," geram Karina.


Marisa diam dan segera berdiri mengambil kotak obat sebab tak tahan melihat darah yang semakin banyak hingga menetes ke lantai.


Marisa kembali dengan kotak obat di tangannya dan mulai membersihkan pecahan kaca yang menancap di telapak tangan Karina dengan alkohol. Karina diam saja tidak menolak.


Sedangkan di halaman panti asuhan, Arion bermain dengan anak-anak panti dengan riang. Awalnya mereka takut, namun setelah Arion memberikan mereka gula kapas dan bertingkah lucu berhasil membuat mereka lengket dengan Arion.


"Hmm … Kakak mau cerita nih," ucap Arion duduk di lantai teras depan.


"Cerita apa Kak? Oh iya Kak yang sama Kakak tadi cantik ya," sahut salah seorang anak laki-laki berkaca mata.


"Kakak cantik itu namanya Karina, Bayu. Dia itu istri Kakak," jawab Arion.


Dia duduk dengan memangku seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun bernama Amel. Gula kapasnya masih tersisa separuh.


"Oh … istri …," seru Bayu mengangguk.



"Tapi kak cantik-cantik kok pembawaanya dingin sih?" tanya Bayu lagi.


Bayu adalah seorang anak yang dapat mengerti keadaan atau karakter orang dengan sekali lihat. Selain itu juga anaknya memiliki keingintahuan yang besar.


"Sutt … jangan bilang begitu. Nanti singa betina keluar," nasehat Arion.


"Beneran kak? Aku coba ya …," sahut Bayu langsung masuk ke dalam menuju ruangan Marisa.


Arion berusaha mencegah namun anak-anak panti lainnya merengek agar Arion tetap duduk.


"Haduh semoga baik-baik aja deh," gumam Arion.


"Kakak mau cerita apa tadi? Lanjutin dong," pinta Amel.


"Hmm … Kakak mau cerita tentang istri kakak. Kakak tuh dulu gak suka sama istri kakak. Tapi sejalan dengan berjalannya waktu, perlahan hati Kakak ngerasa nyaman dan akhirnya Kakak jatuh cinta deh. Tapi sayang saat ini cinta Kakak bertepuk sebelah tangan. Karina gak cinta dan suka sama Kakak," cerita Arion singkat.


"Sudah selesai ceritanya Kak? Kok pendek sekali? Ceritain dong Kakak cantik balas cinta kakak," ujar Amel.


"Masih berlangsung cantik. Kalian ikuti terus cerita kakak sampai Kakak berhasil mendapatkan hati dan cinta istri Kakak," ucap Arion.


"Oke Lakak. Kita akan selalu doain Lakak dari sini agar cinta kakak cepat terbalas," semangat Amel. Arion tertawa renyah mendengar itu.


"Anak kecil tau apa hah? Tapi makasih doa kamu ya …," ucap Arion menyentil hidung Amel.


Akhirnya, Arion kembali bermain dengan anak-anak panti. Sedangkan di ruangan Marisa, Karina tengah menatap datar Bayu. Bayu melirik Karina takut. Marisa bahkan sudah berkeringat dingin. 


***


Flashback on.


Pasalnya setelah mendengar nasehat Arion, Bayu langsung masuk ke ruangan Marisa tanpa mengetuk pintu lebih dulu dan langsung berteriak pada Karina. 


"Kakak cantik berubah dong jadi singa betina, aku ingin lihat!" teriak Bayu. 


Karina dan Marisa serentak mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu. Wajah Karina menggelap seketika.


Tangannya sudah diobati dan diperban rapi oleh Marisa. Pecahan kaca pun sudah dibersihkan. Marisa segera mendekati Bayu dan menasehatinya. 


"Iya ibu, tapi Bayu ingin lihat. Kata Lakak tampan di depan Kakak cantik ini kalau marah akan jadi singa betina," ujar polos Bayu.


"Kamu gak boleh gitu. Itu cuma ungkapan Bayu. Cepat minta maaf sama Kak Karina. Dia itu dulunya pemilik tanah panti ini," terang Marisa membelai rambut Bayu.

__ADS_1


"Berarti dia orang jahat dong. Ibu jangan takut biar Bayu usir Kakak jahat ini," seru Bayu berkacak pinggang.


Matanya menatap benci Karina. Karina terhenyak melihat kebencian di mata Bayu. Amarahnya kian melonjak bukan karena Bayu melainkan William. Namun, berusaha menahannya di hadapan Bayu. 


Flashback Off.


***


"Siapa namamu?" tanya Karina datar bertopang dagu.


"Nona maafkan dia, dia cuma anak kecil, seperti yang saya cerita sebelumnya anak-anak ini menjadi takut dan benci jika mendengar tentang tanah maupun orang-orang yang sering meneror kami," jelas Marisa berusaha agar Bayu tak kena amarah.


Karina tersenyum tipis dan menatap Bayu meminta jawaban.


"Bayu. Namaku Bayu," jawab Bayu lirik.


"Bayu? Nama yang indah. Kau juga berani. Tapi kakak kemari bukan ingin mengambil tanah ini melainkan membangun panti ini agar nyaman ditempati," ujar Karina yang memainkan jarinya.


"Benarkah? Apakah itu benar? Kakak serius?" Hilang sudah sorot kebencian menyisahkan binar harapan di mata Bayu. Karina tersenyum dan mengangguk.


"Siapa yang bilang kalau Kakak marah, Kakak akan berubah jadi singa betina?" tanya Karina menyelidik.


"Kakak tampan katanya ia suami Kakak," Jujur Bayu. Karina memejamkan matanya menahan emosi . 


"A-R-I-O-N kemari kau!!"


Teriakan Karina menggema di seluruh panti membuat Arion dan anak-anak panti menutup telinga mereka.


"Mamp*s aku," lirik Arion segera menuju ruangan Marisa.


"Ya Sayang?" jawab Arion memenuhi panggilan Karina.


Pandangan Arion terarah pada telapak tangan Karina yang terbalut perban.


"Tanganmu kenapa?" tanya Arion panik langsung melihat tangan Karina. 


"Sayang? Apa yang kau katakan pada anak kecil ini? Kau bilang aku akan berubah jadi singa betina kan?" tanya Karina menggerakan lehernya ke kanan dan ke kiri .


"Jawab dulu tanganmu kenapa?" bentak Arion.


"Tergores pecahan gelas. Sekarang jawab pertanyaanku tadi!" jawab Karina ikut membentak.


"Emm … itu ya… aku gak ngomong gitu kok, iyakan Bayu?" jawab Arion memberi kode pada Bayu agar berbohong. Bayu hanya menatap polos.


"Jangan mengajari anak kecil berbohong. Jujur saja aku tak akan marah kok," ujar Karina tersenyum lebar namun bagi Arion itu alarm darurat. 


"Hehehe … Karina aku minta maaf ya sayang. Jangan marah , please … aku akan lakuin apa aja agar kamu g mak marah ya … ya …," rayu Arion tersenyum manis pada Karina.


"Gitu ya? Oke aku terima tawaran kamu," jawab Arion mengangguk kecil.


"Ibu kami pamit dulu ya … besok siang saya kemari lagi," pamit Karina langsung menarik Arion keluar kembali menuju sepeda mereka.


"Sampai jumpa lagi kakak Karina, kakak Arion …," ujar anak-anak panti melambaikan tangan mereka ke arah Arion dan Karina. 


"Oke. Jumpa lagi," jawab Karina membalas lambaian tangan mereka. Arion hanya mengangguk dan mulai mengayuh sepedanya menjauh dari panti asuhan. Marisa menatap kepergian Arion dan Karina kemudian tersenyum lebar.


"Ibu, aku ingin ikut dengan Kak Karina," ucap pelan Bayu pada Marisa. 


"Kalau begitu kamu harus rajin belajar. Kak Karina itu pemilik KS Tirta Grub sayang," ujar Marisa memberi semangat. Bayu mengangguk mantap.


***


Arion mengayuh sepedanya pelan mengitari taman kota. Matahari semakin meninggi. Hatinya risau sebab setelah dari panti wajah Karina selalu cemberut.


"Kita kemana lagi? Gak jadi food huntingnya?" tanya Arion memecah keheningan.


"Jadilah. Ayo kita ke arah sana. Di sana banyak stand makanan enak," jawab Karina menunjuk arah utara.


"Oke. Jangan cemberut dong. Cantiknya luntur nanti," rayu Arion yang membuat Karina bukannya senang malah semakin kesal.


"Auh …," ringis Arion.


"Sakit tau. Nanti habis daging aku selalu kamu cubit," keluh Arion.


"Biarin," ketus Karina.


Tak lama kemudian mereka tiba di jalan utara yang sepanjang mata memandang, mata disuguhkan dengan jajaran stand penjual aneka makanan.


Mata Karina berbinar seketika. Dengan cepat ia lompat dari sepeda dan lari ke arah para penjual makanan. Arion hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Karina yang seperti anak kecil. Arion turun dari sepedanya dan menuntunnya mengikuti ke mana perginya Karina.

__ADS_1


Karina melihat-lihat aneka makanan dan berhenti di salah satu stand penjual aneka olahan seefood. Pilihannya jatuh pada cumi bakar.



__ADS_2