
"Kakak kita mau kemana?"tanya Enji yang berjalan di samping Karina, menunjukkan wajah penasaran dan bingung.
"Bertemu dengan seseorang," jawab Karina.
"Siapa?"
"Kau akan tahu setelah menemuinya," jawab Karina.
Enji menghela nafas, tetap mengikuti langkah Karina hingga mereka berhenti di depan ruangan yang biasa digunakan untuk menginterogasi.
Penjaga membukakan pintu, Karina masuk diikuti Enji. Enji terkesiap mendapati seorang pria yang seumuran dengan Li duduk dengan kedua tangan terikat di kursi, menatap geram Li dan Gerry yang menatapnya datar. Mulutnya tentu saja dikunci, jika tidak pasti segala jenis umpatan sudah keluar darinya.
"Kakak … bukankah dia?"
"Kau mengenalnya?"
"Tentu saja. Wajar bukan jika aku mengenal CEO Alexander Company?"
"Sayangnya dia di sini bukan sebagai CEO, tapi sebagai kakak iparmu, ah hanya mantan calon kakak ipar," ucap Karina yang membuat Enji mengeryit tidak mengerti.
Sorot mata tajam Loe kini hanya tertuju pada Enji. Geram dan marah, ia berontak seakan ingin menghajar Enji.
"Dia adalah kakak dari ibu anakmu," jelas Gerry menjawab pertanyaan Enji.
"Aku memang tahu bahwa dia punya kakak dan adik. Akan tetapi itu bukan dia!"ujar Enji menunjuk Leo.
"Jika ku katakan bahwa mereka bukan keluarga kandung, apakah kau percaya?"
Li angkat bicara.
"Bukan keluarga kandung?"
"Dia adalah anak dari keluarga Alexander yang hilang setelah sehari dilahirkan. Kejadian ini dirahasiakan dari publik, bahkan dari keluarganya sendiri. Zi, kau selesaikan urusanmu dengannya. Ku rasa ia ingin balas dendam denganmu atas kematiannya. Satu lagi, Enji adalah keluarga Sanjaya, bukan Alexander! Dia bukan hanya anakmu tetapi juga anggotaku, milikku!"tegas Karina, menepuk pundak Enji yang masih mencerna fakta yang baru ia ketahui.
"Lepaskan saja dia setelah itu kita keluar!"titah Karina.
Li dengan cepat membuka semua ikatan pada Leo. Leo membuka sendiri sumpal mulutnya. Karina melangkah keluar duluan, diikuti Li dan Gerry.
Enji masih berdiri kaku, langsung terjerembab ke lantai ketika bogem mentah dilayangkan oleh Leo padanya.
"Dasar bajing*an! Kau membunuh adikku!"
Enji tidak melawan saat Leo menghajarnya dengan membabi-buta.
"Kembalikan adikku! Kembalikan adikku, br*ngsek! Ku mohon kembalikan adikku padaku!"teriak Leo, pukulannya melemah.
Pria itu kini menitikkan air mata. Enji yang merasa sekujur tubuhnya sakit, malah terkekeh, tertawa terbahak.
Leo menatap heran Enji.
"Kau mengatakan aku pria br*ngsek? Pria bajing*an? Lantas kau sendiri? Apa kau kakak yang baik? Apa kau kakak yang hebat? Di mana kau saat dia dianiaya oleh mereka?"
Enji berusaha duduk. Mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Leo terdiam, mundur beberapa langkah.
"Aku … aku … kau?"
"Sekalipun aku bajing*an … setidaknya aku pernah memberi kebahagian padanya. Setidaknya aku pernah menjadi tempat bersandar baginya! Setidaknya aku pernah mengusap air matanya! Setidaknya aku pernah membalut lukanya, setidaknya aku pernah memeluknya di saat ia rapuh! Sedangkan kau? Kau marah mencariku padahal merekalah yang menimbulkan luka mendalam baginya. Ya … aku akui jika aku juga menimbulkan luka baginya. Aku juga menyesal! Tapi aku tidak menyalahkan siapapun atas penyesalan ini! Lantas bagaimana denganmu?"
Kini gantian Leo yang membeku.
"Ya! Kau memang pernah memberinya semua itu! Tapi kau adalah penyebab kematiannya!"
Leo menggeleng keras, menunjuk Enji dengan penuh amarah.
"Pendarahan adalah hal yang wajar saat melahirkan!"sergah Enji.
Mata Leo mendelik emosi, kedua tangan mengepal erat. Ingin kembali memukul Enji tapi diurungkan karena tatapan tajam Enji.
"Aku tidak membalas pukulan ini karena aku menghargaimu sebagai kakak dari ibu anakku! Tapi jika kau memukul lagi, aku akan membalasmu!"desis Enji.
"Kembalikan anak itu untuk membayar semua kesalahanmu pada adikku!"ucap Leo setelah diam beberapa saat.
Enji terkekeh, menatap remeh Leo.
"Atas dasar apa? Jika dia masih hidup pun belum tentu memilih kalian! Dia adalah anakku! Darah dagingku. Sampai mati pun aku tidak akan menyerahkan anakku kepada keluarga Alexander. Silahkan jika kau ingin menuntut ke pengadilan. Aku akan menghadapimu di sana!"
"Kau!"
"Jangan libatkan anakku ke dalam keluarga Anda, Tuan Leo Alexander! Jangan pernah sebut nama anakku dalam nama pewaris keluarga Anda. Aku tahu kau itu seorang transgender, setidaknya lawanlah itu untuk memiliki keturunan. Apa telingamu terbuat dari baja hingga sangat kebal dengan rumor di luar sana?"
"Hentikan omong kosongmu!"bentak Leo murka.
"Lupakan tentang kami! Lupakan itu! Jangan pernah lagi muncul di hadapanku! Kau tidak layak menjadi kakak dari istriku! Kau tidak layak menjadi paman dari anakku! Pergilah. Anakku tidak butuh keluarga Alexander. Kami sudah bahagia, jangan pernah mengusik untuk selamanya!"ucap Enji dingin, bertepuk tangan memanggil penjaga.
"Bawa pria ini kembali ke asalnya!"ucap Enji pada dua anggota yang masuk menghadap.
"Baik, Tuan!"jawab keduanya.
__ADS_1
Leher Leo dipukul hingga ia tidak sadarkan diri.
Enji melangkah keluar dengan langkah gontai, memegang lengan kanan yang terasa sakit.
"Kau tidak marah kan dengan apa yang aku lakukan?"gumam Enji.
***
Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Waktu yang seharusnya hening mendadak pecah karena teriakan yang berasal dari klinik markas. Teriakan yang sangat nyaring, suara wanita.
Di ruang tunggu klinik, ada Karina, Li, dan Elina yang menunggu resah. Ya! Mira sedang melahirkan di dalam sana.
Ditemani oleh sang suami, di tengah malam Mira berjuang untuk melahirkan sang buah hati.
Cucuran keringat, derai airmata, kata semangat dari Gerry menemani malam persalinan. Rasa sakit yang teramat itu kini digantikan dengan senyuman lega keduanya, ucapan syukur dari yang menanti resah di luar.
Suara tangis bayi yang memecah malam menjelang fajar sangat menyejukkan hati. Kini Mira dan Gerry sudah menjadi seorang ayah dan ibu.
Kabar bahagia menyebar cepat di seluruh sudut markas. Semua turut bersuka cita. Anak berjenis kelamin laki-laki itu memiliki senyuman sehangat fajar yang terbit mengusir kegelapan.
Jabir Laith Rafie Munawwir, nama yang Gerry berikan untuk sang anak. Nama yang kental dengan nuansa islami, berbeda dengan agama yang mereka anut. Namun, bagi Gerry dan Mira itu adalah nama yang sangat cocok dan bermakna mendalam.
*
*
*
"Akhirnya dokter kandungan kita ini merasakan sakitnya melahirkan," canda Elina yang duduk di ranjang di samping Mira.
Mira hanya tersenyum, mencium singkat pipi Laith.
"Dan kau juga merasakan rasanya jambakan serta cengkeraman kuat seorang wanita yang akan melahirkan, bagaimana Ger? Rambutmu aman kan?"
Gerry tersenyum malu. Tadi malam sebenarnya bukan hanya teriakan Mira saja akan tetapi Gerry juga ikut berteriak.
"Biarpun begitu, keselamatan kalian adalah yang utama. Sekali lagi ku mengucapkan selamat atas kelahiran Laith," ucap Karina, duduk di dekat Mira, memberikan sentuhan lembut pada lengan dan pipi Laith.
Bayi itu seakan sudah mengerti, tersenyum cerah.
"Lantas apakah kita akan membuat perayaan untuk ini?"tanya Arion yang sudah bersiap ke perusahaan, menggendong Bintang sedangkan Biru sendiri digendong oleh Enji.
Enji, pria itu juga sudah sedia dengan setelan kantornya. Enji akan kembali ke perusahaan hari ini. Helian yang sudah menjadi pimpinan sementara otomatis Karina suruh balik ke KS Tirta Grub.
"Tentu saja," sahut Karina.
"Ku tebak pasti menunya sama dengan perayaan kelahiran Ali beberapa waktu lalu, kan?"
"Tidak ada perbedaan," sahut Karina lagi.
"Ah Karina bagaimana jika kita tambah dengan BBQ? Sebagai perayaan pulihnya Enji dan Joya?"saran Li yang diangguki oleh Elina, Enji, Arion, dan tentu saja orang tua baru itu.
"Baiklah. Menu perayaan selain BBQ serahkan kepada dapur!"putus Karina.
"Bintang dan Biru akan tinggal di markas. Hari ini aku agenda ke luar negeri, kemungkinan senja baru tiba di markas. Jika semua sudah siap namun aku belum kembali, Ar kamu gantikan aku untuk membuka perayaan," ujar Karina.
"Keluar negeri?"
Karina mengangguk.
"Baiklah," jawab Arion.
"Berhati-hatilah!"pesan Li dan Gerry.
"Waspada is my life," sahut Karina, melangkah keluar setelah berpamitan dengan Bintang dan Biru.
Nata dan Niki yang berada di sudut ruangan mendekat untuk menerima Bintang dan Biru.
"Jaga mereka dengan baik!"ucap Arion dengan nada mengintimidasi.
"Nyawa kami adalah taruhannya, Tuan!"jawab Nata dan Niki bersamaan.
*
*
*
Perayaan dimulai ashar. Beruntungnya Arion pulang lebih awal. Karena persiapannya sudah selesai, maka Arion membuka pesta perayaan tersebut. Mira duduk di sebuah ayunan yang sudah dihias dengan Laith dalam gendongannya. Di samping ayunan, ada sebuah box guna jika Mira lelah menggendong, Laith akan ditidurkan di sana.
Suasana markas ramai, penuh dengan suka cita dan canda tawa. Ucapan selamat terus membanjiri Gerry dan Mira. Kedua pewaris bersama dengan Alia dan Ali sendiri acuh dengan keramaian itu. Mereka yang didudukkan di pendopo yang seluruh sisinya sudah diberi pembatas lebih memilih saling bercengkrama satu sama lain. Mengobrol dengan bahasa yang hanya mereka yang mengerti. Ah jangan kira melihat tidak menjadi pusat perhatian atau diabaikan.
Bintang dan Biru tetaplah pemilik perhatian terbesar di sini. Para anggota terus mengamati perkembangan calon pimpinan mereka ini. Kecerdasan yang sudah ditunjukkan sejak usia dini, membuat nama mereka sudah melekat di hati pada anggota.
Hanya saja, suasana terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Queen mereka. Menjelang magrib, Karina belum juga pulang. Handphone tidak aktif, tapi itu tidak membuat para anggota cemas karena kondisi Karina terpantau aman dari ruang satelit.
Hanya saja, hal itu tetap membuat keluarga gelisah. Arion bahkan tak fokus saat menyantap BBQ-nya. Begitu juga dengan Enji. Apakah Karina mendapati masalah di perjalanan? Apakah yang menahan Karina hingga menjelang isya belum juga tiba. Bahkan perayaan saja sudah selesai, begitu juga dengan acara BBQ.
__ADS_1
"Tuan … Queen sudah kembali ke kota ini akan tetapi tertahan di satu titik. Apakah kita perlu mengirim tim?"
Anggota bagian ruang pemantauan melapor.
"Ah Queen sudah melanjutkan perjalanan, Tuan!"
"Baguslah. Berarti bukan hambatan berarti," jawab Li lega.
"Sebentar lagi Karina juga tiba," ujar Li menjawab wajah khawatir Arion, Enji, Maria, dan Amri.
Tak sampai tiga puluh menit, Karina tiba di markas. Helaan nafas lega akhirnya ada juga. Namun seketika membatu kala Karina keluar dengan menggendong sesuatu, seorang bayi?
"Karina anak siapa yang kau culik?"seru Arion langsung melihat wajah bayi tersebut.
Arion terkesiap dengan bayi yang memiliki netra berwarna coklat itu.
"Sayang … anak siapa ini?"tanya Maria, malah ikut mengerumuni Karina.
"Apa kau membunuh orang tuanya?"
Amri ikut menimpali.
"Atau Kakak mungut dari jalan?"
Enji ikut juga.
Karina yang lelah dalam perjalanan, menghela nafas kasar, memanggil penjaga untuk membawa bayi dalam gendongannya ke klinik.
"Setidaknya biarkan aku makan dulu. Aku sangat lapar," ucap Karina.
"Kalian menyisakan daging untukku kan?"
"Tentu saja!"
Karina melangkah duluan menuju ruang makan. Di atas meja terjadi beberapa menu. Karina langsung duduk dan menyantap hidangan dengan lahap.
"Apa Kakak tidak makan di sana atau di pesawat?"ledek Enji yang melihat Karina seakan belum makan seharian.
"Aku hanya minum teh dan susu," jawab Karina.
"Sudah. Lekas habiskan makan malammu lalu ceritakan tentang anak itu tadi," ujar Amri.
Karina mengangguk.
Kini Karina sudah selesai dengan makan malamnya.
"Aku memang memungut anak itu dari jalanan," ucap Karina, kemudian mengusap bibir dengan sapu tangan.
"Apakah itu alasanmu berhenti di titik rawan tadi?"
Karina mengangguk.
"Tangisannya mengusik hatiku. Ku pikir tas ada salahnya mengangkat satu anak," jawab Karina.
Huk?
Arion terbatuk.
"Mengadopsi anak itu? Apa tidak terlalu rumit?"
"Kita berencana punya tujuh anak. Mengangkat satu anak apa salahnya?"
"Mengapa harus diadopsi jika bisa diserahkan kepada markas atau panti asuhan?"heran Li.
"Aku hanya ingin mengantarnya," jawab Karina tegas.
"Lantas siapa namanya? Apakah akan memakai nama keluarga Sanjaya atau Wijaya?"tanya Amri.
"Umurnya dengan Bintang dan Biru tidak berselisih jauh. Arion adalah kepala keluarga, anak itu akan bermarga Wijaya. Ar, Ma, Pa apa kalian keberatan?"
"Aku tidak masalah ia bermarga apa, intinya ia tetaplah anakku," lanjut Karina.
"Baiklah. Ia akan bermarga Wijaya. Boleh aku memberinya nama?"ujar Arion.
Karina mengangguk.
"Apa jenis kelaminnya?"
"Laki-laki," jawab Karina.
"Laki-laki? Bagaimana jika namanya Bima Areksa Tirta Wijaya?"
"Great!"
"Wonderful!"
"I agree with you, brother!"
__ADS_1
Karina mengangguk menyetujui, tersenyum lega.
Aku menepati janjiku. Istirahatlah dengan damai di sana, batin Karina.