Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 117


__ADS_3

Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tempat tujuan membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan dengan kecepatan tinggi. Arion hanya bisa mengulum senyum melihat dan merasakan bagaimana Karina mengemudi.


Dalam hatinya kapok naik mobil jika Karina yang membawa. Bukan hanya Arion yang kapok, para bawahan lainnya pun kapok. Mereka lebih memilih Karina duduk diam di kursi penumpang dari pada harus mengemudi.


Waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Arak-arakan pasukan Karina kini berbaris berbanjar tak jauh dari lokasi target.


Apalagi kalau bukan markas kelompok Cinnamon. Lampu kendaraan mereka matikan, hanya bersinarkan sinar rembulan samar yang berbias dari cela dedaunan rimbun pepohonan.


Ya. Tempat di mana kelompok Cinnamon adalah berada di tengah hutan di kota B. Mereka dikenal sebagai kelompok dengan anggota wanita semua, para pria hanya dibutuhkan kala ingin memiliki keturunan, itupun jika keturunannya pria akan mereka buang atau dibunuh.


Sadis memang, para pria yang ingin mereka miliki keturunan pun harus memiliki kualifikasi yang mumpuni. Bukan sebarang comot.


Elina adalah pimpinan kelompok ini. Pangkal awal kelompok ini bermasalah dengan Karina adalah anggota Elina yang menculik Enji untuk dinikahkan dengan Ketua mereka.


Tentu saja dengan alasan untuk memiliki anak. Enji dinilai memenuhi semua kriteria Elina. Namun sayangnya mereka ceroboh, mereka tidak mengetahui bahwa Enji adalah adik Karina. 


Demi menyelamatkan Enji, Karina turun tangan dan mengobrak-abrik markas kelompok ini di mana sedetik lagi kata sah terucap.


"Li, beri mereka peringatan," titah Karina melalui earphone yang terpasang di daun telinganya.


"Baik," sahut Li. Li segera keluar dari mobil.


Segala alat pengaman melekat pada dirinya, mulai dari rompi anti peluru, pelindung kaki, siku dan lengan serta kepala. Di pinggangnya terdapat beberapa granat, baik asap, bius maupun ledakan.


Li menyelinap yang ingin menyelinap masuk ke dalam markas agak bingung, pasalnya ia ingin melompati dan memanjat tembok pagar namun nyatanya tembok pagar terdapat aliran listrik bertegangan tinggi.


Untung saja Li waspada dengan mengujinya dengan daun kering, jika tidak bisa jadi dia ikut kering kesetrum. Gosong bak batu bara. 


Terlihat cahaya mercusuar bergerak kesana-kemari, mengawasi sekitar markas. Li melirik kanan-kiri. Ia mendesah pelan.


"Seperti aku harus melakukan cara itu," gumam Li.


Li lantas kembali menyambung dengan Karina.


"Queen, saya akan melakukan rencana pribadi plan B. Mohon persetujuannya," ucap Li pada Karina.


Karina yang berada di mobil mengerutkan keningnya. Arion menatap Karina dengan tanda tanya. Topeng hitam yang ia gunakan ia campakkan waktu di tengah jalan.


"Ada apa?" tanya Arion.


"Bukan apa," jawab Karina pada Arion.


"Kau yakin Li?" tanya Karina serius pada Li.


"Saya serius Queen," jawab mantap Li.


"Hmm … oke. Ingat jangan sampai tertangkap dan berakhir di ranjang Elina."


Karina memberi peringatan yang membuat Arion membelakan matanya. Ia menebak rencana Li.


"Baik Queen," sahut Li.


Panggilan via earphone selesai. Arion langsung menyampaikan rasa penasaran dan tebakannya.


"Sayang, apa maksud Li adalah dia menjadi umpan?" tanya Arion.


Karina mengangguk kepalanya. Arion menggelengkan kepalanya, benar-benar gila rencana Li.


"Rian, Satya, Gerry, kita tunggu sebentar, tunggu aba-aba dari Li," titah Karina pada ketiga tangan kanan lainnya yang masih berada di mobil belakang.


Gerry selanjutnya memberi intruksi pada pimpinan pasukan elit di setiap bus mini. Karena kali ini musuhnya adalah pasukan wanita maka Karina menurunkan pasukan elit wanitanya.

__ADS_1


 Hmm … sudah mirip sebuah negara, ada pasukan wanita dan pasukan pria. Kesetaraan gender memang berlaku. Para wanita tak lagi dianggap enteng. Kini wanita tak sebatas hanya ibu rumah tangga, banyak sudah ragam pekerjaan yang dipimpin oleh seorang wanita.


***


Kini Li membuka semua alat tempurnya. Hanya menyisahkan kaus hitam, celana panjang serta sebuah pistol di balik kaos dan earphone di telinga yang samar tertutupi oleh topi. Li lantas berjalan menuju gerbang utama.


"Halo … ada orang? Saya butuh bantuan," teriak Li keras namun tak mengedor pintu sebab pintu juga terdapat aliran listrik.


"Halo? Please help me," teriak Li lagi.


Tak lama, ada suara balasan dari menara di dalam samping gerbang.


"Woah … pria tampan. Seperti cocok dengan Ketua," pekik penjaga wanita yang membalas teriakannya.


Li tersenyum miring, ia mendongak ke atas, menujukan wajah sedihnya.


"Tolong bantu saya. Saya tersesat," ucap Li.


"Tunggulah tampan. Kami akan membantumu dengan senang hati," sahutnya lantas membuka gerbang bambu itu.


Kini terhampar jelas bagaimana rupa kediaman kelompok Cinnamon bermukin. 


Ini lebih mirip seperti kampung pedalaman namun sudah dilengkapi dengan aneka teknologi canggih. Pohon kayu manis terjajar rapi kala mulai memasuki pemukiman.


Li dapat mencium wanginya aroma kayu manis. Saat sedang mengamati, tiba-tiba ada yang memegang lengan kanannya. Li menoleh. Seorang wanita yang Li perkirakan usia sama dengan Joya, 28 tahun tersenyum manis padanya. 


Wanita itu memakai kain menutupi bagian bawah dan jubah hangat menutupi bagian atasnya. Di kepalanya terdapat sebuah tiara, melambangkan pimpinan kelompok ini. Lehernya terdapat kalung dengan liontin taring. Gelang kaki dari tulang menghiasi pergelangan kakinya.


Elina, cepat sekali dia muncul, batin Li.


Em … memang usia Joya 28 tahun, Darwis pun berusia sama, sebab mereka sekelas waktu kelas X. 


"Hai tampan ada yang bisa dibantu? Kebetulan aku juga membutuhkan bantuanmu," ucap Elina dengan nada seksi menggoda Li. 


"Aku butuh tempat bermalam sampai besok pagi. Apa Anda keberatan?" jawab Li berusaha menyingkirkan tangan Elina dari tangannya.


"Hmm … seperti ada. Kau bisa bermalam di kediamanku," ujar Elina tetap lengket bak cicak pada dinding.


Li dindingnya, Elina cicak berekor putus, sebentar lagi.


Elina segera menarik Li. Li tersenyim tipis. Rencananya berakhir, Elina kurang waspada, tetapi bukan itu rencananya. Li ingin Elina waspada dan lebih matang dalam menghadapi Karina. 


Jika andainya Karina ingin segera membumihanguskan kelompok ini dalam diam, mudah sekali. Kendaraan tempur aneka jenis sudah bertengger manis di garasi militer markas. Tinggal kata hancurkan, niscaya kini kelompok Cinnamon sudah tinggal nama. 


Tujuan Karina bukanlah untuk menghancurkan kelompok Cinnamon, melainkan membuat kelompok ini tunduk dan menyerah padanya. Membuat kelompok ini menjadi bagian dari Pedang Biru. Tunduknya Elina lebih berarti daripada kehancuran Elina.


Kini Li telah berada di kediaman Elina, di depannya sudah disuguhi aneka makanan dan minuman. Arak adalah yang paling banyak. 


"Tuak?" gumam Li mengangkat cangkir bambu berisi minuman hasil pengolahan lebih lanjut dari air sadapan aren.


"Ya, kami buat sendiri. Atau kau tak suka? Kau biasa minum anggur ya? Wine, bir, vodka, winskey atau apa?" tanya Elina beruntun mencondongkan tubuhnya pada Li, hingga dada Elina tepat berada di hadapan Li. 


Jujur saja, Li terangsang. Enam bulan lebih ia tak merasakan kenikmatan berhubungan. Namun ditahan sebab masih dalam misi. Bisa-bisa sehabis battle ini dia menjadi kasim. Hancur sudah masa depannya yang panjang jika itu terjadi.


Li meletakkan kedua tangannya menyilang di depan dadanya sendiri.


"Biasanya wine. Tetapi ini juga tak apalah. Hm … bisakah Anda mundur sedikit. Saya tidak bisa minum," jawab Li.


"Hmm … wine ya? Seperti kami masih ada persediaannya. Kalau begitu, tak usah kamu minum itu. Akan ku sajikan wine untukmu, tampan," ujar Elina memundurkan tubuhnya dan duduk bersilang kaki di kursi rotan.


Li mengangguk dan meletakkan kembali gelas bambu itu. Padahal bibir dan ujung gelas sudah bersentuhan.

__ADS_1


Elina menitahkan salah seorang bawahannya untuk mengambil wine di tempat yang ia tujukan. Tak lama, sebotol wine berada dalam genggaman Li. Li segera meminumnya, seketika rasa hangat menjalar dalam tubuh.


"Di mana aku bisa tidur?" tanya Li menunjukkan ekspresi kantuknya.


"Di sana," jawab Elina menunjukkan kamarnya sendiri. 


Akhirnya Tuhan berbaik hati padaku. Pria tampan ini akan menjadi benih yang sempurna, ya walaupun masih di bawah Enji sedikit, batin Elina tersenyum lebar.


Li segera bangkit dan menuju kamar yang ditunjuk oleh Elina. Namun sebelumnya, Li meletakkan sebuah kertas di meja. Elina mengambilnya.


Berhati-hatilah dan bersiaplah. Musuh mengepung markasmu. Kau ceroboh memperbolehkan musuh masuk. Pedang Biru bersiap menyerangmu. 


Elina geram seketika. Ia meremas kertas itu.


"Amoy!" teriak Elina memanggil pimpinan pasukannya.


"Saya ketua," sahut Amoy segera mengadap.


"Siapkan semua pasukan. Kita berperang sekarang juga!" perintah Elina menarik pedang yang terdapat di dinding.


Amoy tersentak dan segera undur diri menyiapkan pasukan. Elina dengan langkah cepat memasuki kamarnya.


"Di mana kau?" panggil Elina berang meneliti seluruh seluk beluk kamar. Li sudah kabur melalui jendela.


Elina keluar kamar dan keluar dari kediamannya.


Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan ke arah langit malam, tak lama pasukan Karina memasuki gerbang utama markas setelah Li membuka pintu gerbang. 


"Musuh datang. Persiapan tempur dimulai," pekik Amoy menghunuskan pedangnya ke langit. 


Pasukan elit Karina berbaris bersab, berhadapan dengan barisan pasukan Cinnamon. Meraka belum saling menyerang sebab belum ada aba-aba menyerang, hanya persiapan.


Elina dengan wajah garangnya maju ke depan barisan, mengacungkan tinggi pedangnya ke arah pasukan elit.


"Mau apa kalian lagi hah? Belum cukup merebut calon pengantin dan hewan kesayanganku?" sarkas Elina geram.


"Di mana pimpinan kalian? Di mana wanita dingin itu?" tanya Elina dengan nada tinggi, membentak pasukan elit. Pasukan elit diam bak patung, tak menjawab dan melakukan gerakan apapun. Itu menambah kegeraman Elina.


 Dia ditipu oleh pria tampan yang tak lain adalah Li yang telah kembali bergabung dengan Karina dan kawan-kawannya.


"Sialan. Harusnya aku sudah memulai acara membuat keturunan," gumam kesal Elina mengertakkan giginya.


"Santai Elina. Aku di sini. Jangan gampang emosi. Nanti kau cepat tua. Ku lihat kerutan di wajahmu semakin banyak ketimbang saat kita battle dulu," sahut Karina santai masuk ke dalam barisan pasukan, diikuti Arion dan lainnya.


Karina meledek Elina dengan senyum miring. Tangannya memainkan pena pedang lasernya.


"Hmph. Mau apa lagi kau? Apa pria tadi bawahanmu? Di mana calon pengantinku dan hewanku?" tanya Elina berkacak pinggang, pedangnya ia tancapkan ke tanah.


"Hmm … ya Li memang anggotaku. Untuk Enji dia tiada tujuh bulan lalu dan Miu dia hidup nyaman di markasku," jawab Karina, membuat Elina membelalakan matanya. 


Nyut.


Hati kecilnya berdenyut. Enji yang notabenya adalah cinta pertama Elina telah tiada. Elina meneteskan air mata. Memang kelompoknya adalah penculik lelaki, mereka memang pemilih, tetapi tetap saja mereka dapat merasakan jatuh cinta.


Namun peraturannya adalah apabila sudah dinyatakan hamil, maka pria yang berhubungan dengan mereka akan mereka buang dan hilangkan ingatannya. Tidak dibunuh. Belum ada pria yang berhasil mematahkan peraturan itu. Ada masih dijalankan dengan tegas walaupun rasa cinta harus dikorbankan.


"Kau membunuhnya?" tanya Elina mendesis curiga pada Karina.


"Heh? Membunuhnya? Hei perawan tua apa kau lupa bahwa dia adalah adikku? Apa aku terlihat tega menghabisi keluargaku sendiri? Aku memang kejam tetapi itu pada lawan dan musuh, terlebih musuh dalam selimut. Jangan harap bisa hidup dengan tenang," jawab Karina santai.


Lagi-lagi meledek Elina. Apa yang dikatakan Karina memang ada benarnya, Elina belum pernah berhubungan dengan pria manapun.

__ADS_1


Menurutnya tak ada yang sesuai kriterianya. Kecuali Enji walaupun batal dan Li, berhasil menyusup sedikit ke dalam hatinya dan kriterianya juga memenuhi.


__ADS_2