Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
Kekhawatiran Karina


__ADS_3

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 23:59 . Para tamu sudah meninggalkan aula pulang menuju rumah masing-masing. Begitu juga dengan Lila, Raina, Sam dan Calvin. 


Awalnya mereka diminta untuk menginap oleh Maria di hotel namun dengan berbagai alasan mereka menolak.


Kakek Bram, Amri dan Maria telah berada kamar masing masing. Tinggallah Karina dan Arion yang berjalan menuju kamar mereka. Sepanjang perjalanan menuju kamar,Arion merasa gugup sekaligus bahagia karena ini adalah malam pertamanya dengan Karina.


Lain halnya dengan Karina yang gelisah karena sedari tadi ia tak melihat Enji. Rasa khawatir pun mengusik ketenangannya.


Sesampainya di kamar, Arion langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan mengurangi rasa gugupnya.


Sedangkan Karina dengan sabar menunggu Arion keluar dari kamar mandi. Namun tiba-tiba hatinya merasa sakit. Itu bukan penyakit tapi seperti sakit saat akan kehilangan orang terdekat. 


Karina mencoba menghubungi Enji namun handphonenya tidak aktif. Karina mencoba melacak keberadaan Enji melalui GPS di jam tangannya yang tersambung ke laptop Enji. Karina tahu bahwa Enji tak bisa lepas dari laptopnya. Ke manapun ia pergi pasti akan selalu dibawa.


Karina menemukan keberadaan Enji tengah berada di kamar hotel yang ia siapkan.


"Aneh? Kalau handphonenya kehabisan daya kan di sana ada tempat untuk menchargernya lagipula setahuku powerbanknya selalu standbay. Atau jangan-jangan ...?" gumam Karina.


Tanpa pikir panjang Karina langsung membuka gaun pengantin yang ia gunakan dan mencari gantinya di lemari. Akan tetapi yang ia temukan malah menemukan sepotong baju tidur yang sangat tipis. Ia mengambilnya dan menelitinya.


"Apa apaan ini??!!" kesal Karina.


Ternyata saat Karina mengambil lingerie itu bertepatan dengan Arion yang keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk dan bertelanjang dada.


"Ah ... ternyata istriku sama sepertiku. Kau sudah tidak sabarkan untuk melakukannya?" seru Arion mendekati Karina.


Karina berbalik melihat Arion yang mendekatinya dengan bertelanjang dada. Dengan cepat Karina meleparkan lingerie yang ia pegang ke wajah Arion.


"Tidak!!" ujar Karina tegas.


"Hah? Apa?" ucap Arion heran merasa salah dengar.


Karina tak menghiraukan pertanyaan Arion. Ia beralih membuka lemari di sebelahnya yang merupakan lemari untuk pakaian Arion. Ia memgambil satu celana ponggol dan kaos Arion. Dengan cepat ia menggunakan keduanya.


"Hei mengapa kau memakai pakaianku? Harusnya kan kau memakai ini," ucap Arion menunjuk lingerie di tangannya.


"Aku mau keluar. Kau saja yang pakai itu!" jawab Karina tegas.


"Keluar? Tapi ini sudah tengah malam dan lagipula inikan malam pertama kita!" sergah Arion menahan Karina.


"Aku hanya keluar menuju kamar Enji," jelas Karina.


"Enji? Mengapa kau mau ke kamarnya?" tanya Arion.


"Firasatku mengatakan ada sesuatu yang terjadi padanya jadi aku mau mengeceknya," ujar Karina berjalan menuju pintu.


"Tunggu ... jadi kau mau meninggalkanku hanya untuk mengecek dia? Lagian diakan sudah dewasa pasti dia baik-baik saja,"


cegah Arion mencekal tangan Karina.


"Jadi kau melarangku? Dengar ya aku yang merawatnya dari usia 11 tahun dan satu lagi firasatku tidak pernah salah!" putus Karina melepaskan cekalan Arion dan membuka pintu.


"Hei ... aku bilang tidak ya tidak!" ucap Arion tinggi.


Di luar Karina menemukan Amri, Maria dan kakek Bram berada tepat di depan pintu yang terdiam dan langsung tersenyum canggung.


"Ehh ... kamu kok keluar dan kenapa juga kamu pakai pakaian Arion?" tanya canggung Maria.


Karina hanya menatap datar mereka dan langsung berjalan cepat menuju kamar Enji.


Merasa diabaikan oleh menantunya membuat Maria meminta jawaban dari putranya yang tengah cemberut.


"Mau kemana Karina Ar?" tanya  Maria.


"Kamar Enji!!" ketus Arion.


"Mengapa?" Kali ini kakek Bram yang bertanya.


"Katanya dia ada firasat buruk tentang pria itu," jawab kesal Arion.

__ADS_1


"Oh ... jadi begitu," ucap ketiganya bersamaan mendengar jawaban Arion.


"Ya udah cepetan kamu pakai baju abis itu kita susulin Karina!" perintah Amri.


"Buat apa? Palingan juga tidur dia nya," tolak Arion.


"Kamu ini ... cemburu kok sama saudara cepetan kamu pakai baju sana!" perintah Amri lagi yang mulai kesal dengan kecemburuan Arion.


Arion dengan bersungut-sungut menuju lemari dan mengambil pakaiannya lalu memakainya.


Dengan enggan ia mengikuti Amri, Maria dan Kakek Bram menuju kamar Enji.


Seharusnya ini malam pertama aku dan Karina. Seharusnya sekarang kan kami bermesraan bukannya mengecek pria itu, sungut Arion dalam hati.


Sesampainya di depan pintu kamar Enji, mereka melihat Karina yang mengetuk-ngetuk pintu seraya memanggil Enji.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Enji?" panggil Karina.


"Enji??"


"Enji??" panggil Karina berulang ulang. Namun, ada tanda bahwa pintu terbuka.


Karina mencoba membuka pintu namun ternyata itu dikunci dari dalam.


"Tuh kan pasti dah tidur dia. Menyebalkan. Sudah ayo kita kembali ke kamar," ujar Arion yang masih kesal.


Karina berbalik dan menatap marah Arion.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Arion polos.


Karina berjalan pergi meninggalkan pintu kamar Enji. Arion tersenyum puas. Kakek Bram, Amri dan Maria yang melihat itu juga bersiap meninggalkan pintu kamar Enji.


Brakkkk ....


Bunyi pintu kamar yang didobrak Karina.


Amri dan Maria terkejut dengan kekuatan Karina yang sanggup membuka pintu dengan sekali dobrakan, begitu juga dengan Arion dan Kakek Bram.


Pasalnya kayu yang digunakan untuk membuat pintu itu adalah salah satu kayu yang paling kuat.


Mereka berempat mendekati Karina yang terdiam melihat ke dalam kamar. Di sana mereka menemukan sesosok pria tengah terbaring di atas ranjang.


"Benarkan ucapanku dia itu tertidur sangat lelap," ucar Arion yang langsung memegang tangan Karina dan hendak menariknya pergi.


"Tidak! Tidak mungkin seseorang bisa tertidur lelap mendengar suara keras dobrakan pintu ini," bantah Amri.


Karina melepaskan pegangan tangan Arion dan berjalan mendekati Enji yang terbaring di ranjang. Ia menepuk-nepuk pipi Enji.


Puk ....


Puk ....


Puk ....


"Enji? Enji ... Enji ... bangun Enji ...," panggil Karina.


Enji diam tak merespon. Merasa tak ada respon Karina meletakkan telapak tangannya di dahi Enji.


"Dingin," gumam Karina


Karina lantas memeriksa denyut nadi Enji.


"Denyutnya sangat lemah!?" seru Karina.

__ADS_1


Karina tanpa pikir panjang langsung menghubungi Li yang diperintahkan standbay di hotel melalui earphone yang ia pasang sebelum ke kamar Enji.


"Ya saya Queen," jawab Li.


"Siapkan mobil dalam 2 menit aku akan turun ke bawah!" perintah Karina.


"Si Queen," ucap Li.


Tanpa aba-aba Karina langsung mengendong Enji ala bridal Style menuju mobil.


Arion terbelalak melihat itu begitu juga dengan tiga orang di sampingnya.


Menyadari Karina telah keluar dari kamar membuat Amri dan Arion langsung mengejar Karina.


"Karina biar Arion saja yang mengendong Enji," saran Amri.


"Iya biar aku saja lagian kamukan sudah lelah seharian," lanjut Arion.


Karina mengabaikan keduanya. Tepat Karina melangkahkan kakinya di lobby hotel mobil yang dikendarai Li sudah menunggu manis di sana.


Li segera membukakan pintu untuk Queennya. Karina dengan cepat masuk ke dalam mobil dan meletakkan kepala Enji di pangkuannya.


"Tirta Hospital!!" ucap Karina.


"Ya Queen," jawab Li cepat.


Saat hendak menjalankan mobil kaca mobil Karina di mana Karina duduk diketuk-ketuk Arion dari luar.


"Hei jadi kau meninggalkan aku?" tanya kesal Arion.


"Tidak ada kursi kosong," jawab Karina.


"Kan ada satu lagi di samping supir?" tunjuk Arion.


Tiba-tiba kaca mobil bagian di samping Li terbuka menampilkan Gerry yang tersenyum manis.


"Sudah lihatkan. Li ayo berangkat!" ujar Karina gusar akan Enji.


Mobil Karina bergerak pelan meninggalkan hotel. Tak sampai 10 detik mobil Karina sudah melaju kencang membelah jalanan di tengah malam.


"Aiya ... mengapa aku ditinggalkan? Dan kenapa tidak menggunakan mobilku saja?" pusing Arion.


"Sudah pasti Karina tak menyuruhmu. Kau ini sangat cemburuan pada Enji. Lagi pula akan membutuhkan waktu yang lebih lama jika memakai mobil kita," sahut Amri.


"Kau harus kembali ke kamar mengambil kunci mobil dan bergerak dengan cepat menuju parkiran bawah tanah. Mau berapa lama ? Dan lihat tadi Karina hanya butuh 2 menit untuk menyiapkan mobil," lanjut Amri menerangkan.


Arion tertunduk lesu mendengan ucapan papanya. Ia tak menyangkal bahwa itu semua benar.


"Mengapa kau diam? Cepat ambil kunci mobilmu di kamar dan mobilnya jangan kelupaan. Papa akan memanggil Mama dan Kakek," perintah Amri .


Arion dengan cepat melaksanakan perintah Ayahnya.


***


Karina sibuk mengosok-gosok telapak tangan Enji yang dingin. Mobil melaju kencang namun bagi Karina itu seperti siput.


"Tidak bisakah kau mengemudi lebih cepat Li?" tanya Karina tak tenang.


"Ah ... baik Queen," ujar Li gugup.


Jujur saja Li dan Gerry tak pernah melihat Queennya gelisah seperti ini. Biasanya sebesar apapun masalah atau keadaan Karina menghadapinya dengan wajah datar nan dingin.


Li menambah kecepatan mobil. Sebenarnya perjalanan ke rumah sakit hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari Hotel Grand Nusa.


5 menit kemudian mereka sampai di Tirta rumah sakit. Para petugas medis beserta brangkar sudah menunggu di sana.


Mereka dengan sigap membuka pintu mobil Karina dan mengeluarkan Enji lalu meletakkannya di atas brangkar.


Dengan cepat mereka membawa Enji ke ruang IGD. Karina, Li dan Gerry menunggu di ruang tunggu IGD. Karina dengan kesal meninju dinding rumah sakit.

__ADS_1


"Bod*h ... bod*h ... bod*h sekali aku!" umpat Karina frustasi.


Li dan Gerry mencoba menenangkan Karina. Tak lama kemudian Arion dan yang lainnya tiba di ruang IGD.


__ADS_2