Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 226


__ADS_3

Satu jam Karina menceritakan hal itu, Arion bahkan sudah ngantuk seperti ayam. Karina yang kesal, langsung menendang Arion. Arion jatuh ke lantai dan mengaduh sakit. Ia membuka matanya dan menatap kesal Karina. Berdiri sembari memegang pinggangnya.


"Mengapa kau menendangku? Kau itu KDRT lagi!" protes Arion naik ke ranjang lagi.


"Kau mengabaikanku saat aku bercerita! Kau malah tidur. Sialan!" sahut Karina kesal.


"Aku tidak tidur, hanya mengantuk!"kilah Arion, membaringkan tubuhnya, seraya meminimalkan rasa sakit yang ma sih terasa.


"Sama saja!" ketus Karina.


"Aku ada pertanyaan," ujar Arion. Karina menoleh sebal ke arah Arion yang memejamkan matanya.


"Apa?" tanya Karina galak.


"Berbaringlah di sampingku dulu," pinta Arion. Karina dengan ogah-ogahan berbaring di samping Arion. Mata keduanya beradu pandang, bahkan deru nafas mereka saling bersahutan. Sangat dekat.


"Mengapa kau memberi mereka jangka waktu?" tanya Arion. Mengecup singkat bibir ranum istrinya.


"Mengapa? Karena aku sudah menetapkannya. Aku memberi mereka racun lagi, namun bedanya racun yang ini sangat lama reaksinya. Dan akan pecah pada saat ulang tahun ke 20 anak itu. Sayangnya, belum genap 20, sudah koid duluan. Jadi, aku tidak perlu merasa bersalah!" jawab Karina pelan dan santai.


"Owh, kalau begitu, mari tidur," ajak Arion.


"Kiss lagi? Ya?" Karina berubah jadi manja. Dan berani merayu Arion. Arion sempat terkejut namun dengan senang hati memberikannya.


"Mau tambah?" goda Arion setelah bibir mereka berpisah.


"Cukup! Dan tidur," sahut Karina. Arion tersenyum. Keduanya lantas berpelukan dan memejamkan mata menuju alam mimpi.


*


*


*


Subuh pun tiba. Di tempat pembaringannya, Joya masih betah menutup mata. Di sisi kanannya, Darwis tidur dengan duduk di kursi dengan kepala bertumpu pada pinggiran ranjang. Tangannya menggenggam erat tangan Joya. 


Tak lama, Darwis mengangkat wajahnya dengan mata yang masih tertutup. Suara ketukan pintu, membuatnya membuka mata sempurna. Darwis menatap Joya dengan tatapan sendunya, hatinya berkedut tidak sabar menunggu Joya membuka mata. Rasa cemas masih membayanginya. 


 Suara ketukan terdengar lagi suara pintu diketuk. Dengan segera Darwis berdiri dan melangkah gontai untuk mengecek seraya mengucek matanya.


"Siapa?" tanya Darwis serak saat membuka pintu.


"Kalian?" Darwis bingung mendapati dua sahabatnya, Rian dan Satya datang dengan wajah tersenyum lebar. Rian mengangkat satu tangannya yang membawa rantang berisi makanan.


"Assalamualaikum Wis," sapa Rian.


"Waalaikumsalam," jawab Darwis.


"Kenapa Wis? Kami sebagai sahabat yang setia dan sepenanggungan harus saling mendukung. Kamu lagi di fase lemah dan kami harus merawatmu, okey?"


Setelah berucap, Satya melenggang masuk ke dalam, tanpa menunggu izin dari Darwis diikuti Rian. Darwis mengerjap sebentar lalu segera menyusul Rian dan Satya.


"Memangnya aku pria lemah? Ini aneh, kalian subuh begini datang hanya membawa makanan? Seharusnya kalian ke kasino saja!" ucap Darwis duduk di sofa.


"Setelah matahari muncul nanti, baru kami ke kasino. Hei, Wis kau tidak sholat? Sekalian mendoakan agar istrimu cepat sadar?" tanya Satya.


Darwis menghela nafas dan mengangguk. 


"Ya kau benar. Rian, kau ikut kan? Kita jamaah di masjid," tanya Darwis.


"Hei, kau aneh! Itu sarapan pagiku, pasti akan ku lakukan, ayo!" sahut Rian dengan nada galaknya. Darwis dan Rian segera keluar kamar menuju masjid rumah sakit.


Sedangkan Satya, duduk bersilang kaki dan tangan. Satya memang berbeda keyakinan dengan Rian dan Satya. Pedang  Biru bukan satu keyakinan saja, toleransi antara sesama anggota sangatlah erat, tidak membedakan satu sama lain. Ia lalu  menatap lekat Joya yang masih belum sadar dengan senyum tipis. 


"Cepatlah sadar, kakak ipar. Kau mau membuat Darwis kurus kering karena tidak makan? Dia sangat mengkhawatirkanmu. Tetaplah kuat, karena kau adalah semangatnya selain Karina. Darwis yang ku kenal sebelum menikah denganmu, tidak pernah menangis kecuali pada Karina. Sekarang, dia sering menangis, haih, pria memang bisa berubah karena wanita," gumam Satya, lalu mengambil handphone dan memainkannya.

__ADS_1


*


*


*


Setengah jam kemudian, Rian dan Darwis kembali. Wajah Darwis yang pergi kusut, sekarang lebih segar dan bersemangat. Rian duduk di samping Satya sedangkan Darwis mendekati Joya dan memberikan ciuman selamat pagi di kening. 


"Wis, kami berangkat ke kasino ya? Jangan lupa makan yang kami bawa, dijamin lezat karena kami yang memasak dengan penuh harapan dan doa."


Satya pamit saat Darwis duduk. Darwis mengerucutkan bibirnya dan menunjukkan wajah sebalnya.


"Bye Wis, Assalamualaikum," ujar Rian.


"Waalaikumsalam," sahut Darwis.


Kedua orang itu segera meninggalkan ruangan Joya dan rumah sakit menuju kasino tempat mereka memimpin.


Saat Darwis menatap Joya, Darwis menangkap gerakan kecil dari jemari Joya. Segera Darwis mendekat. Gerakan jemari Joya terlihat nyata dan jelas, tidak samar, diikuti dengan gerakan mata Joya yang menutup dan suara erangan.


"Joya, Sweetheart, kau sudah sadar?" Wajah Darwis menegang tidak sabar. Perlahan, netra Joya membuka dan menyesuaikan cahaya yang masuk.


Joya mengerang dan melirik ke arah sang suami yang menatap cemas dirinya, namun seraut rasa bahagai juga terpatri di sana.


"Wis," panggil Joya lirik, mengerjapkan matanya menatap Darwis.


"Ya Sweetheart, aku di sini." Diraihnya tangan Joya dan ia kecup dengan penuh kasih sayang.


"Aku kenapa?" tanya Joya setelah mengedarkan pandangannya dan mendapati ia berada di ruang rumah sakit. 


"Kamu pingsan di kamar mandi.  Kamu membuat jantungku berhenti berdetak saat itu, maaf sayang, aku ceroboh!" Darwis memeluk Joya dan menumpahkan air matanya.


"Sesak Wis," keluh Joya. Darwis segera melepas pelukannya dan menekan bel memanggil dokter.


"Maaf," sesal Darwis. Tak lama dokter pun datang, segera memeriksa keadaan Joya dan menanyakan beberapa pertanyaan. 


"Saat saya sedang berendam, tiba-tiba saja kepala saya terasa sangat sakit. Seperti ada yang menancampakan benda tajam di kepala saya. Bukan sekali, tapi berkali-kali dan rasanya sangat sakit, diikuti dengan darah yang keluar dari hidung saya, setelah itu, kegelapan menyambut saja. Begitu saya terbangun, saya sudah berada di sini," jawab Joya serius.


"Mengapa kau tidak teriak atau memanggilku? Kau menahannya sendirian!" Darwis kesal, sebagai suami, ia ingin menjadi tempat bersandar bagi Joya. Dalam situasi apapun itu!


"Maaf, aku tidak mau membuatmu khawatir, oleh sebab itu aku menahannya dengan mengigit bibirku," ujar lirik Joya menyesal.


"Maaf," pinta Joya sekali lagi dengan butiran krital bening jatuh membasahi pipinya.


Darwis, langsung tersadar dari kekesalannya dan memeluk Joya, mengucapkan kata maaf atas kekesalannya tadi. Dokter kemudian mengambil pembicaraan dan memberikan pengarahan serta ajuran, tak lupa memberikan resep pada Darwis untuk ditebus di apotek. Setelah itu, Dokter keluar dengan wajah yang terlihat tertekan.


Ia jelas merasa tertekan sebab penyakit Joya iyalah yang mengontrolnya. Menangani penyakit langka yang obatnya saja masih menjadi misteri. Entah ini keberuntungan atau kemalangan. 


Sepeninggalan dokter, Darwis kembali memeluk Joya.


"Apa kondisiku jadi semakin buruk? Aku merasa, berat badanku mulai berkurang!" Joya menatap sendu Darwis. Darwis menghela nafas panjang.


"Kamu akan baik-baik saja. Semua okey, kamu, kita harus optimis. Jangan pernah sungkan padaku. Kamu adalah aku, aku adalah kamu. Kita dua ragam dalam satu hati. Rasa sakitmu, adalah rasa sakitmu. Saat melihatmu sakit, aku juga merasakannya. Ikatan kita lebih kuat, Sweetheart." Darwis menangkupkan kedua tangannya di pipi Joya. Mata mereka berada pandang, menancarkan semangat dan kehangatan.


Joya menarik senyum lebar.


"Aku tidak takut mati Wis, aku hanya takut, aku pergi sebelum buah hati kita lahir. Setidaknya, walaupun aku pergi, aku meninggalkan permata cinta kita padamu." 


Darwis mengerutkan keningnya. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan.


"Aku pun sama, aku tidak takut mati! Aku hanya takut, kehilangan orang yang ku cinta dan sayangi. Jangan pernah tinggalkan aku! Jika kau membandel, aku tidak segan untuk mengurungmu. Jika kau lepas dan pergi, maka aku akan mencari dan menemukanmu. Membuatmu selalu berada di sisiku! Camkan itu Joya, jangan pernah bahas kematian. Selamanya, kita akan bersama!"


Darwis lantas berdiri dan meraih resep obat di atas nakas lalu pamit untuk menebus obat. Mata Joya berkaca-kaca. Lidahnya keluh. Perasaannya campur aduk.


"Akan ku lakukan semampuku My Husband!" gumam Joya. Sekembalinya Darwis menebus obat, Darwis lantas menyuapi Joya sarapan sebelum minum obat. Tidak ada bahasan kematian lagi, yang ada saling menguatkan dan mencari jalan keluar. 

__ADS_1


*


*


*


Waktu menunjukkan pukul 06.30 kota S. Karina dan Arion kini berdiri di dekat kolam ikan gigi tajam peliharaan Karina. Di tangan mereka terdapat tongkat yang biasa digunakan untuk memberi makan ikan.


Saat daging dimasukkan ke dalam air kolam, riak air timbul dan ikan-ikan gigi tajam itu segera melahap habis sarapan pagi mereka. Dalam sekejap, daging ayam itu tinggal tulang. Arion bergidik ngeri dengan ketajaman gigi ikan piranha itu. Jelas, bahkan jika ia dimasukkan ke sana, niscaya ia tinggal tulang. 


"Nanti aku akan ke toko hewan," ucap Karina pada Arion tanpa memalingkan wajahnya dari kolam.


"Mau beli apa?" tanya Arion penasaran.


"Teman untuk Malaya," jawab Karina. Arion mengerut, ia baru pertama kali mendengar nama Malaya. Arion menggaruk kepalanya dan menunjukkan wajah bertanya.


"Kelinciku, kemarin temannya dikomsumsi satu, jadi harus diganti," jelas Karina melirik Karina santai. Arion mengangguk. Tak lama, ia membulatkan matanya.


"Jadi, daging yang kita makan tadi, daging kelinci?" terka Arion. Karina mengangguk.


"Ya, hatinya lezat, sayang, kau memakai 3/4nya. Rakus!" ketus Karina.


Arion terkekeh dan tersenyum. Bagi Karina, itu menyebalkan. 


"Oh ya, minta uang." Karina menengadahkan tangannya ke wajah Arion dengan senyum manisnya. Arion menaikkan satu alisnya. 


Arion mengambil dompetnya dan memberikan kartu debit pada Karina. Tapi, Karina malah menatap itu, tanpa niat mengambilnya.


"Ini, uang," ucap Arion bingung.


"Uang tunai, bukan kartu!" sahut Karina, mengembalikan kartu debit itu pada Arion. 


"Berapa? Dan untuk apa?" Arion harus tahu Karina beli apa saja. 


"Nanti juga tahu, aku pesan online dan COD. Jadi aku butuh …." Karina menunjukkan dua jari tangannya.


"Dua? Dua juta?" Karina menggeleng.


"Dua puluh?" Karina mengangguk. 


"What? Beli apa kamu semahal itu? Arion terlonjak.


"Nanti juga tahu!" sahut Karina. Arion mendengus. Tak lama, Bik Mirna datang dan mengatakan ada paket untuk Karina. Dengan riang, Karina berjalan menuju depan rumah, sedangkan Arion ke kamar mengambil uang tunai dengan wajah penasarannya.


Karina dengan mata berbinar menatap kotak paketnya yang berukuran cukup besar. Ia tak sabar untuk membukanya. Tak lama, Arion datang dengan amplop kuning dan segera membayar.


Setelah menandatangi serah terima, pengantar paket pamit dan meninggalkan kediaman Karina. Arion yang penasaran, langsung membuka kotak itu. Di dalamnya terdapar box putih transparan dan menampilkan sosok panjang berwarna kuning tengah melingkar tidur.


Arion tertegun dan melempar pandang pada Karina yang bersemangat untuk membuka tutup box tersebut namun Arion tahan.


"Eits, dua puluh juta, beli kuningan ini?"


"Hm, buat tambahan koleksi rumah ular. Sebenarnya ada yang lebih mahal, tapi dia lebih menarik!"


Karina menepis tangan Arion dan membuka penutup box. Karina menjulurkan tangannya hendak memegang ular tersebut namun terhenti sebab ular tersebut mengangkat kepalanya dan menjulurkan lidahnya. 


Karina menyeringai.


"Berani melawan? Kau mau jadi santap siang piranha?" ucap dingin Karina. Seakan mengerti dan paham, ular itu menundukkan kepalanya dan membiarkan Karina memegang dan mengangkatnya.


"Bahkan ularpun takut padamu," ujar Arion, ikut memegang ular yang kini berdiam diri di bahu Karina.


Karina mengendikkan bahunya tidak tahu. Setelah berkenalan kurang lebih lima belas menit, Karina menyuruh pelayan membawa ular yang baru ia beli ke kandang yang telah disediakan.


"Hei Sayang, kau tidak berencana untuk mensup atau menyatenya kan?" tanya Arion was-was.

__ADS_1


"Mungkin saja, kalau kita kehabisan protein maka kita akan makan sup dan satu ular!" jawab Karina enteng dengan kekehannya. Arion mendengus seraya memegang perutnya yang terasa mual.


Nafsu makannya memang luar biasa! batin Arion.


__ADS_2