Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 344


__ADS_3

Tiga hari berlalu dengan cepat. Pagi ini, Angela menghadap Darwis di ruang kerja guna mempertanggungjawabkan ucapannya. Dengan langkah mantap, membawa berkas di dadanya, Angela mengetuk pintu ruang kerja Darwis.


"Masuk."


Suara datar Darwis sedikit membuat Angela gugup. Membuka pintu, melangkah masuk dan berdiri depan meja kerja Darwis. Darwis mengangkat pandangannya dari layar laptop. Menatap datar Angela yang menunduk.


"Tuan … saya sudah berhasil melewati uji coba dari Anda," ujar Angela, menyerahkan berkas yang ada padanya. 


Darwis menerimanya, membaca  dengan seksama. 


"Dari tiga investasi yang saya pilih, ketiganya berhasil dan menghasilkan keuntungan. Hanya satu yang keuntungannya tipis. Semua keuntungan hasil investasi saya masukkan ke dalam kartu tersebut," jelas Angela, mengeluarkan sebuah kartu berwarna gold, meletakkannya di atas meja. 


Darwis hanya melirik sekilas, lebih tertarik dengan berkas yang diserahkan Angela. 


"Aku puas dengan ini. Kau memenuhi syarat menjadi magang di perusahaan kami. Akan tetapi keputusan akhir kau masuk atau tidak, pimpinan tertinggi kamilah yang menemukannya," ujar Darwis, menutup berkas dan meletakkannya di laci.


"Pimpinan tertinggi?"


Angela selalu penasaran dengan siapa pimpinan tertinggi ini. 


"Hm. Kau pasti akan bertemu dengannya jika kau menjadi karyawan tetap," ujar Darwis.


Angela mengangguk. Masih penasaran. Ah benar. Ia bisa bertanya pada Rian, setidaknya ia bisa mengetahui nama dan umurnya.


Tapi mengingat Rian, wajah Angela berubah murung. Pria yang membawanya kemari itu tidak memunculkan diri di hadapannya. 


"Bagaimana dengan perkembangan bahasamu?"tanya Darwis tanpa menatap Angela.


"Lancar, Tuan," jawab Angela dengan bahasa indonesia. 


"Baguslah. Kau boleh keluar," ucap Darwis. 


Angela membungkuk hormat kemudian keluar dari ruang kerja Darwis. 


*


*


*


Karina sudah membaca email dari Darwis mengenai uji coba Angela. Setelah melihat hasil ujian serta biodata Angela, Karina memutuskan untuk menerima Angela sebagai pegawai magang di bidang keuangan. Hasil investasi Angela cukup memuaskan bagi Karina.


Peresmian cabang baru dijadwalkan sekitar dua bulan dari sekarang. Artinya Angela akan magang di sana selama dua bulan. 


Akankah Rian bersama dengan Angela? 


Karina menatap jendela kaca ruang kerjanya. Seakan menerawang masa depan, Karina tersenyum tipis.


*


*


*


Malam pun tiba. Satya dan Rian tiba di mansion sekitar pukul 21.00. Mereka melangkah menuju dapur, makan malam lebih dulu sebelum ke kamar masing-masing.


Keduanya sedikit terkejut mendapati Angela duduk di ruang makan, sepertinya memang sengaja menunggu mereka … atau hanya salah satu dari mereka yakni Rian.


Angela langsung berdiri dan menyala keduanya. Satya yang menyadari dirinya akan menjadi nyamuk, segera mengambil makan malam dan pergi.


Rian melirik sinis Satya yang melenggang pergi. Ia sedikit canggung berduaan dengan Angela.


Rian duduk. Saat ingin membalik piring makannya, tangan Rian kalah cepat dengan tangan Angela. 


Angela mengambilkan nasi lengkap dengan lauk pauknya untuk Rian. Rian terdiam, melirik Angela yang melakukan tugas layaknya seorang istri. Hatinya menjadi sedikit hangat, tersenyum samar.


"Silakan, Tuan," ujar Angela, meletakkan kembali piring yang penuh dengan makanan di depan Rian. 


Rian mengerjap.


Aku tidak makan sebanyak ini. Tapi … ya sudahlah.


Rian mulai menyantap makan malamnya dengan perasaan tidak leluasa karena diperhatikan oleh Angela yang duduk di sampingnya.


"Mengapa kau tidak belajar?"


Mencoba membuat Angela pergi dari sisinya.


"Jadwal belajar saya sudah selesai, Tuan," jawab Angela.


"Lalu mengapa tidak istirahat?"tanya Rian lagi.

__ADS_1


"Saya sengaja tidak tidur karena menunggu Anda pulang, Tuan," jawab Angela, tersenyum. 


Rian terkesima dengan senyum tersebut, mengunyah dengan lambat, menilik lekat Angela.


"Mengapa menungguku? Hal penting apa yang ingin kau bicarakan?"tanya Rian, mengakhiri makan malamnya.


"Aku penasaran dengan pimpinan tertinggi. Setiap hari aku mendengarnya tapi tidak tahu siapa orangnya. Apa dia orang tua dari Anda dan kedua saudara Anda?"tanya Angela dengan mata penasaran.


Rian melirik, tersenyum tipis.


"Bukan. Dia bukan orang tua kami melainkan adik kami. Usianya hanya dua tahun penuh tua darimu. Mengapa menanyakan tentangnya?"


Angela tercengang dengan jawaban Rian. Adik? Lebih tua dua tahun darinya? 


"Pria atau wanita?"tanya Angela memastikan.


"Wanita. Kau akan bertemu dengannya setelah menjadi karyawan tetap. Ah benar aku lupa mengucapkan selamat atas magangmu di kasino."


Wanita?


Luar biasa.


Angela semakin tidak sabar bertemu dengan Karina. Penasaran dengan rupa Karina. 


Pasti memiliki kemampuan yang luar biasa.


"Angela," panggil Rian.


Angela sadar dari pemikirannya.


"Ya?"


"Ada satu hal yang belum aku beritahu padamu. Kini kau bukan lagi tamu di sini melainkan seorang karyawan magang. Oleh karena itu, kau harus mencari tempat tinggal baru," ujar Rian dengan nada datar.


Arion terdiam.


Pindah rumah?


Angela menunduk. Ia terlanjur nyaman di mansion ini. Tapi biar bagaimanapun ia tetaplah orang luar. Angela menghela nafas panjang.


"Saya mengerti, Tuan. Saya akan mencari tempat tinggal baru besok," ujar Angela, berdiri dan ingin pamit menuju kamar.


Rian menahan lengan Angela. Angela menatap tangan Rian yang menahannya.


"Ya?"


"Aku sudah mencarikan tempat tinggal untukmu. Lokasinya tidak jauh dari sini. Aku yakin kau cocok dengannya," ucap Rian. 


Angela memiringkan kepala, bingung dengan sikap Rian.


"Juga kau harus membawa uang sewa yang aku bayarkan duluan padaku."


Angela mendengus.


"Berapa harganya?" 


Angela mengeluarkan kartu yang berisi uang hasil investasinya.


"Aku tidak ingin kau membayarnya dengan uang," ucap Rian.


"Lantas?"


Rian berdiri, menarik Angela dalam agar lebih mendekat padanya. Angela terkejut saya dirinya menabrak dada bidang Rian. Membeku saat Rian memegang pipinya diikuti dengan bibirnya yang dicium oleh Rian.


Angela hanya bisa mengerjap merasakan bibir Rian yang mencium bibirnya. Tak lama. Hanya sebentar ciuman itu berakhir. 


Rian segera melangkah pergi tanpa sepatah kata pun.


Angela menyentuh bibirnya yang basah. Ciuman singkat tapi sangat membekas di hati dan ingatan Angela.


Dia benar-benar menciumku?


*


*


*


Lain halnya dengan Satya yang bimbang dengan penuturan Riska. Bagaimana tidak, Riska meminta hak nya sebagai seorang istri, nafkah batin malam ini. Riska yang sudah berniat menyerahkan dirinya, menjadikan dirinya istri seutuhnya Satya, sudah mengambil keputusan mantap. 


Awalnya Riska hendak menyerahkan dirinya malam setelah berbicara dengan Karina. Akan tetapi ia kedatangan tamu bulanan dan tadi siang baru selesai.

__ADS_1


Riska yang duduk di tengah ranjang menatap Satya dengan tatapan sungguh-sungguh. Satya melirik Riska, mata Riska meminta.


Satya menghela nafas panjang.


"Kau serius?"tanya Satya memastikan sekali lagi. 


Riska mengangguk cepat.


"Apa alasannya? Bukankah kau masih ingin kuliah dan bersenang-senang? Memiliki seorang anak bukan perkara muda. Apa kau rela?"


"Itu dulu. Sekarang tidak. Kakak sudah tidak muda lagi, jika aku selesai kuliah pasti anak kita kelak akan memiliki perbedaan umur yang jauh dengan anak kak Darwis mungkin juga kak Rian. Selain itu, kak Karina sudah mengatakan padaku bahwa melahirkan pewaris sebagai pengganti tuan muda kasino adalah merupakan tanggung jawab istri juga kalian. Kakak sudah tidak muda lagi, jika ditunda lagi …."


"Shut. Aku mengerti. Maafkan aku karena membuatmu menanggung tanggung jawab ini. Baiklah, mari menjadi suami dan istri yang sesungguhnya," potong Satya cepat, meletakkan telunjuknya di bibir Riska.


Mata Riska seketika berbinar sempurna. Bibirnya tersenyum lebar.


"Terima kasih, Kak."


"Tidak. Akulah yang bagus berterima kasih," tegas Satya .


Satya mulai membuka kemejanya, meletakkannya di atas nakas. Diikuti dengan membuka kaos hitam tipis dan celana panjang menyisakan celana pendeknya.


Mata Riska membulat sempurna melihat Satya yang hampir telanjang, menatap ke arah bagian bawah, terlihat lekukan alat vital suaminya, menelan ludah.


"Sudah terlambat untuk berubah pikiran, anak kecil."


Satya tersenyum smirk, perlahan naik  ke ranjang. Satya memegang pipi Riska, satu tangan lagi membelai rambut, mata, hidung, dan turun ke bibir.


Riska memejamkan mata. Di detik berikutnya, kedua bibir mereka sudah menyatu dan saling mencari kenikmatan.


Perlahan tapi pasti. Satya memberikan Riska kenikmatan yang belum ia rasakan sebenarnya.


Tapi semua berubah ketika Satya  memulai penyatuan. Riska merasa sangat perih di bagian bawahnya. Sebuah tombak ingin masuk ke lubang yang bukan ukurannya. Tapi ini adalah sesuatu yang memang bagus dilewati bagi pengantin baru yang masih disegel. Air mata Riska turun disertai dengan teriakan sakit. Untung saja kamarnya kedap suara.


Satya memperlembut gerakannya di mana keringat sudah membasahi tubuhnya.


Tidak tahan dengan sakit yang dirasakan, punggung Satya pun menjadi sasaran pelampiasan sakitnya. Satya meringis saat kuku Riska mencakar punggungnya.


Setelah berusaha keras akhirnya Satya berhasil. 


Akhirnya robek juga.


Diam sebentar mengamati darah yang keluar dari tubuh Riska menodai sprei.


Masih terdengar ringisan Riska. Rian membiarkan Riska menyesuaikan diri dengan miliknya.


Setelah merasa Riska siap, Satya kembali berkerja. Rintihan sakit berubah menjadi kenikmatan. Setelah pelepasan, Satya bergulir ke samping Riska yang memejamkan mata merasakan rahimnya menghangat.


Satya memberikan kecupan hangat di kening Riksa.


Uh.


Meringis saat sadar punggungnya terluka akibat cakaran Riska. Riskan membuka mata, duduk dari tidurnya dengan posisi yang masih polos, menatap Satya dengan perasaan bersalah.


"Maaf ya Kak. Aku lupa memotong kuku," sesal Riska menunduk.


"Tidak masalah. Sebaiknya kau segera mandi kalau tidak kau tidak akan bisa turun ranjang besok," ujar Satya, menatap dada Riska.


Mata Riska membulat, segera menutupi dada dengan selimut kemudian turun dari ranjang. Satta3 terkekeh.


Saat hendak melangkah, Riska terjatuh karena rasa sakit pada bagian bawahnya. Satya turun dan mendekati Riska.


"Masih sakit?"


Riska mengangguk.


"Aku akan membantumu," ujar Satya, menggendong Riska.


Akan tetapi saat tiba di depan pintu kamar mandi, Satya menghentikan langkahnya. Riska mengeryit.


Tiba-tiba saja Satya berbalik, kembali menuju ranjang.


"Kak apa yang kau lakukan?"pekik Riska takut saat ia diturunkan di ranjang dan kini berada di bawah tubuh Satya yang menatapnya dengan senyum lebar, mirip dengan seringai.


"Kau besok aku masih sekolah loh," ucap Riska mengingatkan.


Bayangan tidak bisa turun ranjang menghantui Riska.


"Ambil cuti!"jawab Satya, langsung membungkam Riska dengan ciuman.


Dan terjadi kembali penyatuan pengantin baru stok lama yang baru melewati malam pengantin mereka. 

__ADS_1


__ADS_2