Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 93_Liburan Karina dan Kebimbangan Arion_


__ADS_3

Karina terkejut namun tetap wajah datar yang ia tunjukkan.


"Bagaimana kalian bisa menemukanku?" tanya Karina datar.


"Menjawab Queen. Handphone Anda aktif sekitar empat sampai lima jam yang lalu. Kami melacak kesempatan itu. Kami sempat bingung saat handphone Anda kembali nonaktif. Namun, untunglah kami berhasil menandai titik keberadaan Anda," jawab Gerry mendongak, menatap Karina.


"Lantas bagaimana kalian tahu ini apartemenku?" tanya Karina lagi.


"Saya ingat bahwa Anda pernah membeli apartemen di sini pada waktu ada masih mengeyam pendidikan," jelas Li.


Karina ber-oh-ria tanda mengerti. Ia menatap bergantian para tangan kanannya ini. Wajahnya yang semula datar menjadi seduh. Itu membuat Li, Gerry, Darwis, Rian dan Satya saling berpandangan bingung. 


"Mengapa Anda bersedih, Queen?" tanya Darwis khawatir.


"Hmm … tak apa," jawab Karina. Ia segera mempersilahkan kelima orang itu masuk ke dalam apartemennya.


Kini mereka berkumpul di ruang tengah. 


 "Oh ya satu lagi jangan panggil aku Queen lagi. Panggil saja Karina, namaku langsung. Usia kalian lebih tua dariku," tutur Karina lembut.


Deg.


Kelima saling berpandangan. Bingung? So pasti jelas. 


"Anda sakit Queen?" tanya kelimanya serentak. Li langsung mengambil handphonenya. Karina tersenyum manis.


"Tidak kakak. Aku sehat dan sadar. Bolehkan kalian aku panggil Kakak?" tanya Karina penuh harap.


"Kak Li, aku tak apa. Aku baik," ujar Karina yang membuat Li terteguh dan menyimpan handphonenya.


"Maaf Queen … tapi kami …," ucap Darwis ingin menolak namun sudah dipotong oleh Gerry.


"Baiklah. Sekarang Anda adalah adik perempuan kami," jawab Gerry seraya memberi kode para rekan-rekannya. 


"Aku setuju," ujar Li.


"Aku juga," timpal Rian.


"Mengikut saja kemauan Anda. Anda adalah prioritas kami," ujar Satya.


"Bagaimana denganmu, Darwis?" tanya Gerry yang melihat Darwis masih ragu.


"Hmm … baiklah. Aku juga," sahut Darwis tersenyum.


"Terima kasih Kakak," ujar Karina setulus hati. Setidaknya ini mampu mengurangi kesedihannya. 


"Oh ya Karina, bagaimana dengan rencana selanjutnya?" tanya Gerry agak terbata mengucapkan nama Karina.


"Hmm … untuk saat ini kita pantau saja. Toh tiga hari lagi juga identitasku sebagai Presdir KS Tirta Grub akan terungkap," jawab Karina.


"Maksudnya konferensi pers begitu?" tanya Li memastikan. Karina mengangguk.


"Sudahlah. Itu kita bahas lain kali saja. Sekarang lebih baik kita liburan saja. Mumpung kita berkumpul di sini dan juga merayakan Queen yang menjadi adik kita," saran Darwis.


"Setuju," sahut mereka kecuali Karina.


"Aku tak ikut. Tubuhku rasanya mudah lelah sekarang," ujar Karina.


"Aku istirahat saja," tambah Karina berdiri dan segera menuju kamarnya. Meninggalkan kelima kakak barunya yang menyiratkan wajah cemas.


Li menyarankan untuk membawa Karina jalan-jalan bersama besok. Saran itu disetujui. Mereka merencanakan sebuah kejutan untuk Karina.


***


Jam berlalu begitu cepat, tak terasa hari sudah berganti, pagi yang indah siap menemani kita meraih asa. Kicauan burung dan hangatnya mentari pagi membuat hati siapa saja pasti akan menghangat.


Namun berbeda dengan Arion, ini sudah hari kedua ia membuka mata tanpa wajah Karina di hadapannya, hanya ada ranjang kosong. Hatinya berkecamuk. Apalagi Maria dan Amri yang berulang kali bertanya tentang Karina yang tak kunjung pulang.


Untung saja Bayu ada acara camping musim panas sampai  jika tidak pasti kepalanya akan segera meledak.


Arion menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Mengusap kasar wajahnya. Dendam bisa berubah menjadi cinta dan sebaliknya cinta dapat berubah jadi dendam. Kepingan memori akan markasnya yang hancur membuat wajah Arion menggelap. 


Aku mencintaimu tapi aku juga dendam padamu, batin Arion.

__ADS_1


Apakah aku harus lanjut kan rencana itu? Apa aku sudah siap kehilangan Karina sebab dendam ini? racau Arion dalam hati.


Arion menghela nafas kasar. 


"Cinta dan benci itu beda tipis. Banyak kisah tentang benci jadi cinta. Tapi apakah kisah cintaku dengan Karina juga akan berakhir bahagia? Sedangkan aku ingin menghabisinya? Air dan minyak tak dapat menyatu tapi setidaknya bisa berdampingan," gumam Arion pusing. 


Suara dering handphone, membuyarkan lamunan Arion.


"Halo Sam," jawab Arion tak bersemangat.


"Semuanya beres. Tinggal eksekusi saja," ucap Sam. Suara terdengar sangat puas.


"Gue ragu. Gue gak sanggup kehilangan Karina. Apa loe siap kehilangan Lila?" tanya Arion.


Sam diam sesaat tak menjawab. Di rumahnya ia tampak bingung.


"Hmm … kalau itu akibatnya gue siap. Bagaimanapun kita pernah bersumpah membalaskan dendam kita. Membalaskan ratusan nyawa yang telah berkorban dan berjasa untuk tetap mempertahankan Black Diamond walaupun pada akhirnya hanya kita dan pasukan itu yang selamat," ucap Sam. Nada bicaranya terdengar sedih namun tegas.


"Loe benar. Kita tunggu tanggal mainnya," tegas Arion.


Selepas itu, Arion bangkit dari tempat tidur. Sekilas ia menatap frame foto pernikahannya dengan Karina.


Maaf Karina, batin Arion.


 Arion segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya untuk selanjutnya berangkat ke kantor.


***


Tiga hari Karina habiskan bersenang-senang dan bergembira dengan kelima tangan kanannya itu. Terkadang Li dan Gerry berubah jadi konyol yang membuat Karina tak tahan menahan tawa. Darwis, Rian dan Satya selalu menuruti kemauan Karina.


Hari terakhir mereka habiskan dengan menonton bioskop. Bukan bioskop sebagaimana biasanya yaitu indoor. Bioskop ini mengusung tema di outdoor dan berada di tengah-tengah laguna yang tenang.


Yap. Berada di antara pulau-pulau kecil. Keunikan lainnya adalah ini bioskop ini dibuat dari rakit kayu yang di tambatkan pada jaring.


Jika di dunia, bioskop ini bernama Archipelago Cinema. Bioskop ini berada  Thailand tepatnya perairan Malaka.


Untung saja hari ini hari yang cerah tak berawan. Jadi tak akan masalah untuk menonton di sana. Bahkan untuk mewaspai perubahan cuaca yang tak terduga, Li dan Gerry menyiagakan beberapa bawahannya dan dua helikopter tak tahu jadi lokasi mereka akan menonton.


"Khusus hari ini, cinema ini aku sewa full," ujar Karina.


"What? Apa tak terlalu boros?" tanya Darwis shock.


"Bukankah lebih boros lagi membawa dua helikopter?" tanya Karina melirik Li dan Gerry yang duduk di samping kanannya.


"Menurutmu itu memang tak boros tapi menurut orang lain itu sangat berlebihan," ujar Rian.


"Itukan kata mereka bukan kataku. Lagipula sejak kapan aku peduli omongan buruk orang tentangku? Palingan jika aku peduli alhasil mereka on the way masuk liang lahat. Itupun jika beruntung," sahut Karina santai seraya membuka tas punggung yang ia bawah. Isi tas itu tak lain tak bukan adalah sebotol vockad serta beragam makanan ringan.


"Nonton apa?" tanya Satya.


"Hmm … bagaimana jika film romantis?" tanya Li.


"No," tolak Gerry.


"Jadi action?" tanya Satya lagi.


"Romance and action. Fast and Furious," ucap Karina semangat.


"Yang mana? 6, 7 atau 8? Atau 9?" tanya Darwis.


"8," jawab mereka serentak. Satya langsung memberi kode untuk itu pada petugas bioskop.


Karina menatap layar besar di depannya tanpa berkedip mata. 


Film ini berkisah tentang pria bernama Dom yang dijebak wanita misterius bernama Cipher - membuatnya membelot ke dunia terorisme.


Para kru yang tersisa pun harus bersatu demi menghentikan aksi komplotan Cipher yang siap meluncurkan bom nuklir. Keluarga dan para sahabat Dom berusaha sekuat tenaga untuk membuat Dom kembali kepada Dom yang dulu. 


Film berdurasi dua jam tiga puluh menit sukses membuat Karina bahagia. Pukul 18.00 mereka sudah bersiap kembali ke kota S. Sesampainya di apartemen, Karina langsung bersiap, membersihkan tubuhnya dan makan malam.


Begitu juga dengan para tangan kanannya. Pukul 21.00, Mobil Karina sudah meluncur membelah jalanan menuju bandara menuju kota S. Di belakangnya ada dua mobil yang diisi oleh Li dan kawan-kawan.


Karina memutar tip mobil memutar lagu good life. Lagu yang merupakan salah satu soundtrack film yang ia tonton tadi membuatnya jatuh hati. Lagu ini terasa sangat cocok dengan dirinya.

__ADS_1


Raise up a cup up for all my day ones.


Angkat sebuah cangkir ke atas untuk semua hariku.


Two middle fingers for the haters.


Dua Jari tengah untuk para pembenci.


Life’s only getting greater.


Hidup menjadi lebih baik.


Straight up from nothing we go.


Pergi ke depan dari bukan apa-apa.


Higher than the highest skyscraper.


Lebih tinggi dari pencakar langit tertinggi.


No Little League, we major.


Tidak ada liga kecil, kita besar.


The proof is in the paper.


Bukti di dalam kertas.


We put the good in the good in the good life.


Kami menempatkan yang baik di dalam yang baik di dalam kehidupan yang baik.


We put the good in the good in the good life.


Kami menempatkan yang baik di dalam yang baik di dalam kehidupan yang baik.


Eazy.


Mudah.


Ayy, ayy, ayy, ayy.


Kehlani, I got you.


Ayy, yeah.


.


.


Sepenggal lirik good life.


***


Sesampainya di bandara Karina langsung masuk ke dalam pesawat diikuti Li, Darwis, Rian, Gerry dan Satya. Tak lupa mobil mereka juga naik pesawat.


Sekitar 45 menit mengudara, pesawat Karina landing di kota S. Ya begitulah. Jalur udara selalu cepat.


Waktu masih menunjukkan pukul 23.00, Karina segera mengambil mobil dan pamit pada tangan kanannya. Karina memutuskan kembali ke kediaman Wijaya. Tak bisa dipungkiri, ia merindukan Arion.


"Hati-hati Karina," ujar Darwis.


"Oke Kak. Aku pergi," pamit Karina segera melajukan mobilnya. Sesampainya di gerbang kediaman Wijaya, Karina membuyikan klakson mobil. Meminta penjaga gerbang membuka gerbang untuknya masuk.


Tak lama, pintu gerbang mewah nan tinggi itu terbuka, Karina segera masuk dan memarkirkan mobil lalu masuk ke dalam rumah. 


Mama sama Papa pasti sudah tidur, batin Karina.


Langkah kakinya mantap menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Membuka pintu kamar perlahan dan memasukkan kepala mengintip keadaan kamar. Lampu telah mati. Berarti Arion sudah berkelana di alam mimpi.


Karina mulai melangkahkan kakinya masuk. Menutup pintu dengan pelan. Karina berjalan ke sisi ranjang Arion. Membelai wajah suaminya lembut.


"Hmm … aku telah berdamai dengan masa lalu. Semoga kau juga sama denganku," gumam Karina beralih ke sisi ranjang sebelah Arion dan tidur. Menanti hari esok, berusaha membuat apa yang ia rencanakan menjadi kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2