Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 294


__ADS_3

Hanya selang sekitar satu jam, suasana markas yang tadinya tidak terlalu ramai, kini mulai bangun. Jam bangun sudah berdenting. Anggota yang tidur, bangun dari istirahat mereka. Bersiap melakukan rutinitas pagi. 


Gedung olahraga, lapangan, mulai terisi dengan anggota. Bagian dapur pun tengah sibuk menyediakan sarapan. 


Tak terkecuali Syaka, setelah bangun ia bergegas mencuci muka dan langsung menuju kolam renang. 


Begitu juga dengan Li dan Elina. Li menuju lapangan untuk memimpin anggota melakukan rutinitas pagi sedangkan Elina tetap berada di kamar tapi dengan laptop yang menyala.


Sedangkan Gerry, pria itu masih tidur nyenyak. Rasa lelah yang mendera karena tugas lapangan, membuatnya sangat terlelap. Terhitung, baru satu jam ia tidur. 


Mira sendiri, ia bangun sesuai dengan jadwal yang berlaku. Rutinitasnya sendiri, tidak ada kaitannya dengan markas.


Selama di sini, saat pagi Mira hanya melakukan sesuatu yang bisa ia lakukan, dan yang pasti melayani keperluan Gerry. Tak jarang, ia ikut memasak di Blue Kitchen. 


Mira menghela nafas lega mendapati Gerry berada di sampingnya. Mira menatap lembut wajah damai Gerry. Dengkuran halus Gerry terdengar merdu di telinga Mira. 


Dengan lembut, Mira menyentuh wajah Gerry, mengusap perlahan dengan bibir tersenyum lembut. 


Gerry menggeliat pelan. Ia membalikkan badan menghadap Mira. Mira lekas menarik tangannya. 


"Pasti sangat lelah bukan berada di posisimu? Kau bekerja tidak kenal waktu, bahkan tidak kenal namanya takut. Walaupun aku istrimu, aku tidak bisa melarangmu melakukan hal-hal berbahaya di luar sana. Terlebih kita belum lama saling mengenal. Tapi apapun itu, aku selalu berdoa kepada Tuhan agar ia selalu memberikan perlindungan-Nya kepadamu, kapan dan dimanapun kamu berada. Jujur, aku sering cemas mengenai dirimu saat kita tidak bersama. Tapi aku percaya, kau pasti terlindungi. Aku harap kita bahagia dan selalu bersama setiap saat. Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu, suamiku," ucap Mira dengan nada lirik.


Tidak mau kembali mengganggu tidur Gerry, Mira segera turun dari ranjang. 


Tanpa menciptakan suara, Mira melangkah hati-hati menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Mira keluar dengan menggunakan handuk dan langsung menuju ruang ganti. 


Sebelum keluar kamar, Mira menatap Gerry yang semakin nyenyak dengan memeluk guling. Mira menghela nafas, helaannya terdengar berat. 


Pintu ia tutup dengan perlahan. Mira melangkah, menyusuri koridor lantai 2. Sepanjang perjalanan menuju lift, ia bertegur sapa dengan anggota lain yang lalu lalang. 


Mira memang mendapatkan sambutan baik di sini. Ia sudah bisa beradaptasi dan berbaur dengan mereka.


Sedangkan para anggota, selain karena Mira adalah istri Gerry, perangai Mira yang baik membuat ia mudah diterima. 


Mira masuk ke lift, bergabung dengan yang lain yang juga menggunakan lift untuk turun, sebagian ada juga yang menggunakan tangga.


Tiba di lantai dasar, Mira melangkahkan kaki menuju taman. Sebelum duduk di kursi, Mira terlebih dahulu mengeringkan kursi yang basah karena embun.


Ia kemudian duduk. Raut wajah Mira berubah, dari yang semula terlihat riang kini berubah sendu. Ada sesuatu yang berat yang membuatnya melamun. 


Mira tersadar saat mendengar suara azan subuh. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Para anggota yang beragama Islam tampak bergegas menuju masjid markas.


Sedangkan bagi yang non islam, tetap melakukan kegiatan mereka, hanya berhenti di saat azan berkumandang. 


Mira kembali melamun, tenggelam dalam pemikirannya. 


"Mengapa kamu sendirian Mir? Mana suamimu?"


Suara itu mengagetkan Mira. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Elina tersenyum ramah padanya. Mira yang terdiam sesaat langsung tersenyum ramah pada Elina.


"Ah Elina, Gerry masih tidur. Tadi malam ia pulang dinihari, kau sendiri?"jawab Elina.


"Ku rasa dia jadi iman," sahut Elina, berjalan memutar dan duduk di samping Mira. 


Beberapa lampu sudah dimatikan. Langit yang masih gelap, mulai memudar perlahan. Elina merapatkan sweater, memperkecil hawa dingin yang masuk.


"Kau tampak gelisah Mir. Ada masalah apa? Apa karena Gerry?"tanya Elina setelah menilik lekat ekspresi Mira.

__ADS_1


Mira menoleh ke arah Elina dengan wajah bingung. 


"Aku gelisah?"tanya Mira.


Elina mengangguk. Mira tersenyum kecut, jiwa penasaran Elina semakin tinggi.


"Apa begitu jelas?"tanya Mira lagi.


Elina kembali mengangguk. 


"Menurutku iya."


Mira menghembuskan nafas kasar.


"Padahal aku sudah memanipulasinya, tatapan matamu memang tajam Elina," puji Mira. Elina terkekeh.


"Apa penyebab kegelisahanmu? Apa karena Gerry? Pria itu menyakiti hatimu? Atau apa?"tanya Elina.


Wajahnya berubah kesal, marah pada Gerry. Mira menggeleng. 


"Lantas?"


Mira seakan sulit untuk mengatakannya. Mira menunduk. Elina sedikit menaikkan alisnya. Ia menanti jawaban Mira sembari mengusap perut buncitnya.


Tak sabar menunggumu lahir, Boy, batin Elina.


Dari hasil USG, telah diketahui jenis kelamin anak mereka. Untuk masa depan putra pertama mereka ini, Elina dan Li sudah merancang dan selalu mengobrol mengenai hal itu. 


"Bukan karena Gerry. Ini mengenai adikku, Riska," tutur Mira memberitahu. Elina menoleh.


"Adikmu? Riska?"


"Ah … yang waktu itu tertangkap sama Badan Pemeriksaan Hotel kan? Yang akan menikah dengan Satya awal tahun nanti? Ada apa dengan itu rupanya Mir?"tebak Elina.


"Benar."


"Aku cemas. Aku mencemaskan pernikahan mereka," ujar Mira.


"Apa yang perlu dicemaskan? Pernikahan mereka telah diatur, Karina sudah turun perintah, pasti akan terlaksana," heran Mira.


"Aku tahu. Tapi aku tetap tidak bisa tenang. Aku mengkhawatirkan kehidupan mereka setelah menikah. Mereka menikah bukan karena cinta, tapi salah paham. Persetujuan pun hanya di pihak Kak Satya, sedangkan keluarga kami? Mama dan Papa belum ada kabar," ucap Mira mengeluarkan kecemasan yang ia pendam.


Elina menarik senyum tipis. 


"Mengapa mengkhawatirkan sesuatu yang tidak berdasar?"tanya Elina merasa geli dengan Mira.


Mira mengerutkan dahi tidak suka. Kecemasan hatinya dianggap sebuah lelucon?


"Aih Mira … kau terlalu berpikir berlebihan," tambah Elina.


"Berlebihan? Kau bilang kekhawatiranku berlebihan?"bentak Mira dengan nada tinggi.


Elina terkesiap, jujur ia sangat tidak suka dibentak oleh seseorang, kecuali Karina atau Li.


"Apa salah aku mengkhawatirkan keluargaku? Alasan pernikahan mereka cukup memalukan bagi keluarga seorang Jenderal. Selain itu usia mereka juga terpaut jauh. Riska masih gadis labil sedangkan Kak Satya adalah pria dewasa. Belum lagi ancaman keamanan mereka. Kau tahu sendiri bukan Kasino Heart of Queen bukan hanya memiliki pengaruh luas tetapi juga musuh yang terbilang banyak," ucap Mira, semakin mengeluarkan semua isi hatinya.


Elina menanggapi dengan wajah datar, melirik sekilas Mira.

__ADS_1


 "Aku takut mereka tidak bahagia dengan pernikahan ini. Karena mau bagaimana pun pernikahan ini masih mengandung unsur keterpaksaan. Dan yang paling utama adalah belum ada keputusan dari Mama dan Papa. Aku takut seandainya mereka menolak kerena tahu bahwa Riska masih suci. Aku takut akan terjadi pertentangan di antara dua kekuatan besar yang nantinya akan menimbulkan dampak fatal bagi semua pihak. Aku tidak mau itu terjadi," lanjut Mira.


Kali ini Elina mengangguk kecil. Ia sekarang paham maksud Mira. 


"Selain itu, aku juga sekarang merasa bahwa kalian terlalu penurut pada kalian. Kalian bagai kuda yang selalu berlari saat dipukul. Kalian selalu menuruti setiap keputusannya, tidak bertanya atau menyangga. Bahkan jika itupun membahayakan nyawa kalian, kalian tidak kenal takut, aku salut sekaligus kasihan dengan kalian."


Perkataan Mira ini berhasil membuat Elina naik pitam. Ia menatap sengit Mira. Dada Elina bergemuruh, emosi sudah di ubun-ubun.


Mira yang masih terperangkap dalam emosi pribadinya, tidak menyadari perubahan Elina. Elina berdiri kasar, berdiri tepat di depan Mira. 


Plak!


Mira mendongak menatap Elina dengan penuh tanda tanya. Ia memegang pipi yang panas. 


"Kau!"pekik Mira menunjuk Elina.


"Apa hah?"sahut Elina.


"Seharusnya kau dihukum lebih dari ini karena menghina kami dan Karina! Kau juga menghina suamimu dan dirimu sendiri! Kau b*doh!"cemooh Elina.


Wajah geram Elina membuat Mira merasa sangat takut. Ia menunduk perlahan. Mira menghembuskan nafas kasar. Ia kembali duduk.


Keributan yang Elina dan Mira ciptakan tanpa sengaja menarik perhatian anggota yang lalu lalang melewati taman.


Tapi mereka hanya melirik sekilas tanpa ingin tahu lebih jauh. Itu bukan urusan mereka, mereka ke sanapun, takutnya nanti bukannya menengahi malah membuat semakin runyam.


"Aku juga pernah berada di dalam posisimu, Mir. Aku sempat meragukan keputusannya. Aku berpikir dengan pola pikirku. Aku kadang memang merasa keputusan itu tidak tepat. Tapi semakin lama aku mengenal dan berusaha memahami Karina, akan banyak hal baru yang aku dapati. Karina memang otoriter, semua kegiatan ada aturan. Tapi, setiap keputusan yang ia ambil, ia sudah memikirkan semuanya dengan matang. Seorang Karina tidak mungkin hanya punya satu rencana. Kau sebaiknya hilangkan keraguanmu dan juga kecemasan tidak berdasarmu," ucap Elina sekalian memberi saran pada Mira.


Mira mendongak. Ia diam tidak menjawab.


Jangan menangis Mira. 


Mira berusaha keras agar air matanya tidak jatuh. 


"Untuk kekhawatiranmu sendiri, semua hanya pikiran semata dirimu. Yang pertama, apa berani Tuan Adiguna melawan Queen? Yang kedua, apa di matamu Satya itu pria brengs*k? Kau sendiri yang mengatakan bahwa Satya itu pria dewasa. Apa kau kira ia tidak punya otak? Sedangkan Riska? Anak itu bukan Anak kecil lagi. Yang ketiga, mengenai keamanan Riska, apa pengawal Riska dan pengawal khusus kasino itu cuma pajangan? Jadi semua kecemasan itu tidak berdasar. Mira semua sudah berapa dalam kendali Karina. Kita hanya tinggal menunggu waktu yang kapan itu terjadi," papar Elina, menjawab semua kecemasan Mira.


Mira tertegun dengan pemaparan Elina. 


"Kau harus belajar lebih banyak dan mendalam lagi mengenai organisasi ini. Mira kau itu pintar, tapi disini kau lebih banyak menggunakan perasaan. Berada di dalam lingkaran ini, kau harus lebih banyak menggunakan logika, analisis dan ketajaman pengamatan. Keputusan yang kamu anggap tidak sesuai, bisa jadi menjadi suatu hal yang luar biasa," lanjut Elina lagi.


Wanita itu kemudian berdiri dan kembali menepuk pundak Mira. Mira menoleh ke pundaknya. 


"Aku harap kau sudah mengerti," ucap Elina, kemudian berlalu pergi meninggalkan Mira sendiri.


Selepas kepergian Elina, Mira menghela nafas kasar.


"Hah …."


"Mengapa aku berpikir sangat dangkal?"gerutu Mira pada dirinya sendiri.


"Bagaimana bisa aku lupa?"


"Apakah Gerry akan marah jika mendengar kejadian ini?"


Kepala Mira terasa pusing. Ia berniat kembali ke kamar namun suara seseorang menahan langkahnya. Mira menoleh ke belakang, ia terperanjat kaget melihat orang tersebut. 


"Menyenangkan bukan membicarakan keputusan seseorang?"tanyanya.

__ADS_1


Mira merasa lemah. Ia hanya bisa menunduk dalam.


__ADS_2