Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 273


__ADS_3

Di ruang rawatnya, Satya menatap kosong ke depan. Ia bersandar di kepala ranjang rumah sakit. Di pergelangan tangannya terdapat jarum infus. Luka lebam terdapat di wajah dan sekujur tubuhnya.


Rasanya tubuhnya ini remuk redam dihajar oleh Gerry. Untung saja hasil visum tidak menunjukkan luka dalam. Kalau tidak bertapa sialnya dirinya.


Suasana kamar begitu dingin. Kini yang ada di benak Satya adalah Karina, bukan Mira. Setelah ia sadar, Satya juga sadar akan kesalahan yang telah ia perbuat. Semoga saja Karina dan Mira dapat memaafkannya.


Satya mengembuskan nafas kasar. Tatapannya beralih menatap nakas di mana ada bubur yang sudah dingin. Satya menggerakkan tubuhnya, berusaha meraih handphone di sebelah mangkuk bubur.


Sayang, tubuhnya masih terasa sangat sakit. Alhasil bukannya dapat Satya malah jatuh dari ranjang.


Pria itu meringis. Menahan sakit yang semakin menjadi. Jarum infus terlepas dari pergelangan tangannya. Darah keluar. Awalnya sedikit lama-lama menjadi deras. Tubuh lemahnya menempel pada lantai yang dingin.


"Ahhh!!" teriak Satya kesakitan.


Rian yang baru tiba di depan pintu ruang rawat Satya dengan membawa tempat bekal makan, bergegas masuk. Rian buru-buru meletakkan kotak makan yang ia bawa dan membantu Satya untuk kembali tidur di ranjang.


Satya kini hanya diam membisu. omelan Rian pun tidak ia pedulikan. Rian memanggil suster untuk memasang kembali jarum infus Rian.


"Anda tidak boleh rusuh Tuan. Tubuh Anda masih lemah. Kehilangan darah dapat memperlambat penyembuhan Anda. Anda harus lebih hati-hati lagi. Juga bubur Anda. Apa Anda bisa sembuh hanya dari cairan infus dan obat-obatan? Tidak! Anda harus makan walaupun sedikit. Saya akan mengambil bubur hangat, tunggu sebentar," omel suster itu melihat bubur yang tidak tersentuh barang sesendok. 


"Tidak perlu Sus. Adik saya ini memang tidak mau makanan rumah sakit. Saya sudah membawa makanan sendiri untuknya," tahan Rian.


"Kalau begitu saya permisi. Anda kakak yang perhatian," ucap suster itu melayangkan pujian untuk Rian.


Rian tersenyum kecil dan mengangguk. Satya melirik. Suster itu tersenyum dan segera keluar.


Rian menatap Satya simpatik. 


"Apa yang kamu pikirkan? Jangan menatapku dengan wajah itu atau aku akan membunuhmu!" ketus Satya memalingkan wajahnya.


Menatap lukisan dinding bertemakan game yang mengangkat kebudayaan China. 


"Memangnya kamu bisa membunuhku? Ingin mengambil handphone saja sudah jatuh. Apa kamu bisa bergerak melawanku? Skill bela diriku lebih kuat darimu loh," goda Rian menaikkan turunkan alisnya.


Satya berdecak sebal walaupun pelan. Memang diantara mereka bertiga, skill bela diri Satyalah yang paling rendah. Biarpun begitu Satya ahlinya di bidang strategi dan perencanaan, juga di bidang ilmu komputer.


"Kau ingin menghubungi siapa?" tanya Rian, duduk di kursi samping ranjang.


Tangannya membuka kotak bekal makan. 


"Karina," jawab singkat Satya dengan nada datarnya.


"Mau meminta maaf? Bukannya harusnya kamu minta maaf pada Mira dan keluarga juga pada Gerry? Jujur saja kelakuanmu kemarin mencoreng nama baik kita. Untung saja keluarga Mira tidak bertanya mengenai hilangnya dirimu. Mereka lebih fokus pada pernikahan Mira dan Gerry nanti siang," papar Rian santai. 


Satya tertegun dan menatap Satya memastikan. Perasaannya kembali berkecamuk. Ada rasa tidak rela dan bersalah.


Bibir Satya yang terdapat robekan akibat pukulan Gerry, bergetar. Tatapan matanya sekarang penuh kesedihan. Rian mengeryit, merasa aura mendung yang kental. Ia mendongak dan terdiam melihat Satya yang mengeluarkan air mata.


"Sudahlah. Untuk apa kamu menangis? Jika bukan jodohmu, sekuat apapun kamu mencoba meraihnya tidak akan pernah kamu raih. Memisahkan seseorang dari orang yang ia cintai adalah tindakan penakut dan tidak jantan. Ikhlaskan Mira. Biarkan ia bahagia dengan pilihannya. Kamu sebagai seorang kakak baginya. Harus berbahagia dan menerima dengan lapang dada. Aku tahu kamu sangat mencintai Mira. Tapi cinta itu tidak akan pernah terbalas. Jadi lupakan saja dan mulainya mencari tambatan hati yang memang mencintaimu," tutur Rian pelan.


Rian menepuk pundak Satya pelan. Ia juga ikut bersedih melihat Satya berada di fase yang lemah.


Satya dengan cepat menyeka air matanya. Tatapan matanya menjadi sendu. 


"Bicara memang mudah. Melupakan cinta pertama adalah hal yang sulit. Kamu tidak pernah jatuh cinta. Jadi tidak usah bicara tentang cinta. Walaupun begitu aku bisa apa lagi? Sepertinya memang aku harus berusaha keras melupakan Mira. Apakah aku harus menghilangkan ingatanku tentang Mira? Aku tidak mau saat melihatnya nanti bersama Gerry. Itu membuatku teringat rasa cintaku padanya," ujar Satya sembari meringis menahan perih.


Wajah Rian berubah datar. Pria itu menatap Satya tidak terima. 


"Jika kamu membenturkan kepalamu untuk menghilangkan ingatanmu. Maka aku akan membenturkan kepalamu sampai ingatanmu kembali," ketus Rian kesal dengan Satya.


Satya tersenyum tipis.


"Kamu pria yang kuat. Terima dan relakan. Maka itu adalah cara terbaik. Dan satu lagi, aku pernah jatuh cinta. Tapi akhirnya sama seperti dirimu. Cinta bertepuk sebelah tangan. Sepertinya kita harus belajar pada Darwis bagaimana cara mendapatkan hati wanita," lanjut Rian dengan nada yang lebih bersahabat. 


Satya menaikan satu alisnya, tidak percaya dengan ucapan Rian.


"Sudahlah. Lupakan saja masa lalu. Ayo makan, perutmu harus berisi untuk bisa menghadiri pernikahan Gerry dan Mira," ucap Rian.


Satya menyelis kesal. Ia merebut paksa kotak makan yang berada di tangan Rian dan menyantapnya perlahan. Rian terkekeh.


Satya tidak heran. Namun sedih karena selain Rian tidak ada yang menjenguk dirinya. Tapi Satya sadar ini adalah salah satu akibat perbuatannya. 


"Sejujurnya jika kamu kemarin berhasil melecehkan Mira. Belum tentu Mira akan menjadi milikmu. Gerry tidak akan melepaskan Mira karena hal itu. Dari yang ku lihat, cintanya sangat tulus. Mira akan bersandar pada Gerry. Dan kamu ... kamu akan mendapat kebencian dan hukuman yang lebih berat lagi. Satya, kamu kalah kali ini," ucap Rian. 


Satya menarik nafas dan menghembuskannya cepat.


"Aku tahu aku salah. Jangan katakan sesuatu lagi. Ambilkan pakaianku. Aku akan menghadiri pernikahan mereka sekaligus meminta maaf," tegas Satya.


Rian mengangguk dan segera keluar. Setelah menutup pintu, Rian terdiam sejenak.

__ADS_1


Setidaknya kamu pernah berjuang Ya, sedangkan aku ... bahkan saat aku mau berjuang dan menyatakan perasaanku padanya. Hari itu tepat hari pernikahannya. Semoga kita bisa mendapatkan jodoh yang terbaik.


Rian menghela nafas panjang lalu melangkah keluar rumah sakit.


*


*


*


Di kediaman Tuan Muda Kasino Heart of Queen, suasana sangatlah tenang. Tidak ada kebisingan yang tercipta walaupun seluruh pelayan sibuk menghias rumah. Para pria berada di kolam renang. 


"Tuan Muda, bagaimana kalau kita tanding renang? Ku dengar kamu juara renang setiap olimpiade antar fakultas dan kampus," ajak Darwis yang melihat Arion melakukan pemanasan. Arion menoleh. 


"Akan lebih menarik jika ada hadiahnya," sahut Arion tersenyum lebar.


Darwis mengangguk.


"Boleh. Apa yang Anda inginkan jika Anda menang? Jika aku yang memang, aku ingin Anda melukis diriku bersama Joya."


Darwis mengamati raut wajah Arion. Arion menaikkan satu alisnya.


"Permintaan yang unik. Aku setuju. Jika aku yang menang kamu harus memasak makan malam. Aku penasaran dengan rasa masakanmu, deal?" tanya Arion.


"Deal!"


Darwis menyanggupi. Bukan hadiah yang besar dan berat tetapi bermakna.


Li yang baru saja selesai berenang gaya bebas sejauh 100 meter, naik dari air dan melepas kacamata renangnya.


Ia menatap heran Arion dan Darwis yang berjabat tangan dengan senyum di wajah. Sembari sembari membetulkan celana renang yang pendek di atas lutut, Li mendekati mereka berdua.


"Li, kamu jadi wasit pertandingan kami," ucap Darwis. 


"Kalian kau tanding renang?" tanya Li.


Arion dan Darwis mengangguk. 


"Ah ya, satu lagi. Karena umur kita yang berdekatan dan Karina yang sudah menganggap kalian sebagai kakak, maka tidak ada Tuan Muda atau apapun itu. Kita rekan dan saudara. Jadi kalian panggil aku Ar atau Rio saja," ucap Arion tegas.


"Oke, Ar."


"Gaya apa?" tanya Li.


"Kupu-kupu!" jawab Darwis dan Arion serentak.


Li tersenyum.


"Ambil posisi kalian masing-masing."


Li memberi perintah. Di tangannya sudah ada peluit sebagai aba-aba.


Darwis dan Arion memakai kacamata renang mereka lalu membungkuk untuk mengambil start lompat dari atas. 


Karina menoleh ke arah kolam renang saat mendengar suara peluit. Ia menerka bahwa bahwa ada pertandingan seru di sana. Ingin melihat tapi malas beranjak. Karina menghela nafas pelan lalu memejamkan mata.


Di sampingnya Elina dan Joya asyik menonton drama dengan cemilan terus masuk ke mulut. Mata lekat ke layar televisi, tangan mengambil cemilan dan mulut mengunyah.


"Aku sudah pernah menontonnya sampai tamat. Akhirnya memang bahagia tapi terkesan menggantung. Hubungan antara KO dan Huo Mei belum terungkap. Akan menggelikan rasanya jika mereka terlibat hubungan terlarang. LGBT sangat ditentang di China. Pernikahan Xiao Nai dan Wei Wei juga tidak dibuat. Hanya ada screen saat Xiao Nai membantu Wei Wei memakai gaun pengantin.


Setelah itu mereka langsung malam pertama karena Xiao Nai tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Setelah Zhi Yi Teknologi menang tender dengan Feng Teng, kehidupan di kantor tidak disorot lagi. Aku kurang puas dengan ending drama ini. Sayang tidak ada season duanya. Padahal banyak pelajaran yang didapat dari sana. Adegan ciuman juga banyak. Yang Yang menang banyak," ungkap Karina panjang lebar menyampaikan kritik mengenai drama yang Joya dan Elina tonton tanpa membuka matanya.


Kedua wanita itu menatap Karina takjub. 


"Aiya, Karina kamu membuat drama ini tidak seru lagi. Kami baru menonton sampai episode lima. Kalau begitu, Joya kita cari saja drama lain," protes Elina setelah rasa takjubnya hilang.


Karina menaikkan kedua bahunya acuh. Joya tersenyum.


"Tapi aku masih ingin melihat sendiri apa yang Karina katakan. Akan lebih puas melihat akhirnya secara langsung," ujar Joya.


Karina membuka satu matanya.


"Terserah kalian," sahut acuh Karina kembali menutup mata.


"Konflik di drama ini juga tidak terlalu berat tapi berarti mendalam," tambah Karina.


"Ya sudah. Ayo kita lanjut menonton," ucap Elina. Kembali memasukkan cemilan ke dalam mulut.


Joya terkekeh dengan wajah cemberut Elina.

__ADS_1


"By de way, kamu kok punya waktu nonton drama sih? Kamu kan sibuk?"


Joya penasaran. 


"Efisiensi waktu," jawab Karina singkat.


Joya memutar bola matanya kesal dengan lidah berdecak.


Joya memilih lanjut menonton. Saat suasana kembali tenang. Ketiga wanita itu dikagetkan oleh sentakan Gerry dari belakang.


Karina melirik sinis dan memukul keras lengan Gerry. Gerry mengaduh sakit dengan nada yang ceria. 


"Kau kurang kerjaan ya?" pekik Elina kesal.


"Kalau kami jantungan bagaimana? Kau mau mati di tangan ketiga suami kami hah?" seru Joya melotot kesal. 


"Atau kau mau pernikahanmu gagal karena kau tinggal nama? Aku tidak keberatan membunuhmu!"


Elina yang masih kesal mengancam Gerry. Gerry terkekeh lalu meminta maaf. Ia merayu ketiga wanita hamil itu. 


"Sudahlah! Apa kau sudah selesai? Wangimu sudah seperti ketumpahan satu ember minyak wangi," lerai Karina jengah.


"Hehehe. Ini hari spesial. Tentu saja aku harus tampil sempurna," jawab Gerry bangga. 


"Hari spesial? Bangga sekali dirimu," ucap Joya.


"Tentu!" jawab mantap Gerry.


"Ngomong-ngomong, selera kalian kok berubah ya? Dari drakor ke drama china. Kenapa nggak menonton sinetron negeri sendiri saja? Kalian ini tidak mencintai produk dalam negeri. Ckck. Kalian sudah punya suami tapi mata masih jelalatan sama aktor-aktor itu. Berdosa banget kalian. Terlebih pasti ada yang halu nikah sama mereka. Dasar wanita," kritik Gerry yang mendapat balasan tatapan tajam dari ketiga wanita hamil itu. 


Karina menggertakkan giginya kesal. Elina sampai bangkit dan menjewer telinga Gerry. Joya mencubit pinggang Gerry. Maka jadilah Gerry sebagai bulan-bulanan kedua wanita hamil itu. 


"Seusai pernikahan kau berhutang 1 M padaku!"


Karina bangkit, beranjak ke belakang Gerry lalu menendang kaki Gerry. Gerry terdiam dengan wajah menahan sakit. Sudah jatuh tertimpa tangga, tertimpa hutang lagi.


"Mulutmu ini seperti wanita. Syukur aku tidak satu rumah denganmu. Jika tidak aku bisa mati muda karena kesal denganmu. Dengar ya, sengefans apapun kami sama aktor, suami kami tetap nomor satu!"


Joya memperkuat jewerannya.


"Ahhh ... sudah hentikan. Bisa putus telinga dan pinggangku. Kalian wanita kejam. Aku mau menikah malah kalian aniaya!" pekik Gerry meronta dan langsung lari menuju kamarnya.


"Dasar banci!" seru Elina puas.


Setidaknya kekesalannya berkurang. 


"Heh dia kira semua aman setelah dia menikah. Gara-gara hal ini. Aku harus mengorbankan waktu senggangku!" ketus Karina kembali duduk.


"Sudahlah. Ayo nonton satu episode lagi lalu bersiap mengantar pria itu menikah," ajak Joya kembali ceria.


Elina setuju. Karina mengambil handphone dan memilih bermain game. Ia bosan dengan drama.


"Joya ku dengar kau sakit parah. Tapi melihat reaksimu sepertinya kau sudah sembuh. Kau hebat. Kanker otak pun bisa nurut samamu!"


Gerry berteriak dari atas tangga. Joya mendengus senyum. Bahagia adalah cara mengatasi penyakit.


"Oh ya sabun di kamar mandimu boleh juga. Aku tadi mengambilnya," tambah Gerry yang membuat Joya membelalakan matanya.


"Gerry Herlambang ... ku bunuh kau!" geram Joya dengan nafas memburu.


Beraninya Gerry sembarang masuk ke kamarnya.


Joya hendak beranjak. Karina menahan Joya seraya menggelengkan kepala. 


"Biarkan saja. Dia akan dapat hukuman setelah menikah," ucap Karina dingin.


"Aku lebih parah. Sam masuk ke kamar kami saat kami memadu kasih. Ck. Aku kesal mengingatnya!"


Elina memasukkan cepat cemilan dengan sorot mata membunuh yang kental. Joya menghembuskan nafas kasar dan kembali duduk.


"Ajak aku jika kamu mau menyiksanya," ujar Joya.


Karina mengangguk pelan.


Di area kolam renang, Darwis dan Arion ternyata seri. Li sebagai juri memutuskan hadiah mereka, yakni masak untuk makan malam.


Darwis dan Arion menghela nafas panjang. Mereka saling tatap dengan senyum puas di wajah.


Teriakan dan pekikan wanita mereka di ruang tengah mereka anggap ketiga wanita itu tengah berdebat atau histeris dengan drama yang mereka tonton serta Gerry yang menambah suasana riuh. Mereka bergegas masuk, bersiap untuk pernikahan Gerry dan Mira.

__ADS_1


__ADS_2