
Duduk berdua di bawah pepohonan rindang dengan hamparan bunga yang merekah. Beralas akar pohon yang besar, Satya dan Riska menikmati suasana taman yang ramai dengan pengunjung.
Setelah Karina pulang dari negara ini, Satya sering mengajak Riska keluar untuk pendekatan dan pengenalan lebih mendalam. Riska yang sebenarnya merasa kesepian di rumah, setuju. Ia merasa Satya tidak terlalu kaku ataupun dingin dengan rencana pernikahan mereka.
Bagi Riska, Satya adalah pria yang dewasa, baik dari segi usia dan bertindak. Rasa nyaman ia rasakan bersama Satya.
Bagi Satya, Riska anak yang mudah diajak kerjasama. Satya menyimpulkan bahwa Riska memiliki rasa padanya, entah dari kapan, Satya tidak terlalu peduli.
Yang penting baginya, ia berusaha sebisa mungkin untuk menjadi calon suami yang baik, mendapatkan restu orangtua Riska, serta menepati ucapan Karina, dan yang terakhir menyiapkan diri untuk menjadi suami yang baik, membina rumah tangga yang sesuai dengan impiannya.
"Pernikahan seperti apa yang kau mau?"tanya Satya, seusai puas memandangi wajah Riska.
Riska yang sedari tadi memperhatikan keramaian, tidak menyadari bahwa ia menjadi perhatian Satya.
Riska terhenyak sesaat, ia diam, memilih kata untuk menjawab, biarpun Satya adalah calon suaminya, ia tidak bisa sembarang berbicara atau menjawab.
Pria di sampingnya ini pria bermuka dua, baik pada kawan, kejam pada yang menyinggung serta musuh.
"Mengapa diam? Apa terlalu banyak opsi pernikahan impianmu hingga kau bingung mau menjawab apa?"tanya Satya lagi.
Satya tertawa kecil melihat wajah Riska yang memerah malu.
"Bukan begitu Kak. Sebenarnya aku belum pernah memikirkan tentang pernikahan. Sebelum kejadian itu, aku hanya berpikir bagaimana caranya jadi orang sukses, membuat kedua orang tuaku bangga. Aku hanya berfokus menata masa depanku. Jika pun mengenai percintaan, itu hanya sekedar rasa. Cinta monyet orang bilang," tutur Riska.
Satya mengeryit tipis.
Ia kemudian menghela nafas dan tersenyum lembut.
"Itu dulu. Bagaimana dengan sekarang? Aku calon suamimu, aku ingin tahu pernikahan impianmu agar aku bisa memberikan yang terbaik," ucap Satya, mengusap rambut panjang Riska.
Riska terpana dengan kelembutan Satya. Ini salah satu asalan ia mudah nyaman dengan Satya.
"Ehm."
Ia berdehem, memalingkan wajah, menghindari kontak mata dengan Satya.
"Aih. Kau masih malu-malu?"
Satya mendengus kecil.
"Ah Kakak kau pandai membuatku malu. Aku tidak percaya kau belum pernah jatuh cinta," jawab Riska, melemparkan candaan.
"Oh benarkah? Berarti kau wanita pertama yang selalu ku buat malu?"balas Satya.
Riska tertegun kembali. Ia pura-pura merapikan anak rambut mengatasi rasa panas yang menjalar.
"Baiklah. Aku akan menjawab pertanyaanmu Kak! Aku tidak ingin pesta pernikahan mewah, aku ingin kehidupan pernikahan yang bahagia," ujar Riska, berubah serius.
"Hm … sederhana. Tidak muluk-muluk. Baiklah tema pernikahan apa yang kau mau?"
"Tidak perlu tema khusus. Yang penting bahagia. Tapi itu keinginanku, tidak tahu dengan keinginan kedua orang tuaku. Dan satu lagi, mengapa Kakak begitu kekeh menanyakan dengan tema pernikahan? Seharusnya Kakak memikirkan cara menangani kedua orang tuaku. Papaku itu seram loh," heran Riska, memicingkan mata.
Satya terkekeh. Ia mengulurkan tangannya ke pinggang Riska, menarik Riska dalam pangkuannya. Riska terkejut, ia berseru kaget, menarik perhatian sekitar.
Riska menyembunyikan wajahnya, sekali lagi Satya terkekeh. Ia acuh dengan tatapan beragam pengunjung taman, tapi rata-rata tatapan kagum pada dirinya.
"Aku sudah memikirkan semuanya. Tenang saja, Ayahmu memang seram tapi lebih menyeramkan lagi Queen-ku. Apa kau tidak lihat bagaimana Ayahmu itu diam tidak melawan Karina hari itu? Dan jangan anggap aku jika tanpa Karina anak ayam tanpa induk, kami dididik untuk mampu mengambil keputusan seandainya pimpinan tidak ada! Jadi calon istri kecilku lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri, ingat calon suamimu ini pria dewasa, bukan anak bau kencur! Hmm?"bisik Satya, mengingatkan sekaligus menggoda.
Riska langsung berwajah pias.
Apa? Apa yang akan terjadi? Pria dewasa? Ahhh … mengapa aku tidak jadi anak polos saja? Oh otakku mengapa kau sudah traveling ke sana?runtuk Riska dalam hati.
Hehehe … anak kecil ini begitu imut! Kau akan jadi wanitaku, kau adalah milikku. Dan aku juga milikmu. Riska, aku berharap pernikahan ini membawa kebahagiaan untuk kita, selamanya, harap Satya.
__ADS_1
Di saat keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, terdengar nada dering dari suatu tempat. Mereka berdua tersadar, Satya melepaskan pelukannya, Riska kembali duduk di samping Satya dengan membuka tas kecilnya.
"Kepala pelayan? Ada apa ya?"gumam Riska.
"Angkatlah. Pasti hal penting," ujar Satya yang mendengar gumaman Riska.
Riska mengangguk.
"Halo Paman," jawab Riska.
"Ya sudah, aku akan pulang sekarang," ujar Riska kemudian, ia menyimpan kembali handphone lalu menatap Satya dengan senyum lebar.
"Ada apa? Kau seakan mendapatkan harga berharga?"
Satya curiga.
"Ayo."
Riska berdiri.
"Kemana?"
Satya ikut berdiri.
"Membuktikan ucapan Kakak tadi," jawab Riska, menarik tangan Satya menuju parkiran di mana motor Satya berada.
Membuktikan ucapanku? Berarti mereka sudah pulang. Baiklah, saatnya bertemu calon mertua!
Satya tersenyum. Ia tidak sabar tiba di rumah Riska.
*
*
*
Tuan Adiguna dan Intan saling tatap, sedikit tidak mengerti dengan calon menantu mereka ini.
Bukankah kata orang seberapa pengaruh dan hebatnya seorang pria pasti akan gugup di hadapan calon mertua saat melamar, nah yang satu ini malah duduk santai bak rumah sendiri.
Lihatnya dia, melihat sekeliling lalu mengangguk kecil. Apakah wibawa dan kedudukan Tuan Adiguna sebagai jenderal tidak berpengaruh pada Satya?
Tuan Adiguna mendengus.
"Ada wine Tuan? Ah tidak Calon Ayah dan Ibu mertua?"tanya Satya dengan senyum lebarnya.
"Kau meminta wine saat melamar? Hei Nak rencana pernikahan kalian belum kami setujui!"ketus Tuan Adiguna.
"Ya setidaknya sediakan hidangan yang lebih lezat. Wine lebih baik daripada teh, atau setidaknya tanyakan aku mau minum apa," sahut Satya acuh, tetap memasukkan cemilan ke dalam mulut.
"Tuan Muda, tolong serius. Kita di sini untuk membahas mengenai masalah Anda dan putri kami. Kami butuh detail kejadian. Alasan pernikahan kalian ini cukup memalukan bagi keluarga kami, terlebih kabar ini diketahui oleh Badan Pemeriksaan. Riska adalah putri bungsu kami, kami tidak ingin salah orang untuk menjaga Riska seumur hidupnya. Sebagai seorang Ibu, saya butuh kejadian yang sebenarnya," ujar Intan, aura anggun terpancar darinya.
Satya mengangguk kecil.
"Saya paham. Tapi saya tegaskan bahwa Anda setuju atau tidak, pernikahan akan tetap terjadi.Oke. Untuk kejadian sendiri, tidak terjadi hal di luar batas pria dan wanita yang belum menikah. Anak kalian masih gadis murni. Kami hanya tidur. Kejadian pagi begitu cepat, petugas pemeriksaan datang, kami tidak bisa menyangkal sebab pakaianku dan Riska acak-acakan, juga ada bekas ciumanku di …."
Satya menunjuk lehernya. Intan menutup mulutnya. Tuan Adiguna mengepalkan tangan erat.
"Mengapa kau tidak bisa menahan diri?"bentak Tuan Adiguna.
"Kalau aku tidak bisa menahan diri, pasti putri kalian sudah tidak murni lagi," sahut Satya.
"Jika … jika tidak terjadi apapun mengapa tidak dilakukan tes visum? Mengapa kalian malah memilih jalan pernikahan? Riska masih sekolah, ia juga harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Masa depannya masih panjang," tanya Intan.
__ADS_1
"Tes visum, hanya membuat keadaan semakin runyam. Pernikahan ini juga menguntungkan kedua pihak, jadi untuk apa menyangkalnya? Untuk Riska sendiri, ia bebas memilih masa depan apa yang ia mau, hanya saja ia harus dan sadar akan statusnya sebagai istri. Jadi saya harap Anda berdua merestui pernikahan ini," jawab Satya.
"Bagaimana dengan hatimu? Apa hatimu setuju dengan pernikahan ini? Apa kau mencintai Riska?"tanya Tuan Adiguna, mencari kelemahan Satya.
"Hatiku … aku sangat paham dengannya. Hatiku mengatakan aku akan bahagia dengan pernikahan ini. Untuk cinta sendiri, terlalu cepat rasanya mengatakan aku jatuh cinta pada Riska, cinta pandangan pertama, itu sedikit konyol bagiku. Yang aku tahu, aku nyaman dengannya, tertarik dengannya, ingin melindunginya, ada debaran aneh saat aku bersamanya. Aku bisa tersenyum lebar saat melihat wajah malunya. Hatiku berkata, aku ingin hidup dan mengisi hari-hariku dengan Riska," papar Satya.
"Heh? Bagaimana Riska bisa bahagia dengan suami yang tidak mencintainya?"kekeh Tuan Adiguna.
"Bukankah kalian juga dijodohkan? Tidak pernah bertemu sekalipun, tidak pernah tahu nama masing-masing sebelum pernikahan, tidak pernah bicara sebelum pernikahan. Kalian tahu segalanya setelah menikah. Cinta akan hadir seiring dengan waktu. Apakah kalian tidak bahagia dengan pernikahan kalian? Ah pasti sangat bahagia hingga menghasilkan tiga keturunan."
Satya tersenyum melihat wajah terkejut Tuan Adiguna dan Intan. Mereka berdua tidak menyangka Satya akan menyelidiki mereka berdua juga.
"Aku sudah berjanji padanya. Maka akan ku tepati semua janjiku. Seorang pria dinilai dari teguhnya pendirian dan tanggung jawab dari setiap kata yang keluar dari mulutnya. Aku bukan Tuan Muda yang gemar bermain wanita," lanjut Satya.
"Aigo, tenggorokanku kering. Wine please?"
Satya memegang tenggorokan. Tuan Adiguna menyuruh pelayan mengambil wine di lemari penyimpanan.
"Nah begini kan lebih enak," seru Satya, saat wine itu datang dan dituang ke gelas, sigap Satya mencium aroma dan menyesap perlahan.
"Nak …."
Intan memanggil Satya. Satya menatap Intan.
"Memanggil saya?"tanya Satya.
Intan mengangguk.
"Tugas seorang suami mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Suami adalah pemimpin bagi istri. Saya tahu Anda orang baik, tapi biarpun begitu kekuatan di belakang Anda mengerikan, serta musuh Anda juga … Anda sendiri lah yang tahu bagaimana, jika menikah dengan Anda, apa Anda menjamin keselamatan Riska? Saya tidak meragukan kekuataan kalian, saya hanya ingin memastikan," tutur Intan.
Satya tersenyum, ia menggoyangkan gelas.
"Hanya memastikan? Anda tidak perlu khawatir. Sebelum Riska, kami sudah punya nyonya muda. Istri dari Kakak tertua kami. Selama kami pemegang kekuatan terbesar di sini, tidak akan ada yang berani mencari masalah dengan kami kecuali orang itu enggan hidup. Jikapun kelak, kami tidak sekuat sekarang, masih ada anak, dan keluarga yang melindungi kami. Tapi aku yakin, kami akan tetap berjaya di masa depan," jawab Satya panjang.
Intan menghela nafas, terlihat lega.
Tinggal jenderal ini saja.
Satya melirik Tuan Adiguna yang diam dengan tatapan serius padanya.
"Lamaranmu akan aku putuskan dalam tiga hari. Dan dalam tiga hari tersebut kau harus datang ke rumah ini pukul 05.30," ucap tegas Tuan Adiguna.
"Untuk apa?"tanya Satya.
"Kau akan tahu nanti," jawab Tuan Adiguna.
Satya kembali mengeryit tipis. Tidak mau ambil pusing, Satya berdiri lalu berpamitan.
Kali ini ia berperilaku layaknya seorang calon menantu yang biasa, menyalami tangan keduanya. Satya melangkah dengan hati yang cukup lega.
"Pa … apa yang ingin Papa lakukan?"tanya Intan penasaran.
"Kita tidak bisa menolak pernikahan ini. Papa hanya ini menguji ucapannya. Jika ucapannya benar, maka ia akan melewati tiga hari tersebut," jawab Tuan Adiguna, menenggak air minum.
"Mama mengerti. Kita tiba bisa menolak, tapi dia bisa. Jika itu memang perintah Karina, tidak sesuai dengan hatinya, maka ia sendiri yang akan mundur. Tapi jika memang benar, Mama akan tenang menyerahkan Riska padanya," timpal Intan.
Tuan Adiguna mengangguk.
Sedangkan di kamar, Riska sedikit merasa tenang saat menerima pesan dari Satya. Ia berguling riang di atas ranjang, kemudian diam dengan menatap langit-langit dan memeluk guling.
Mengapa tahun baru terasa lama sekali?
Tunggu. Jika aku menikah dengan Kak Satya, berarti aku akan pindah ke rumahnya. Dan di sana ada dua Tuan Muda lagi ditambah satu Nyonya Muda. Kalau begitu aku harus mencari tahu karakter calon kakak ipar perempuanku ini nanti, batin Riska, ingin mencari tahu mengenai Joya.
__ADS_1