
Kini Karina, Arion dan Para member bookingannya tengah berada di pusat perbelajaan terbesar di kota ini. Tentu saja atas nama Karina.
Lantai tempat bermainlah yang pertama kali dituju. Letaknya di lantai 3. Di sana ada area bolling, trampolin, wahana bermain anak dan orang dewasa tentunya. Panjat dinding serta permainan mengasah otak.
Karina yang sadar dan ingat dengan kehamilannya yang masih muda, Karina lebih memilih mengambil handphonenya dan memainkan game online. Gamenya yang pasti adalah bertema action dan strategi dan dapat dimainkan secara berkelompok. Karina mengajak mabar Gerry, Enji serta Li.
Sedangkan yang lainnya memilih wahana bermain mereka. Tata dengan semangat melompat ria di atas trampolin. Membuat Chimmy yang duduk di atasnya terpental ke sana ke mari.
" Mochi Hyung, melompatlah biar tinggi sedikit tubuhmu," ajak Tata meledek.
"Ck. Ledek saja terus tinggi badanku," ketus Chimmy bersedikap tangan. Tata dibantu RJ semangat menganggu Chimmy. Kuki dan Agus lebih memilih bermain bolling.
Mang dan Koya masih berkeliling untuk memainkan apa yang menarik.
***
"Apa Ibu sudah final dengan keputusan Ibu?" tanya Joya memegang tangan Elsa. Elsa tersenyum dan mengangguk.
"Sudah Sayang, Ibu nyaman sekali di sini," jawab Elsa.
"Ibu yakin? Lebih baik Ibu tinggal sama Joya dan Darwis saja di negara K. Di sini Ibu sendiri, Joya juga ingin lebih bersama Ibu, menghabiskan waktu, mengantikan waktu yang terbuang selama ini tanpa Ibu," bujuk Joya sekali lagi.
Elsa menggeleng dan mengusap lembut rambut sang anak. Darwis yang berada tak jauh dari sana pun bergabung.
"Sudah selesai, Sweatheart?" tanya Darwis menyentuh jemari Joya.
Joya mengangguk lemah dan menunjukkan wajah tak inginnya.
"Ada apa? Jika Ibu tak mau tinggal bersama kita, itu keputusan Ibu. Lagipula jarak antara negara K dan kota ini tak terlalu jauh. Hanya satu jam penerbangan bukan?" bujuk Darwis pada Joya.
"Suamimu benar Nak, Ibu masih belum ada yang Ibu selesaikan. Ibu akan bereskan dulu, baru setelahnya kita akan tinggal bersama. Atau jika kamu rindu, Ibu sendiri yang akan terbang ke sana," timpal Elsa.
"Baiklah Bu, Joya menurut," ucap Joya mengulas senyuman. Elsa tersenyum cerah.
"Kalau begitu, Aku dan Joya pamit ya Bu," ujar Darwis menyalami sang ibu mertua.
"Hm hati-hati di jalan dan di penerbangan. Berdoalah selalu. Ingat doa naik kendaraan, semoga kalian selalu dalam lindungan yang Kuasa," ujar Elsa.
"Ibu juga jaga kesehatan. Kabari Joya jika Ibu mau melakukan sesuatu pada Ayah."
Joya memeluk Elsa. Keduanya berpelukan cukup lama. Sekitar 5 menit kemudian, Joya melepas pelukannya dan meraih tangan kanan Elsa, menciumnya lembut dan meletakkannya di pipinya. Mata keduanya memanas dan terisak.
"Ayo Sayang," ajak Darwis. Joya mengangguk dan mengusap sudut matanya. Joya dan Darwis kemudian saling bergandengan tangan dan memasuki mobil yang telah terparkir di depan mereka. Membuka kaca dan melambaikan tangan pada Elsa. Elsa membalasnya seraya tersenyum.
Setelah mobil yang membawa Joya dan Darwis hilang dari pandangannya. Elsa melangkahkan kakinya kembali menuju paviliumnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Sesampainya di pavilium, Elsa langsung duduk di hadapan kanvas lukisnya dan mengambil palet lukisnya. Ia kembali melukis. Lukisannya mayoritas berwarna merah. Seorang laki-laki di tengahnya dengan wajah tak berdaya dan memohon ampunan. Elsa menarik sudut bibirnya.
Besok, ini semua akan terlukis nyata di wajahmu! batin Elsa tertawa.
***
Di negara dengan icon menara pisa, coloseum dan makanan khasnya yaitu pizza dan spagehti. Lila dan Raina tengah mengendarai kendaraan mereka melintasi sebuah jembatan yang membentang indah, menghubungkan dua sisi yang berjauhan. Jembatan itu bernama Ponte della Libertà
Ini adalah hari ke tiga mereka dalam perjalanan bisnis. Tujuan mereka kali ini adalah membahas lebih lanjut tentang proposal yang sempat ditangguhkan karena masalah internal perusahaan yang mau bekerja sama dengan mereka.
"Lil, loe sudah hubungi laki loe?" tanya Raina pada Lila, mengalihkan tatapannya dari yang mulanya menatap ke arah jendela kaca sampingnya menjadi menatap Lila.
Lila melirik sekilas dan menggeleng.
"Belum, ribet deh ah, masa' setiap dua jam sekali wajib telepon," keluh Lila tersenyum simpul. Menyetel lagu berbahasa italian di mobil.
"Wih segitunya si Sam protektif sama loe, tapi masih mending loe sih, daripada si Shi XiaoNian," tutur Raina yang membuat Lila mengeryit.
"Siapa itu Shi XiaoNian? Artis? Publik figur? Pengusaha? Atau apa?" tanya Lila.
__ADS_1
"Ck, dia itu MC utama cewek di mangan komik," jelas Raina.
"Oh, mana aku tahu. Orang aku pun tak pernah menginstal atau mencari tentang mangan," ucap Lila.
"Hm, by de way, mertua loe kayak mana?" tanya Lila. Raina menghela nafas.
"Mertua gue, kan gue sudah pernah cerita sama loe, ngebet banget mau punya cucu, terus gue bolak-balik diminta mundur dari pekerjaan gue. Ya untungnya Calvin tahu gue kayak mana, kalau enggak bisa war nanti gue sama mertua gue," ucap Raina lesu.
"Kemarin waktu gue mau berangkat juga dibilang gitu, ya sekalian saja gue bilang kontrak seumur hidup. Gue harap mereka mengerti. Working is my soul. Bagaimana denganmu Lil?" tanya Raina padaLila yang menjadi pendengar yang baik.
"Kedua mertua itu orangnya lumayan kocak Ra, ada saja ulah mereka yang buat gue ngangkak. Tapi mereka untuk romantis walaupun dapur seperti kapal pecah, lucu deh lihatnya," ucap Lila tersenyum. Hening, tak ada tanggapan dari Raina.
"Lil, loe ngarasa gak bahwa kita itu egois dan banyak syaratnya? Nikahi anak pengusaha saja tak seribet menikahi kita. Gue kadang merasa aneh saja gitu. Gue ingin keinginan gue terpenuhi, gak peduli siapapun orang terdekat gue. Kayak gue masih lajang. Padahalkan sekarang status gue sudah istri. Seharusnya gue bisa masuk dan mengikuti aturan keluarga suami gue, ini malah sesuka hati gue," tutur Raina panjang lebar. Ia menghela nafas panjang.
Lila diam dan memilih menatap serius jalanan di hadapannya. Setelah diam cukup lama, Lila akhirnya buka suara.
"Hm intinya kita harus bisa bagi waktu Ra. Gue rasa kita gak terlalu egois. Lagipula tugas sebagai istri dan menantu telah kita jalani. Jika mereka mau protes, protes di mananya? Sama siapa? Toh kita gak mati gara-gara protesan mereka. Masih ada Nona yang siap menyokong kita. Yang penting laki kita no problem. Mereka kan seharusnya tahu, orang kantor itu bagaimana?" ucap Lila.
Raina diam, tak lama setuju dengan ucapan Lila. Percakapan mereka terhenti sebab mereka telah tiba di perusahaan yang mereka tuju.
***
"Sudah selesai semuanya?" tanya Karina pada ketujuh member. Di tangan mereka terdapat beberapa paperbag. Ada yang berisi cemilan, pasti, minuman, kosmetik, aksesoris dan barang apa yang menarik perhatian mereka.
"Sudah," jawab Koya mewakili.
"Kalau begitu, ayo lanjut ke rumah sakit. Sebentar lagi gelap," ucap Karina.
"Oke," jawab mereka bertujuh serentak.
Pergantian posisi, Tata dan RJ satu mobil dengan Karina. Kali ini Karina yang membawa mobilnya.
Dengan kecepatan sedang, Karina melajukan mobilnya membelah jalanan. Guratan jingga bertanda senja mulai menampakkan wujudnya menghiasi langit.
"Tumben Karina membawa mobilnya normal? Biasanya bak pembalap jalanan," heran Agus, dialah yang mengemudi mobil alphard ini.
"Menurutku sih karena hari sudah senja, jadi dia membawa mobilnya seperti itu," ucap Mang.
"Mode waras on padanya. Tapi aku lebih ingin dia membawanya dengan kecepatan tinggi, ingin melihat wajah panik V dan Mas Ganteng Hyung aku," ucap Chimmy seraya menenggak minuman dingin dari kulkas.
"Leader Hyung, apa pendapatmu?" tanya Chimmy yang melihat Koya masih fokus pada handphonenya. Chimmy menilik, penasaran sekali apa yang dibaca hyungnya ini.
"Masih belum tamat juga hyung membacanya?" tanya Chimmy.
"Hm," gumam Koya singkat.
"Kau tertarik sekali dengan itu, apa isinya? Apakah berhubungan dengan masa kini?" tanya Agus melirik Koya dari spion kaca tengah.
Koya mengangkat pandangannya.
"Iya. Lebih tepatnya masa lalu, kini dan masa depan. Di sini jelas gambarannya, hanya tinggal daya nalar kita saja untuk memahami dan mencerna kata-katanya. Semua tentang kehidupan yang disebutkan di dalamnya memang benar terjadi, jika belum, pasti akan terjadi di masa depan," jelas Koya.
"Hm apa kau ada niatan memeluk salah satu keyakinan atau agama?" tanya Kuki.
"Benar itu, semua orang tahu kamu itu adalah atheis, berita besar jika kamu memeluk agama," ucap Mang.
"Aku belum ada niatan. Aku hanya penasaran dengan buku ini. Rasa penasaran itu membuat dan mendorongku untuk lebih jauh lagi membacanya," jawab Koya.
"Shut! Untuk apa membahas masalah itu? Itu sensitif dan merupakan hak pribadi. Ingat hak asasi manusia. Kebebasan! Ingat lagi kita itu satu jiwa dalam tujuh tubuh. Bhinekka Tunggal Ika. Berbeda tetapi tetap satu. Jika pun ada di masa depan yang memutuskan memeluk agama kah, menjadi religius kah? Atau mau pindah agama itu hak orang itu sendiri. Kita tak ada hak melarang ataupun mencela," ucap Agus, panjang lebar.
"Baik Hyung," jawab patuh keempat member.
"Tapi dari mana hyung tahu semboyan itu? Itukan semboyan sebuah negara, kalau tak salah ingat waktu sekolah dulu," tanya Chimmy.
"Dari ruang kerja Karina, ku lihat ada bendera kebangsaan di samping bendera organisasi mereka. Lalu ada foto pemimpim negara dan lambang negara. Nah ada tuh pita yang bertuliskan hal itu," jelas Agus.
__ADS_1
"Wih kau diam-diam berkeliling rumah itu ya?" seru Koya.
"Hm, tak sengaja," jawab Agus.
"Hei lihat, kecepatan mobil Karina bertambah, dia menyalip truck besar itu," ujar Kuki menunjuk ke depan.
"Mulai deh mode Queen Racingnya," ucap malas Agus.
"Cepat tambah kecepatan, jika tidak kita akan kehilangan jejak mereka," titah Koya.
"Iya Joon, loe tenang saja. Tanpa loe mintapun gue lakuin," sahut Agus menambah kecepatannya.
Agus menambah kecepatan dan ikut menyalip truck gandeng itu. Mobil Karina terpisah beberapa kendaraan lain dari mobil yang ia kemudikan.
"Astaga! Gila ngedriftnya. Kayak jalan nenek moyangnya saja," kagum Kuki.
"Jelas, Queen Racing dianya," ujar Mang.
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup lama, kedua mobil berbeda jenis dan bentuk serta merk itu memasuki parkiran khusus rumah sakit. Tata dan RJ keluar dengan wajah sedikit pucat mereka.
Baru kali ini mereka naik mobil seperti ini. Asal kaca spion kanan dan kiri masuk, maka langsung saling. Seperti para sopir bus yang membawa kendaraanya. Cela sedikit saja asal masuk bodynya hajar.
Apalagi decitan ban dan aspal yang bergesekan terasa ngilu di gigi mereka. Karina sengaja memang tak memasang mode kedap suara.
"Nih minum dulu," ucap Agus menyodorkan sebotol air mineral. RJ lah yang pertama kali minum, membasuh wajah dan menetralkan debaran jantung mereka.
"Gimana? Enak kan naik mobil dengan Karina," ledek Agus.
"Hm, untuk yang pertama dan terakhir," sahut RJ.
"Maka dari itu, lain kali jika pergi dengannya, lebih baik kalianlah yang menyetir, biarkan istriku ini duduk tenang di belakang," saran Arion yang tersenyum mendengar ucapan mas ganteng.
"Ah baiklah Arion hyung," jawab Tata diangguki yang lainnya.
"Sudah ayo naik, Agus jangan lupakan tasku, Rumah Makan, tas ku juga mana? Barangnya tak seberapa tapi nilai apa yang ada di dalamnya sana mampu membeli apapun yang dapat dibayar dengan uang," titah Karina.
Mereka segera menuju lift yang tersedia di parkiran dan naik menuju lantai di mana ruangan Arion berada nantinya.
Di dalam lift, enam member lainnya mengobrol, hanya satu orang yang berdiri diam di sudut dan dia melamun.
"Aku heran," ucap Chimmy tiba-tiba.
"Heran apa? Mengapa kau populer dan dicap pendek oleh orang padahal tinggi badanmu 173 cm," sarkas Karina. Chimmy mencembikkan bibirnya.
"Kalau di sana memang itu tergolong pendek Karina, di sana ada batas tinggi rata-rata untuk pria. Dan Mochi berada di bawahnya, makanya dinilai pendek," jelas Koya sebagai member tertinggi.
"Iya di sana pendek. Di sini disebut galah berjalan," sahut Karina.
"Yang kau meledekku? Tinggi badanku 183 cm loh," keluh Arion cemberut. Karina membulatkan matanya tak lama ia terkekeh sendiri.
"Ini kok malah bahas tinggi badan? Beda negara beda aturan dong," keluh Kuki.
"Jadi apa kau herankan tadi Swag hyung?" tanya Mang.
"Bukan masalah itu, tetapi tentang nyawa," tegas Agus.
"Nyawa?" beo Karina, Arion dan keenam member lainnya.
"Benar!" sahut Agus.
"Apa yang kau herankan dari itu?" tanya Koya. Karina bersedikap tangan di dada. Menatap lekat Agus.
"Mengapa nyawa tak bisa dibeli dengan uang, harta ataupun kekayaan yang kita miliki?" Karina dan keenam member lainnya saling lempar pandang. Arion malah tersenyum. Ia menarik nafas panjang.
"Oleh karena itu, syukuri apa yang ada pada diri kita. Kan semua tahu nyawa tak bisa dibeli, maka jagalah dan sayangi nyawa kalian dengan sepenuh hati. Jika nyawa bisa dibeli, mau tinggal di mana kita di bumi ini? Apakah kita harus tinggal di planet lain, jika nyawa bisa dibeli? Nyawa itu lebih berharga dari harta apapun di dunia ini. Lihat saja raja firaun, bergelimang harta tapi tetap juga tamat kerena memang usianya sudah mencapai batas akhir," ucap Arion.
__ADS_1
"Intinya, syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah!" tegas Karina.