Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 339


__ADS_3

 Sebelum pulang Rian memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di kota New York. Dengan tetap mengendarai mobil rolls royce, Rian bersama dengan satu bawahannya yang bertugas sebagai sopir, membelah jalanan padat jalan itu.


"Aku sedikit mengantuk," ujar Rian.


"Apakah Anda ingin permen kopi, Tuan?"tanya sopir Rian.


"Hm."


Rian kira sopirnya itu sudah memiliki permen kopi yang dimaksud, nyatanya sopirnya menghentikan mobil di depan sebuah minimarket kemudian turun. Rian mendengus. Memilih memainkan handphone, melihat pasar saham.


"Cepat sekali," gumam Rian saat mendengar pintu mobil sopir terbuka. 


Rian terkejut saat mobil digas dengan terburu-buru, mengangkat pandangan. Terdiam mendapati sopirnya telah berganti dengan seorang wanita yang mengenakan gaun putih lengkap dengan hiasan kepala berwarna putih juga, seorang mempelai wanita.


Agaknya wanita itu tidak menyadari ada Rian di kursi penumpang. Rian tetap berdiam diri, membiarkan wanita tersebut membawa mobilnya. Rian kembali fokus pada pasar sahamnya.


Rian tidak terganggu ataupun tegang dengan gaya mengemudi wanita tersebut yang cukup bar-bar. Menyalip kanan kiri dan kini berada di jalan searah yang cukup senggang. Kecepatan mobil menurun menjadi sedang, terdengar helaan nafas lega. 


Rian menatap sekilas ke depan, menaikkan satu alis kemudian kembali menunduk.


"Oh God! Apa yang baru saja aku lakukan? Aku kabur dari pernikahan lalu mencuri mobil, kemana aku sekarang?"


Rian tersenyum tipis mendengar ocehan tersebut, terdengar frustasi.


"Aih coba kita lihat harga mobil ini."


Menatap lambang merk mobil di kemudi mobil. 


"OMG! Rolls Royce?! Mobil milik keluarga mana yang aku ambil? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Akankah pemilik mobil ini mencarinya? Aih mana mungkin tidak dicari."


Semakin frustasi, memukul kemudi. Rian tertawa tanpa suara. Geli dengan ocehan wanita tersebut.


"Apa sebenarnya yang terjadi padaku? Setelah ayah dan ibu meninggal, paman mengambil alih perusahaan. Dengan alasan agar hidupku bahagia, bibi menjodohkan aku dengan pria beristri tiga. Benar-benar gila. Tunggu … aku ragu dengan penyebab kecelakan ayah dan ibu. Akankah??"


Wanita itu kemudian menggeleng.


"Tidak-tidak. Aku tidak percaya mereka melakukan hal itu. Tapi jika benar …."


Nada suaranya menjadi datar.


"Aku akan menghancurkan mereka!"desis dingin wanita itu.


Rian menangkap sinyal niat balas dendam. Meletakkan pelan handphone kemudian meletakkan kedua tangan di atas kaki.


"Tapi sebelum itu aku harus mencari tempat yang aman dulu. Kemana aku harus pergi?"


Mengesah pelan. 


"Ah benar juga! Hehehe …."


Tawanya terdengar licik. Rian bertanya-tanya apa yang akan wanita tersebut lakukan.


"Kantor polisi, di mana kantor polisi?"


Ah Rian tahu jalan pikiran wanita tersebut.


"Lihat di GPS saja," sahut Rian datar. 


Wanita itu tampak terkejut dan melihat ke belakang. Rian tersenyum, menyeramkan bagi wanita tersebut, seketika menginjak rem mendadak.


Senyum Rian berganti dengan ringisan seraya mengusap dahi akibat terbentur kursi di depannya.


"Tuan … apakah Anda pemilik mobil ini? Anda baik-baik saja kan?" tanyanya takut, menatap Rian yang memberi tatapan tajam sekilas.


"Hm."


Jawaban yang sangat singkat.


Kini Rian dan wanita yang belum ia ketahui identitasnya itu berada di pinggir jalan dekat dengan taman kota. Rian berdiri dengan kedua tangan menyilang di dada. Wanita tersebut menunduk takut dengan posisi bersandar pada body mobil.


"Jika kau berniat menyerahkan dirimu ke kantor polisi karena membawa mobilku tanpa izin, sebaiknya kau urungkan karena itu tidak akan pernah terjadi. Jika engkau ingin mengungkap kebenaran, kau harus bebas bukan bersembunyi di dalam jeruji besi," ucap datar Rian yang sudah menyimpulkan semua ocehan wanita tersebut.


"Tuan … Anda melepaskan saya?"tanyanya ragu. 


Rian mengangguk.


"Tidak ada alasan yang membuatku menuntut dirimu." 


Tersenyum.


"Tapi jika Anda melepaskan saya … saya tidak tahu harus kemana," ujarnya lesu.


"Keluarga saya pasti akan memaksa saya untuk menikah dengan seseorang yang tidak saya sukai," lanjutnya, merosot dan kini berjongkok dengan kedua tangan di atas lutut serta dagu bertumpu pada kedua tangan. 

__ADS_1


"Saya juga tidak punya uang, hanya membawa kartu identitas," tambahnya lagi.


"Itu bukan urusanku," sahut Rian, membuat wanita itu mendongak dengan tatapan kesal.


"Tuan, tidakkah Anda kasihan dengan saya? Anda sudah mendengar tentang nasib saya, apakah tidak terselip rasa iba terhadap saya?" 


Menatap Rian memelas.


"Haruskah aku mengasihani dirimu?"balas Rian, acuh.


"Jika aku jadi dirimu aku meninggalkan keluarga itu kemudian kembali untuk merebut apa yang mereka rampas darimu. Kekuatan tidak muncul karena rasa kasihan melainkan tekad dan usaha yang besar. Nona, aku akan memberimu uang dan membantumu mengurus paspor," ujar Rian. 


Ucapannya mulai berubah. Rian sedikit merasa iba.


"Benarkah?"


Binar bahagia muncul di mata indah itu. Rian mengangguk.


"Pergilah ke luar negeri untuk membangun kekuatan. Aku tidak yakin bahwa kau tidak punya keterampilan yang bisa kau banggakan. Tapi sebelum itu aku butuh identitasmu," jawab Rian.


"Identitas saya?"


Buru-buru wanita itu merogoh sesuatu di balik gaun bagian atasnya. Rian mengalihkan tatapan.


"Ini, Tuan."


Berdiri, menyodorkan sebuah kartu pada Rian.


Rian menerimanya, membaca dengan seksama.


"Angela Abraham? Usia 23 tahun, golongan darah AB, alamat perumahan xxxxxxx?"


"Apakah orang tuamu pengusaha besar?"


Rian tahu perumahan itu. 


"Sebelumnya iya, tapi kini semua dikuasai oleh paman dan bibi saya," jawab Angel sendu.


"Baiklah. Ayo kita kembali ke lokasi kau mengambil mobil ini tadi," ujar Rian.


"Baik, Tuan. Tapi bolehkah saya tahu nama Anda?"tanya Angela menahan tangan Rian. 


Rian menatap tangan Angela yang menahan dirinya. Jantung berdebar lebih kencang setelah kontak fisik. 


"Ah maaf, Tuan."


Angela buru-buru menarik tangannya.


"Rian Airlangga," ucap Rian, tersenyum tipis kemudian masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang. 


"Aku yang menyetir?"gumam Angela menunjuk dirinya sendiri. 


Angela mengemudi dengan kecepatan sedang, sesekali melirik Rian dari kaca spion yang tengah sibuk berkutat dengan handphone. Sembari mengemudi, Angela menceritakan tentang dirinya. Rian mendengarkan sembari tetap melihat-lihat pasar saham. Ia ingin menanamkan saham di beberapa tempat. 


Angela adalah putri tunggal dari keluarga Abraham yang memiliki perusahaan bernama Diamond Corp yang bergerak di bidang perhiasan. Tiga tahun lalu orang tua Angela tewas karena kecelakaan mobil. Angela yang kala itu masih menempuh pendidikan di Universitas New York sangat terpukul dan terpuruk selama sebulan. Perusahaan besar keluarganya diambil alih oleh paman dan bibinya. Tempat tinggal yang semula terpisah kini menduduki kediamannya. Ia yang merupakan tuan putri sebenarnya perlahan tersingkir digantikan dengan dua sepupunya. 


Angela bukannya tidak menyadari arti tindakan pamannya setelah pulih dari trauma. Tapi Angela tidak bisa berbuat apa-apa karena jika ia memberontak yang dirugikan adalah dirinya sendiri. Pamannya telah mendapat kepercayaan dan simpati dari perusahaan. 


Tahun kemarin Angela baru saja menuntaskan kuliahnya.


"Hidup saya, saya yang menentukan. Saya tidak akan melakukan apa yang tidak saya sukai. Saya mulai memberontak kecil setelah lulus kuliah. Entah karena menganggap saja beban atau ancaman, mereka seenaknya sendiri menentukan masa depan saya. Kini saya sedikit merasa lega karena terbebas dari mereka. Dulu saya memang takut nama baik saya dan orang tua saja dihujat oleh publik, tapi sekarang saya hanya ingin mencari kebenaran dan kembali suatu saat nanti untuk mengembalikan nama baik kami!"


Mata Angela berkilat penuh ambisi.


"Hm. Kejarlah apa yang kau inginkan. Aku akan membantumu mengambil langkah kedua," ujar Rian tanpa beralih dari handphone.


"Terima kasih, Tuan," tutur Angela sepenuh hati.


Entahlah. Hati Rian terus berbisik untuk membantu Angela. Rian hanya menuruti bisikan hatinya sekaligus memastikan sesuatu.


Sopir Rian langsung berdiri tegak ketika mobil yang ditumpangi Rian berhenti mulus di depan minimarket tempatnya menunggu. Angela keluar dari mobil, membungkuk maaf pada sopir Rian. Mendapat lirikan Rian, sang sopir hanya mengangguk dan masuk ke mobil, bersiap mengemudi.


Angela juga masuk ke dalam mobil, duduk di samping Rian. Ada perasaan aneh saat keduanya duduk berdampingan. Karena pakaian mereka mirip kepada pasangan yang baru menikah. Sang sopir hampir saja salah paham.


"Tuan, permen Anda," ujar sopir menyodorkan sebungkus permen kopi pada Rian. 


Rian menerima tanpa berkata apapun. Membuka bungkus dan mengambil satu permen untuk ia konsumsi.


"Tuan, apakah kita langsung ke bandara atau bagaimana?"tanya sopir lagi.


"Mall," jawab singkat Rian.


Mobil kemudian segera melaju menuju mall. Di perjalanan, handphone Rian berdering, ada panggilan masuk. Rian tersenyum tipis melihat siapa yang menelpon, Satya.

__ADS_1


"Ada apa?"tanya Rian setelah menjawab panggilan tersebut.


"Kau di mana? Mengapa belum mendarat juga? Apakah kau terkena masalah di sana?"


Nada bicara Satya cemas. Rian tertawa kecil.


"Kau meremehkan kakakmu ini ya? Tenanglah, semua telah selesai. Aku akan tiba di sana nanti malam. Aku ingin tinggal sebentar di sini, mencari buah tangan untuk kalian, terlebih untuk keponakan kecilku," jawab Rian.


"Buah tangan? Di saat semua mengkhawatirkan dirimu kau malah berbelanja? Hei Rian, kepulanganmu dengan selamat adalah hadiah terbesar untuk kami! Asal kau tahu, pekerjaan kita banyak yang terlambat untung saja ada Gerry yang membantu," cerca Satya dengan nada kesal.


Rian terkekeh.


"Hei-hei! Kau yang mengirimku menjalankan misi ini, mengapa kalian mengkhawatirkan diriku?"tanya Rian, memancing emosi Satya.


"Bod*h! Tentu saja kami mengkhawatirkan dirimu! Untuk alasan apa perlu dijelaskan lagi? Dasar kakak baperan!"gerutu Satya.


Rian diam sesaat kemudian tertawa.


"Baiklah …  baiklah. Maafkan aku. Oh ya bagaimana ceritanya Gerry membantu di sana?"tanya Rian penasaran.


"Tentu saja perintah Karina," sahut Satya dengan nada yang masih kesal.


"Wah kalian tidak cakar-cakaran kan?"goda Rian.


"Sesaat."


"Kalian sudah akur?"


"Begitulah," jawab Rian, acuh.


Rian tersenyum lebar.


"Ah ya bagaimana keadaan keponakanku?"tanya Rian.


"Dia sehat. Nanti sore akan pulang ke mansion. Joya juga akan dirawat di rumah," jawab Satya.


"Syukurlah. Semoga Joya cepat sadar," ucap lega Rian.


"Hm."


"Baiklah. Aku tutup dulu karena aku ingin berbelanja," ujar Satya.


Terdengar suara dengusan di sana. Panggilan berakhir. 


Setelah berbelanja, Rian dan Angela keluar dari mall menuju mobil. Pakaian Angela telah berganti. Tentu saja Rian akan risih jika Angela tetap mengenakan gaun pengantin. Di tangan Angela terdapat beberapa paperbag hasil belanjaan Rian.


Setibanya di mobil, sang sopir menyerahkan sesuatu pada Rian. Rian lalu menyerahkannya pada Angela. 


"Paspor?"


Angela terkejut dengan kecepatan Rian mengurus paspor miliknya. Hatinya mulai berbisik untuk tetap bersama dengan Rian. Ia bertemu dengan seseorang yang berpengaruh.


Rian kemudian memberikan sebuah kartu pada Angela.


"Di dalamnya ada 250 juta. Gunakan untuk menjadi kuat dan membalas dendammu," ujar Rian.


Rian mengeryit saat Angela menyodorkan kembali kartu tersebut.


"Saya sudah memutuskannya. Saya akan ikut dengan Tuan," ujar Angela mantap, menatap Rian bersungguh-sungguh.


"Ikut denganku? Menjadi apa?"


"Saya serba bisa. Saya siap melakukan apapun perintah dari Anda!"jawab Angela.


"Serba bisa? Katakan jurusan kuliahmu," ujar Rian.


"Keuangan," jawab Angela, sedikit heran.


"Keuangan?"


"Saya handal dalam hal investasi," tambah Angela.


Rian tersenyum kemudian mengangguk.


"Baiklah. Kau boleh ikut denganku," putus Rian yang membuat Angela sontak memeluk Rian.


Rian membeku sesaat. Berdebar dengan telinga sedikit memerah.


"Lepaskan," ujar datar Rian.


"Eh?!"


Angela melepaskan pelukannya, membungkuk meminta maaf.

__ADS_1


"Sudahlah. Ayo naik."


__ADS_2