
Pagi harinya, Karina bersiap menghadiri pemakaman Reza dan Elsa. Setelah izin dari Arion, Karina meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Argantara.
"Semoga Joya sabar dengan kepergian kedua orang tua," gumam Arion. Kini ia hanya bersama ketujuh member Blue Boys.
Kuki berkali-kali melirik ke arah Chimmy yang duduk dan berbincang dengan RJ.
Koya pun menyadari hal itu.
"Apa yang mau kau tanyakan pada Chimmy, Kuki?" tanya Koya penasaran.
Kuki terperajat, sedangkan Chimmy menatap Kuki, bukan hanya Chimmy, member lainnya pun ikut.
"Apa apa Kuki?" tanya Chimmy.
Kuki menggeleng tapi hatinya penasaran. Chimmy menatap Kuki lekat, Kuki menelan ludahnya.
"Tanyakan saja, jangan ragu-ragu," ucap Mang.
"Apa pertanyaannya hilang dari otakmu?" tanya Agus.
"Kebentur kali kepalanya," sahut Tata.
"Jika pertanyaannya hilang, ingat saja nanti," timpal RJ.
"Hm, aku mau kapan kita kembali? Aku sudah rindu menari," tanya Kuki.
"Oh itu, dilihat dari jadwal sih seharusnya lusa," jawab Koya. Kuki mengangguk. Hatinya berkata ia hanya bisa berbicara empat mata dengan Chimmy. Bukan berkumpul seperti ini.
***
Kini acara pemakaman Reza dan Elsa telah selesai. Para pelayat yang ikut mengantar satu persatu meninggalkan pemakaman. Tinggallah Joya, Darwis, Karina, Maria, Amri serta Gerry dan Li.
Mereka menatap dua gundukan tanah merah tanpa taburan bunga di atasnya. Joya diam saja, hanya mata sembab menggambarkan kesedihannya. Darwis selalu memberikan dukungan pada Joya.
Amri dan Maria menatap keduanya, ikut prihatin. Karina hanya menunjukkan wajah datarnya. Li dan Gerry pun sama dengan Karina. Karina tak menunjukkan luka di tangan kanannya, tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku jaketnya.
Setelah berdiam diri cukup lama, akhirnya pukul 11.00, mereka meninggalkan pemakaman. Karina memasuki mobilnya dan meninggalkan parkiran menuju markas. Diikuti oleh mobil yang dikemudikan Li dan Darwis. Sedangkan Maria dan Amri pulang menuju rumah mereka.
***
Di dalam mobil mereka, Joya dan Darwis diam dalam pikiran masing-masing. Joya sibuk berkelut dengan langkah apa yang akan ia ambil. Kenyataan ini terlalu berat. Hatinya tak sanggup menahan. Joya lupa bahwa ia masih punya suami dan calon anaknya.
Kini pikirannya hanya tertuju pada ia seorang diri di dunia ini. Apalagi mafianya telah berada di bawah pimpinan Karina.
Sedangkan Darwis, berpikir bagaimana caranya agar Joya dapat segera bangkit dari kesedihannya. Darwis khawatir akan keadaan Joya dan anaknya yang dikandungnya.
Setengah jam kemudian, mobil yang Darwis kemudikan tiba di markas. Darwis langsung membawa Joya ke kamar mereka.
Karina menuju ruang kerjanya, sedangkan Li dan Gerry melakukan pekerjaan yang harus mereka lakukan. Setelah menidurlan Joya, Darwis menuju ruang kerja Karina.
"Karina aku sangat khawatir pada kondisi Joya. Aku bingung bagaimana lagi caranya agar dia bisa menerima dan kembali seperti biasa," ucap Darwis risau. Karina menaikkan bahunya.
"Kau suaminya, harusnya kau lebih tahu," sahut Karina.
"Kan ku katakan aku sudah habis ide. Ada satu ide lagi tapi apa kau bisa mengizikannya?" tanya Darwis.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Karina.
"Kau kan pernah melalukan penelitian untuk membuat mesin penghapus ingatan yang menyakitkan. Apakah aku bisa menggunakan itu untuk menghapuskan ingatan sedih Joya?" pinta harap Darwis. Karina mengerutkan dahinya. Tak lama ia menggeleng.
"Aku sudah menghentikan penelitian itu Darwis. Data-datanya juga ku hapus," ujar Karina. Darwis menghela nafas panjang.
"Lagipula kenyataan pahit itu harus diterima dengan ikhlas, bukan dihapuskan Darwis. Haih, akan ku coba berbicara dengannya, kau tak perlu khawatir," ujar Karina lagi.
"Hm, tangan kananmu kenapa? Sedari tadi kau terus sembunyikan. Apa itu akibat tembakan Joya kemarin?" tanya selidik Darwis. Karina tersenyum dan mengeluarkan tangan kanannya dari saku jaketnya.
Karina menunjukkan telapak tangannya yang diperban. Darwis menatapnya dan segera memegangnya.
"Hanya luka kecil. Tak sebanding dengan apa yang aku lalui selama ini. Dan di sini juga ada luka akibat tembakan pelayan rumah mereka. Huh, aku jadi lemah sekarang. Bahkan pelayan pun bisa melukaiku."
Karina terkekeh sembari menyentuh bahu kanannya. Darwis membulatkan matanya.
"Berhentilah membulatkan mata Darwis. Waktuku tak banyak di sini. Aku akan segera berbicara dengan Joya lalu kembali ke rumah sakit."
Karina menarik tangannya dari pegangan Darwis dan keluar dari ruangannya menuju kamar Darwis. Darwis segera mengikut.
Dengan langkah pelan, Karina memasuki kamar Darwis. Terlihat Joya sudah terbangun dan kini duduk diam di depan cermin. Tatapan matanya lurus ke depan. Karina dengan lembut menyentuh pundak Joya. Joya tak bergeming, hanya melirik sekilas.
"Ikhlaskan Joya. Terima masa lalu, sekarang dan berusaha lebih baik untuk hari yang akan datang. Jangan belenggu dirimu dalam masa lalu ayahmu. Aku sudah memaafkan mereka walaupun setelah mereka tiada. Kau tidak sendiri, ada aku, Darwis, calon anakmu serta Pedang Biru. Kini kita keluarga. Biarlah yang lalu berlalu Joya," tutur Karina lembut seraya mengusap rambut Joya.
Joya tetap diam, tapi air mata mulai tampak di matanya. Pelan namun pasti air mata semakin deras diikuti dengan suara isak tangis.
"A-aku putri dari seorang pembunuh yang membunuh saudara kandungnya sendiri, aku putri dari seorang penghianatan. Aku bersalah padamu Karina, lebih baik aku tiada saja daripada hidup dalam bayangan perbuatan Ayah," tangis Joya menundukkan kepalanya.
Karina menghela nafas lagi. Ia memeluk Joya dari belakang.
Karina melepas pelukannya dan berniat berjalan keluar dari kamar Darwis. Darwis menghampiri Joya.
"Berhenti Karina," pinta Joya pelan, memutar badannya menatap punggung Karina. Karina berbalik dan tersenyum.
"Ada apa?" tanya Karina datar.
"Kau benar Karina. Aku memang harus menerima semuanya. Itu adalah jalur hidup dan tak bisa berubah jika aku terus meratap. Tapi rasa bersalahku tetap saja tak bisa aku hilangkan atau turunkan. Sebagai seorang yang pernah menjadi ketua muda, maka aku memintamu menghukumku untuk kesalahan yang aku lalukan!" ujar Joya mantap, bangkit dan berlutut di hadapan Karina. Darwis diam, tidak berniat ikut campur.
"Baiklah. Hukumanmu adalah jalani hidup dengan baik. Jagalah cinta dan kepercayaan suamimu. Doakan kedua orang tuamu. Aku hukum kau agar menerima semuanya dengan ikhlas dan tak akan ada niat balas dendam padaku di kemudian hari. Jika tidak aku akan menghapuskan semua keturunan Reza Argantara!" tegas Karina. Karina mendongak dan mengernyit menatap Karina.
"Adakah hukuman seperti itu?" tanya heran Joya.
"Ada. Aku baru saja mengucapkannya. Sekarang terima hukumanmu!" sahut Karina tegas.
"Baik! Aku terima semua hukuman yang kau katakan dengan segenap jiwa dan raguku. Terima kasih telah melepaskanku dari rasa bersalah ini," ujar Joya mantap.
Karina mengangguk dan segera keluar dari kamar Darwis dan Joya. Karina dengan langkah ringan nan santainya berjalan menuju parkiran di mana mobilnya berada. Membalas sapaan para anggotanya yang berpapasan dengannya dengan ramah.
"Karina," sapa Elina yang datang dari arah taman. Karina yang sudah hendak masuk mobil pun menoleh dan menutup kembali pintu mobilnya.
"Ya? Ada apa?" tanya Karina.
"Aku ada kabar bahagia untuk Li. Tapi aku belum memberitahunya. Asal mau diberi tahu dia ngelonyor pergi, kesal kan aku jadinya," ujar Elina bahagai sekaligus kesal.
Karina mengernyitkan dahinya lagi.
__ADS_1
"Kabar bahagainya untuk Li, kok kamu ngadunya sama aku sih? Kabarnya kau hamil kah?" terka Karina santai. Elina membelakakan matanya, tak lama ia terkekeh.
"Ternyata mudah ditebak, iya aku semalam mengecek rahimku dengan tes dan hasilnya dua garis biru, aku hamil dan Li akan jadi seorang ayah," jelas Elina tersenyum.
"Baguslah," sahut Karina menunjukkan wajah bahagiannya.
Bruk!
Ada yang memeluk Elina dari belakang.
"Benarkah Li? Aku akan jadi seorang ayah?" Li yang tanpa sengaja mendengar ucapan Elina langsung memeluk Elina dari belakang.
Elina memutar tubuhnya tanpa melepas pelukan Li.
"Ya aku hamil," jawab Elina.
"Katakan lagi. Aku ingin mendengarnya lagi," pinta Li.
"Kau akan jadi seorang ayah," jawab Elina.
"Selamat untuk kalian, bersenang- senanglah. Aku kembali dulu, dah," ujar Karina pamit, langsung masuk mobil.
"Hati-hati di jalan Karina," ujar keduanya tanpa melepas pelukan. Setelah mobil Karina hilang dari pandangan, Li langsung menggendong Elina ala brydal stel menuju ke dalam markas utama. Bersiap memanjakan Elina dengan semua curahan kasih sayang Li, pada Elina juga calon anak mereka.
***
Sambil menikmati alunan lagi 'good life' Karina membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Setibanya di rumah sakit Karina langsung menuju pentahousenya dan melakukan kewajibannya. Ia memohon ampun atas semua perbuatannya.
Setelah selesai mencurahkan isi hati juga permohonannya, Karina lekas menuju ruang rawat Arion.
Di dalam terlihat para member tengah makan siang dengan tenang tanpa ribut. Arion tampak duduk diam di ranjangnya. Jujur saja rasa bosan tanpa Karina ada padanya.
Karina melangkahkan kakinya santai memasuki ruangan dan menyapa para member.
Chimmy terlihat masih takut dengan Karina namun berusaha ia tutupi.
"Assalamualaikum Hubby," ujar Karina mencium telapak tangan Arion.
"Waalaikumsalam My Wife," sahut Arion.
"Lama sekali kamu, mampir di mana saja hayo," selidik Arion. Karina tertawa kecil dan duduk di kursi samping ranjang.
"Tahu saja kamu. Aku mampir di markas tadi. Ada kerjaan sedikit, oh aku ada kabar baik. Baik tak ngaruh juga untuk aku ataupun kamu sih," terang Karina.
"Kabar baik? Kamu ini aneh loh, yang namanya kabar baik itu sedikit banyaknya pasti ngaruh, kabar apa sih memangnya?" tanya Arion.
"Elina hamil," jawab Karina.
"Woah, ternyata mereka sangat cepat berhasil," kagum Arion.
"Hm, jika tak cepat pasti nenek tua itu akan nyinyir seperti mertuanya Raina, semoga saja mereka cepat hamil," harap Karina.
"Semoga. Aku pun tak sabar akan kau cepat melahirkan, semoga semuanya lancar tanpa halangan," harap Arion.
"Amin," ujar keduanya bersamaan.
__ADS_1