
Joya langsung keluar bandara dan memberhentikan sebuah taksi. Joya langsung memberitahu tujuannya, yaitu rumahnya. Sesampainya di kediaman Argantara, Joya langsung membayar argo dan masuk ke dalam rumahnya. Tak lupa koper yang ia bawa ia serahkan pada bik Asi.
Joya langsung menuju kamarnya, tak peduli akan ia yang belum bertemu papanya. Sesampainya di kamar, Joya menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ia memejamkan matanya mengingat kejadian terakhir sebelum kembali kemari.
Flashback Joya.
Joya segera keluar dari kasino, meninggalkan Darwis yang masih lelap tertidur. Ia pulang menuju apartemen pribadinya. Sesampainya di apartemen, Joya langsung masuk ke dalam kamar mandi dan merendam tubuhnya di buth up.
Bayangan kejadian panas dengan Darwis berputar di kepalanya. Tak terasa air matanya menetes.
"Kenapa ini harus terjadi. Mengapa aku bodoh sekali percaya dengannya?" isak Joya.
Ia memeluk lututnya erat. Rasa bersalah menghampirinya, selama ini yang menyentuhnya hanyalah Arion seorang, kekasih yang sangat ia cintai. Sayang, karena ambisi Papanya, Joya berulang kali aku pergi tanpa pamit. Dan tahun lalu adalah yang pertama.
Satu hal tentang Joya, ia mempunyai sikap tertutup yang sulit untuk berinteraksi dan bergabung dengan lingkungannya, makanya semasa sekolah, Joya dikenal dingin, pendiam, cuek dan banyak yang menilainya sombong.
Ingatan Joya kembali pada masa sekolah menengah atas, waktu itu ia masih kelas X. Tak ada yang mau berteman dengannya, hingga hadirnya satu lelaki dengan wajah culun yang selalu menyapa ramah dirinya, walaupun tak ada respon, lelaki itu tak pernah absen menyapa.
Dari hari ke hari lelaki itu semakin berani mendekatinya, tak segan ia membawakan bekal makan siang untuknya, jika moodnya baik maka ia akan diam saja menatap datar bekal itu, jika ia badmood maka bekal itu akan berserakan di lantai, atau selalu mengekor ke manapun ia pergi selama di sekolah.
Sumpah serapan, kata-kata kasar selalu Joya lontarkan, namun lelaki itu semakin menjadi. Hingga akhirnya Joya menyerah dengan sendirinya.
"Kamu kenapa ikuti dan ganggu aku terus? Padahal aku selalu menghina dan memakimu?" tanya Joya pelan saat mereka berada di bangku taman sekolah.
"Karena aku menyukaimu," sahut lelaki itu.
"Apa yang kamu sukakan dariku? Aku ini keras kepala, dingin, tak pandai bergaul, bahkan urusan akhlak aku paling buruk dari yang lain? Mengapa kau bisa suka padaku? Jarak kita terlalu jauh, Darendra," ujar Joya dengan suara paling rendahnya.
"...."
Pria yang dipanggil Darendra itu terdiam. Ada rasa aneh di hatinya saat pertama kali melihat Joya. Daren menghembuskan nafas kasar dan melepas kacamatanya.
"Aku yakin, di balik semua sikap burukmu itu pasti ada rahasia dan mutiara yang bersinar terang namun ditelan oleh gelapnya sikapmu," jawab Daren lirik.
"Joya, aku tahu kita memiliki banyak perbedaan tapi bagiku itu bukan masalah selama kau menyukaiku apapun akan kulakukan demi menghancurkan perbedaan kita," ucap mantap Daren.
Joya menatap sulit Daren. Seolah mengatakan bagaimana itu bisa? Daren hanya murid pindahan beasiswa sedangkan dirinya adalah anak dari pemilik sekolah ini.
"Aku tak menyukaimu Daren. Kau itu culun, aku tahu dirimu cerdas, tapi kau tak pantas menyukaiku. Kau lebih pantas menjadi budakku. Kau itu seperti seekor anj*ng yang mengikuti tuannya ke manapun tuannya pergi. Itulah dirimu. Jadi jangan pernah bermimpi aku akan menyukaimu. Lebih baik kau mati saja!" seru Joya dengan suara tinggi menampar pipi Daren sekuat.
Untung saja taman sepi, sebab para pelajar sibuk di kantin, adapun sebagian lainnya ke perpustakaan.
Daren terdiam. Hatinya sangat sakit bahkan lebih sakit dari tamparan di pipinya. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Kau bohong Joya. Matamu berkata lain," desis Daren pelan.
"Kau salah! Aku dan dirimu bagaikan langit dan bumi. Bahkan kau lebih jauh dari bumi. Aku membencimu. Kau lebih baik belajar giat saja agar kau bisa menjadi orang sukses! Lupakan rasamu dan jangan ganggu aku lagi!" tegas Joya.
"Aku tak bisa. Aku mencintaimu. Kau menutupi segalanya," ujar Daren berusaha memegang tangan Joya. Lukanya sudah tak ia pedulikan lagi.
"Berikan jantungmu maka aku akan menerima cintamu," ucap Joya menatap dingin Daren dan beranjak pergi entah kemana. Daren terdiam. Jantung? Joya menginginkan jantungnya?
Daren lemas seketika. Dengan langkah gontai ia pergi ke kelasnya sebab bel masuk kelas sudah berbunyi. Sedangkan di satu bawah pohon mangga di belakang sekolah, Joya bersandar pada pohon dan memeluk lututnya.
"Aku menyukaimu. Tapi aku tak bisa mengatakannya. Hidupmu akan penuh dengan bayang-bayang kematian. Pergilah. Pergilah yang jauh Daren. Pergi lupakan dan tinggalkan aku," lirik Joya.
***
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, Joya segera masuk ke kamarnya, rumah sepi, papanya pergi urusan mafia. Tak lama, ada yang menekan bel rumah, Joya bergegas membukakan pintu.
Ternyata dia mendapat kiriman paket. Joya segera menandatangani tanda terima dan segera masuk ke kamar. Joya membuka paket itu perlahan.
Kotak berukuran sedang berwarna merah serta pita merah yang membungkusnya. Perlahan, Joya membuka pita dan kotak itu. Matanya membulat melihat isi kotak itu.
"Jantung? Jantung manusia?" panik Joya. Ia teringat perkataannya kemarin kepada Daren.
Joya segera melemparkan kotak itu ke lantai. Ternyata ada sebuah surat yang sudah terkena noda darah. Joya mengambil dan membaca surat itu.
Jantung ini untuk rasa cintaku, Joya Argantara. Apakah kau menerima cintaku? Ku harap kau memegang janjimu. Kunjungilah makamku jika kau mencintaiku. Salam sayang, Darendra.
Joya menjatuhkan surat itu. Dadanya sesak, air matanya luruh.
"Kau melakukannya? Mengapa kau lakukan? Sebesar itukah cintamu? Daren mengapa kau bodoh sekali?" teriak Joya frustasi. Joya menghempaskan apa yang ada di meja belajarnya jatuh berserakan ke lantai.
"Kau bodoh. Aku mengatakan itu agar kau menjauh. Bukan mengambil jantungmu sendiri!!" ucap Joya.
__ADS_1
Tubuhnya lemas dan merosot jatuh ke lantai menyesali perkataannya.
"Aku mencintaimu, Daren," lirik Joya.
***
Hati Joya sakit mengingat kenangan itu.
"Sekarang aku hanya mencintai Arion. Apapun alasannya aku tak akan melepaskannya pergi. Kau tak boleh meninggalkanku, Arion," lirik Joya.
Joya segera membersihkan tubuhnya, berusaha menghapus jejak Darwis. Percuma saja. Sekuat apapun Joya menggosoknya, bekas itu tak hilang malam berubah jadi lebam.
Satu jam kemudian, Joya keluar dari kamar mandi. Badannya menggigil karena kelamaan mandi. Kepalanya terasa pusing. Selepas berpakaian, Joya menuju dapur membuat teh jahe dan meminum pil penunda kehamilan mengantisipasi agar apa yang disemburkan Darwis di dalam rahimnya tidak berbuah menjadi janin.
Selepas itu, Joya membuka surat yang ia ambil dari nakas kamar Darwis.
"Leader Pedang Biru dan KS Tirta Grub adalah satu. Pusatnya ada di kota S negara Y."
Inilah isi suratnya. Joya merobek kesal surat itu.
"Pedang Biru sialan. Demi informasi kecil ini aku harus tunduk di bawah tubuh Darwis," teriak Joya frustasi.
"Tapi tak masalah. Sekecil apapun informasi yang kudapat aku butuh pengorbanan besar untuk mendapatkannya," ucap Joya mantap.
Joya memutuskan untuk kembali ke negara Y pada hari Senin, selama menunggu hari keberangkatan, Joya mengurung dirinya tak keluar apartemen.
Flashback off.
***
"Huh … mengapa hatiku berdetak kencang mengingat Darwis? Sadarlah Joya," seru Joya menepuk-nepuk pipinya pelan lantas tertidur. Ia berencana melanjutkan misinya besok setelah moodnya dan tubuhnya fresh.
***
Saat ini, Karina telah berada di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi. Rumah paling mewah di antara rumah lain. Karina menekan bel yang terpasang di gerbang.
Penjaga pos melihat siapa yang menekan bel. Alangkah terkejutnya ia saat melihat wajah dingin yang sudah lama tak ia lihat. Dengan segera ia menekan tombol otomatis membuka gerbang lebar dan tinggi itu.
Saat hendak melangkah masuk, handphone Karina berdering menandakan ada panggilan masuk. Karina segera mengambil handphonenya dari tas dan melihat siapa menelpon. Karina segera mengangkatnya saat tahu, Arion yang menghubunginya.
"Halo Ar," balas Karina.
"Kamu sudah mendarat?" tanya Arion.
"Sudah. Satu jam yang lalu. Aku saja sudah berada di depan hotel," jawab Karina.
"Kamu kok gak nelpon aku sehabis mendarat sih? Kamu lupa ya?" Suara Arion yang merajuk terdengar menggemaskan di telinga Karina.
"Aku lupa Sayang. Yang aku ingat malah mencari taksi," ujar Karina tersenyum.
Senyumnya mengejutkan seisi rumah atau lebih tepatnya mansion yang Karina pinjakin saat ini.
"Taksi ingat. Suami sendiri lupa. Huh," kesal Arion.
"Cup cup cup suamiku Sayang. Jangan menangis. Kedepannya aku akan menghubungi duluan," hibur Karina.
"Janji?" tanya Arion.
"Janji," sahut Karina.
"Aku merindukanmu," ucap Arion.
"Lebay deh. Baru juga tiga jam aku pergi," celetuk Karina tertawa kecil.
"Rindulah Sayang. Kita kan pengantin baru stok lama," sahut Arion.
"Sudah ah. Aku mau check in. Panas tahu."ucap Karina.
"Ya sudah. Jangan lupa janji kita tadi," ucap Arion.
"Dadah," pamit Karina langsung mematikan panggilan dan menyimpan kembali handphonenya. Karina menggeleng-gelengkan kepalanya kecil mengingat Arion.
"Selamat datang kembali Nona," sambut para pelayan yang mengurus mansion ini.
Ya inilah adalah rumah peninggalan ayah angkatnya yang sudah ia renovasi dan besarkan. Karina menganggukkan kepalanya kecil seraya tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih atas sambutan dadakan kalian. Ternyata aku tidak dilupakan. Aku hanya kembali untuk tiga hari. Jadi jangan terlalu tegang," seloroh Karina.
"Eh ... kami berharap Nona kembali selamanya ke kediaman ini," sahut salah seorang dari mereka.
"Benarkah? Aku kira kalian agar mengusirku tadi," ujar Karina. Para pelayan serentak menggeleng. Walaupun Karina tersenyum ramah, tetap saja rasa takut menyelubungi mereka.
Karina segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion, jarak dari gerbang ke rumah utama berjarak sekitar 100 meter. Di halaman di bangun air mancur berbentuk singa. Tak lupa taman berbagai bunga ikut menghiasi halaman.
Pintu masuk berukiran pedang dan mawar terpahat apik di sana. Karina segera melangkahkan kakinya masuk.
Mansion dengan empat lantai itu memiliki nuansa campuran. Untuk naik ke lantai atas dapat menggunakan lift ataupun tangga.
"Hmm … sudah 5 tahun. Akhirnya aku kembali. Pak Suf aku merindukanmu," gumam Karina mendaratkan tubuhnya di atas empuknya sofa. Karina memejamkan matanya.
"Nona, silahkan diminum. Anda pasti lelah setelah perjalanan," ujar Bik Uci meletakkan segelas coklat hangat di meja. Karina membuka matanya.
"Terima kasih Bik," ucap Karina mengangkat gelas coklat hangat dan meminumnya perlahan. Perlahan tubuhnya kembali segar.
"Nona, kamar Anda sudah siap," lapor bik Intan.
"Iya Bik," sahut Karina, waktu menunjukkan pukul 11.30, Karina segera menuju lift menuju kamarnya yang berada di lantai 3.
Sesampainya di lantai 3 yang merupakan lantai pribadinya, Karina lantas segera menyegarkan tubuhnya yang lengket. Lima belas menit kemudian, Karina keluar dengan menggunakan handuk kimono. Sebentar lagi waktunya makan siang.
Di sela menunggu waktu, Karina berpikir cara apa yang akan ia lakukan.
"Lebih baik aku cek secara umum dulu. Aku akan menyamar menjadi pasien di sana," gumam Karina. Waktu menunjukkan pukul 12.00. Karina segera berganti pakaian dan turun ke lantai dasar.
Bik Uci dan Bik Intan sudah menyiapkan menu makan siang di meja makan. Karina segera duduk dan menyantap makan siangnya. Ternyata ada banyak lagi menu di meja makan. Karina yakin, pasti para pelayannya ini sudah sering makan enak, so mereka tak mencuri pandang saat Karina makan.
"Bik, Karina pergi keluar dulu ya," pamit Karina seraya mengelap bibirnya.
Buk Uci dan bik Intan mengangguk serentak. Karina segera menyambar tas selempang favoritnya dan menuju garasi.
Karina melihat kendaraan apa saja yang ada di sana. Perhatiannya tertuju pada motor matic kepunyaan salah satu pelayannya, kebetulan kuncinya menggantung di tempat kunci kendaraan.
"Punya siapapun ini aku pinjam dulu," teriak Karina sebelum melajukan motornya keluar garasi. Yang mempunyai motor itu hanya melongo dan menganggukan kepalanya setuju.
Padahal Nona punya mobil dan motor hanya milyaran. Mengapa harus memakai motor bututku? pikir pak Anto, pemilik motor yang dibawa Karina.
Karina melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju Tirta Hospital yang terkena masalah. Tak lupa ia singgah sebentar ke toko pakaian mengganti pakaian yang saat ini ia gunakan agar tak terlalu mencolok.
Setibanya di rumah sakit, dahi Karina mengenyit heran melihat seorang wanita tua berdiri di jalan rumah sakit dengan membentangkan tulisan bertuliskan,
Kembalikan nyawa putriku. Kalian membunuhnya.
Wajah wanita itu tampak pucat sebab berada terlalu lama di bawah panas matahari. Tangannya gemetar. Karina segera menghampiri wanita itu. Tepat satu langkah lagi, wanita itu mulai kehilangan kesadarannya dan menubruk Karina.
Untung saja pondasi Karina kokoh, maka ia tak jatuh karenanya. Karina menepuk-nepuk pelan pipi wanita itu. Suhu badannya sangat tinggi. Dengan cepat Karina memapahnya masuk ke rumah sakit. Anehnya para perawat tak ada yang bergeming.
"Hei … cepat tolong wanita ini," teriak Karina lantang.
Mereka terkesiap. Dengan cepat mereka menolongnya. Karina duduk di ruang tunggu. Matanya mengawasi aktivitas rumah sakit.
Benar. Mereka tak peduli para rakyat miskin, batin Karina.
Tak lama ada dokter keluar dan memberitahu Karina.
"Bagaimana?" tanya Karina datar.
"Dia hanya dehidrasi dan kelelahan akibat terlalu lama di bawah panas matahari," jelas sang dokter. Karina meneliti dan menilai dokter di hadapannya ini.
"Hmm … apakah kau tahu apa yang terjadi pada wanita ini?" tanya Karina serius. Wajah dokter itu menegang.
"Anda siapanya?" tanyanya.
"Hanya orang lewat yang melihat tulisan kembalikan putriku. Apakah ini ada hubungannya dengan rumah sakit ini?" tanya balik Karina.
Sang dokter mengubah ekspresinya dengan cepat. Ia kini menilai Karina dari bawah sampai atas.
"Saya sarankan Anda tidak ikut campur. Lebih baik Anda melunasi biaya pengobatan wanita tua itu," ucap dokter itu menepuk pundak Karina lantas pergi.
Karina tersenyum sinis mendengarnya.
"Bagaimana bisa aku diam tak ikut campur? Sedangkan gara-gara ulah kalian, nama baikku tercoreng di negara ini," gumam Karina masuk ke dalam ruangan dan menghampiri wanita tua yang ia tolong tadi.
__ADS_1