
Dan Karina mau membunuh ayahnya? Berarti Karina tahu masalah itu. Tidak. Joya harus memberitahu hal itu pada Ayahnya.
Joya meraih handphonenya.
"Hah? Apa-apaan ini?" geram Joya. Tak ada sinyal. Padahal ini markas besar. Nyatanya adalah sinyal diblokir jika tidak terdaftar di jaringan markas.
Joya melihat laptop Darwis di meja belajar dengan segera membukanya.
"Sial! Bersandi lagi!"umpat Joya melihat kode pembuka laptop.
Joya berusaha tenang. Ia memejamkan matanya. Dengan perlahan mengetikkan kata sandi yang nangkring di kepalanya.
"Aihs, apa kata sandinya? Namaku bukan, semua tentangku juga bukan, tentang Darwis juga bukan. Atau jangan-jangan …." Joya mengetikkan nama Karina di sana. Dan hasilnya terbuka. Joya tersenyum kecut. Ternyata posisinya di hati Darwis masih di bawah Karina.
Tak mau ambil pusing lebih jauh, Joya segera melakukan panggilan terhadap Ayahnya.
Panggilan dibatalkan. Indikasi Anda mau berhubungan dengan musuh, sistem berbunyi, alarm ikut bersuara. Lampu merah menyala. Tak lama, beberapa pengawal masuk ke dalam kamar Joya.
"Kalian tak punya sopan santun?" geram Joya melihat empat pengawal wanita itu masuk tanpa izin.
"Untuk alarm merah kami tak perlu izin untuk memasuki ruangan manapun," jawab datar salah seorang dari mereka.
Joya berdiri dan menatap dingin keempat wanita itu.
"Bawa dia ke sel 05," titah wanita yang berdiri paling depan.
"Baik," jawab tiga anggotanya. Tentu saja Joya memberontak. Ia bertarung dengan tiga orang itu hingga kamar yang tadinya rapi kini acak-acakkan.
Namun, pada akhirnya Joya bertekuk lutut. Kondisi fisiknya yang lemah menambah poin kekalahannya. Akhirnya Joya dibawa ke sel tahanan. Karina yang menerima kabar hanya tersenyum miris. Ingatlah. Karina telah menyusun rencana balas dendamnya. Dan dalam minggu ini akan terealisasikan. Caranya sama seperti cara pembunuhan yang Reza lakukan pada orang tua serta kedua kakaknya.
Joya, ayahmu yang berbuat salah, kau yang akan menanggung. Tenanglah Joya. Bersabarlah. Hanya untuk beberapa saat ke depan saja. Setelah semua beres, kamu juga akan terlahir kembali, batin Karina.
"Karina Hyung, apa Hyung melihat leader Hyung?"tanya Kuki dengan membawa beberapa ikan yang ia dapat.
"Bagaimana bisa aku tahu? Sedangkan sedari tadi aku membahas pekerjaan dengan mereka. Lagian diakan bersama kalian." Karina menatap heran Kuki. Kuki tertegun.
"Woi leader Hyung hilang!"pekik Kuki pada kelima Hyung lainnya.
"What?"kaget RJ.
"Tadikan dia nyari kepiting, sama kamu kan V?"tanya Chimmy pada Tata.
"Iya tapi setelah embernya penuh, aku ikut kalian cari ikan, sedangkan dia duduk di sana," jelas Tata.
"Cepat cari dia. Aku tak tahu apa yang akan iya perbuat nantinya," titah Agus yang diangguki keenamnya.
Karina berdecak sebal. Ia membuka sistem jam tangannya dan melihat isi kamera CCTV. Ternyata Koya berada di perpustakaan markas. Setelah dari dapur dengan perut kenyang tentunya.
Karina menautkan alisnya melihat buku yang dibaca Koya. Itu adalah kitab suci umat islam. Memang benar di perpustakan markas yang besar dengan ribuan buku, terdapat aneka ragam buku, tentang keagamaan juga banyak. Hasil tulisan dari ulama maupun penulis tersohor pada zamannya.
Al-Qur'an berbagai bentuk juga tersedia. Dari yang hanya bahasa arab hingga yang ada terjemahan serta dilengkapi dengan tajwidnya. Serta buku-buku tentang penjabaran setiap ayat dalam Al-Qur'an.
"Ada apa?" tanya Li.
"Wajahmu terkesima begitu?" tambah Gerry lagi.
"Ah tak ada, cuma heran saja melihat RM memegang dan membuka lembaran Al-Qur'an," jawab Karina.
"Bolehkan dia memegangnya? Secara sepengetahuanku dia itukan atheis?" tanya Gerry.
"Dan yang memegang Al-Qur'an adalah harus bersuci lebih dulu," lanjut Elina.
"Entahlah, aku pun kurang tahu. Akan tetapi jika aku merasa itu bukan masalah," ujar Karina.
__ADS_1
"Lebih baik suruh dia bersuci dahulu, sama seperti saat anak khalifah umar menyuruh umar bersuci ketika ingin menyentuh dan membaca Al-Qur'an," saran Arion.
Karina mengangguk dan segera menurunkan kakinya, melangkah menuju perpustakan dengan sepeda yang tersedia di parkiran dekat saung.
Blue Boys masih berkeliling mencari leader mereka. Lupa deh sama ikan dan kepiting. Dibiarkan saja di pinggir pantai.
***
"Apa yang kau baca?"tanya Karina basa-basi.
Koya yang masih sibuk dengan lembaran Al-Qur'an dan handphonenya mengangkat pandangannya menatap Karina.
"Membaca dan menerjemahkan kata-kata di buku ini ke dalam bahasa inggris " jelas Koya. Karina manggut.
"Apa kau tahu apa yang kau baca itu?"tanya Karina lagi.
"Aku tak tahu buku apa ini. Tapi yang pasti saat aku tahu apa yang berada di dalamnya membuatku tak bisa berhenti untuk membacanya. Kata dan kalimat dalam buku ini memang apa adanya dengan kehidupan manusia. Penulisnya sangatlah hebat," ujar Koya menunjukkan lesung pipinya.
"Tentu saja hebat. Itu semua adalah firman Tuhan, diturunkan pada zaman nabi Muhammad dan dibukukan agar kami para umat islam mudah untuk membacanya, itu adalah kitab suci kami, jika kau mau berlanjut menbacanya, tolong silahkan bersucilah dulu. Kerena ada adab yang harus dipenuhi dalam membaca Al-Qur'an," terang Karina lagi, berjalan menuju rak dan mengambil buku penjabaran ayat Al-Qur'an juz ke lima, lalu duduk di samping Koya.
Koya tampak kaget dan menatap lekat buku di tangannya.
"Benarkah? Aku tak tahu tentang itu," sesal Koya. Karina tersenyum.
"Tak apa, lekaslah bersuci agar kau bisa lanjut membacanya, jika kau tak mau, kamu bisa menginstal aplikasi Al-Qur'an digital di ponselmu. Lebih praktis untukmu," saran Karina.
"Ah baiklah. Aku akan instal nanti, aku ingin membaca ini dulu, tapi aku tak tahu cara bersuci apa aku harus mandi dulu?"tanya Koya. Karina menggeleng dan menepuk ke dua tangannya. Datanglah seorang pria, menunduk hormat pada Karina.
"Ajarnya padanya cara bersuci," titah Karina.
"Baik," jawabnya. Koya segera mengikut pada anggota itu.
Semoga saja hatinya tergerak untuk memeluk salah satu agama di muka bumi ini. Heran, begitu banyak agama dan keyakinan ia tak memilih siapapun. Oh RM, aku suka padamu bukan karena wajahmu. Anggap saja wajahmu adalah bonus. Yang ku kagumi adalah otak cerdasmu serta caramu memimpin. Apalagi kesukaanmu pada buku.
Tak lama Koya kembali dengan rambut dan wajah yang basah. Kedua kaki dan tangannya juga basah. Tetesan air dari rambutnya turun ke lantai. Sangat tampan.
"Sudah kan," tanya Koya.
"Kau lebih tampan setelah berwudhu," goda Karina mengerling. Koya pun tersipu. Ia segera membaca apa yang sempat ia tinggalkan tadi.
"Huwah Hyung akhirnya kami menemukanmu," teriak Kuki dari pintu lebar perpustakaan. Kelima member lain juga terlihat senang dan lega. Pakaian basah kering di badan mereka.
Koya yang masih menerjemahkan menoleh.
"Memangnya aku hilang?"tanya Koya tanpa rasa bersalah.
"Kau tak memberitahu kami bahwa kau akan pergi. Jadinya saat kami tak melihatmu kami kira kamu hilang," jelas RJ melangkahkan kakinya masuk.
"Kalian asyik sendiri," sergah Koya.
"Apa yang kau baca?"tanya Tata mendekat pada Koya.
"Bahasa apa ini?"tanya Agus. Jadinya keenam member mengerubungi Koya.
"Ini bahasa arab dan indonesia," jawab Koya. Keenam member mulai penasaran dan mengajukan pertanyaan. Membuat suasana yang harusnya hening menjadi riuh.
"Sudah! Ayo keluar dari sini! Sebentar lagi senja, kita harus membuat acara panggang ikan di pantai," titah Karina yang jengah dengan Blue Boys.
"Baik," pasrah Blue Boys.
Akhirnya mereka bersamaan meninggalkan perpustakaan markas. Menuju kembali ke pantai.
__ADS_1
Karina segera memberi arahan. Kuki membuat api kerena dia ahlinya. RJ membuat bumbu ditemani Agus. Chimmy dan Mang menyiangi ikan. Tata membersihkan panggangan. Koya, disuruh duduk diam saja. Koya tak bisa diam.
Karina yang melihat itu, tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
"You come here," panggil Karina, Koya yang berada di samping Tata menoleh.
"Okey," jawab Koya.
"Kau kenapa pula?"tanya Karina.
"Mereka tak mengizinkanku melakukan apapun." Koya mengaduh pada Karina layaknya mengaduh pada seorang kakak.
"Kalau begitu kita buat saja kegiatan sendiri, bantu aku membuat wajik," ujar Karina.
"Wajik?"tanya Koya heran.
"Itu loh beras ketan yang dimasak setengah matang terus dimatangkan bersama santai dan gula merah. Rasanya gurih dan manis," ujar Karina memberitahu.
"Baiklah." Koya bersemangat. Bahan yang telah tersedia di atas saung lengkap dengan kompor gasnya.
"Atau kita coba masak kayak di scout? Itu loh yang masaknya di dalam pasir. Masaknya juga menggunakan kelapa muda, gimana?"saran Elina.
"Lain kali saja lah Elina, hari ini kita buat wajik saja," ujar Karina. Elina mengesah dan mengangguk.
"Sudah Elina, masih banyak waktu buat itu," ujar Gerry.
"Aku dengar tadi ada yang bilang wajik, wajik kartu kah? Karina main kartu yuk," tanya Li yang entah datang dari mana langsung nimbrung.
"Bukan loh Li, tapi wajik makanan," ralat Elina.
Maka jadilah mereka bekerja sama. Target sebelum magrib tiba semua telah selesai. Dan setelah magrib barulah acara makan-makan dimulai.
***
"Bagaimana bisa wanita itu tidak berada di sana hah?"teriak Reza geram pada bawahannya.
Para bawahan menunduk dan berdoa dalam hati. Mereka tak berani menatap Reza langsung.
"Cari! Cari wanita itu! Cepat!"titah Reza tegas penuh amarah. Para bawahan mengangguk dan segera beranjak melakukan titah.
"Astaga, bagaimana Elsa bisa keluar dari sumur itu? Tidak mungkin dengan tangannya sendiri, pasti ada tangan lain yang membantunya. Tapi siapa? Musuh atau kawan? Tapi siapa yang berani masuk ke hutan itu? Aku aku segera menemukan Elsa," gumam Reza.
Mata Reza sontak membulat mengingat sesuatu. Mendadak keringat mengucur deras.
"Jangan katakan bahwa yang melukis lukisan itu adalah Elsa. Elsa kau tak berniat balas dendam padaku bukan?"gumam Reza lagi dengan suara lemah.
Reza mengusap wajahnya kasar. Ia mengepalkan tangannya erat dan berpikir di mana sekarang Elsa berada. Akan gawat jika Elsa menemui Joya.
Reza berdiri dan melangkah keluar dari ruangannya. Hatinya diliputi rasa bersalah, resah dan was-was.
Phay!
Kaca rumah bagian depan pecah berserakan akibat lemparan batu. Reza yang berada di anak tangga pertengahan pun terkejut. Dengan segera menghampiri itu. Sebuah batu dengan sebuah kertas bergabung.
Reza mengambil kertas dengan hati-hati akibat serpihan kaca yang berserakan.
Reza membuka kertas itu perlahan.
"Karma akan datang padamu. Kau akan membayar atas apa yang kau lalukan padaku selama ini, Reza. Bersiaplah Reza. Tunggulah malaikat mau menjemputmu. Kau akan bertemu dengannya sebentar lagi. Tunggulah dengan hati penuh suka cita. Di saat nafasmu berada di ujung, maka di situlah kita akan bertemu. Sampai nanti. Elsa!"
Reza tercekat membaca itu. Tulisan itu ia ingat benar. Itu adalah tulisan Elsa. Dan cap jempol darah, ini adalah ancaman. Teror! Elsa benar-benar mau balas dendam padanya. Reza menggelapkan wajahnya dan meremas kertas itu.
"Elsa, di mana kau sekarang?"gumam Reza menatap jendela yang kacanya sudah hancur.
__ADS_1
________________________________________
Note: Bab ini tidak bermaksud menyinggung siapapun. Jika ada kata yang salah mohon koreksinya. Thank you.