Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 354


__ADS_3

Karina sudah mengirim email kepada agensi Star Boy mengenai rencana liburannya. Tak butuh waktu lama, email itu sudah disetujui dan kini Karina tengah berbicara dengan leader Star Boy.


"Persiapkan diri kalian," ujar Karina.


"Tentu saja. Kami sudah menunggu lama janji Anda ini. Kami juga sangat merindukan Anda beserta keluarga. Kami berharap semua berjalan dengan lancar agar kita bisa segera bertemu," jawabnya.


"Dan sepertinya kali ini lebih banyak keluarga yang ikut," timpalnya lagi.


"Dari mana kau tahu?"tanya Karina penasaran.


"Jika hanya Tuan Li dan Tuan Gerry, pasti Anda akan langsung menjemput kami. Sedangkan Anda tadi mengatakanhanya akan mengirim pesawat kemari, pergi sendiri-sendiri ke sana. Bukankah artinya pesawat yang akan Anda tumpangi nanti tidak cukup untuk membawa kami?"


Karina terkekeh.


"Kalian akan bertemu dengan mereka nanti."


"Kami sangat menantikannya," sahutnya senang. 


Karina tersenyum kemudian menutup panggilan, menghela nafas lega. 


Karina diam sebentar, mengedarkan pandangan ke beberapa sudut ruangan. Ia lantas berdiri, menuju lemari di sudut ruangan. Berdiri di depan ruangan, menyilangkan kedua tangan di dada, menatap bingkai-bingkai pernikahan yang disusun rapi di dalamnya.


"Semua pilar-pilar kebanggaanku sudah menikah. Anak-anak mereka kelak akan menjadi pengganti mereka. Tapi … apa sifat mereka kelak akan sama seperti sifat pilar-pilarku?"


Karina mengeryit tipis, seakan menerawang jauh melihat masa depan. Menggeleng pelan saat berpikir hal yang tidak ia sukai. Menghela nafas kasar, membuka lemari, mengambil salah satu bingkai foto, foto pernikahan Rian dan Angela dengan background pantai kala senja.


"Rian ini, akhirnya ia menemukan cintanya setelah pernah mencintai tapi belum pernah berjuang. Hehehe … melihat alasan jalannya hubungan mereka, membuatku seperti mak comblang."


Karina terkekeh pelan, mengusap foto yang dilapisi kaca tersebut. 


"Hah. Mengapa mengkhawatirkan hal yang belum pasti? Aku yakin bahwa mereka akan mengajar anak mereka untuk menjadi penerus mereka?"


Karina mengembalikan foto tersebut ke tempatnya. Kembali melangkah mengambil air minum. Setelah minum, Karina kembali ke mejanya. 


*


*


*


Rian dan Angela, pasangan yang baru menikah sebulan yang lalu. Hubungan yang berawal karena rasa simpatik Rian pada Angela. 


Hubungan yang cukup ribet karena selama ini, sebelum menikah mereka memendam rasa satu sama lain. Rian yang cuek namun perhatian tanpa ungkapan, sedangkan Angela yang ingin mengungkapkan namun dihalangi rasa tidak percaya diri, membuatnya memilih menjauh dan mencari hati yang lain, yang sepadan dengannya. 


Bahkan saat Angela memutuskan pacaran dengan salah satu teman kerjanya, Rian yang mendengarnya tanpa sepatah katapun langsung membawa Angela kembali ke mansion kemudian mengatakan bahwa Angela tidak boleh berhubungan dengan sesama rekan kerjanya, itu adalah aturan yang baru saja diumumkan.


Protes? Tentu saja! Kesal? Bingung? Dilema? Senang? Semua bercampur aduk. 


Saat didesak apakah Rian mencintai Angela, Rian diam sejenak dan mengalihkan pembicaraan.


"Aku yang membawamu kemari, maka aku adalah tuanmu!"


Apa hubungannya? Yang iya Rian cemburu tanpa ikatan. Disuruh mengungkapkan oleh Satya dan Darwis, malah menjawab ia harus memastikan semuanya dengan matang. Hidup hanya sekali, begitu juga dengan pernikahan.


Darwis dan Satya hanya menggeleng pelan melihat sikap Rian. 


Puncak hubungan mereka adalah saat Angela yang mulai lelah dengan hubungan tanpa ikatan dengan Rian, memilih resign dari Tirta Financial untuk kembali ke negaranya. 


Ah sebenarnya itu hanya siasat Darwis dan Satya untuk memancing Rian mengungkapkan rasa yang selama ini dipendam namun tak berani mengungkapkan.


Angela bukannya resign, bukan juga pergi, ia hanya disembunyikan oleh Darwis dan Rian.


 Rian? Tentu saja terkejut dan seperti orang kesetanan mencari Angela. Semua dikerahkan, sayangnya yang dikerahkan berada dalam kendali Darwis dan Satya.

__ADS_1


Menyesal? Sudah pasti.


Gila? Depresi? Sudah setengah jalan. 


Merengek pada Darwis dan Satya? Malah diledek. 


Mengadu pada Karina? Malah kena mental. Alhasil Rian mengurung diri dalam kamar.


Selama tiga hari berteman dengan alkohol dan gitar. Bernyanyi mengeluarkan segala beban dalam hati.


Darwis dan Satya sebenarnya kasihan dengan Rian, akan tetapi rencana tersebut tetap berlanjut atas perintah Karina.


Darwis mengambil rekaman CCTV kala Rian menyenandungkan lagu berjudul "sampai ku mati". Lalu dikirimkan pada Angela. 


Angela membalas lagu tersebut dengan menyenandungkan lagu berjudul "tanya mimpiku". 


Rencana pun mencapai penyelesaian. Semangat Rian kembali setelah mendengarkan lagu tersebut. Setelah tiga hari setengah akhirnya Rian keluar dari kamarnya. 


Keduanya kembali dipertemukan di sebuah terowongan yang bertabur dengan rangkaian bunga hidup di dindingnya.


Saling mengungkapkan semua rasa yang ada di hati. Akhir dari hubungan tanpa ikatan mereka adalah melangkah ke pelaminan. Mengucap janji suci di hadapan Yang Kuasa dua hari setelah pengungkapan rasa. 


*


*


*


Hari ini sebenarnya Enji ingin kembali ke perusahaan, sayangnya karena anjuran dokter yang mengharuskan ia beristirahat beberapa hari lagi, membuat Enji yang sudah berpakaian lengkap terpaksa berganti pakaian. 


Sebagai gantinya, Enji menghabiskan waktu dengan tiga keponakannya. Tak ayal, Enji malah mirip baby sitter Bintang, Biru, dan Ali. Hal itu membuat Enji kewalahan. Pasalnya, ketiga anak yang biasanya aktif terkendali, kini aktif dan sangat jahil pada Enji. 


"Huwaahhh! Bintang!"pekik Enji kaget, langsung menurunkan Bintang dari gendongannya.


"Anak baik! Aku tahu kamu tidak pakai pampers, setidaknya berilah aku kode saat mau pipis. Bintang, paman tampanmu ini manusia bukan toilet!"


Marah, tapi dengan nada yang lucu.


"Pa … pa … man?" 


Biru tertawa seraya menepuk-nepukkan kedua tangannya. Ali ikut tertawa melihat Enji yang sibuk mencium bajunya yang bau pipis Bintang.


"Nata! Niki!"


Yang dipanggil, datang dengan tergopoh-gopoh. 


"Jaga mereka dulu, saya mau mandi!"ujar Enji, lari sebisa mungkin menuju kamarnya.


"Astaga! Nata aku akan memandikan nona Bintang dulu," seru Niki yang melihat celana Bintang basah.


Nata mengangguk. Saat kedua datang, Biru dan Ali hanya tersenyum dan kini malah bermain, menyusun puzzle. Nata menggeleng pelan melihat tingkah anak - anak atasannya itu.


*


*


*


Selesai sudah Enji mandi. Kini dari tubuhnya tercium aroma parfum yang sangat wangi seakan ia baru saja mandi parfum.


Alhasil, Enji menarik perhatian anggota yang berpapasan dengannya. Karina yang baru keluar dari ruang kerjanya dan kini turun untuk mencari Bintang dan Biru pun ikut heran dengan Enji.


"Kau mau kencan?"

__ADS_1


Enji yang sudah tersenyum manis sontak terbatuk, menatap Karina protes.


"Kakak!? Kencan dengan siapa?"


"Ya mana ku tahu?"


Karina menaikkan kedua bahunya acuh.


Enji memberengut kesal. Menunjukkan wajah kesal yang tampak sangat menggemaskan di mata Karina. Menarik pipi Enji.


"Kakak, sakit!"


"Mengapa kau masih anak-anak di usia ini?"kekeh Karina.


"Hanya Kakak yang memperlakukan aku seperti ini," keluh Enji mengusap kedua pipinya.


"Siapa bilang?"


Enji dan Karina menoleh ke sumber suara saat mendengar suara yang sangat familiar, Amri dan Maria yang datang, bersama dengan Alia yang kini sudah bisa berjalan walaupun masih suka berhenti setiap beberapa langkah.


"Mama? Papa?"


"Ya siapa lagi?"sahut Amri, memeluk Enji seraya mengusap punggung Enji.


"Kalian datang?"


Karina menyalami Maria.


"Begitu kami mendarat, mendengar kabar baik bahwa Enji sudah sadar. Bagaimana mungkin kami tidak datang? Hm?"jawab Maria.


Karina tersenyum, berpelukan dengan Maria.


"Ma … ma. Mama."


Karina menoleh ke bawah saat Alia menarik celana Maria.


"Aih anak ini."


Amri berjongkok, menggendong Alia.


"Mama? Mama melahirkan lagi? Perasaan waktu itu mama belum hamil?"


Tak.


Auh.


Enji mengeluh sakit saat Maria memberinya hadiah berubah sentilan di dahi.


"Ini Alia, Alia Wijaya!"tegas Amri.


"Alia? Astaga! Sudah sebesar ini!"


Enji buru-buru menggenggam kedua tangan Alia kemudian menciumnya.


"Halo bibi kecil," sapa Enji.


"Mama," oceh Alia menunjuk Maria.


"Ku kira ini anak kalian, lantas mengapa memanggil mama?"heran Enji.


"Jika sejak kecil sudah diasuh oleh Mama dan Papa, tentu saja akan memanggil mereka dengan sebutan itu," jelas Karina.


"Saat ia sudah bisa mengerti nanti, ia akan memanggil kami dengan sebutan Kakak," ujar Maria yakin seraya membenarkan letak poni Alia.

__ADS_1


__ADS_2