Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 80


__ADS_3

Malam hari pun tiba, waktu menunjukkan pukul 23.00, Karina, Li, Gerry dan tiga lainnya segera pergi menuju markas dengan motor. Malam ini, seperti biasa Karina menggunakan pakaian serba hitam, dan jangan lupakan juga topengnya.


Keenam motor itu membelah jalanan yang sudah sepi. Tak butuh waktu lama mereka sudah tiba di markas Pedang Biru Mafia. Aleza sudah mempersiapkan semua yang diperlukan. Mulai dari senjata laras panjang, pistol aneka seri, bom, granat, katana, dan lain sebagainya. Tak lupa rompi anti peluru melekat di tubuh mereka semua. 


"Bagaimana? Sudah sedia semuanya?" tanya Karina ketika sudah tiba di markas.


"Sudah Queen. Semua sudah aman. Tinggal eksekusi saja," jawab Aleza. Karina mengangguk puas dan menginstruksikan untuk segera berangkat menaiki motor semua. Jika dilihat ini seperti anak motor yang sedang turing. Hanya Aleza sendiri yang membawa mobil.


Tepat pukul 00.00 mereka berhenti tak jauh dari markas Pedang Hitam. Markas ini terletak sedikit tersembunyi dari keramaian. Apalagi ditunjang oleh rimbunnya pepohonan yang mengelilinginya.


"Masukkan kamera pengintai lebah cantikku!" perintah Karina pada Aleza melalui earphone.


"Baik Queen," jawab Aleza. Sekitar 10 ekor roboh lebah madu masuk ke dalam markas. Bentuk tubuhnya yang mini dan tak terlihat di kegelapan menjadikannya leluasa mengelilingi markas.


"Sambungkan hasilnya pada jam tanganku," ujar Karina.


Aleza segera menghubungkan hasil pengintainya ke jam tangan Karina. Karina mengamati itu melalui layar hologram di jam tangannya.


"Hmm … cuma ada dua puluh penjaga malam dan dua orang di gerbang utama. Kalian selesaikan mereka," ucap Karina menunjuk para pasukan elitnya. Pasukan elit segera turun dari motor dan melaksanakannya.


"Kita masuk dari gerbang. Aku mau ada kembang api raksasa malam ini. Rian dan Satya menyelinap ke dalam mencari Lala. Aku mau dia selamat. Li, Gerry dan Darwis ikut aku mencari baj*ngan itu," instruksi Karina. Rian dan Satya segera memanjat pagar dan menyelinap masuk.


Karina, Darwis, Li dan Gerry melangkahkan kaki mereka menuju gerbang utama.  Li dan Gerry menempelkan alat peledak pada gerbang. Selesai, Karina menekan tombol pada jamnya dan ….


Boom ….


Boom ….


Boom ….


Gerbang hancur seketika. Alarm darurat markas Pedang Hitam berbunyi lantang membangunkan semua penghuninya.


"Aduh … gak sabaran sih. Jadi bangun kan mereka," sedih Karina melangkahkan kakinya masuk dengan kedua tangan ke saku celana. Sedangkan yang di belakangnya hanya tersenyum kecut.


Para mafia Pedang Hitam segera berhamburan keluar dan melihat siapa yang berani mengacau di markas mereka, tak terkecuali Arimbi.


"Hai hai hai … ternyata aku disambut dengan meriah di sini," ucap Karina mengejek.


"Siapa kau? Mengapa kau mengacau markasku?" tanya Arimbi marah. 


"Cup-cup Ketua muda. Jangan marah-marah dong. Nanti cepat tua seperti tua bangka itu," ucap Karina santai menunjuk Rudi yang keluar dengan pedangnya. Wajahnya terdapat banyak sekali kerutan. Wajah Arimbi memerah menahan amarah. 


"Siapa kau? Apa masalahku denganmu? Apa kita pernah bertemu?" tanya Rudi datar. Tampaknya ia lebih tenang menghadapi masalah.


"Aku? Malaikat mautmu," jawab Karina menunjukkan sebuah pena yang dapat berubah menjadi laser berwarna biru.


"Lancang sekali dirimu. Dasar wanita aneh," berang Arimbi mendengarnya. Li dan Gerry segera mengangkat tinggi pistol mereka. Darwis tetap santuy seperti Karina.


"Aneh? Kalau aku aneh bagaimana bisa membangum mafia dan perusahaan besar? Ku rasa tua bangka itu yang aneh. Bersembunyi belasan tahun dari dunia luar. Apa dia tak mengetahui tentang 3 rekannya yang sudah aku kirim ke alam baka?" tanya Karina yang membuat Rudi membelalakan matanya.


"Kau-kau dari Pedang Biru?" tanya Rudi mulai tak tenang. Arimbi menatap selidik Karina. Karina hanya mengangguk menyetujui.


"Queen. Sandera sudah bebas," lapor Rian melalui earphone.


"Bagus," ucap Karina pelan.

__ADS_1


Karina melirik Li dan Gerry yang berada di sampingnya. Matanya mengerling pada mereka. Li dan Gerry mengerti akan hal itu. Mereka segera undur diri. Arimbi, Rudi dan lainnya menatap heran dan waspada.


"Waktunya bersenang-senang Darwis," ujar Karina tersenyum devil.


"Tentu Queen," sahut Darwis.


Karina menghitung mundur waktu. Tepat dihitungan terakhir, sisi kanan markas meledak. Yap. Pasukan elit memasang bom di sana.


Serentak mereka kalang kabut. Pasukan Pedang Hitam menyerang Karina dan Darwis. Sekitar empat puluh orang melawan dua orang? Bagaimana bisa selamat? Bukannya melarikan diri,  Arimbi dan Rudi malah menyaksikan pertarungan itu dengan senyum sinis. 


"Darwis? Kau masih ingat yang ku ajarkan jika begini?" tanya Karina seraya menahan musuh dengan pedang lasernya. Apapun yang menghalanginya ia tumpas tanpa berkedip.


Darwis mengangguk ingat. Dengan cepat ia mengeluarkan senjata andalannya. Jarum racun yang ditembakkan oleh pistol secara beruntun dengan kapasitas 50 jarum.


Satu persatu jarum racun mengenai musuh dan seketika tumbang. Setiap bagian yang terkena jarum akan menghitam. Tak sampai sepuluh menit semuanya tumbang. Karina mencium aroma darah yang menempel padanya.


Aroma anyir khas darah menyeruak masuk. Arimbi menatap horor Karina dan segera ingin melarikan diri bersama ayahnya. Pasukannya hanya tersisa sepuluh orang. Sedangkan yang lain ada yang menyerah dan tewas di bawah kendali pasukan elit.


"Ouh … sudah habiskan? Padahal aku masih kuran," ujarnya tengil. Arimbi mengeram maram.


"Kau … ayo bertarung denganku. Satu lawan satu," tantang Arimbi menunjuk Karina bengis.


"Berani sekali kau! Siapa dirimu berani menantang Queen," seru Darwis marah. Karina memegang pundak Darwis dan tersenyum devil.


"Hehehe … jarang sekali aku bertemu dengan lawan wanita, Darwis.  Okelah aku terima tantanganmu. Pertarungan akan berakhir dengan satu di antara kita mati," sahut Karina menatap tajam Arimbi.


"Tapi Queen …," ucap Darwis Karina menganggukkan kepalanya tanda diam saja.


Karina maju selangkah dan berkacak pinggang.


"Restui aku Ayah," ucap Arimbi maju ke hadapan Karina.


"Nak …," cegah Rudi. Ia tak mau putri semata wayang yang ia sayang dan harapkan mati sia-sia dalam pertarungan konyol ini.


"Aku terima. Tapi tidak seru kita bertarung dengan senjata. Bagaimana dengan tangan kosong dan kau lepas topengmu itu. Hanya pengecut yang menyembunyikan wajahnya," ucap Arimbi.


Karina tampak tetap santai tak terpancing emosi. Ia malah menyunggingkan senyum sinis di balik topengnya. Ia menyerahkan pedang laser di tangannya pada Darwis.


"Cari tempat persembunyian senjata berharga mereka. Aku tak mau pulang tangan kosong," bisik Karina pada Darwis. Darwis mengerutkan dahinya. Bukannya khawatir akan nyawa malah memikirkan senjata.


Astaga Queen. Nyawamu cuma satu dan kau selalu bermain dengan maut, ringis Darwis dalam hati. 


Tapi ia tetap mengangguk dan undur diri. Tinggallah Karina sendiri. Arimbi menatap waspada Darwis yang pergi entah kemana. 


"Benarkan begitu? Tapi aku bukan pengecut.  Aku terima," sahut Karina mulai melepaskan topengnya dengan sekali tarikan. Rudi membulatkan matanya.


"Bagaimana bisa?" gumamnya takut.


"Sudahkan. Kau sudah lihat wajahku bukan?" tanya Karina membuka rompinya dan merenggangkan tangannya. Arimbi mulai memasang kuda-kuda.


"Kehormatan bagiku bertarung denganmu. Oh ya kemana semua orang-orangmu? Apa kau menyuruh mereka membuat liang lahat untukmu?" tanya Arimbi mengejek dan berusaha memancing emosi Karina.


"Kurang tepat. Lebih tepatnya liang lahat untuk kalian berdua,"sahut Karina tersenyum mengejek.


"Kurang ajar!!" umpat Arimbi.

__ADS_1


"Banyak bacot. Urusanku masih banyak," balas Karina langsung menendang Arimbi tepat di perut.


Untung saja kuda-kuda Arimbi kuat dan kokoh jadinya ia hanya mundur beberapa langkah. Arimbi memegang perutnya dan menatap Karina berang.


"Kau telat selangkah. Aku first blood," ejek Karina.


Arimbi berdiri tegak dan mulai menyerang Karina membabi buta. Tinju dan tendangan selalu ia lontarkan. Karina menahan setiap serangan Arimbi. Ia tak ada niat membalasnya. Menurutnya Arimbi adalah orang yang mumpuni.


"Lawan aku. Balas seranganku. Jangan menangkis terus,"seru Arimbi jengkel.


"Baik," jawab Karina.


Ia mulai menyerang Arimbi dengan brutal. Detik berganti menit, tak terasa sudah 30 menit mereka bertarung. Arimbi dan Karina mengatur nafas. Karina mengusap memar pada bibirnya akibat pukulan Arimbi.


Sedangkan Arimbi mengusap mulutnya yang mengeluarkan seteguk darah akibat tendangan Karina yang tepat pada dadanya.


"Masih mau bertarung?" tanya Karina.


"Tentu. Sampai detik tetes darah terakhir," sahut Arimbi.


"Bagaimana dengan pedang?" tanya Karina lagi. Arimbi mengangguk. Rudi melemparkan pedang hitam di tangannya pada Arimbi sedangkan Karina meminta pedang salah seorang anggota Pedang Hitam.


"Heh? Pedang Hitam melawan pedang biasa?" kekeh Arimbi.


"Hmm … tergantung pada pemakainya. Kau lupa aku siapa," ucap Karina santai. Mereka kembali bertarung.


Cling ….


Cling ….


Suara pedang saling beradu.


"Argg …," ringis Arimbi saat Karina berhasil menggores tangan kanannya. Darah mulai menetes.


Tak mau lebih lama lagi, Karina langsung menyerang Arimbi. Rudi dan lainnya tak berani mendekat melihat wajah bengis Karina. Arimbi mencoba menangkis setiap serangan. Tetap saja tak semuanya berhasil. Bajunya kini mulai compang-camping.


Bugh ….


Karina menendang Arimbi hingga tersungkur dan menusuk paha Arimbi. Tentu saja Arimbi mengerang sakit. Darah mengalir deras.


"Putriku. Tidak jangan bunuh dia," pekik Rudi mencoba menyelamatkan putrinya. Namun, ditahan oleh Li dan Gerry yang sudah kembali.


"Lepas! Lepaskan aku!" seru Rudi.


Karina melirik sinis Rudi.


"Ini adalah balas dendamku," sinis Karina. 


"Kau bilang pertarungan ini berakhir jika aku atau kau mati bukan? Lantas kau mau mati dengan cara apa?" tanya Karina menyeringai.


"Kau benar. Aku kalah. Kau menang. Bunuhlah aku dengan cara apapun," jawab Arimbi susah payah. Sebagai seorang ketua muda suatu organisasi ucapannya adalah janji. Apakah Arimbi pasrah begitu saja? 


"Benarkah?" tanya Karina mulai mengarahkan pedang ke jantung Arimbi. Arimbi memejamkan matanya. Karina tersenyum tipis. Saat satu gerakan lagi pedang menembus dada Arimbi, Karina terlonjak kaget saat merasakan perih pada pergelangan kakinya.


"Kau meremehkanku bukan?" tanya Arimbi meringsut menyeret tubuhnya menjauh. Karina memperhatikan darah yang mengalir dari lukanya. Tak lama Karina menaikkan pandangannya dan menatap marah Arimbi. Matanya memerah.

__ADS_1


"Kau berhasil menghidupkan darah membunuhku Sayang," ucap Karina dingin.


__ADS_2