
Jantung Nita berdegup kencang apalagi kakek Bram. Sudah mau pingsan rasanya. Nita segera melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh dari kakek Bram.
"Sudah mau turun hujan Kakek, lebih baik kita ke dalam saja," ajak Nita menundukkan kepalanya.
"Jangan Kakek dong manggilnya, panggil Mas saja," ujar kakek Bram yang sukses membuat wajah Nita memerah.
"Gandeng dong kayak biasanya," pinta kakek Bram.
Nita mendekat dan segera menggandeng kakek Bram masuk ke dalam rumah.
Lampu taman mulai menyala satu-persatu. Rintik-rintik air hujan mulai kembali mengguyur bumi. Semakin malam hujan semakin lebat. Setelah kakek Bram tertidur, Nita segera menuju kamarnya. Ia teringat pernyataan kakek Bram sore tadi.
Nita malah mengenang kehidupannya sepuluh tahun lalu sebelum bertemu dengan Karina. Sepuluh tahun lalu nama Nita bukanlah Nita melainkan Rosalina yang merupakan putri dari seorang pengusaha yang dapat dikatakan sukses. Harta yang berlimpah, ayah dan ibu yang sangat menyayanginya serta teman-teman yang selalu menyanjung dan memujinya.
Dia memiliki kekasih yang sangat ia cintai bernama Tony. Namun ternyata cintanya inilah yang menghancurkan hidupnya. Tony adalah seorang anak dari seorang pengusaha juga yang merupakan saingan bisnis keluarganya.
Dalam sekejap mata, semua kebahagiaannya hilang, perusahaan mereka bangkrut, hutang menumpuk akibat ulah Tony.
Ayahnya meninggal karena serangan jantung dan tak lama setelah kepergian ayahnya, ibunya ikut menyusul ayahnya. Tony mencampakkannya. Tinggallah Nita seorang diri luntang-lantung di jalanan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Karina. Karina lah yang mengulurkan tangan membantunya bangkit dan membalas dendam akan apa yang ia alami.
Dengan senang hati, Nita menerima uluran tangan Karina. Lantas Karina mengganti nama Rosalina menjadi Anita. Detik itu juga Nita berjanji dan bersumpah akan mengabdikan seumur hidupnya pada Karina jika balas dendamnya berhasil.
Nita mengusap air mata yang keluar dari matanya karena mengingat masa lalunya yang menyakitkan. Pikirannya kembali tertuju pada kakek Bram.
"Apakah Nona akan setuju?" gumam Nita mulai memejamkan matanya tidur.
***
Keesokan pagi, cahaya pagi mengusik tidur kakek Bram. Perlahan kakek Bram membuka matanya dan sudah menemukan satu set baju di nakas.
Kakek Bram tersenyum senang sebab sudah pasti Nita yang melakukannya. Dengan cepat ia bangun dan segera mandi. Sepuluh menit kemudian kakek Bram keluar dengan menggunakan pakaian yang telah disiapkan Nita. Sebelum keluar dari kamar, kakek Bram menghubungi putranya,Amri.
"Ya Ayah? Tumben pagi-pagi Ayah nelpon?" tanya Amri.
"Hmm … hari ini aku akan pulang," ujar kakek Bram.
"Pulang? Ke negara B?" tanya Amri heran sebab mendadak sekali kepulangannya.
"Bukan. Maksudku pulang ke rumahmu," jawab kakek Bram kesal.
"Baiklah kakek. Aku akan menjemputmu," ucap Amri.
"Ya sudah aku tunggu," ujar kakek Bram mengakhiri panggilan.
Kakek Bram segera keluar dari kamar menuju ruang makan. Bik Mirna dan Nita sudah menunggu di sana sedangkan Pak Anton pergi entah kemana.
"Pagi semua," sapa kakek Bram.
"Pagi Kakek," sapa balik Bik Mirna tersenyum.
"Pagi M-a-s," sapa Nita gugup. Kakek Bram semakin tersenyum lebar mendengar Nita memanggilnya mas.
"Mas?" beo Bik Mirna mengerutkan dahinya. Nita dan kakek Bram tersenyum canggung.
"Nita akan segera jadi istri saya," jelas kakek Bram menjawab keheranan Bik Mirna.
"Apa?" ucap Bik Mirna terkejut. Ia menatap Nita minta jawaban. Nita hanya menatap Bik Mirna mengisyaratkan akan ku jelaskan nanti.
"Oke. Sudah Kakek ayo segera sarapan," ujar Bik Mirna.
Kakek Bram pun segera sarapan dengan Nita yang menyajikan makanan di piringnya. Bik Mirna kembali ke dapur. Ternyata di sana ada Pak Anton yang sedari tadi memperhatikan mereka di ruang makan.
"Bapak tahu hubungan Nita sama Kakek Bram seberapa dekat?" tanya Bik Mirna.
"Ya Bapak tahu, kemarin sore Bapak lihat mereka berpelukan di dekat rumah tanaman obat Nona," jawab Pak Anton.
"Astaga … apa Nona akan setuju hubungan mereka? Umur mereka terpaut sangat jauh," respon Bik Mirna menutup mulutnya.
"Entahlah," jawab Pak Anton menggelengkan kepalanya.
Di meja makan, Nita masih setia di samping kakek Bram. Selesai sarapan kakek Bram segera menyampaikan agendanya hari ini.
"Nita, aku akan pulang dulu ke rumah anakku. Tunggulah kabar baik dariku," ujar kakek Bram.
Nita menatap kakek Bram sekilas lalu mengangguk. Nita segera membereskan alat makan yang kotor di meja makan untuk dicuci.
Setengah jam kemudian, suara klakson mobil membuyarkan lamunan kakek Bram. Amri masuk ke dalam rumah menemui kakek Bram.
__ADS_1
"Ayo ayah kita pulang," ujar Amri yang menemukan kakek Bram di ruang tamu.
"Baiklah," jawab kakek Bram segera berdiri dan berpamitan pada Bik Mirna dan Nita lalu segera menuju mobil untuk kembali ke kediaman Wijaya.
***
Sedangkan di kamar hotel, Arion dan Karina. Karina tengah duduk sendiri di ranjang sedangkan Arion entah pergi kemana lagi bersama Calvin dan Sam. Karina duduk diam menatap foto yang pak Anton kirimkan sewaktu dirinya masih tertidur.
Karina memejamkan matanya sejenak mengingat awal dia bertemu dengan Nita. Selama ini, Nita selalu setia dengannya seperti janji dan sumpah yang pernah Nita ucapkan.
Ada sedikit rasa bersalah di lubuk hatinya karena memerintahkan Nita menemani kakek Bram yang ternyata membuat kakek Bram jatuh hati hingga melamar Nita menjadi istrinya.
Karina akhirnya memutuskan menghubungi telepon rumahnya.
"Ya dengan kediaman Nona Karina," suara Bik Mirna terdengar ramah.
"Bik, berikan teleponnya kepada Nita," ujar Karina dengan nada datar.
"Non? Baik Non," jawab kaget Bik Mirna karena sebelumnya Karina belum pernah menelpon melalui telepon rumah.
"Saya Nona," jawab Nita was-was. Belum pernah Karina menelponnya seperti ini.
"Kamu menyukai kakek Bram?" tanya Karina dingin.
"Emmm … entahlah Nona. Saya pun tidak mengerti. Saya akhir-akhir ini merasa gugup jika di dekat Kakek Bram sama seperti yang saya rasakan sepuluh tahun lalu saat pertama kali bertemu dengan Tony brengs*k itu," jawab Nita pelan.
"Kamu sadarkan akan perbedaan usia kamu dan kakek Bram. Saya harap kamu memikirkannya dengan matang," ucap Karina yang membuat Nita termenung.
"Tapi jika memang kamu ingin bersama Kakek Bram sebagai istri maka saya tak bisa melarang. Sudah cukup pengabdian kamu selama sepuluh tahun ini. Kembalilah ke markas. Dua hari lagi saya akan kembali dan membebaskan kamu dari sumpah dan janji yang pernah kamu ucapkan," lanjut Karina. Nita terteguh. Tanpa sadar air matanya meleleh.
"Benarkah itu Nona?" tanya Nita terisak.
"Restuku sudah kau dapatkan. Sekarang tinggal memenangkan hati mertua saya. Semoga berhasil," semangat Karina pada Nita dan langsung memutus panggilan.
"Huff… sudah saatnya kamu bahagia," gumam Karina.
Handphone di tangannya kembali berdering menandakan ada panggilan masuk. Karina segera melihat layar handphonenya, tertera nama Gerry di sana. Karina yakin pasti ada kabar mengenai Berto.
" Ya Gerry. Bagaimana?" tanya Karina menghubungi Gerry.
"Berhasil Queen. Kami sudah menemukan lokasinya. Tinggal beraksi saja," jawab Gerry memberitahu hasil pemantauan CCTV.
Gerry yang berada di markas merasa ngeri dan dapat memastikan saat ini Karina tengah tersenyum devil.
"Baik Queen," jawab Gerry.
Karina meletakkan kembali handphonenya di nakas dan duduk menghadap kaca meja rias. Pintu kamar terbuka, Arion masuk dan langsung memeluk Karina dari belakang.
"Nanti malam nonton yuk," ajak Arion mencium rambut Karina. Karina memalingkan wajahnya ke samping kemudian berdiri.
"Bukankah nanti malam kau ada meeting dengan Lila dan Raina?" tanya Karina menatap Arion.
"Benar. Tapi bioskop ini dimulai pukul 21.00. Aku kan selesai meeting jam 20.00," bujuk Arion memegang tangan Karina.
"Ayolah Sayang. Kita jalan sesekali. Aku kan mempercepat jadwal aku kemari agar kita bisa honeymoon dan ngasih cucu buat Mama …," lanjut Arion lagi.
"Iya-iya. Kalau masalah cucu buat saja sendiri," jawab Karina berjalan keluar kamar. Ia berniat mencari cemilan alias food hunting.
"Bagaimana caranya aku bisa membuatnya sendiri? Di mana-mana jika membuat anak itu berdua. Eh kau mau kemana? Aku ikut. Kita pergi bersama," ucap Arion mengejar Karina menyelaraskan langkahnya dengan Karina.
"Pekerjaanmu bagaimana? Lila dan Raina saja sibuk," tanya Karina tanpa menoleh ke arah Ario.
"Kan ada Ferry," jawab Arion santai.
"Kita naik mobil kan?" tanya Arion setelah sampai di luar hotel. Karina menggeleng dan terus berjalan.
Di lain sisi, Ferry sedang menangis haru, bukan karena dapat undian berhadiah melainkan tugas yang menggunung dari Arion.
"Ku kira aku bisa santai tapi mengapa malah begini. Sungguh terlalu dirimu Tuan Muda," lirik Ferry kembali berkutat dengan laptopnya.
"Awas saja jika aku tak dapat bonus. Lebih baik aku ikut Nona Karina saja. Huhuhuhu …," kesal Ferry. Satu persatu relasi bisnis mulai membanjiri emailnya.
Sedangkan pelakunya sedang asyik berduaan dengan istrinya.
***
Taman kota adalah tempat yang paling sejuk di tengah hingar-bingar kota. Dua sejoli tampak berjalan mendekati barisan sepeda yang disewakan. Arion terus saja menggandeng tangan Karina yang membuat Karina risih.
"Pak saya mau sewa sepeda," ucap Karina.
__ADS_1
"Naik sepeda kita?" tanya Arion menatap rangkaian sepeda yang berbaris.
"Silahkan Nona, Tuan. Perjamnya hanya 50.000 rupiah saja," sahut bapak itu.
"Dua sepeda untuk 2 jam Pak," ujar Karina memberikan dua lembar uang ratusan.
"No. Satu saja. Sayang kita berboncengan saja ya. Biar lebih romantis," cegah Arion mengambil selembar uang yang Karina berikan dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.
Mata Karina membulat dan menatap tajam Arion. Bukannya takut, Arion malah mengambil satu sepeda dan menaikinya.
"Ayo kita pergi,",ujar Arion tersenyum manis. Karina menarik nafas panjang dan meminta maaf pada bapak yang menyewakan sepeda kemudian mendekati Arion malas.
Karina naik kebagian belakang sepeda dan memegang pundak Arion dengan posisi berdiri. Arion mulai mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalanan taman.
Sepanjang mata memandang dimanjakan dengan warna-warni bunga tulip yang mulai bermekaran di bulan Agustus.
"Kita kemana?" tanya Arion mencium sekilas tangan tangan Karina yang berada di pundaknya.
"Food Hunting," jawab Karina. Tersirat ide jahil di kepalanya. Karina menekan kuat pundak Arion yang membuat Arion meringis sakit.
"Jangan ditekan dong. Sakit tau," sungut Arion berusaha melepaskan tekanan tangan Karina dengan satu tangan. Sedangkan satu tangannya lagi memegang setang sepeda agar tidak jatuh.
"Iya-iya Sayangku. Biasanya kan kamu kuat masak gini saja sudah sakit. Cemen kamu," ledek Karina mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Sayang? Eh awas jatuh kamu," panik Arion yang tak merasakan tangan Karina di pundaknya.
"Hahahahahaha …,"tawa Karina keras memegang pundak Arion lagi.
Arion tertegun mendengar tawa Karina. Biasanya selain wajah datar dan dingin tak ada ekspresi lain. Bahkan sedih maupun senang hanya seperkian detik dan langsung berubah jadi datar lagi.
Semoga kita bisa seperti ini sampai maut memisahkan, Karina, harap Arion dalam hati.
"Kota A keluarkan segala pesonamu. Aku datang mengunjungimu …," teriak Karina senang.
Beban di pundaknya seakan terangkat, ambisi balas dendamnya seakan hilang tergantikan dengan tawa riangnya tanpa ada hasrat membunuh dan darah. Mungkin untuk saat ini, entah apa yang akan terjadi tengah malam nanti.
***
Tak sampai sepuluh menit kemudian, Karina meminta Arion berhenti di stand pinggir jalan yang menjual gula kapas.
Gula kapas yang dijual memiliki bentuk yang beragam. Ada bentuk hati, bulat seperti yang biasa dijual, ataupun bentuk karakter animasi yang membuat pembeli sayang untuk memakannya.
Pilihan Karina jatuh pada bentuk hati. Di stand ini, pembeli dapat melihat langsung proses pembuatan gula kapas yang dipesan.
"Tumben bentuk hati, biasanya kan kamu suka yang horor daripada feminim," cetus Arion yang sukses membuatnya meringis merasakan cubitan di perutnya.
"Ganti saja. Jadi bentuk tengkorak," ucap Karina sambil terus mencubit perut Arion.
"Yang bentuk hati gimana? Kan sudah hampir jadi?" tanya protes penjual.
"Ya lanjutkan. Kan ada suami saya yang feminim ini. Tenang saja akan kubayar pesananku. Jadi Anda tidak perlu takut ya!" jawab Karina sewot melepaskan cubitannya.
"Auhh …,",ringis Arion mengusap bekas cubitan Karina yang luar biasa sakit.
Penjual itu segera melanjutkan membuat gula kapas dengan rasa takut yang mencekam entah dari mana.
Sekitar 5 menit kemudian dua pesanan Karina selesai. Bentuk hati dan bentuk tengkorak berada digenggamannya.
"Bayar!" seru Karina pada Arion. Arion segera membayar nominalnya dan kembali menaiki sepeda namun tidak mengayuhnya.
"Kena berapa?" tanya Karina menyerahkan gula kapas bentuk hati pada Arion. Sedangkan yang bentuk tengkorak tinggal separuh.
"50.000 rupiah," jawab Arion mulai memakan gula kapasnya.
"Kok murah banget?" heran Karina.
"Kan cuma dua saja," jawab Arion.
"Maksud aku tadi kamu bayar semua gula kapasnya, Arion. Bukan ini saja," jelas Karina gemas.
"Whatlt? Are you seriosly?" seru Arion menjatuhkan rahangnya. Karina mengangguk. Habis sudah gula kapas di tangan masuk ke lambungnya.
"Tidak. Aku tak akan melakukan itu," ujar Arion tak melanjutkan menghabiskan gula kapasnya. Dengan cepat Karina merebut gula kapas dari tangan Arion.
"No, Karina. Kamu sudah makan satu ukuran jumbo. Gigi kamu bisa rusak," cegah Arion menahan gula kapas agar tak masuk ke mulut Karina. Karina kekeh ingin menghabiskan gula kapasnya.
__ADS_1