
Suasana jalanan yang cukup ramai menemani perjalanan Karina. Deru mesin kendaraan cukup mengusik pendengaran Karina. Padahal sebenarnya ia rindu suara ribut ini. Dengan segera diaktifkannya mode kedap suara. Pak Anton tersenyum tipis melihat kelakuan nona mudanya itu.
"Haih mengapa aku jadi ingin balapan?" gumam Karina memejamkan matanya. Karina rindu suasana malam dengan deru mesin mobil yang menggoda serta sorot cahaya lampunya.
Belum lagi suara teriakan dan gadis seksi sebagai wasit. Satu lagi, teriakan frustasi kekalahan dari para lawannya. Sorak gembira saat ia keluar sebagai pemenang. Karina ingin kembali menjadi kuda hitam di balapan tersebut. Sejak menikah, belum pernah ia melakukan hobi dan kebiasaannya itu.
"Jangan dulu Non, Anda jangan balapan dulu, bahaya. Ingat nyawa pewaris Non," ujar Pak Anton memberi peringatan. Karina tersenyum tipis.
"Aku tahu."
"Ah ya, cari tahu siapa yang sedang naik daun dalam dunia balap kota ini, sekalian satu negara ini," titah Karina yang membuat Pak Anton mendengus senyum. Ia yakin, sebentar lagi Karina akan turun ke dunia balap, tinggal menunggu waktu saja, mengambil kembali gelarnya sebagai Queen Racing.
Karina kemudian berselancar ria di gawai canggihnya. Pak Anton yang mengemudi dengan kecepatan sedang kini menghentikan mobil di dekat sebuah gang kecil, mobil tidak tiba masuk ke sana, terlalu sempit terlebih jalanan yang tergenang air alias becek.
"Non sudah sampai," ujar Pak Anton menoleh ke belakang. Karina mengangkat wajahnya lalu melihat sekelilingnya.
"Hm." Pak Anton segera turun lalu membukakan pintu untuk Karina. Karina keluar lengkap dengan topi lebar dan kacamatanya.
"Karina," panggil seseorang dari belakang Karina. Karina menoleh, Gerry tersenyum tak lupa membungkuk memberi hormat pada Karina. Karina hanya menatap datar hal itu.
"Mengapa kau menyuruhku kemari? Hal penting apa yang mau dilakukan di tempat ini?"tanya Gerry penasaran.
Karina tidak menjawab dan berjalan memasuki gang kecil itu. Gerry mengikut. Ada raut wajah risih dan takut kotor darinya. Sebisa mungkin ia menghindari jalanan yang becek. Terlebih setelan yang ia gunakan barang brand semua. Karina melirik sinis pada Gerry. Beberapa orang yang lewat atau berada di depan rumah mereka masing-masing menatap Gerry heran. Sedangkan Karina biasa saja.
"Tidak ingat kau dengan masa lalumu? Bukankah ini ada bagian dari kisahmu?"cibir Karina. Gerry tidak merespon dan memilih membersihkan sepatunya yang kotor dengan tisu yang selalu ia bawa.
"Dasar kacang lupa kulit," cibir Karina lagi. Gerry hanya melirik tanpa menjawab. Mereka kini sudah berada di depan sebuah rumah bercat putih yang sudah mengelupas, kaca yang berdebu dan sawang yang memenuhi langit-langit teras. Karina memakai maskernya.
"Ini rumah siapa? Kotor sekali, apa ini dihuni? Ck lihatlah debunya seperti habis kena eropsi. Benar-benar tidak terurus!"gerutu Gerry mengomentari kondisi rumah ini, memakai masker.
"Kediaman calon adik iparku. Sangat indah bukan?"sahut Karina santai. Gerry mmengeryit, tak lama ia tampak terbelalak.
"Enji, calon istrinya dari kediaman ini? Enggak salah? Seleranya mengejutkan. Wanita seperti apa yang tinggal di sini? Jorok sekali," cerca Gerry. Yap, yang mereka datangi adalah kediaman Jesica.
"Ada alasannya." Setelah mengatakan hal itu, Karina menyuruh Gerry untuk mengetuk pintu rumah. Gerry dengan ragu mengetuknya. Cukup lama Gerry mengetuk pintu baru mendapat respon. Pintu terbuka pelan menimbulkan suara yang mengilukan telinga.
Tak lama, sosok pria yang Gerry perkirakan usianya sekitar 45 tahunan berdiri lesu di daun pintu dengan tatapan tidak senang pada Gerry. Lingkaran hitam terlihat jelas di matanya, pria itu tidak terurus sama sekali. Bau minuman beralkohol tercium jelas dari tubuhnya dan dari dalam rumah. Kilau debu yang diterpa cahaya terlihat jelas.
"Siapa kalian? Mengganggu tidurku saja. Jika minta uang, aku tidak ada uang. Tunggu saja anak perempuanku pulang," ucap Pria itu serak. Matanya memang memerah. Gerry menatap Karina dengan satu alis terangkat. Karina mmembalasnya telepati pun berlangsung.
"Kamu tidak minta uang, kami akan memberimu uang," ucap Gerry tegas. Mata Pria itu tampak terbuka lebar sesaat, tak lama ia menguap. Bahkan tubuhnya kini ia diantarkan pada dinding pintu.
"Kalian bercanda ya? Selama dua tahun ini kami dikucilkan, mana mungkin ada yang mau memberi kami uang percuma. Zaman sekarang semua tidak gratis, bahkan arak itu saja aku harus membayar mahal. Ya ada kami akan diusir, pergilah aku ingin kembali tidur," kekeh Pria itu. Gerry mengepalkan tangannya. Sebenarnya, dia sendiri belum tahu rencana Karina.
__ADS_1
"Kata siapa gratis? Tentu ada harga yang harus kamu bayar. Ada uang, ada kesepakatan," sahut Karina datar. Mata Pria itu bergerak menatap Karina heran, ia seolah sedang menerka arti ucapan Karina. Gerry, mengamati pria itu, tatapan seperti prajurit yang sedang menginterogasi tahanan. Postur tubuh pria ini tapi tidak mencerminkan seorang prajurit, untuk tinggi memang memenuhi tapi yang lain tidak.
"Siapa kalian?" Pria itu akhirnya mengucapkan kaca andalan saat bertemu dengan orang tidak dikenal dan mencari masalah. Karina tersenyum.
*
*
*
Kini Karina, Gerry dan Pria itu duduk di ruang tamu. Botol-botol minuman dan debu yang menempel sudah Gerry bersihkan lebih dulu, tak lupa ia juga menyemprotkan pewangi. Pria itu tampak tidak senang, beberapa tahun ini alkohol dan debu sudah jadi bagian dari dirinya. Secangkir teh pun terhidang di meja untuk Karina, Gerrylah yang membuat sebab Karina pasti akan meminum sesuatu saat berkunjung.
"Jadi ini keseharian seorang prajurit divisi macam? Rendahan sekali." Karina mencibir dengan wajah tidak percaya. Diliriknya Pria itu, wajahnya tampak memerah dengan tangan terkepal erat. Ia menatap Karina dengan tatapan membunuh.
Karina acuh dan malah meminum teh hangatnya. Gerry cukup terkejut, ia tidak menyangka bahwa pemikirannya tadi benar, tapi apa yang terjadi hingga seorang prajurit divisi macan yang terkenal hebat jadi seperti ini?
"Beraninya kau menyinggung masalah itu? Sudah bosan hidup kau hah?"ucap pria itu emosi. Gerry sigap pasang badan.
"Kau yang sudah bosan hidup!"balas Gerry menatap balik Pria itu. Pria bernama Rudi, ayah Jesica.
"Hanya karena masalah sederhana hidupmu berantakan. Miris sekali." Karina hanya berkata, tapi efeknya sangat besar. Urat-urat leher Rudi menonjol menyatakan emosi yang membumbung tinggi.
"Masih beruntung anakmu itu mau mengurusimu. Masih ada yang membelikan minuman untukmu, tapi kau tidak berubah malah menjadi. Sekarang hanya ada dia pilihan untukmu. Uang dan perubahan," tegas Karina. Gerry menahan Rudi yang hendak menyerang Karina. Rudi sangat tersinggung dengan semua ucapan Karina, mengungkit masa lalunya sama saja mengungkit luka lama.
"Apa yang kau tawarkan?"tanya Rudi pelan. Karina tersenyum dan mengeluarkan secara kertas dari tasnya. Rudi membaca kertas itu.
Isi kertas itu adalah, Karina menawarkan sejumlah uang pada Rudi agar Rudi memberi restu pada hubungan Enji dan Jesica serta setelah itu, Rudi harus pergi dari kehidupan Jesica agar tidak menimbulkan masalah. Opsi kedua adalah, sebuah perubahan. Rudi harus berubah dan bangkit dari keterpurukannya. Membangun kembali keluarganya dan masa depannya. Menjadi ayah dan suami yang baik untuk keluarga. Rudi akan tetap bersama Jesica.
Rudi tampak mengeryit dengan isi surat tersebut. Keduanya pilihan yang cukup sulit baginya. Meninggalkan keluarga atau alkohol. Tak lama, Rudi tertawa sembari mengusap kasarnya.
"Hidupku sudah hancur Nona, bagaimana bisa diperbaiki? Namaku sudah tercoreng, keluarga sudah dikucilkan. Mana bisa aku masuk tentara lagi, apa lagi tujuan hidupku?"tanyanya parau, disusul dengan isak tangisnya. Rudi menangis membuat Gerry tampak bingung.
"Kalau kau memilih perubahan, aku akan membantumu," jawab Karina.
"Caranya?"tanya Rudi.
"Caraku," jawab Karina.
Rudi menghapus air matanya dan menatap Karina lekat. Gerry ingin sekali mencolok mata Rudi. Tapi, ia tahu Rudi sedang membuat keputusan.
"Aku pilih perubahan," jawab Rudi mantap. Dibandingkan apapun, Rudi sadar keluarga adalah yang utama. Kekeliruannya selama inilah yang memperburuk kondisi nya. Rudi bertekad memperbaiki semuanya. Teringatlah perjuangan Jesica dan istrinya. Jessica yang bekerja paruh waktu dan istrinya yang bekerja di sebuah bar sebagai petugas kebersihan sedangkan ia malah mabuk terus.
"Syaratnya sederhana, pertama Anda harus bisa mengalahkan dia, kedua menandatangi perjanjian bermaterai dan ketiga adalah praktek sesungguhnya. Anda harus berubah dari sekarang sisi, bagaimana? Sanggup?"ucap Karina menantang. Rudi mengalihkan tatapannya pada Gerry. Sekarang Gerry paham mengapa ia disuruh kemari, sebagai alat uji. Karina tetaplah Karina, tidak akan berubah hanya karena satu perbedaan.
__ADS_1
"Baik!"jawab Rudi mantap. Akhirnya kedua pria itu saling serang. Rudi menggunakan kemampuan bela dirinya yang ia dapat sewaktu menjadi tentara. Gerry hanya menggunakan separuh kemampuannya. Tidak tega rasanya menghajar pria yang tidak dalam keadaan sehat. Karina menatap hal itu dengan wajah datar.
"Stop!"tegas Karina, membuat Gerry yang sudah panas dan kini hampir saja meninju wajah Rudi berhenti. Rudi menutup matanya, tubuhnya kaku semua. Sudah berapa tahun ia tidak berlatih.
"Mengecewakan. Tunggulah sebulan lagi, akan ada uji kedua!"ucap dingin Karina. Tubuh Rudi bergidik saat Karina melempar tatapan tajam pada dirinya.
Rudi membuka matanya dan menatap Gerry dengan senyum lebar.
"Anak muda memang berbeda. Kamu petarung yang mumpuni," ucap Rudi memuji Gerry sepenuh hati. Gerry tersenyum tipis.
Tentu, jika tidak bagaimana bisa aku menjadi tangan kanannya?batin Gerry.
"Ambillah, rapikan penampilan dan rumah ini, sampai jumpa sebulan lagi."
Karina meletakkan amplop kuning di atas meja lalu berdiri dan berjalan menjauh dari rumah Rudi.
"Pak Tua, ku akui kamu memang kuat, tapi pastinya kita lihat sebulan lagi. Bye," ucap Gerry menyusul Karina.
Rudi terkesiap dan melihat amplop di atas meja, jika pikirannya tidak terbuka mungkin ia akan segera pesta minuman. Tapi sekarang, itu hanya masa lalu. Rudi bertekad untuk berubah, demi masa depan keluarganya.
"Maafkan aku," gumammya lirik.
Di mobil, Gerry masih penasaran dengan latar belakang Rudi, Karina tidak ada niat menjawab dengan lisan malah mengirimkan file ke handphone Gerry. Selepas itu, atas perintah Karina, Pak Anton menjalankan mobil meninggalkan Gerry yang masih membaca.
Rudi, dulunya adalah anggota divisi macan yang terkenal dengan kekuatannya. Mereka diperuntukan untuk menjaga keselamatan negara sebagai garda terdepan, tugas mereka adalah segala bidang darat, laut dan pantai. Sayangnya, untuk masuk ke divisi ini harus memenuhi beberapa syarat bagi yang sudah berkeluarga termasuk Rudi memiliki aturan tersendiri.
Setiap anggotanya hanya diperbolehkan memiliki dua orang anak dan salah satunya harus anak laki- laki untuk menuruni jawaban ayahnya. Jika keduanya anak perempuan, maka ia akan dikeluarkan dari divisi macan.
Awalnya keluarga ini hanya punya satu anak perempuan, obsesi untuk memiliki anak laki-laki dengan kemungkinan 50 :50 membuat mereka kehilangan segalanya.
Dikeluarkan dari divisi macan membuat Rudi frustasi dan menjadi pemabuk. Kesalahan ia timpakan pada istri dan anak keduanya. Marah, sikapnya yang hangat menjadi pemarah dan kasar.
Bahkan saat anak keduanya itu tiada, Rudi malah lega, ia merasa bebannya berkurang. Puncak dari hancurnya keluarga ini adalah saat Rudi memaksa istrinya menjadi pekerja seks di bar yang uangnya digunakan untuk membeli minuman dan membayar hutangnya.
Pria itu sudah kehilangan akal saat kehilangan pekerjaan impiannya. Segala profesi yang ia jalani setelah keluar dari tentara selalu berakhir dengan pemecatan.
Sang istri tidak berani melawan sebab taruhannya adalah putri sulungnya. Dengan mengorbankan harga dirinya, ia harus bertahan demi Jesica. Hingga akhirnya ia drop setelah divonis positif HIV. Tetangga yang awalnya simpatik berubah menjadi anarkis.
Kini perjuangan Ibu Jesica adalah melawan virus yang menggerogi tubuhnya.
Gerry menghela nafas kasar, cukup prihatin dengan kisah keluarga Jesica.
Tapi yang namanya masalah harus dihadapi, bukan dihindari. Obsesi memang harus diwaspadai, batin Gerry segera melangkah pergi ke tempat mobilnya diparkir lalu melaju pergi.
__ADS_1