
Tok ....
Tok ....
"Nona ... saya membawa gaun anda," ucap Enji.
Ya. Karina kini telah kembali dari Cafe. Sekarang ia tengah duduk sambil membaca majalah.
"Hmm ... masuklah!" jawab Karina dari dalam kamar.
Enji masuk ke dalam kamar dan mendekati Karina lalu memberikan paperbag berisi gaun. Karina meletakkan majalahnya dan menerimanya. Kemudian membukanya dan melihat gaunnya. Enji pun segera menjelaskannya.
"Nona, ini adalah gaun desain terbaru dari desainer kita. Dua hari yang lalu baru di perkenalkan ke publik dan belum ada di mana pun," terang Enji.
"Hmm ...." Karina memperhatikan gaun berwarna merah maroon tanpa lengan itu. Karina tanpak puas. Enji pun pamit permisi keluar. Yang diangguki Karina.
Karina melihat jam di pergelangan tangannya
Sudah pukul 07.00 ... acara mulai pukul 08.00. Ya sudahlah aku siap-siap dulu, batinnya
Pukul 20.00 iringan mobil keluarga Arion memasuki halaman rumah Karina. Jajaran mobil mewah kini berada di depan rumah Karina. Namun, itu tak seberapa dengan yang Karina miliki karena pada dasarnya Karina suka dengan otomotif.
"Ma? Arion sudah tampan belum??" tanya
Arion sambil menyisir rambutnya menggunakan jari. Maria yang mendengar itu tersenyum.
"Iya ... anak Mama sudah tampan maksimal. Benarkan Pa?" tanya Maria pada suaminya.
"Iya Ma ... anak kita sudah tampan mirip Papa kan?" jawab Amri dengan PD-nya sambil merapikan jasnya. Sontak itu membuat Arion dan Maria menahan mual. Sedangkan Sam dan Calvin hanya tersenyum. Melihat itu Amri pun kesal.
"Kalian ini ... kalo gak karena kerja keras Papa mana ada kamu yang tampan ini," kesal Amri.
"Iya-iya Papaku sayang makasih ya karena sudah kerja keras sama Mama untuk buat Arion yang tampan ini," ledek Arion santai sambil memasukan kedua tangannya ke kantong celananya. Ucapannya itu membuat wajah keduanya memerah.
Mendengar ledekan dari Arion Amri ingin membalasnya namun sudah dipotong oleh Calvin.
"Sudah yuk masuk ... gak malu apa dari tadi diliatin asisten rumah tangga Karina?" ajak Calvin.
__ADS_1
Ketiganya pun tersadar telah menjadi pusat perhatian para penghuni rumah Karina. Mereka pun mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah.
Di pintu mereka disambut Bik Mirna.
"Selamat datang Tuan, Nyonya, Tuan muda," sambut Bik Mirna yang diangguki kelimanya.
"Mari saya antar ke ruang makan," ujar Bik Mirna lagi. Kelimanya bingung namun memilih mengikuti Bik Mirna ke ruang makan. Mereka kemarin untuk membahas lamaran tapi kok di ruang makan? Ingin rasa bertanya namun sudah didahului Bik Mirna.
"Silahkan duduk. Saya akan memanggil Nona," ucap Bik Mirna lantas segera menuju tangga ke kamar Karina.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Masuk," sahut Karina.
Bik Mirna masuk ke dalam kamar Karina.
"Baiklah Bik saya akan turun." Karina segera menuju ruang makan setelah mengoleskan listip di bibir cherynya.
Tak ....
Tak ....
Tak ....
Suara high hiels yang Karina gunakan. Semua yang berada di ruang makan mencari suara itu. Tak lama muncullah Karina. Malam itu ia menggunakan gaun merah maroon dengan high hiels senada dan rambut digerai. Arion terpanah melihatnya.
"Cantik," gumam Calvin dan Sam tanpa sadar yang membuat Arion menatap buas keduanya. Merasa terancam Sam segera membela diri.
"Ehh ... santai Ar ... kami berdua gak akan mengebut Karina kok," elak Sam.
"Iya Ar ... lagian dia itu dingin banget gak cocok sama kita," timpal Calvin jarinya membentuk V.
"Awas aja loe berdua macam-macam!" ancam Arion.
__ADS_1
"Sudah-sudah gak malu apa kalian udah besar masih ngeributin hal kecil?" lerai Maria yang jengah dengan ketiganya.
"Tapi Ma?" Ucapan Arion terhenti mendengar deheman Karina. "Em ...,"
"Ehh ... Karina sudah datang ... mari duduk." Dengan cepatnya Arion merubah mimik wajahnya yang tadinya kesal langsung sumringah.
Karina lalu bertanya. "Perasaan ini rumah saya?" Dengan nada dingin.
"Hah ... oh iya-ya maaf ya ...." Arion menjadi salah tingkat dan dibalas kekehan Sam dan Calvin.
"Hmm kalau begitu kita makan malam dahulu sebelum membicarakan lamaran. Mari silahkan duduk dan nikmati sajiannya," ucap Karina formal.
Mereka semua segera duduk. Amri kembali berkata ....
"Karina ... kita kan akan jadi keluarga jadi tidak usah pakai kata-kata formal ya," pinta Amri yang hanya diiyakan Karina.
Mereka pun makan dengan tenang. Hening. Hanya ada suara alat makan yang saling beradu. Berulang kali Arion mencuri pandang kearah Karina. Namun, berulang kali Karina memergokinya dan membuat Arion salah tingkah dan selalu mengelak. Sedangkan Karina tetap setia dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Maria dan Amri bingung dengan calon mantunya ini.
Apa dia gak punya ekspresi ya? Wajahnya tetap datar biasanya kalau seorang wanita dipandangi Arion akan salah tingkah setidaknya wajahnya memerah tapi yang ini kok enggak sih?? Begitulah kira-kira pemikiran keduanya.
Sedangkan Sam dan Calvin berusaha sekuat tenaga menahan tawa karena melihat Arion di cuekin.
Gunung api di gabung sama dataran es apa jadi nya ya? tanya mereka dalam hati.
HAI READERS MAAF YA LAMA GAK UP 🙏
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SEHABIS MEMBACA YA.🙏🤗
COMMENT UNTUK SARAN DAN KRITIK BAGI AUTHOR AGAR LEBIH BAIK LAGI
DAN JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE JUGA BOLEH UNTUK MENDUKUNG AUTHOR.
THANK YOU😊🤗🤗
Tbc...🤗🤗
__ADS_1