
"Menjauhlah!"
Li menyuruh dokter yang biasa menangani Karina menjauh. Dokter tersebut terkejut dan patuh. Brian menatap bingung Li.
"Paman dokter ini yang biasa menangani Ibunda," ujar Brian.
"Bukankah kalian bilang ini racun? Dokter ini sudah bertahun-tahun menangani Ibunda kalian tapi kondisinya tidak kunjung membaik malah kian menurun!"
"Tapi Paman beliau adalah dokter terbaik di sini."
"Ini memang bukan kesalahannya. Tapi ini di luar kemampuan dan pengetahuannya," jawab Li.
"Tuan Muda, dunia ini luas. Anda akan segera melihat dunia baru setelah ini. Jadi lebih baik persiapkan diri Anda untuk menerimanya," ujar Li. Brian menatap Li, tatapannya menerawang jauh.
"Dunia luar? Paman apakah kami akan pergi dari sini?"
"Tentu saja. Ini bukanlah tempat kalian!"tegas Li. Brian diam, menatap sang ibu. Li mengecek denyut nadi Karina. Dahinya berkerut, raut wajahnya jelas khawatir. Helaan nafas kasar ia keluarkan.
Tak berselang lama, Basurata masuk dan duduk di samping Brian.
"Paman apa kondisi Ibunda semakin parah?" Brian jelas menangkap raut wajah Li. Basurata mengerutkan dahinya tipis.
Li mengangguk.
"Tapi kalian tak perlu cemas. Sesampainya di markas, kondisi Ibunda kalian akan membaik," ucap Li, menenangkan dua bocah itu.
"Kakak selanjutnya apa yang akan kita lakukan?"tanya Rangga. Ia bisa masuk karena Bahtiar.
"Siapkan kendaraan, kita kembali ke markas sekarang!"ucap Li.
"Tapi Queen belum sadar," ragu Rangga.
"Paman menurut kejadian yang lalu-lalu, Ibunda akan sadar setelah tiga hari," ucap Bahtiar. Li menatap Bahtiar sekilas.
"Benar Tuan, apalagi dengan cedera di kelapa Ratu. Mungkin beliau akan sadar lebih dari tiga hari," imbuh dokter.
"Tiga hari? Ini waktu yang lama. Lagipula ini bukan perjalanan yang menguras tenaga. Rangga kau urus kendaraan. Kita akan tetap kembali ke markas!"tegas Li.
"Baik, Kakak."
Rangga menurunkan Bahtiar di samping Basurata kemudian keluar dari kamar.
"Paman kau siapanya Ibunda?" Basurata menatap jemari Li yang menggenggam jemari Karina. Tatapannya sulit untuk Li artikan, mirip tatapan Karina.
"Aku? Hubungan kami begitu banyak, Tuan Muda. Kadang kala aku menjadi seorang kakak. Kadang adik, kadang sahabat, juga sebagai bawahan. Aku tangan kanan Ibunda kalian. Hubungan kami disatukan oleh takdir, lebih kuat dari ikatan keluarga kandung. Ibunda kalian adalah malaikat Paman. Jadi bisa kalian katakan hubungan seperti apa itu?"
"Ku kira Anda ayah kami," celetuk Basurata yang sukses membuat Li terkekeh.
"Hahahaha … kau punya selera humor yang tinggi. Bagaimana mungkin aku menikah dengan Karina? Ibunda kalian ini wanita dingin. Untung saja Ayah kalian berhasil melelehkan hatinya."
"Ayah kandung kami? Siapa dia Paman?" Karina menjawab pertanyaan Li tadi dengan bahasa Indonesia, jelas ketiga anak itu tidak mengerti.
"Jawabannya ada pada Ibunda kalian." Li menatap Karina yang masih tak sadarkan diri. Li menatap sendu Karina.
Tubuh yang penuh bekas luka, bahwa wajahnya juga ikut terluka. Li menduga itu adalah akibat kecelakaan pesawat. Tapi ada satu hal lagi yang Li bingung kan.
Jika Karina selamat, itu tak terlalu mengejutkan, akan tetapi bagaimana bisa kehamilannya tak terganggu? Bahkan melahirkan tiga anak kembar tanpa cacat sedikitpun. Apakah ini yang dinamakan kuasa illahi?
"Tuan, helikopter akan segera tiba," ujar Rangga, membuyarkan lamunan Li.
Li mengangguk.
"Tunggu kapan kami setuju untuk pergi?"
"Hentikan Bara! Kondisi Ibunda lebih penting!"tegur Brian.
"Benar Kakak. Ibu harus keluar untuk bisa sembuh," imbuh Bahtiar.
"Tapi bagaimana dengan ayah Emir?"
"Dia tidak ada hak untuk melarang! Karina bukanlah istrinya!"jawab Li.
"Rangga hubungi pusat bahwa kita sudah menemukan Queen. Buat penyambutan untuknya!"titah Li.
"Baik, Kakak."
"Tunggu Li …."
Li menoleh pada Karina yang perlahan mulai sadar. Mata tajam itu terbuka, mengerjap lemah.
__ADS_1
"Karina … syukurlah kau sudah sadar." Li membantu Karina duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Jangan beritahu mereka bahwa aku masih hidup. Aku tak ingin ada kehebohan. Lebih baik suruh mereka untuk berkumpul di markas pusat. Itu lebih baik," ucap Karina lemah.
"Jika itu perintah Anda, saya akan melaksanakannya," sahut Rangga, kembali keluar.
"Anak-anak bersiaplah untuk pulang," ujar Karina pada ketiga anaknya.
"Tapi bagaimana dengan ayah Emir?" Basurata kembali menanyakan hal yang sama.
"Dia bukanlah ayah kandung kalian. Ibu dan Emir tidak ada hubungan apapun. Ini hubungan palsu. Selain itu, Brian kau bukanlah yang tertua. Kalian punya tiga saudara lagi. Yang tertua bernama Bintang, dia adalah putri Ibunda satu-satunya. Sedangkan yang kedua adalah Biru, dan yang ketiga adalah Bima. Ayah kalian bernama Arion Wijaya. Ia adalah CEO Wijaya Grub."
"Jadi saudara tertua kami perempuan sedangkan kami para adik laki-laki semua?" Brian tercengang begitu juga dengan kedua adiknya.
"Benar. Itulah kenyataannya. Jadi segeralah bersiap."
Saat Brian, Basurata, dan Bahtiar ingin keluar kamar, mereka dikejutkan dengan Emir yang masuk dengan wajah cemas. Berdiri mematung melihat Li dan Karina yang sangat dekat, bahkan bergandengan tangan, belum lagi Karina yang bersandar pada Li.
Wajah Emir menjadi suram. Cemburu menghampiri dirinya.
"Menjauh dari isteriku!"seru Emir menatap tajam Li, tatapan penuh ancaman dan keinginan untuk membunuh.
"Aku bukan isterimu, Emir!"
Karina menjawab dengan mengeluarkan aura intimidasinya. Emir terkesiap. Ini bukan pertama kalinya ia merasakan aura intimidasi Karina, tapi ini sangatlah berbeda.
"Apa? Apa maksudmu, Kaira? Kau isteriku!" Emir berkilah, tapi tubuhnya panik. Keringat dingin mulai membasahinya.
"Emir aku sudah ingat semuanya. Kita tidak pernah menikah dan tidak akan pernah menikah!"
"A-apa? Kau-kau sudah mendapatkan ingatanmu?"
"Benar. Sekarang saatnya aku kembali!"
"Tidak! Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi!"pekik Emir.
"Apa maksud Anda, Tuan Emir?" Rangga kembali masuk, bertanya dingin pada Emir.
Hufff
"Kaira itu isteriku! Kau tidak boleh meninggalkanku, Kaira!"
Emir mendekati Karina, berusaha menjauhkan Li dari Karina.
Li yang geram langsung menendang Emir. Emir terjerembab di lantai.
"Dungu! Kau tidak paham ucapan Queen-ku hah?"desis Li.
"Q-queen? Apa-siapa-siapa sebenarnya dirimu, Kaira?"
"Biar aku yang menjawabnya!" Li berdiri, menatap dingin Emir.
"Dia adalah Karina Tirta Sanjaya! Dia adalah Queen Pedang Biru!"
"A-apa? Bagaimana mungkin?" Emir terkejut bukan main. Lututnya terasa lemah, tak sanggup untuk berdiri. Tatapannya nanar, apa ia masih ada harapan?
"Emir biarkan Kaira pergi. Ini memang bukan tempat yang cocok untuknya," ucap Osman yang masuk dengan dipapah oleh pelayan.
"Ayah?" Emir menoleh. Osman menatap prihatin Emir.
"Queen … maafkan kelancangan saya tadi. Mohon Anda memakluminya," ucap Osman sopan.
"Tidak masalah. Itu juga bukan sepenuhnya kesalahan Anda," jawab Karina.
"Pangeran, ada helikopter mendarat di depan benteng!"lapor salah seorang prajurit dengan wajah cemas.
"Heli-helikopter?" Emir berusaha berdiri.
"Aku akan kembali sekarang. Ada hal penting yang akan aku urus. Jika sudah selesai, aku akan mengunjungi kalian untuk membicarakan hubungan kita."
"Hu-hubungan kita?" Emir seakan mendapat angin segar.
"Ya aku tak ingin berhutang budi. Tentu saja harus membahasnya."
Li terkekeh melihat wajah Emir yang kembali murung.
"Tidak! Aku tak bisa membiarkanmu pergi sendirian. Kaira aku akui aku mengikatmu dalam hubungan palsu. Tapi percayalah, cinta dan kasih sayangku benar-benar nyata. Terlebih pada anak-anak. Aku mohon pertimbangan hubungan kita selama ini."
"Tidak Emir. Suamiku hanya satu. Dia adalah suamiku satu-satunya. Jangan pancing amarahku. Jika kau ingin ikut, maka ikutlah. Paman juga boleh ikut," ucap Karina.
__ADS_1
"Aku memang akan ikut!"
"Baiklah," sahut Osman.
Perubahan sikap memang bukan hal aneh lagi. Di dunia ini yang berkuasa dan yang kuat sangat dihormati. Sama halnya dengan Osman. Ia tidak bisa mengambil resiko yang membahayakan seluruh orang-orangnya. Emir mulai berusaha menyesuaikan diri. Memaksa Karina sama saja mencari mati. Emir menyadari Li orang yang sangat mumpuni, jika diadu mungkin mereka imbang atau bisa jadi ia kalah. Emir ingin tahu seperti apa sebenarnya kehidupan Karina juga keluarga Karina. Mana tahu masih ada cela untuknya mendapatkan Karina.
"Emir tolong bawa Aldric juga," ucap Karina.
"Aldric? Untuk apa membawanya?"
"Dia akan menjadi orangku!"
"Itu tergantung persetujuannya, Queen," ujar Osman.
"Dengan tindakannya tadi, apakah ia punya hak untuk menolak?"
Emir dan Osman saling tatap. Senyum Karina membuat mereka merinding.
"Paman, Emir, bolehkah saya juga ikut?" Rayan masuk dengan wajah berharap.
"Li apa...?"
"Tenang saja, Queen. Bawahan ini sangatlah mengerti."
Karina mendengus senyum.
"Aku penasaran pencapaian apa yang kalian raih. Ku harap tak mengecewakan."
"Kami sudah berjanji dan bersumpah, akan membuatmu tersenyum bangga pada kami saat kau kembali nanti. Jikapun kau tak kembali, kau bisa tersenyum dari langit. Tersenyum bangga dan puas pada bawahanmu ini," tutur Li, lembut.
"Aku tak sabar melihatnya."
Li menggendong Karina keluar menuju helikopter. Emir mengepalkan kedua tangannya, sungguh cemburu. Osman menggeleng pelan, menepuk pundak Emir.
"Sudah Ayah katakan, burung elang mana mungkin bisa kau kurung di sangkar emas. Kini ia telah terbang jauh, kembali ke asalnya," ujar Emir.
"Aku menyesal Ayah. Seharusnya aku katakan lebih awal. Pasti Kaira sudah menjadi isteriku secara sah," sesal Emir.
"Emir, penyesalan itu tiada arti. Lebih baik kita lihat situasinya, baru bertindak jika ada cela. Ingat. Anak-anak lebih dekat padamu daripada ayah kandung mereka. Masih ada peluang," saran Rayan.
"Baiklah."
*
*
*
"Karina aku heran denganmu. Mengapa kau tak menanyakan mengenai Arion dan anak-anakmu?"
"Karena aku tahu."
Li menaikkan alisnya.
"Pesan yang ku tinggalkan sebelum aku hilang."
"Kau begitu percaya pada Arion?"
"Li hatiku percaya padanya. Ia tak akan mendua sekalipun aku benar-benar tiada. Lagipula ada kalian."
"Kau benar."
"Hm. Lantas bagaimana dengan uhukk … uhukk … uhuk."
Karina kembali batuk darah. Brian yang yang tertidur, terbangun dan menatap cemas Karina sembari mengusap matanya. Karina sigap menutupi darah di telapak tangannya.
"Ibunda …."
"Hanya batuk, Brian. Ibunda baik-baik saja."
Brian menyipitkan matanya tidak percaya, mengangguk pelan tak ingin membuat Karina tertekan.
"Haha aku sangat lemah. Li sekarang aku bukanlah Karina yang dulu. Tubuhku lemah juga cacat. Apa Arion mau menerimaku?" Mata Karina meragu. Li terdiam sesaat kemudian menarik nafas dalam. Brian yang tidak mengerti bahasa yang Karina gunakan, hanya menganti. Hal pertama yang ia tanggap adalah keraguan, kegelisahan, juga rasa takut.
"Karina aku tak peduli biarpun kau kembali dalam keadaan lumpuh. Kami ini keluargamu. Bagaimana mungkin kami menolakmu hanya karena luka kecil itu? Arion? Dia benar-benar mencintaimu, bagaimanapun kondisimu ia akan tetap menerimanya."
"Ya, aku mengerti. Hanya saja …."
"Istirahatlah. Pulihkan tenagamu," sela Li. Karina menurut. Bersandar pada Li kemudian memejamkan matanya perlahan. Suara baling-baling helikopter bukanlah penghalang untuknya tertidur nyenyak.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya aku melihat Ibunda begitu nyenyak tidurnya," ucap Brian, menatap lembut Karina.
Li tersenyum sebagai tanggapan.