
Waktu memungkinkan pukul 07.00, Arion dan Karina berjalan berdampingan menuju meja makan. Di sana sudah menunggu Satya, Riska, Li, Elina, dan Gerry.
Mereka yang semula duduk langsung berdiri dan membungkuk menyapa Karina dan Arion. Karina dan Arion mengangguk sebagai jawaban.
Riska tampak tercengang melihat Karina yang menatapnya dengan sorot mata menyelidik.
"Ha-halo Kakak. Selamat pagi. Saya Riska istri dari Kak Satya. Mohon bimbingannya," ucap Riska gugup.
Riska mengenalkan dirinya lagi takut Karina melupakan siapa dirinya.
"Oh. Halo," balas Karina, acuh.
Karina duduk diikuti Arion dan kelima orang bawahannya.
Riska merasa canggung dengan jawaban acuh Karina. Untung saja ia sudah diberitahu oleh Satya bahwa Karina memang begitu.
Mereka makan dengan tenang. Selesai sarapan, Satya pamit undur diri lebih dulu untuk mengantar Riska ke sekolah kemudian lanjut ke kasino.
Gerry, Li, dan Elina Karina perintahkan untuk ke kasino, membantu tugas Satya. Darwis belum bisa kembali ke kasino dengan kondisinya yang masih terpuruk.
Arion ingin mengajak Karina menemaninya ke perusahaan cabang Jaya Grub. Ya, perusahaan keluarga Wijaya telah berubah nama menjadi Jaya Grub.
Sayangnya Karina menolak dengan alasan meeting mengenai rencana pemindahan ibukota. Akhirnya Arion berangkat sendiri ke perusahaan cabang.
Tinggallah Karina sendiri di kediaman ini bersama dengan para pelayan. Karina melangkahkan kaki menuju taman untuk menyegarkan pikirannya sejenak sebelum meeting online.
Terlihat pelayan tengah membersihkan dedaunan yang berserakan di tanah. Pelayan tersebut membungkuk hormat pada Karina. Karina hanya mengangguk, duduk di salah satu bangku taman.
"Ah musim gugur," gumam Karina menutup mata dengan perasaan yang masih gundah.
Kapan kalian akan bangun?
Karina membuka mata, menatap langit biru yang terang. Mata Karina melebar kemudian tersenyum kecut saat melihat ilusi yang ia ciptakan tanpa sadar. Enji dan Joya yang tersenyum lebar tanpa beban.
Ah lupakan. Aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan! Aku masih punya banyak tanggung jawab yang harus aku selesaikan!
Karina mengusap wajahnya dengan kasar. Melihat waktu kemudian berdiri, berjalan masuk ke dalam rumah.
Karina menuju kamarnya yang berpindah ke lantai satu. Duduk di meja belajar, menyalakan laptop untuk meeting.
Karina meraih berkas di sebelah laptop. Membaca ulang pembahasan meeting kali ini.
Tepat pukul 09.30, meeting dimulai. Rancangan lokasi ibukota sudah siap 30 persen. Masih ada waktu dua bulan untuk merampungkan rancangan. Di bulan keempat ditargetkan sudah memulai pembangunan yang direncanakan selesai dalam waktu dua tahun.
Meeting hanya berlangsung selama satu jam. Pembicaraan yang singkat dan padat berhasil meringkas waktu.
Selesai meeting, Karina istirahat sebentar. Minum dan menyantap makanan ringan dari dapur.
Selanjutnya Karina memeriksa perkembangan Tirta Garden. Benar saja prediksi Karina. Baru seminggu dibuka, Tirta Garden telah dikunjungi oleh banyak pengunjung baik dari domestik ataupun internasional.
Karina tersenyum tipis melihat keuntungan yang dihasilkan dari Tirta Garden. Karina kemudian berniat untuk melihat-lihat pasar saham. Sudah cukup lama ia tidak membeli saham.
"Eh? Apa-apaan ini?"
Karina terkejut membuat harga saham perusahaan alm. Kakek Bram merangkak turun. Karina segera menghubungi Arion, secara perusahaan tersebut berada di bawah kendali perusahaan Jaya Grub.
"Assalamualaikum, Ar," sapa Karina.
"Waalaikumsalam, Sayang. Ada apa?"sahut Arion yang nada bicaranya sangat tenang.
"Tidak ada. Hanya penasaran dengan harga saham BWJ Company yang menurun. Apa kau belum tahu?"jawab Karina dengan mata terfokus pada diagram yang menunjukan panah merah yang bergerak turun lambat.
"Oh masalah itu. Aku sudah tahu. Hah … hanya masalah kecil, Sayang. Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Aku akan segera mengurusnya. Maaf membuatmu khawatir."
"Oh. Baiklah kalau begitu. Aku hanya penasaran. Kau masih di perusahaan?"tanya Karina.
"Ya. Ada sedikit kendala di sini. Aku akan pulang saat makan siang. Maaf tidak bisa menemanimu," ucap sesal Arion.
"Wah! Suamiku semenjak perusahaanmu berganti nama kau jadi semakin sibuk saja ya?"goda Karina.
"Yang penting waktuku denganmu tidak berubah kan? Sayangku, jika aku boleh memilih aku akan membawamu tinggal di pedesaan tanpa harus terganggu dengan semua hal yang menyangkut perkotaan dan perusahaan. Sayangnya itu sulit bahkan tidak mungkin."
Karina terkesiap dengan keinginan Arion. Ya jujur ia juga lelah dengan segala pekerjaan yang tiada habisnya. Karina menghela nafas kasar.
"Itu akan jadi kenyataan suatu saat nanti," ujar Karina, tegas.
"Ya saat kita sudah memiliki setengah lusin anak. Aku akan menunggu saat itu tiba," jawab Arion disertai dengan kekehan yang renyah.
"Hm. Baiklah, aku harus kembali bekerja. Aku tutup ya. Semangat selalu suamiku, love you. Assalamualaikum," ujar Karina.
"Waalaikumsalam Sayang. Love you too, my wife," balas Arion.
Karina tersenyum lepas.
Karina kembali fokus pada layar laptop. Tidak ada saham yang menarik perhatiannya. Harga saham BWJ Company kini tidak turun atau naik. Karina tidak ambil pusing.
Setengah pekerjaannya sudah dihandle oleh Sasha, Aleza, Lila, dan Raina. Lila dan Raina memang masih bekerja.
__ADS_1
Mereka merasa malu jika seandainya mengajukan cuti karena hamil tua padahal Karina sendiri yang hamil tua sebentar lagi melahirkan serta mengandung dua anak tetap ke bekerja di perusahaan tanpa kesulitan berarti.
Ah mengingat kurang sebulan lagi kedua anaknya lagi, Karina teringat dengan perlengkapan bayi yang belum dipersiapkan padahal Maria hampir setiap hari mengingatkan.
Kamar saja belum dipersiapkan. Karina tersenyum malu sembari mengusap perutnya. Sepulangnya dari sini Karina akan mempersiapkan segalanya.
Karina mengecek jadwalnya. Ternyata tidak ada meeting lagi. Karina free. Eh Tidak.
Perusahaan memang beres, bagaimana dengan mafia, cafe, restoran, dan kasino? Karina mendengus.
Melihat waktu yang hampir menunjukkan pukul 12.00. Handphone Karina berbunyi, notifikasi pesan.
Karina berdecak sebal setelah membaca pesan. Arion tidak bisa pulang saat makan siang. Masalahnya belum selesai.
Ya baiklah. Dia lagi banyak masalah.
Pintu kamar Karina diketuk dari luar. Karena kamar ini sebenarnya bukan kamarnya yang biasa, Karina harus membuka pintu secara manual.
Kepala pelayan menunduk hormat pada Karina.
"Ada apa?"tanya Karina datar.
"Nona, waktunya makan siang. Anda akan makan di ruang makan atau bagaimana?"tanya kepala pelayan dengan penuh kesopanan.
"Aku akan ke ruang makan. Pergilah. Aku akan menyusul," jawab Karina.
Karina kembali masuk ke kamar, mengambil tas dan handphone lalu melangkah keluar kamar menuju meja makan.
Mata Karina menyipit melihat menu makan siangnya.
Ada sebuah kepala utuh yang Karina tebak adalah kepala kambing. Ada beberapa bola mata besar, bola mata ikan. Satu menu lagi yang Karina tidak tahu nama dan terbuat dari apa.
"Apa ini?"tanya Karina heran.
"Ini adalah menu makan siang untuk hari ini, Nona," jawab kepala pelayan.
"Ini adalah pacha, yang ini mata ikan tuna tumis, dan yang ini adalah haggis," jelas kepala pelayan memperkenalkan menu yang terhidang di meja.
Karina menggeleng pelan melihat menu-menu itu. Karina merasa itu asing dan aneh.
"Rian yang membuat daftar menunya?"tanya Karina.
Kepala pelayan mengangguk. Kepala pelayan itu sendiri sudah berkeringat dingin.
"Sialan kau, Rian!"gerutu Karina, kesal dengan Rian yang membawa pulang menu yang aneh-aneh.
Sontak para pelayan langsung mengosongkan meja makan dari menu makan siang. Bagian dapur langsung bekerja membuat steak untuk Karina.
Menunggu makan siangnya selesai, Karina mengeluarkan tablet untuk mengecek jalannya cafe dan restoran miliknya.
Ada yang naik dan turun. Tapi omset keseluruhan tetap bertambah. Cafe dan restoran yang omsetnya naik berhasil menutupi yang omsetnya menurun bahkan lebih.
Karina menoleh ke arah ruang tamu ketika mendengar suara langkah kaki memasuki rumah. Dahi Karina mengkerut tipis mendapati Riska yang sudah pulang dari sekolah. Waktu masih menujukkan pukul 12.20.
"Kau bolos?"tanya Karina langsung.
Riska yang hendak naik ke lantai atas tersentak pelan, terkejut. Riska berbalik dan menatap Karina dengan wajah tegang. Riska lupa bahwa Karina sedang berada di kediaman ini.
Dengan takut Riska melangkah, mendekat pada Karina.
"Pipimu kenapa?"tanya Karina lagi setelah melihat ada plester luka di pipi Riska.
Seingat Karina wajah itu tadi pagi baik-baik saja. Riska refleks memegang pipinya yang diplester.
"Kau berkelahi atau bagaimana?"
Nada bicara Karina berubah dingin. Riska menggerakkan tangannya membantah.
"Kami diserang saat jalan pulang, Kak," jawab Riska menunduk.
Riska menyebut kami karena ia pulang dengan sopir dan dua pengawal yang ditugaskan untuk mengantar dan menjemput Riska.
"Diserang?"
Riska mengangguk.
"Tapi Kakak tidak perlu khawatir. Saya hanya terluka ringan dan juga saya tidak bolos, Kak. Hari Sabtu kami pulang jam 12. 05," ujar Riska.
"Hm. Aku tahu," sahut Karina datar.
Karina menatap Riska lekat.
"Kau menggunakan senjata apa? Luka itu juga luka apa?"tanya Karina dingin tapi Riska merasakan kehangatan di sana.
"Ini hanya luka serempetan peluru, Kak. Setelah menikah, Kak Satya memberikan saya sebuah pistol sebagai senjata pertahanan," jawab Riska, menyentuh pipi kemudian meletakkan tas punggungnya di kursi.
__ADS_1
Riska mengambil pistol yang ia simpan di dalam tas. Riska kemudian memberikannya pada Karina.
Karina tidak mengambil, hanya melihat.
"Oh jenis ini, kau cocok menggunakannya. Simpanlah," ucap Karina.
Riska segera menyimpan kembali pistol tersebut.
"Buka plester itu!"suruh Karina.
"Ah? Tapi Kak …."
Riska ragu.
"Bagi seorang wanita luka di wajah adalah suatu petaka. Jika kau seorang jenderal yang hidup di zaman kerajaan luka di wajah adalah suatu kebanggaan. Sedangkan sekarang itu adalah suatu celaan, hinaan, dan membuat tidak percaya diri. Sekalipun kau putri terhormat, kau akan tetap dicibir dengan luka itu," ujar Karina.
Karina meminum jus jeruk yang disajikan sebelumnya. Riska memegang ragu plester tersebut. Meringis ketika membukanya perlahan.
Sorot mata Karina berubah lagi menjadi dingin. Luka di pipi kanan Riska cukup dalam dan panjang. Bercak merah terlihat disekitar luka. Riska memegang pipinya yang terasa perih.
"Ambilkan kotak obat!"
"Duduk di sampingku," ujar Karina dingin.
Riska duduk dengan takut. Pelayan menyodorkan kotak obat pada Karina. Sebelum mengobati Riska, Karina lebih dulu membersihkan kedua tangannya. Karina membersihkan luka Riska terlebih dahulu.
Setelah bersih, Karina mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak berwarna, Karina membuka kotak tersebut.
Beberapa jarum suntik yang sudah diisi cairan berwarna biru muda. Karina mengambil satu dan menyuntikkannya pada lengan Riska. Riska meringis pelan saat jarum menusuk kulitnya.
"Apa itu Kak?"tanya Riska penasaran.
"Antibiotik," jawab Karina singkat.
Karina kembali mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah botol berwarna giok putih lengkap dengan lambang perang dan mawar di badan Karina ambil.
Karina membuka tutup botol. Aroma lavender merasuk ke indra penciuman Riska.
Itu adalah sebuah krim obat. Saat dioleskan, Riska merasakan sensasi dingin dan segar yang mengusir rasa perih.
"Gunakan krim ini sehari tiga kali. Dalam tiga hari luka itu akan sirna, wajahmu akan kembali mulus," ujar Karina.
"Benarkah Kak?"
Mata Riska berbinar. Karina mengangguk.
"Terima kasih banyak, Kak!"ujar Riska bahagia, berdiri dan menunduk hormat pada Karina.
Tadi sepanjang jalan pulang setelah ia diserang, Riska termenung murung dengan wajahnya yang terluka, jikapun sembuh pasti akan meninggalkan bekas. Tapi sekarang Riska tidak perlu khawatir mengenai lukanya lagi.
"Lekaslah bersiap, setelah makan siang kita akan ke kasino," ujar Karina.
"Kasino? Okay Kak!"
Riska dengan cepat meraih botol obat dan tasnya, lari menuju kamar untuk bersiap. Karina menggeleng pelan, tersenyum kecil.
Karina segera menyantap makan siangnya yakni steak daging sapi setelah menu tersebut dihidangkan di hadapannya.
"Ah bawa kemari daftar menu yang Rian susun," ujar Karina setelah selesai makan.
"Baik, Nona."
Kepala pelayan segera mengambilkan dan menyerahkannya pada Karina.
"Kapan buku ini disusun?"tanya Karina.
"Sekitar tiga bulan lalu, Nona," jawab kepala pelayan.
Ternyata menu aneh nan unik itu hanya disajikan dua kali dalam sebulan yakni di minggu pertama dan ketiga.
Riska turun dengan mengenakan celana jeans, baju kaos, serta topi. Rambut panjangnya diikat. Riska tampak cantik dan imut.
"Paman, apa menu makan siang hari ini?"tanya Riska.
Kepala pelayan menjawabnya.
"Mata ikan Tuna? Serius?"
Kepala pelayan mengangguk. Karina menaikkan satu alis melihat mata Riska yang kembali berbinar senang. Riska segera menuju dapur, kembali dengan membawa piring berisi mata tuna tumis lengkap dengan nasi hangat.
"Siapa saja yang menyantap menu-menu tadi?"tanya Karina.
Pena yang Karina pegang, diletakkan di atas meja.
"Tuan Satya dan Nyonya Joya, Nona. Tuan Satya dan Darwis yang menyantapnya sedikit," jawab kepala pelayan.
Karina menghela nafas, mengembalikan buku menu tersebut.
__ADS_1
Biarlah, batin Karina.