Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 318


__ADS_3

Mobil putih yang ditumpangi Karina berhenti mulus di parkiran Cold Cafe. Karina keluar dari mobil setelah Didi membukakan pintu. 


Cafe masih ramai dengan pengunjung. 


"Kau sudah boleh pulang," ucap Karina pada Didi.


"Tidak, Nyonya. Tugas saya belum selesai," tolak Didi tegas.


"Baiklah. Terserahmu saja," balas acuh Karina. 


Karina melangkah masuk ke dalam cafe. Didi mengekor. Tatapan pengunjung cafe langsung terarah pada Karina begitu Karina masuk. Begitu juga dengan tatapan para karyawan. 


Mereka saling berbisik dengan wajah yang tegang. 


Laporan!


Dengan wajah acuh dan dingin, Karina langsung menuju ruangannya. Didi sendiri memilih meja paling sudut dan memesan minuman


Kini Karina duduk di kursi yang telah lama ia tinggalkan. 


Karina mengoleskan jari telunjuknya ke meja, memeriksa apakah ada debu atau tidak.


Sangat bersih. Siapa yang mau kena amuk dengan wanita ini? Para karyawannya pun selalu siap sedia dan was-was, jaga-jaga jika Karina datang. 


Hah.


Karina menghembuskan nafas kasar. Karina melepas kacamata hitamnya kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


Mata Karina menatap langit-langit ruangan. Tatapannya sulit untuk diketahui apa artinya.


Jemari kanannya memijat dahi. Wajah lelah begitu jelas terlihat. Karina sedang banyak memikul beban, beban pikiran.


Beban pikiran yang terbesar yakni Enji dan Joya. Karina mengerjap perlahan. 


"Bawa laporan kalian semua!"perintah Karina melalui telepon. 


Tak sampai dua menit, semua karyawan cafe berada di dalam ruangan Karina. Mereka maju satu persatu meletakkan laporan di meja Karina. Wajah mereka sangat tegang melihat wajah dingin Karina dengan mata tajam menusuk.


"Aku sedang kesal, jika laporan kalian menambah kekesalanku, bersiaplah untuk mendapat hukuman!"tegas Karina dengan nada dingin. 


Wajah para karyawan pias. Mereka takut terkena hukuman. Mereka juga tidak menyangka akan menjadi sasaran pelampiasan kekesalan Karina. Mereka berdoa dalam hati agar laporan mereka memuaskan hati Karina.


"Keluarlah. Lanjutkan pekerjaan kalian!"usir Karina dingin.


 Para karyawan itu menunduk hormat kemudian keluar tanpa suara. 


Karina meraih laporan paling atas. Laporan pemasukan. Alis Karina naik turun membaca dan meneliti laporan.


"Naik 10%?"gumam Karina. 


Lumayan.


Karina langsung menandatangi laporan tersebut. Karina lanjut memeriksa laporan yang lain. 


Lumayan.


Setiap laporan ia nilai lumayan, cukup memuaskan hatinya. Karina kembali menghela nafas dengan wajah yang sudah lebih baik.


Karina merenggangkan kedua tangannya kemudian menunduk menatap perutnya. Tangan Karina bergerak mengusap perut dengan bibir melengkung senyum. 


"Kalian sangat pengertian, Star Blue," gumam Karina.


Karina lantas berdiri, berjalan ke arah jendela melihat air mancur yang menyejukkan mata. Karina memegang jeruji besi dengan mata mengikuti air yang jatuh, menciprat ke segala arah.


Karina melihat ke langit ketika rintik hujan turun. Padahal saat ia masuk ke dalam cafe tadi cuaca begitu terik. Sekarang cuaca berubah mendung dengan angin yang bertiup pelan membawa hawa dingin.


Alam pun tahu aku sedang gundah, kekeh Karina dalam hati, menarik senyum miring.


Karina menoleh ke arah meja ketika mendengar nada dering handphone. Karina melangkah, mengambil handphone di dalam tas.


"Darwis?"gumam Karina. 


Apa ada hubungannya dengan Joya?


Karina langsung menjawab panggilan tersebut. Sejak kemarin memang ia merasa cemas dengan Joya, tapi Karina tidak ada waktu untuk menanyakannya. 


"Ada apa?"tanya Karina.


"Karina … aku harus bagaimana?"jawab Darwis melemparkan pertanyaan yang Karina tidak tahu jawabannya.


"Apa yang terjadi? Ada hubungannya dengan Joya?"


 Karina mengeryit dengan nada bicara Darwis yang terdengar sangat tertekan.

__ADS_1


"Kondisi Joya semakin menurun. Dokter mengatakan bahwa hampir semua organnya sudah terkena efek penyakitnya. Dokter khawatir jika Joya tidak segera melahirkan, anak kami juga akan terkena efek kanker. Aku harus bagaimana Karina? Aku bingung. Aku tidak tahu harus mengambil keputusan apa," aduh Darwis dengan nada bergetar.


Karina terdiam. Matanya bergerak tidak teratur, sudut hatinya sakit untuk Joya. 


"Bagaimana keadaan Joya sekarang?"tanya Karina pelan.


"Kondisinya masih sangat lemah. Katanya untuk membuka mata saja berat. Karina, aku sangat menderita melihat penderitaannya," ujar Darwis, kembali mengadu.


"Aku juga sedih untuknya Darwis. Kau harus kuat untuk menguatkan Joya. Di sini aku tengah berjuang untuk kesembuhannya. Katakan padanya untuk bertahan." 


Karina menjeda sejenak ucapannya.


"Hah … aku juga tidak menduga uji coba itu akan gagal. Kau pasti sangat terpukul, bukan?"


Karina terkekeh hambar. 


"Aku akan berusaha sekuatnya. Karina kapan uji coba kedua dilakukan?"tanya Darwis.


"Dalam dua hari ke depan. Berdoalah agar kali ini berhasil," jawab Karina.


"Ah ya di mana Joya sekarang? Aku ingin berbicara dengannya," tanya Karina.


"Joya berada di rumah. Aku berada di casino," ujar Darwis. 


Karina langsung mengubah raut wajahnya menjadi kesal.


"Kau meninggalkan Joya sendiri hah?"bentak Karina emosi.


"Bukan begitu maksudku. Dengarkan dulu penjelasanku." 


Darwis sepertinya terkejut dengan reaksi Karina.


"Apa?!"tanya ketus Karina.


"Kondisi Joya sangat lemah. Aku tidak bisa membawanya ke casino. Aku juga tidak bisa bekerja dari rumah terus. Kau tahu kan Satya dan Rian pergi ke Mexico? Casino membutuhkan diriku. Kau tidak perlu khawatir dan marah-marah. Staff medis sedia 24 jam untuk Joya. Ketahuilah Karina, aku juga tidak tenang di sini. Ragaku memang disini, tapi jiwaku melayang di rumah. Ku mohon jangan marah, kau membuatku semakin tertekan," jelas Darwis diakhiri dengan nada memohon.


Karina mengesah pelan. Ia menjadi sensitif mengenai Joya.


"Kapan kau memberitahu Joya mengenai hal ini?"tanya Karina.


"Setelah keadaannya jauh lebih baik dari sekarang," jawab Darwis.


Karina mengangguk.


"Aku belum tahu kabar mereka. Tapi jika sesuai rencana mereka akan kembali sebelum hari pernikahan Satya," jelas Darwis.


"Baiklah. Kau segeralah selesaikan pekerjaanmu. Joya menunggumu di rumah," pesan Karina.


"Ya." 


Panggilan berakhir.


Karina kembali menatap datar ke arah air mancur. 


"Kali harus berhasil!"


Mata Karina berkilat tajam. 


*


*


*


Karina kini dalam perjalanan menuju markas Pedang Biru. Di perjalanan, Karina menghubungi GM Helian untuk meminta penjelasan mengenai penolakan yang dilakukan oleh beberapa investor dan dewan direksi yang berakhir dengan pemblacklistan.


Karina tidak yakin bahwa orang-orang itu berani untuk menolak orang seperti GM Helian. 


Ternyata hal tersebut bisa terjadi karena Helian tidak memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sebagai GM Helian, melainkan sebagai mahasiswa yang baru lulus S 2. Tentu saja hal itu membuatnya diragukan.


Karina tertawa dengan penjelasan Helian. Ditambah dengan penjelasan Helian mengenai ketidakpuasannya terhadap para investor yang terlalu membanggakan diri.


Hah anak ini masih suka bermain-main. Apakah aku perlu mencari pasangan untuknya agar ia lebih serius?


Karina tersenyum misterius, merangkai rencana. Didi merasa merinding dengan aura yang Karina keluarkan.


Siapa kali ini sasarannya?batin Didi penasaran juga was-was.


*


*


*

__ADS_1


Setibanya di markas, Karina kembali menyuruh Didi untuk pulang. Kali ini Didi menurut. Ia juga harus mencari pesanan sang istri. Didi segera berpamitan. Karina duduk sebentar di taman sebelum menuju penjara, ruang penyiksaan.


Masih ada sisa amarah di hati Karina yang harus Karina lampiaskan agar hatinya lega serta tidak menjadi bumerang untuk kesehatannya.


Kini Karina duduk di kursi, di hadapannya duduk seorang pria yang berusia sekitar 40 tahunan. Lebam terdapat di wajah dan kulit yang tidak tertutup oleh kain. 


Karina tersenyum smirk seraya memainkan pisau lipat kesayangannya. Mata pria itu bergerak mengikuti arah mata pisau. Ia menelan ludah, gemetar takut tidak berdaya.


"Am … ampuni aku. Aku mohon," ucapnya terbata. 


Karina tertawa.


Karina hanya bersama dengan seorang penjaga penjaga. Li dan Gerry sibuk dengan pekerjaan, begitu juga dengan Elina. 


"Kau memiliki sangkutan yang banyak denganku. Bukannya membayarnya kau malah melarikan diri. Aku tidak akan mentolerir orang yang lari dari tanggung jawab. Kebetulan aku dalam suasana hati yang buruk, selamat! Kau akan menjadi pelampiasan kemarahanku!"


Tawa Karina menggema. Pria itu berontak, kursi yang ia duduki terbalik, pria itu juga terjatuh. Ia terkapar dengan masih terikat kursi.


Pria ini adalah salah satu konsumen di bidang senjata. Ia memiliki hutang yang cukup banyak dengan Pedang Biru. Biasanya untuk menyelesaikan hal ini bukan bagian dari pekerjaan Karina.


Yang membuat Karina kesal dengan pria ini, bukan hanya tidak membayar, pria ini juga mencelakai orang Karina yang ditugaskan untuk menagih.


 Ya sudah hal biasa, yang hutang lebih galak dari yang memberi utangan.


Karina berdiri. Menendang perut pria tersebut. 


Ahhh ….


Pria itu mengerang sakit. Tendangan Karina sangat menyakitkan.


Karina berjongkok perlahan. Menepuk - nepukkan pisau di pipi pria itu.


"Pipimu sangat mulus. Tapi akan lebih mulus lagi jika berwarna."


Satu goresan tertoreh di pipi. Darah mengalir disertai dengan teriakan kesakitan.


"Diam atau aku akan memotong lidahmu!"


Karina enggan mendengar teriakan kesakitan korbannya. Takut. Pria itu pasti akan mati di tangan Karina. Tapi ancaman Karina membuat pria itu menggigit bibir bawahnya. Karina tersenyum.


"Kau sudah ku beri banyak kesempatan tapi kau malah menyalahgunakan kesempatan itu!"desis Karina kembali menggores pipi pria itu.


"Ah untuk apa aku banyak bicara denganmu?"


Karina menusuk perut pria tersebut. Satu tusukan ia biarkan sejenak. Karina memperhatikan darah yang keluar, membasahi lantai dan pisau.


 Pria itu tetap menggigit bibir merasakan sakit dan perih yang sakitnya tidak terlukis oleh kata-kata.


Pria itu meringis tertahan ketika Karina menarik pisau dan kembali menghujam perut pria itu. 


"Ahhhhhh!!!"


 Pria itu tidak sanggup menahannya lagi. Karina menunjukkan wajah tidak senangnya. 


Karina langsung mencengkeram erat dagu pria itu. Matanya memancarkan niat membunuh yang besar.


"Kau berisik!"gerutu Karina. 


Karina melirik penjaga untuk mendekat. 


"Ampuni aku. Jangan potong lidahku. Ku mohon," pinta pria itu terbata. 


Matanya memerah, tatapan Karina berubah. 


"Ahhhh!" 


Pria itu kembali meringis tertahan ketika Karina menarik pisau.


Jleb.


"Uhhhhh!!"


Mata pria itu terbelalak. Mulutnya terbuka lebar dengan nafas yang tersenggol hebat.


"Mati!"


Pria itu menghembuskan nafas terakhir dengan pisau tertancap di dada menembus jantung. Pria itu tewas dengan bersimbah darah.


Karina mencabut pisau, menatap datar mayat yang masih hangat itu.


"Urus dia!"suruh Karina pada penjaga penjara. 


"Si, Queen!"

__ADS_1


Penjaga tersebut menunduk dalam, tidak berarti menatap wajah Karina. Karina segera meninggalkan ruangan menuju kamarnya. 


__ADS_2