Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 329


__ADS_3

Suasana mencekam menyelimuti ruangan dokter yang menangani Joya. Darwis menatap tajam dokter bernama Bella tersebut. 


Dokter Bella menunduk takut dengan tatapan maut Darwis. 


"Jelaskan!"perintah Darwis dingin.


Dokter Bella tersentak pelan. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan kondisi Joya kepada Darwis.


"Kondisi Nyonya semakin menurun. Saat ini beliau baru saja melewati masa kritis setelah hampir kehilangan nyawa. Tuan, Anda harus cepat mengambil keputusan. Jika Anda setuju untuk melakukan operasi maka saat kondisi Nyonya stabil, kami akan langsung mengoperasi beliau," jelas dokter Bella.


Tidak perlu panjang karena Darwis sebenarnya sudah paham.


"Lantas mengapa dia sempat kehilangan detak jantungnya? Apa yang kalian lakukan di rumah hingga lalai seperti ini?!"


Masih dengan nada dingin. Darwis mengurangi tekanannya terhadap dokter Bella.


"Itu karena Nyonya merasa tidak sanggup untuk menahan rasa sakitnya, Tuan. Rasa sakit yang Anda lihat tidak sebanding dengan rasa sakit yang Nyonya rasakan.


Selain itu, Nyonya memerintahkan semua pelayan termasuk kami untuk menjaga jarak darinya. Ini kesalahan kami, Tuan. Mohon ampuni kami," jelas dokter Bella. 


Dokter Bella turun dari kursinya, membungkuk pada Darwis sebagai bentuk penyesalan.


Darwis mengusap wajahnya kasar.


"Berapa perbandingannya?"tanya Darwis.


Sekarang tidak ada lagi aura mencekam, yang ada adalah suasana kesedihan Darwis. 


"Delapan puluh banding dua puluh persen. Delapan puluh untuk putra Anda sedangkan dua puluh untuk Nyonya, Tuan," jawab dokter Bella.


Darwis terdiam. Perbandingan yang sangat jauh. Tapi Darwis tetap harus mengambil keputusan. Darwis sudah memikirkannya matang-matang. 


"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anakku," ucap Darwis dengan nada lirik tapi masih terdengar oleh dokter Bella.


"Akan kami lakukan yang terbaik, Tuan!"jawab dokter Bella mantap.


Akhirnya … aku mengambil keputusan ini. Semoga ini yang terbaik. Ya Tuhan … aku mohon berikan kesembuhan untuk istriku. Dengarkanlah doa hamba, ya Tuhan, batin Darwis.


...****************...


...****************...


...****************...


"Kenapa kamu murung, Sayang? Apa lagi yang mengganggu dirimu?"


Arion yang baru selesai mandi mendapati Karina menatap ke luar jendela dengan wajah yang terlihat murung dan sedih.


Karina berbalik, menunjukkan mata sayu tampak tidak berdaya. 


"Apakah aku akan kalah dengan waktu?"tanya Karina.


"Waktu?"


"Ah aku tahu. Apakah ini mengenai sepupumu?"


Karina mengangguk pelan.


"Kau sudah berusaha dengan keras. Jangan salahkan dirimu ataupun waktu yang terus berjalan," ujar Arion memegang pundak Karina. 


"Tapi jika aku kalah dengan waktu, biarpun begitu, aku akan tetap menyesal Ar. Apa kau tahu? Sampai sekarang masih ada penyesalan di hatiku kepala keluargaku. Andai saja aku kembali lebih cepat pasti mereka masih ada di sisiku sekarang," ujar Karina lemah, menyandarkan kepalanya di dada Arion. 


Kedua tangan Arion memeluk Karina. 


"Itu bukan salahmu, Sayang. Berhentilah merasa bersalah dan menyesal. Semua sudah menjadi suratan takdir. Ingat ini, yang terpenting bukan hasilnya, tapi jalan dan usahanya. Kau sudah berusaha semaksimal mungkin, jika seandainya itu gagal, maka itu sudah takdir," ujar Arion.


"Kemana Karinaku yang kuat dan tegar? Kemana Karinaku yang dingin dan datar? Kemana Karinaku yang santai dalam situasi apapun?"tanya Arion memberi semangat untuk Karina.


"Aku hanyalah istri yang kini membutuhkan tempat bersandar, Ar. Jadilah tempat bersandarku," jawab Karina.


Arion tersenyum, mengecup pucuk kepala Karina.


"Istirahatlah," ujar Arion melepas pelukan kemudian menggendong Karina ke ranjang. 


Arion Menidurkan Karina dengan lembut kemudian beralih ke sisi ranjang yang kosong. 

__ADS_1


"Tidurlah. Istirahat pikiran dan tubuhmu," suruh Arion.


Mata Karina perlahan terpejam. Arion menghembuskan nafas pelan ketika mendengar dengkuran halus Karina.


Arion menarik selimut hingga sebatas dada untuk Karina. Arion kemudian turun perlahan dari ranjang, bermaksud menutup jendela yang masih terbuka. 


Sebelum menutup jendela, Arion berdiri menatap langit malam. 


"Aku hanya bisa menenangkan dirinya. Kemampuanku masih terbatas untuk membantu Karina. Maafkan aku yang terlalu lemah untukmu, Sayang," gumam Arion dengan tatapan sendu.


Arion tersenyum kecut. Mengurus pekerjaannya saja ia sudah kewalahan bagaimana bisa membantu pekerjaan yang lebih banyak darinya? 


Terlepas dari pekerjaannya dibantu atau tidak, Karina tidak masalah. Yang Karina butuhkan adalah sosok yang menjadi tempatnya bersandar, berbagi kisah, mencintai dirinya dengan berbagai sifat yang sulit diterka, kesetiaan, dan selalu ada untuknya. 


Sebelum bertemu dengan Arion, Karina sudah memilikinya. Dia adalah sang penguasa semesta yang kekal abadi. Yang berbeda hanyalah Tuhan sebagai tempat bersujud sedangkan Arion sebagai tempat bersandar.


Setelah menghabiskan setengah batang rokok, Arion mematikan rokok kemudian menyimpannya. Arion lantas segera menutup jendela dan melangkah menuju kamar mandi.


Arion keluar dengan wajah yang sudah fresh dan nafas yang segar. Arion kemudian menyusul Karina yang sudah tertidur nyenyak.


...****************...


...****************...


...****************...


Walaupun kediaman masih terguncang dengan kondisi Joya, Rian harus tetap menjalankan misinya. Saat matahari terbit, Rian diantar oleh Satya menuju bandara. 


Setibanya di bandara, Satya mengantar Rian sampai ke pesawat pribadi mereka. Sebelum naik, Satya merapikan kerah baju Rian yang wajahnya menunjukkan ekspresi tidak nyaman, bukan pada Satya tapi pada misinya.


Ternyata yang pergi untuk menarik lawan mereka yang merupakan seorang gay bukankah Satya melainkan Rian. Dari awal sudah tertebak. Satya mempunyai bola mata berwarna emerald. Darwis berwarna hitam sedangkan Rianlah yang berwarna coklat.


Saat mengetahui dirinya yang dijadikan umpan, Rian jatuh pingsan dan baru sadar saat pagi. Rian kala itu mengamuk dan menolak dengan tegas. 


Membayangkannya saja sudah merinding apalagi harus melakukannya secara nyata? 


Tapi bujuk rayu Satya dan Darwis berhasil membuat Rian menyerah. Dengan wajah yang sangat terpaksa Rian setuju untuk dijadikan umpan untuk masuk ke wilayah kartel narkoba tersebut.


"Jaga dirimu baik-baik di sana. Pikat pemimpin itu dengan pesonamu. Satu lagi aktingmu jangan kaku, berusahalah untuk bersikap senatural mungkin. Kami bergantung padamu," ucap Satya tersenyum seraya menepuk bahu Rian.


"Aku tahu!"sahut kesal Rian.


"Ayolah. Jangan kesal. Ini adalah jalan yang terbaik," ucap Satya menusuk perut Rian dengan jari tengahnya yang membuat Rian terperanjat kaget dan mundur ke belakang.


"Aihs … masih kaku," komentar Satya menggeleng.


"Enyah kau! Jangan pernah menyentuhku diam-diam!"seru Rian menatap tajam Satya.


"Reaksi macam apa itu? Harusnya kau tersipu malu bukan marah," ledek Satya tanpa takut dengan tatapan Rian.


"Malu-malu matamu! Pergi kau! Kau membuatku semakin kesal!"seru Rian lagi dengan wajah yang memerah kesal.


Rian lantas menarik kopernya naik ke pesawat.


"Sialan!"gerutu Rian dengan nada keras sehingga Satya yang berada di bawah mendengarnya.


Satya terkekeh pelan. Sekitar lima menit kemudian, pesawat yang tulisan di badannya adalah nama salah satu maskapai penerbangan milik Karina lepas landas menuju Mexico. Satya melambaikan tangannya.


"Good luck, Rian," gumam Satya.


Satya bergegas masuk ke dalam mobil, meninggalkan bandara menuju kasino.


8


8


8


Keesokan paginya, barulah Rian tiba di Mexico. Perjalanan yang memakan waktu hampir satu hari satu malam itu membuat tubuh Rian terasa lemas tak bertulang. 


Dengan lesu, Rian menyeret kaki dan kopernya keluar dari bandara. Kini Rian berada di kota Los Cabos, kota yang dicap sebagai kota paling berbahaya di dunia. Rian mencari taksi untuk mengantarnya ke restoran. Rian bosan dengan makanan pesawat, Rian ingin menu sarapan khas negara ini. 


Rian berhenti di salah satu restoran yang cukup mewah. Senyum Rian mengembang menatap pintu masuk restoran. 


Satya menarik koper masuk ke dalam restoran. Memilih meja paling sudut agar tidak menjadi pusat perhatian karena ketampanannya. Rian ingin menikmati sarapan tanpa tatapan kagum dan lapar wanita yang terjerat oleh wajahnya.

__ADS_1


Rian memesan tiga menu, yakni chilaquiles, molletes, dan enchiladas. Rian memakai napkin, memegang sendok dan garpu. Rian tidak sabar menikmati hidangan di hadapannya.


Sekitar lima belas menit kemudian, semua makanan di atas meja berpindah tempat menjadi di lambung Rian. Rian bersendawa kecil seraya mengusap perut yang kenyang. Suasana hati Rian membaik berikut dengan pikirannya yang sudah tertuju pada misinya.


Tatapan Rian yang semula malas berubah menjadi serius. Rian mengecek handphone. 


Rian menoleh ke arah pintu masuk begitu banyak pria berpakaian hitam bak mafia masuk ke dalam restoran yang membuat para pengunjung merasa takut. Rian mengeryit dalam kala sepasang kaki jenjang masuk dengan angkuh lengkap dengan cerutu di tangan. 


Rian tersenyum tipis saat tahu siapa pelanggan spesial yang membuat restoran kocar-kacir menyambut pelanggan tersebut. 


"Ti ho preso, Abraxas!"gumam lirik Rian, tetap santai pada tempatnya. 


Rian kembali tenggelam dalam handphone, ya apalagi kalau bukan bermain media sosial. Mengupload foto sarapan yang baru saja ia santap ke instagram pribadinya.


Rian hanya menambahkan 'delicious' sebagai caption. Baru beberapa detik ia posting, ada sebuah pesan yang masuk.


Kerja bukan makan!


Pesan dari Satya yang membuat Rian berdecak sebal.


Kerja juga butuh makan!


Rian membalasnya. Hanya dibaca tanpa dibalas, ah hanya dibalas jempol oleh Satya.


"Eh, tú!" 


Rian mendongak ketika ia dikelilingi oleh pria-pria berbaju hitam tadi. Pria yang memegang cerutu itu kini berdiri di depannya. Berdiri angkuh membuat kesan berkuasa. 


Rian hanya menujukkan wajah bertanya. Ia sebenarnya mengerti bahasa spanyol, tapi Rian tidak ingin menggunakannya.


Tiba-tiba saja Rian ditodongkan pistol tepat di belakang kepala. Refleks Rian mengangkat kedua tangannya. Para pelanggan lain menahan nafas dan menunduk dalam.


"What is this?"


"This my table!"jawab pria yang bernama Abraxas itu.


"It's your table? Really?"tanya Rian santai.


"Please get this gun off me," ujar Satya dengan nada tegas.


Mata Abraxas melirik pengawalnya untuk menurunkan senjata.


"Are you a tourist?"tanya Abraxas, berubah menjadi sedikit ramah setelah melihat koper Rian.


"Yes. I'm come from Asia," jawab Rian, menjadi ramah.


Abraxas kemudian menarik kursi yang berada di depan Rian, menatap Rian dengan tatapan yang sudah menunjukkan ketertarikan.


"¡Interesante!," gumam Abraxas. 


Rian mengangkat alisnya sedikit.


Menarik?


"Aren't you afraid of guns? Who are you?"tanya Abraxas lagi, mengorek siapa Rian.


"I am scared. I just cover my fear with my calm," jawab Rian santai. 


Abraxas mengangguk mengerti.


"Ah I have to go. See you next time."


Rian langsung berdiri dan menarik koper. Rian pergi tanpa berbalik menatap Abraxas. Abraxas sendiri menatap lekat Rian dengan senyum lebar.


"Ella es perfecta," gumam Abraxas lagi.


Hatinya tersentuh dengan kalimat see you next time yang Rian sampaikan.


"See you next time too."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2