
Suasana sore yang menenangkan di kota Seoul. Dari jendela apartemen Arion, Amri menatap megahnya kota Seoul, silau kemilau cahaya yang memantul di jendela menahan kesan megahnya. Sungai Han membentang dengan beragam aktivitas di atasnya. Apartemen Karina dan Arion yang satu tempat hanya berbeda tower, sangat dekat dengan sungai Han.
Amri menghela nafas panjang kemudian melangkahkan kakinya mendekati Maria yang sedang memasukkan barang mereka ke dalam koper. Amri memeluk Maria dari belakang, membuat Maria menghentikan kegiatannya sejenak dan melirik sang suami.
Alia sendiri memainkan mainannya di kursi bayinya. Tampak bahagia dengan senyum manisnya. Maria memejamkan matanya saat merasakan deru nafas di telinganya merambah hingga ke pipi, kedua tangan Amri melingkar hangat di perutnya.
"Pa," panggil Maria berbisik.
"Hm," sahut Amri yang kini menangkupkan rahangnya di pundak Maria.
"Geli," ujar Maria.
"Tapi Mama suka kan?"tanya Amri. Ya, anggap saja mereka kemari untuk honeymoon setelah berziarah. Jujur saja, ada sedikit harapan di hati Amri agar Maria kembali mengandung buah hati mereka.
"Hm, ada Alia," peringat Maria menatap Alia yang tertawa menunjukkan satu giginya yang baru saja tumbuh. Balita itu tampaknya sudah biasa dengan kemesraan Amri dan Maria, bahkan saat mau tidur pun ia harus terganggu dengan suara berisik Amri dan Maria.
"Papa tahu. Cuma peluk kok," sahut Amri mengecup pipi Maria. Wajah Maria memanas dan menimbulkan rona merah. Amri malah tersenyum penuh kemenangan lalu melepas pelukannya.
Maria, sorot matanya terlihat ada kekecewaan, mau tapi malu.
"Sudah, masih ada banyak waktu. Mama ini malu-malu tapi mau. Sudah siap kan packingnya?" ujar Amri mengedarkan pandangannya ke ranjang.
"Sudah, Papa mah telat mau bantuin Mama, basa-basi doang," sungut Maria kesal. Amri hanya tertawa sembari menutup koper. Keduanya lantas mendekati Alia. Amri mengangkat Alia dan tersenyum. Alia tertawa dengan nada khasnya.
"Uluh-uluh adik siapa sih si cantik ini? Hm adik siapa?" tanya Amri menyatukan dahinya dengan dahi Alia.
"Adik Abang Amri dong," sahut Maria dengan nada anak kecilnya.
"Oh, adik Abang ya? Mau enggak jadi anak saja?" lakar Amri yang mendapat capitan kepiting di pinggangnya. Amri mengaduh sakit dengan wajah kesakitannya. Maria acuh dan memilih ke luar kamar. Amri menyusul setelah rasa sakitnya mereda. Amri menemukan Maria tengah membuat susu untuk Alia.
"Abang juga mau dong." Maria menatap tajam Amri.
"Buat sendiri, kalau enggak minta sama sapinya sana," ketus Maria sembari mengocok botol susu Alia.
"Kan Mama sapinya," balas Amri enteng dan kembali mendapat hadiah sendal melayang yang mengenai lukisan vas bunga di belakangnya, untung sigap kalau tidak dia atau Alia bisa celaka. Alia tampak terdiam, matanya mulai berkaca-kaca dan bersiap untuk hujan dengan intensitas sedang.
Saat Amri masih menghela nafas, Alia lepas dari gendongannya dan masuk ke gendongan Maria.
"Dasar mesum! Hubungi sana pilotnya, kita kembali malam ini. Lusa Karina dan Arion sudah peletakan batu pertama, belum lagi agenda lain," ucap Maria dengan nada galaknya.
"Iya-iya!" sahut Amri. Merogoh gawai pintar di saku celananya.
*
*
*
Malamnya, setelah mereka melaksanakan salat Isya dan makan malam, Amri dan Maria bergegas menuju bandara kota Seoul. Sepanjang jalan menuju bandara, Amri menceritakan kesedihannya mengenai sahabat lama yang ingin mereka temui. Nyatanya, mereka berhasil menemukan alamat rumah sahabat mereka akan tetapi yang mereka temui hanyalah anak-anak dari sahabat mereka.
"Papa masih enggak nyangka, Han dan Mina pergi secepat itu. Papa kira mereka akan panjang umur," tutur Amri.
__ADS_1
"Namanya juga ajal Pa, siapa yang tahu? Mama juga masih kaget. Tapi, ya mau bagaimana lagi? Tidak semua keinginan bisa tercapai, contohnya kita ini. Nasib baik bisa bertemu dengan anak-anak mereka," ujar Maria menatap Amri dengan tersenyum manis. Amri menghembuskan nafas kasar dan ikut tersenyum.
"Ya, Papa tahu," ucap Amri mengusap rambut Maria.
"Ah ya buah tangan untuk orang rumah Mama bawa kan? Enggak kelupaan kan?" seru Amri mengingatkan. Maria berdecak sebal dan menepuk dahi Amri.
"Papa kira Mama pelupa kayak Papa? Sampai harga dan nama tokonya saja Mama masih ingat, jangan pernah Papa meragukan ingatan seorang wanita!" ketus Maria. Amri mengusap dahinya yang memerah dan menatap cemberut Maria.
"Apa? Mau digunting tuh bibir maju lima senti?" ketus Maria lagi, Amri mendengus lalu mendaratkan wajahnya, sopir yang bertugas mengantar mereka ke bandara pun mendengus senyum mendengar keributan di belakangnya. Di saat begitu, tawa mengejek dari Alia lah yang terdengar. Amri tersenyum tipis, sedangkan Maria langsung menciumi pucuk kepala Alia.
Amri dan Maria selama di sini juga menyempatkan diri untuk mampir dan bertemu dengan ketujuh pemuda yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri, siapa lagi kalau bukan Sky Boys, ke sepuluh orang itu menghabiskan waktu sore bersama kemarin lusa.
Tepat pukul 09.00, pesawat keluarga Wijaya resmi take off menuju negara Y kota S. Maria menatap kota Seoul dari jendela, gemerlap cahaya yang menjadi suatu icon menarik bagi setiap kota. Alia sudah tertidur di dalam dekapannya. Mereka memutuskan untuk beristirahat menunggu pendaratan.
*
*
*
Karina melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, ya tengah hati yang cerah. Dengan segera ia menutup laptop dan bergegas keluar ruangan, tak lupa tas selempangnya ia kenakan manis.
Gesekan antara alas kaki dan lantai keramik membuat keempat wanita yang hanya terpaut beberapa tahun itu mengangkat pandangan mereka. Karina kini berdiri di antara meja kerja mereka.
"Tidak ke kantin?" tanya Karina datar menatap datar ke empat wanita tersebut.
"Sebentar lagi, Nona. Ada satu lagi yang belum selesai, nanggung," jawab Lila yang siang buku Raina, Aleza dan Sasha.
"Nona, Anda ingin kemana?" tanya Raina penasaran.
"Cafe," jawab singkat Karina langsung menuju lift setelah menyimpan handphone-nya. Lila, Raina, Sasha dan Aleza saling tatap dengan wajah datar, keempatnya serentak mengangkat bahu sudah tahu sikap Karina.
Keempatnya lalu segera menyiapkan pekerjaan mereka sebelum menuju kantin. Sepuluh menit kemudian, Sasha dan Aleza merenggangkan tubuh mereka lalu beranjak menuju meja Raina dan Lila.
"Kami duluan ya, tenang kami pesankan kok," ujar Aleza, Lila dan Raina saling lirik dan mengangguk.
"Yang biasakan?" tanya Sasha.
Lila mengangguk sedangkan Raina m
menggeleng.
"Aku ingin sup iga sama sate. Ambilkan ya," ujar Raina.
"Sip, gampang itu." Aleza menaikkan kedua ibu jarinya lalu merangkul Aleza turun menuju kantin.
Sepeninggalannya Aleza dan Sasha, Raina menutup laptopnya lalu menatap Lila. Menyadari dirinya ditatap, Lila menghentikan aktivitasnya dan menatap balik Raina.
"Ada apa?" tanya Lila bingung.
"Sepertinya Nona ada keperluan lain deh, enggak biasanya dia ke cafe setelah dari perusahaan. Biasanya kan Nona kalau perusahaan, perusahaan saja, kalau cafe yang cafe saja. Ada apa ya kira-kira?" Raina mengeluarkan keheranannya.
__ADS_1
"Mungkin urusan lain yang berkaitan dengan cafe. Loe lihat enggak tadi wajah Nona setelah melihat handphone, ada kerutan di dahinya artinya hal serius, loe kayak enggak tahu Nona saja, dia itu tetap misterius," sahut Lila santai menutup laptopnya.
"Bisa jadi sih, ah loe benar. Pusing sendiri gue mikirin urusan Nona, kantin yuk Baby gue sudah minta asupan gizi," ucap Raina yang akhirnya tidak mau ambil pusing. Lila mengangguk dan segera melangkahkan kaki mengikuti Raina yang jalan duluan.
*
*
*
Saat azan Zuhur melingkupi seluruh area sekolah, Bayu diikuti teman-temannya yang beragama islam baik pria maupun wanita bergegas menuju masjid sekolah untuk melaksanakan salat berjamaah.
Yang tinggal hanyalah murid yang beragama non muslim. Di sekolah dengan Karina sebagai pemiliknya ini memang punya peraturan wajib yakni, setiap murid yang beragama muslim, baik pria dan wanita kecuali yang berhalangan diwajibkan untuk salat, begitupun dengan pengantarnya.
Peraturan ini sudah dijelaskan sejak para murid mendaftar di sekolah ini dan sudah menjadi rahasia umum. Pembullyan pun menjadi hal paling terlarang di sini, jika ketahuan resikonya adalah dikeluarkan dan tidak akan diterima di sekolah manapun. Jadi, para murid harus pandai menjaga tingkah laku mereka. Hampir keseluruhan wali murid pun pro dengan peraturan ini.
Tak kecuali Lia, gadis kecil itu tampak bersinar dengan air wudhu di wajahnya. Ia segera masuk dan mengenakan mukena.
Bayu, pemuda cilik itu diam-diam menatap Lia saat Lia melangkah masuk ke dalam masjid. Seulas senyum tipis Bayu sunggingkan. Gadis kecil itu agaknya sudah berubah haluan dalam mengejarnya, setahun mengejarnya, agaknya Lia paham bahwa Bayu tidak akan pernah melirik semua yang mendekatinya dengan jalur harta, Bayu hanya memandang sikap, kepribadian, dan bakat sebagai nilai plus.
"Hei Yu, kesambet kamu di sana? Ayo masuk, sudah iqamah loe," panggil rekannya. Bayu tersentak dan segera masuk, mengambil shaf dan segera melaksanakan salat berjamaah.
Kalau kamu tidak bisa ku raih dengan harta, maka aku akan meraihmu dengan doa. Bayu, percayalah, aku benar-benar mencintaimu, batin Alia.
*
*
*
Kini Karina tiba di Cold Cafe, segera ia melangkah masuk setelah Pak Anton membukakan pintu untuknya. Para karyawannya menunduk dan menyambut hormat dirinya, Karina hanya mengangguk. Karina mengedarkan pandangannya. Di sudut ruangan, Gerry terlihat mengaduk-aduk minumannya dengan mata yang menatap lesu. Karina melangkahkan kakinya dan duduk di kursi depan Gerry.
"Hei," sentak Karina, Gerry tampak terkejut dan hampir menumpahkan minumannya. Karina tersenyum tipis melihat wajah kesal Gerry.
"Kau ini!" keluh Gerry memperbaiki tampilannya.
"Apa masalahnya? Bukankah Mira sudah menerima lamaranmu?" tanya Karina to the point.
"Ya, restu lah. Memangnya nyaman nikah tanpa restu. Kawin lari dong," sahut Gerry. Karina menatap tajam Gerry.
"Sepertinya kau terlalu santai saat mendapat izin menjadi kakakku ya?" ucap Karina dingin, Gerry menelan ludah takut dengan tatapan tajam Karina seolah dia adalah mangsa.
"Hehehe, sorry. Jangan bawa perasaan dong. Bercanda," ucap Gerry cengengesan. Karina mendengus dan menjentikkan jarinya memanggil pelayan dan memesan makan siang.
"Ehem, seperti yang Anda ketahui, sekarang Mira sudah menerima lamaran saya, artinya Mira sekarang tunangan saya. Akan tetapi, saya butuh bantuan Anda untuk mendapatkan izin dari ayah mertua. Untuk detailnya saya kira Anda sudah paham, bahkan lebih paham dari saya. Dan saya juga mendengar dari Li bahwa Satya juga mengenal Mira dan menyimpan rasa untuk Mira, Anda tidak mau kan kami terpecah hanya karena wanita? Selain itu, saya juga ingin Anda agar menyadarkan ayah mertua Mira, kasihan jenderal itu," terang Gerry panjang lebar.
Karina tampak menaikkan satu alisnya sembari menyeruput jus kiwinya, tatapan matanya seperti tatapan mengejek Gerry. Gerry, ya menatap Karina penuh harap.
"Apa kau seorang pria?" tanya Karina dingin.
"Pasti, memangnya aku banci apa?" jawab Gerry dengan kernyitan di dahinya.
__ADS_1