Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 290


__ADS_3

Setibanya di depan pintu masuk laboratorium, Karina langsung membuka pintu. Setelah melakukan serangkain tes keamanan, akhirnya pintu terbuka otomatis. Karina masuk diikuti oleh Bayu dan Syaka.


Kedua pemuda cilik itu masuk dengan perasaan ragu dan penasaran. Takut tapi tidak ingin berpaling, keduanya takjub dengan isi laboratorium pribadi Karina ini. Sedangkan Li, wajahnya tampak sangat ragu, takut, dan tegang.


Ia mengingat kejadian waktu ia menerima hukuman dari Karina. Rasa trauma masih melekat. Li bahkan sampai berkeringat dingin, bulir keringat terlihat jelas di pelipis.


Kedua tangan menyatu, tatapan mata lurus menatap laboratorium. Kini di pelupuk matanya, terlintas detik - detik ia pingsan lalu bangun dengan kondisi yang tidak sempurna. 


"Hei! Mengapa kau tidak masuk? Haruskah aku menarikmu?"sentak Karina dengan nada galaknya.


Karina menatap Li tajam dengan jarum di tangan. Mata Li membulat, tak lama ia tersadar.


"Kau takut?"ledek Karina dengan tersenyum smirk.


Sedangkan Bayu dan Syaka hanya melirik sekilas, tapi Li menangkap senyum meledak dari keduanya. Li kesal. 


Ayo lah Li! Masa' kau kalah dari dua anak ingusan itu?batin Li.


Li menelan ludah kasar. Ia berusaha menguatkan hati. Melangkah satu langkah, tangannya memegang bingkai pintu. Masih ragu.


"Ayo masuk Li. Aku tidak akan membuatmu tidak bangun kok. Hanya memeriksa saja," ucap Karina.


Li terkesiap.


"Hanya memeriksa? Anda tidak mungkin ingin?"


Jantung Li berdebar kencang dengan tatapan bingung. Karina malah tersenyum menggoda.


"Kalau iya kenapa? Kau takut Elina marah?"sahut Karina, berbalik menghadap rak dan mengambil cotton bud. 


"Bukan begitu. Ah itu salah satunya. Akan sangat tidak terpuji jika Anda melihat privasi saya, saya mohon Queen, jangan ya, please. Terlebih Anda sudah menikah. Mengapa Anda tidak memeriksa punya suami Anda saja? Itu lebih baik dan tidak melanggar apapun," oceh Li pelan.


Alis Karina terangkat. 


"Aku berubah pikiran," ucap Karina.


"Hah? Apa?"


"Sepertinya aku harus membuatmu tidak bangun lagi agar kau tidak banyak bicara!"ucap Karina dingin lengkap dengan senyum smirk.


Refleks, Li langsung masuk dan berlutut di hadapan Karina. Syaka dan Bayu kembali menoleh, mereka bingung dengan pembicaraan Karina dan Li. 


"Tidak bangun lagi, apa Queen mau membuat Tuan Li koma?"bisik Syaka pada Bayu.


"Ku rasa lebih tepat mati. Tidak bangun lagi, mati kan?"balas Bayu, berbisik juga.


"Mungkin."


Bayu dan Syaka kembali melihat adegan selanjutnya.


Li menangkupkan kedua tangan di dada dengan mata memohon pada Karina. 


"Queen jika saya tidak bangun lagi bagaimana dengan Elina? Anda tahu kan bagaimana perasaan seorang istri jika suami tidak mampu memenuhi kewajiban batin?"


"Gampang, Eli tinggal cari pria lain," sahut Karina santai.


"Huah. Anda tega sekali Queen. Lebih baik saya mati daripada melihat Eli bersama pria lain."


Li meraung. 


"Ya sudah mati sana," balas acuh Karina.


Li terdiam langsung, matanya yang memerah menatap Karina tidak percaya.


"Anda serius?"


"Menurutmu?"


Karina tersenyum. Li menunggu tidak sabar.


"Menurutku yang mau ditidak bangunkan adalah alat vitalnya Tuan Li, itu nya laki-laki," bisik Syaka lagi pada Bayu.


Kali ini Bayu mengangguk menyetujui.


"Ternyata Kakakku sadis juga ya?"gumam Bayu seakan baru tahu.


"Loh kamu adiknya kok tidak tahu, dia kan malaikat berwajah dua," cibir Syaka menyilangkan kedua tangan di dada.


"Aku tahu. Hm ngomong - ngomong kamu sudah puber belum?"tanya Bayu penasaran.


Bayu memang penasaran, ia rasa jika bertanya pada Syaka, akan lebih mudah mendapat jawaban ketimbang bertanya pada Enji, Arion, ataupun Amri. Syaka tertegun, tak lama mengubah raut wajahnya menjadi kesal.


"Apa pantas kamu menanyakan hal itu?"ketus Syaka.


"Pantas! Aku kan hanya tanya, mau dijawab atau tidak bukan urusanku," sahut Bayu.


"Oooo kamu belum puber ya? Terlambat?"terka Bayu.


"Sembarangan!"bentak Syaka.


Karina melirik, Syaka langsung menghela nafas. 


"Jadi?"


Walaupun katanya dijawab atau tidak bukan urusannya, Bayu tetap mendesak Syaka agar menjawab pertanyaannya.


"Jelas sudahlah!"jawab ketus Syaka.


Bayu mangut-mangut paham.


"Sudah mimpi basah?"


Pertanyaan kedua membuat Syaka semakin kesal. Bagaimana bisa Bayu menanyakan dua hal yang sangat privasi baginya? Malah mendesak lagi, jika tidak segera dijawab pasti akan melebar kemana-mana.


"Menurutmu?"balas Syaka.


"Sudah. Dengan siapa?"


Kini wajah Syaka sedikit merona. Ia terlihat sedikit gugup. Bayu tersenyum tipis.


"Jangan malu, aku kan hanya bertanya, toh aku juga akan mengalaminya," ujar Bayu.


"Jelas wanitalah!"jawab kesal Syaka.


"Ooh mana tahu dengan pria," ledek Bayu dengan ringannya.

__ADS_1


"Kau kira aku bermasalah hah?"bentak Syaka lagi.


Ia sungguh emosi. Urat leher menegang.


"Berisik!"bentak Karina terganggu dengan Bayu dan Syaka.


Kedua pemuda itu langsung menyusut takut.


"Mana tahu," jawab Bayu berbisik.


Syaka mengepalkan kedua tangan serta memejamkan mata. Dalam dua kali gelaran nafas, Syaka menginjak kuat kaki Bayu. Bayu langsung berteriak sakit.


Karina kembali melihat dengan wajah kesal. 


"Sudah ku bilang diam! Kalian berdua tuli hah?"geram Karina. 


"Maaf," ucap keduanya serentak dengan wajah pias.


Menunduk, menyembunyikan wajah mereka dari Karina. Karina mendengus lalu kembali fokus pada Li. 


"Berdirilah!"


Li langsung berdiri seusai Karina bertitah.


"Sulit untuk membedakan Anda bercanda atau tidak," tutur Li setelah Karina mengatakan hal itu hanyalah candaan.


Baginya candaan antara hidup dan mati. Karina terkekeh. 


"Aku tidak ingin kehilangan orang terdekatku. Terlebih Elina sedang hamil. Aku tidak ingin memancing permusuhan dengan rekan sendiri," kekeh Karina.


 Li tersenyum canggung, ia menggaruk kepala.


Candaan ya candaan  tapi sorot matanya beneran, batin Li.


"Kalian …."


Karina berpaling menatap Bayu dan Syaka. Seketika perasaan yang sudah lega kembali tegang. 


"Cuci tangan dulu lalu duduk di sana! Kau juga Li!"suruh Karina menunjuk tempat cuci tangan serta tempat duduk di dekat sudut ruangan. Ketiganya mengangguk.


"Kau tahu rasanya sunat?"tanya Syaka pada Bayu.


Li yang mendengar menoleh sekilas lengkap dengan keryitan dahi. 


Apa yang kedua anak ini bicarakan?tanya Li dalam hati.


Fokus pada tangan yang ia cuci tapi telinga mencuri dengar.


"Seperti digigit tikus," jawab Bayu asal.


Mata Li membulat.


Sejak kapan sunat seperti igigit tikus? Rabies dong?


"Salah. Seperti digigit semut," ralat Syaka.


"Benarkah? Apa rasa digunting seperti digigit semut?"tanya Bayu tidak percaya.


"Kan dibius," sahut Syaka.


"Kalau seperti digigit semut apa Paman Li mau sunat untuk yang kedua kalinya?"


Bayu menatap Li. Li yang masih mencuci tangan, menoleh sekilas dengan sedikit kerutan di dahi. 


"Apa Paman mau disunat untuk yang kedua kalinya?"tanya Bayu, mengulang sekali lagi.


"Untuk apa ada yang kedua jika satu saja sudah cukup?"


Syaka menjawab. 


"Ya benar! Sekali saja sudah cukup!"timpal Li.


"Begitukah?"


Bayu menyipit.


"Ya … ya benar!"


Li dan Syaka mengangguk serentak. Rasa penasaran Bayu sangatlah besar dan sedikit di luar jalur.


"Apa kau suka sabun?"


Bayu menatap Syaka, kembali menyampaikan pertanyaan yang aneh.


Astaga … pembicaraan mereka terlalu … terbuka.


Li yang sudah selesai beranjak duluan.


"Maksudmu?"


"Ya itu,"


"Itu?"


"Hm. Kau sudah puber masa' tidak tahu itu."


Dahi Syaka mengeryit sejenak. 


"Maksudmu itu?"


Syaka melebarkan kedua matanya. Bayu mengangguk.


"Tidak!"jawab Syaka tegas.


Tapi tatapan mata dan mimik wajah tidak demikian. 


"Ya sudah. Jadi jika kau ulang tahun atau ada perayaan untukmu aku akan memberikan sabun," ucap santai Bayu, melangkah pergi dari tempat cuci tangan.


"Sudah ku bilang tidak!"pekik Syaka.


Bayu tidak peduli. Syaka menyusul setelah mengatur emosinya.


Li duduk di antara Bayu dan Syaka untuk mencegah pembicaraan yang tidak bermanfaat. Karina yang sudah siap dengan peralatannya mulai mengambil sampel darah dan air liur Li, Syaka, serta Bayu.


Bayu meringis saat ujung jarum menusuk ujung jari tengah untuk mengambil darahnya. Syaka tersenyum meledek.

__ADS_1


Setelah usai, Karina meneliti dan memeriksa darah dan air liur ketiganya. 


"Bayu, aku sarankan agar kamu bertindak dan berpikir layaknya anak usia delapan tahun. Terlalu dewasa di usia dini tidak terlalu bagus. Otakmu akan terbebani dengan hal - hal yang seharusnya menjadi pemikiran orang dewasa," saran Syaka dengan suara datar tanpa menatap Bayu.


Bayu yang sedang berselancar ria di media sosial miliknya memalingkan wajah menatap Syaka.


"Ada urusannya denganmu?"ketus Bayu dengan wajah jutek.


"Otak otakku, pemikiran pemikiranku, mengapa kamu yang cemas?"lanjut Bayu tetap dengan nada ketus.


"Hanya saran," sahut Syaka datar juga.


"Lebih baik kamu jaga diri dariku. Aku belum membuat perhitungan terhadap dirimu mengenai lukisanku tadi!"saran sekaligus ancam Bayu.


"Aku tidak takut!"


"Sudah! Kalian diam bisa enggak? Nyawa sudah di ujung tanduk masih sempat bertengkar? Gara - gara kalian aku pun kena imbasnya!"tegas Li, menjewer telinga Syaka dan Bayu.


"Aduhduduuuh …."


"Ahhhh … lepas Paman. Telingaku bisa lepas!"keluh Bayu memegang tangan Li yang menjewer telinganya.


"Benar Tuan. Auh … saya tidak sengaja Tuan. Lepaskan lah Tuan. Sakit sekali," timpal Syaka.


"Biarkan putus! Punya telinga tapi tidak bisa mendengar. Telingaku saja sakit mendengar ocehan tidak berguna kalian! Seharusnya mulut kalian juga dijahit. Dasar mulut bebek!"ketus Li, melepas kasar jewerannya.


Li mendengus senyum saat kedua pemuda itu diam walaupun masih ada pertentangan jalur isyarat tapi setidaknya tidak menganggu dirinya.


Yakin mau menyatukan mereka?gumam Li dalam hati.


*


*


*


Karina mendengus kasar melihat hasil pemeriksaan. Ternyata hasilnya berbeda dari yang ia pikirkan. Berkali-kali ia memastikan barangkali ada kesalahan. Nyatanya tetap sama saja. 


Dengan langkah kesal, Karina berjalan menuju rak-rak besar yang berisi aneka ragam kotak serta alat lab yang berukuran mini. 


Karina menyentuh tangkai kacamata yang ia gunakan, mencari apa yang ia butuhkan di jajaran rak tersebut. 


Li sibuk memperhatikan gerak-gerik Karina. Sedangkan dua pemuda itu sibuk dengan dunia mereka sendiri.


Bayu dengan handphonenya sedangkan Syaka dengan buku yang ada di atas meja dekat dengannya duduk.


Setelah beberapa saat mencari akhirnya Karina menemukan apa yang ia butuhkan. Sebuah botol kecil berwarna putih susu ia ambil, Karina melangkah menghampiri Li, Bayu dan Syaka.


"Minum pil ini setiap satu jam sekali, total pil di sini ada 18, ambil masing-masing 6 butir!"perintah Karina, menyodorkan botol pil itu pada Li.


Li mengangguk dan segera membukanya. Aroma herbal serta mint langsung tercium, terasa menyegarkan. Li segera mengambil pil sesuai dengan jumlah yang Karina suruh. Setelah selesai barulah giliran Bayu disusul oleh Syaka.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Queen?"tanya Li, masih penasaran.


"Minum dulu pil itu! Jika tidak dalam lima menit kedepan jantungmu akan berhenti berdetak!"sahut Karina, duduk di kursi miliknya.


"Baiklah."


Li segera meminum satu pil tersebut. 


Rasanya, pahit sedikit pedas. 


"Racun kah Kak?"tanya Bayu.


Karina mengangguk.


Serentak, ketiga orang itu membulatkan mata. Walaupun sudah tertebak oleh hati dan pikiran tetap saja kaget.


"Racun apa? Dari mana asalnya? Apa dari bunga - bunga itu? Tapi aku kok enggak kenapa-kenapa selama di taman tadi? Padahal sudah hampir dua jam aku di sana! Kak kau bercanda kan?"


Bayu nyerocos, ia meminta jawaban. Karina menghela nafas panjang.


"Dua jam? Kau di sana selama dua jam? Apa yang kamu lakukan di perpustakaan selama itu Syaka? Bukankah kamu hanya meminjam buku?"


Karina menatap tajam Syaka. Syaka merasa sangat takut. Dengan gemetar ia menjawab.


"Se … sebelum meminjam buku … saya membaca dulu sampai lupa waktu. Maaf … maafkan saya Queen."


Syaka langsung berlutut di lantai dengan kedua tangan berada di paha dan tatapan tertuju pada lantai.


"Lupakan! Kamu kembali duduk!"ucap Karina. 


Syaka beringsut, kembali duduk dengan perasaan lega tapi tetap was-was. 


"Alasan mengapa taman itu aku jadikan tempat terlarang karena disana memang rumah racun."


Li mendengarkan dengan teliti. Ia sudah tahu itu tempat beracun tapi tidak pernah tahu apa jenis racunnya.


"Mengapa kalian tidak langsung tumbang di sana? Di waktu segini, zat racun yang ada menempel pada kaca yang menaungi taman tersebut. Dan efek dari racun tersebut baru terasa sekitar satu atau dua jam sejak kalian meninggalkan taman itu. Racun akan bereaksi jika bersentuhan dengan udara di luar area taman, jadi saat ini kalian dalam fase keracunan!"


"Semua yang ada di sana beracun. Mereka adalah hasil percobaan dari gabungan berbagai racun yang aku suntikkan pada tanaman-tanaman cantik itu. Dan yang paling beracun adalah mawar biru, lambang dari mafia ini."


Karina menyeringai. 


"Dan untuk kalian datang siang hari, jadi mereka semua bersembunyi. Jika tidak kalian bisa mati di dalam sana!"


"Apa itu?"tanya Syaka.


"Segala hewan kecil tapi mematikan!"


Ketiga orang itu menenggak ludah kasar. Rasa takut membayangi mereka seandainya mereka mati di dalam taman itu.


"Tapi bukan itu alasan utamanya. Alasan utamanya adalah …."


Karina sengaja menjeda ucapannya. Ketiga orang itu menunjukkan raut wajah penasaran.


"Biarlah tetap rahasia, suatu hari pasti akan ku beritahu. Tapi ini bukan saatnya. Kalian boleh keluar."


Tanpa banyak bicara walaupun banyak pertanyaan di hati, mereka bertiga menunduk hormat pada Karina lalu berjalan beriringan keluar dari laboratorium.


 Karina memejamkan mata sejenak. Ia membuka mata dengan sorot mata yang berbeda. Tajam, seperti elang yang hendak menerkam mangsa dari angkasa. Lurus, seolah terkunci pada satu titik.


"Di sana adalah tempat paling beracun. Mereka adalah yang menganggu diriku. Kalian bertiga murni, hati kalian bersih, oleh karena itu tidak terpengaruh oleh energi negatif di dalamnya. Selain itu di sana juga tempat terpenting. Bayu, asal kamu tahu pendopo yang kamu jadikan tempat melukis adalah sebuah …."


"Makam!"

__ADS_1


Karina terkekeh pelan kemudian membereskan semua peralatan yang ia gunakan lalu keluar lab pribadinya. 


__ADS_2