
Pesawat berwarna biru dan putih milik Kasino Heart of Queen itu terbang mengangkasa di langit malam.
Rian duduk di kursi pesawat, bernafas selega-leganya kerena telah meninggalkan negara yang membuatnya harus pura-pura menjadi pria dengan kelainan seksual. Tinggal mengantar targetnya ke tujuan maka ia bisa pulang ke mansion. Rasanya tidak sabar untuk sampai di mansion, bertemu dengan keponakan pertamanya.
Rian Menatap jendela, memandang awan gelap. Dua kancing kemeja hitam yang ia gunakan terbuka. Dada bidang miliknya mengintip dengan malu-malu. Poni menutupi dahi, dengan tatapan mata tajam. Rian terlihat sangat tampan dari sudut manapun.
"Tuan, apakah Anda tidak ingin beristirahat di kamar?"tanya pramugari, tersenyum lembut.
Rian beralih menatap pramugari tersebut.
"Bagaimana aku bisa tidur setelah meminum kopi yang kau berikan?"tanya balik Rian, tersenyum lebar menatap cangkir kopi yang kosong di atas meja.
Pramugari tersebut terkesiap sesaat dengan senyum Rian. Walaupun sudah biasa tetap saja senyum Rian mampu membuat hati berdebar.
"Tuan, maafkan kelalaian saya," sesal pramugari, merasa bersalah kerena kopi buatannya Rian tidak tidur.
"Sudahlah. Aku memang berniat terjaga. Kau kembalilah dan istirahat. Aku akan memanggil kalian jika perlu," ujar Rian, mengibaskan tangan.
Pramugari tersebut membungkuk kecil lalu melangkah menuju ruangan khusus untuk pramugari.
Rian menghela nafas pelan, melihat jam tangannya di mana waktu menunjukkan pukul 01.30. Rian beralih menatap Abraxas yang terbaring tak sadarkan diri di lantai pesawat.
"Sungguh malang," ucap Rian miris dengan nasib Abraxas.
Selagi menunggu pesawat take off, Rian meraih majalah, membaca berita terbaru yang sedang trending.
"Bagi seorang prajurit, medan perang adalah tempat suci. Jika mereka mati di medan perang itu adalah sebuah kehormatan. Luka yang diterima adalah penghargaan. Jika mereka gugur maka seragam mereka adalah kain kafan dan tanah di mana mereka gugur adalah kuburan mereka," gumam Rian membaca berita mengenai tenggelamnya kapal selam yang di dalamnya membawa 53 pasukan khusus.
"Benar. Mereka tidak tenggelam. Mereka hanya memutuskan menjaga samudra selamanya. Selamat jalan KRI Nanggala 402."
Rian turut bersedih dengan peristiwa tersebut.
Rian menoleh ke arah Abraxas saat telinganya mendengar gerakan kecil.
Abraxas terlihat menggeliat pelan, dahi berkerut dalam. Bibirnya bergerak gelisah, keringat dingin mengalir. Rian hanya menduga Abraxas tengah mimpi buruk.
"Ibu!"seru Abraxas.
Tak lama kemudian, Abraxas membuka mata. Menatap lurus ke depan seraya menetralkan nafas yang memburu. Rian mengangkat satu alisnya.
"Ibu," gumam Abraxas pelan, berusaha duduk dengan kondisi tangan terikat.
Abraxas menatap rumit ikatan tersebut kemudian mengedarkan pandangan. Matanya melebar melihat Rian yang duduk santai menatap aneh dirinya.
"Luca? Di mana ini? Mengapa kau mengikatku? Bagaimana dengan ibuku?"tanya Abraxas beruntun.
"Aku heran denganmu. Ibumu memperlakukan dirimu layaknya boneka, kau berniat menggulingkannya, lantas setelah digulingkan kata pertama yang keluar darimu adalah ibu. Kau masih menyayangi ibumu, bukan?"
Rian menyuarakan keheranannya. Abraxas kini menatap dingin Rian.
"Karena dia adalah ibuku!"tegas Abraxas.
"Oh."
Rian mendengus senyum. Mengangguk mengerti.
"Bagaimana dengan ibuku? Di mana ini?"
Abraxas kembali bertanya hal yang sama.
"Ibumu? Mungkin sudah jadi abu. Di mana ini? Pesawat dengan kecepatan terbang 2.000 km/jam dengan ketinggian 35.000 kaki," jawab Rian tersenyum, smirk.
Wajah Abraxas pias dengan jawaban Rian. Abraxas kembali meragukan identitas asli Rian.
"Siapa kau? Kemana kau akan membawaku?"
Dengan nada takut. Berusaha berdiri namun gagal karena kakinya juga diikat.
"Rahasia!"jawab Rian, kembali membuka majalah dan membaca.
"Diamlah. Jangan berulah atau aku tidak segan-segan melemparmu dari sini!"ancam Rian, ia tidak main-main, memberi lirikan tajam.
Abraxas langsung ciut. Ia meringkuk dengan bersandar pada dinding pesawat. Menunduk dengan hati berkecamuk. Kristal bening keluar dari matanya.
Rian acuh, tapi tetap terselip rasa kasihan pada Abraxas.
*
*
*
Sekitar tiga puluh menit kemudian, pesawat yang dinaiki Rian take off di bandara Internasional John F. Kennedy, New York City.
Rian meletakkan majalah. Pramugari mendekat dengan membawa mantel hangat untuk Rian. Dua bawahan Rian juga mendekat, membuka ikatan kaki kemudian menutup mata dan mulut Abraxas.
__ADS_1
Rian menghirup udara malam kota New York. Memakai kacamata kemudian turun dari pesawat diikuti dua bawahan yang membawa Abraxas.
Mobil mewah Rolls Royce sudah menunggu mereka. Rian beserta bawahannya segera naik ke dalam mobil. Mobil segera melaju, meninggalkan bandara menuju tujuan.
Kurang lebih tiga puluh menit perjalan dengan kecepatan tinggi yang ditunjang dengan jalanan yang senggang, mobil mewah tersebut memasuki gerbang sebuah gedung megah dan besar, dengan nama markas besar keamanan dunia.
Memasuki basement, mobil berhenti dengan sempurna. Rian keluar dari mobil, melepas kacamata. Menatap santai dua pria dengan setelan jas hitam lengkap dengan kacamata hitam dan alat komunikasi yang di pasang di telinga.
Rian menoleh ke arah Abraxas yang berdiri dengan dipegangi oleh dua bawahan Rian.
"Mr. Ryan, welcome back!"
Suara berat diikuti suara langkah kaki keluar dari lift. Rian memberikan senyum tipisnya. Pria paru baya yang tampak sangat berwibawa bersama dengan beberapa pengawalnya menghampiri Rian.
"Syukurlah misi Anda berjalan dengan lancar. Aku sangat cemas dengan keselamatan Anda di sana."
Berjabat tangan dengan Rian kemudian memberikan pelukan hangat. Rian tersenyum.
"Terima kasih atas perhatian Anda, mr. Edward," balas Rian.
"Misi Anda telah selesai. Apakah Anda ingin langsung pulang atau menginap?"tanya ramah mr. Edward.
"Aku akan pulang setelah targetku diberi hukuman," jawab Rian, melirik Abraxas yang berdiri kaku mendengar ucapan Rian.
"Kalau begitu beristirahatlah di kamar yang telah kami sediakan," tawar mr. Edward.
Rian mengangguk. Abraxas kini berpindah tangan menjadi dipegangi oleh dua pria tadi kemudian dibawa pergi.
"Mr. Ryan sebelum Anda istirahat, bisakah kita berbicara sebentar, empat mata di ruangan saya," tanya mr. Edward dengan nada tegas.
Mirip dengan perintah daripada permintaan. Rian hanya mengeryit tipis dan mengangguk sebagai jawaban.
Rian dan mr. Edward menuju lift, naik ke lantai di mana ruangan mr. Edward berada.
Suasana yang tadinya ramah berubah menjadi penuh tekanan ketika sudah berada di ruangan mr. Edward.
"Why? Pamer tekanan?"
Rian dengan santai menanggapi tatapan tajam mr. Edward, duduk di sofa. Rian menatap sekilas minuman dan makanan ringan yang berada di atas meja. Rian kembali menatap mr. Edward yang wajahnya menunjukkan kegeraman.
"Siapa yang memberimu izin untuk membunuh mereka?!"tanya dingin mr. Edward.
"Tidak ada. Aku bertindak sendiri. Lagipula aku tidak butuh izin untuk melakukan apa yang ingin aku lakukan, kecuali pada Queen-ku!"jawab Rian santai namun penuh tekanan.
"Jika itu dalam lingkup organisasimu aku tidak masalah. Tapi ingat sekarang kau bekerja sama dengan kami. Apa yang kau lakukan termasuk dalam pelanggaran!"
"Koreksi. Kalian yang meminta bantuan kami dan dalam aturan kami, jika suatu misi dari luar sudah diserahkan kepada kami, maka misi akan diselesaikan dengan cara kami. Jangan mencoba mencari kesalahanku, mr. Edward!"
Nada bicara yang tenang dan tegas diakhiri dengan senyum lebar. Wajah mr. Edward memerah, mengepalkan kedua tangan, marah dengan Rian yang menjawab ucapannya tanpa beban.
"Sebagai ketua baru, seharusnya kau membaca dengan teliti surat perjanjian sebelum meminta bantuan kami. Jika Anda belum paham jika hanya sekali, Anda bisa membacanya berkali-kali."
Memberi cibiran. Rian tersenyum lebar melihat mata mr. Edward yang melotot sesaat kemudian menghela nafas.
"Kau membuatku penasaran, Edward. Mengapa kau begitu marah dengan kematian mereka? Penjahat kotor yang merusak dunia seperti mereka harus dibasmi. Kematian merekapun termasuk kematian yang paling lembut. Harusnya menyiksa mereka lebih dulu baru dibantai, ah lebih bagus lagi mati karena takut atau putus asa. Ataukah ada skandal antara kau dan mereka?"
Rian memberikan tatapan menyelidiknya, membuat mr. Edward terkesiap beberapa saat, berdehem berusaha mengembalikan wibawanya yang ditelan dengan sorot mata Rian.
"Bukan begitu maksud saya, mr. Ryan. Hanya saja tindakan Anda melanggar HAM. Mereka harus dihukum sesuai hukum yang berlaku di organisasi kami. Bukan dengan hukuman dari Anda," jawab mr. Edward, nada bicaranya melemah.
Menatap Rian dengan tatapan meyakinkan. Rian menghela nafas kasar, berdiri dan berjalan mendekati jendela kaca yang menampilkan pemandangan malam kota New York.
"Apakah Anda tidak mengerti dengan jawaban saya tadi? Kita berbeda organisasi tapi punya satu kesamaan, ingin dunia ini damai. Hukum Anda milik Anda, hukum saya milik saya. Cara Anda berbeda dengan cara saya. Mengenai HAM, apa yang saya lakukan pada mereka adalah balasan kecil atas apa yang mereka lakukan selama ini."
Menyentuh jendela yang dingin, tersenyum dingin.
"Lebih mudah menjaring ikan yang sudah berkumpul daripada memancing satu persatu. Jika Anda tetap mendikte saya salah, silahkan ajukan protes kepada pimpinan tertinggi saya. Selanjutnya Anda akan melihat semua penjahat di sana tergeletak mati di halaman gedung ini," ucap Rian datar.
Mr. Edward menelan ludah takut. Ia menyesali tindakannya yang mencari masalah dengan Rian.
"Ah bukankah itu ide yang bagus? Tugas kalian akan berkurang banyak," seru Rian.
"Anda benar, mr. Ryan. Tapi kami punya aturan yang harus dipatuhi tidak seperti Anda yang bebas," sahut mr. Edward.
"Hm. Itu bukan masalahku. Misiku telah selesai. Jadi bisakah saya undur diri? Saya ingin beristirahat," balas Rian lagi.
"Silahkan, mr. Rian. Tapi sebelum itu, saya ingin menyampaikan bahwa selama kehidupan itu ada maka kejahatan tidak pernah sirna."
Rian tersenyum tipis.
"Koreksi. Kejahatan akan selalu ada selama manusia hidup," ujar Rian, menepuk singkat bahu mr. Edward kemudian melangkah keluar.
Mr. Edward terdiam sesaat sebelum akhirnya menghela nafas. Menatap rumit pintu keluar dan masuk.
"Berdebat dengan bawahannya saja aku sudah terpojok. Bagaimana dengan Queen-nya? Baru bawahannya saja yang turun tangan masalah yang tidak pernah selesai langsung selesai. Lebih baik aku menjaga lidahku agar tidak menyinggung mereka," gumamnya, kembali menghela nafas kemudian duduk di kursi jabatannya.
__ADS_1
*
*
*
Pagi telah tiba. Sebelum keluar dari markas berkas keamanan dunia, Rian didampingi oleh mr. Edward berserta dengan pengawalnya melangkah menuju ruang tahanan. Hukuman untuk Abraxas telah diputuskan.
Ruang tahanan dengan keamanan ganda itu terbuka setelah mr. Edward menempelkan kartu akses masuk dan keluar. Di dalam, kedua tangan Abraxas terikat pada kursi dengan mulut tetap ditutup. Penutup mata telah dibuka, memberikan tatapan marah pada Rian.
"Mr. Ryan, pengadilan memutuskan hukuman mati untuknya dengan cara meminum racun. Silahkan Anda jalankan hukuman padanya," ujar mr. Edward.
Pria itu kini lebih sopan dan hati-hati daripada sebelumnya. Rian mengangguk. Mengisyaratkan agar penutup mulut Abraxas dibuka.
"Br*ngsek! Baj*ngan kau! Dasar penipu! Beraninya kau menjebakku! Dasar sialan kau!"teriak Abraxas mengumpat Rian.
"Aku kembalikan padamu!"jawab Rian acuh.
"Dasar bajing*an! Kau manusia kejam tidak punya hati! Kau membunuh keluargaku! Akan ku bunuh kau!"desis marah Abraxas menatap nyalang Rian.
Rian tertegun sesaat. Tak lama senyum dingin Rian sunggingkan.
"Aku hanya melakukan hal yang sama terhadap apa yang mereka lakukan terhadap orang lain. Kau tahu alasanku menyisakan dirimu seorang?"
"Karena kau tertarik padaku, Luca!"jawaban yang mantap.
Di dalam hati Abraxas masih berharap bahwa Rian hanya bersandiwara untuk membunuhnya. Mr. Edward tercengang dengan jawaban tersebut.
"Mr. Ryan, apakah Luca ikut bersama denganmu?"tanya mr. Edward penasaran.
Rian terkekeh.
"Tentu saja tidak. Aku hanya meminjam namanya juga orientasi seksualnya. Bagaimana? Aku aktor yang hebat bukan?"
Rian menatap mr. Edward meminta pujian. Setelah hilang rasa kagetnya, mr. Edward bertepuk tangan memuji Rian.
"Ryan? Jadi kau juga berbohong tentang identitasmu? Padahal kita sudah melakukan hal 'itu'."
Rian berdecak sebal karena Abraxas kini pandai bermain dengan kata.
"Aish."
Mengesah pelan.
"Tentu saja tidak!"
Menjawab tatapan terkejut mr. Edward.
"Itu hanya cairan tepung dan wewangian, bukan air m*ni," ucap Rian.
"Ternyata aku sangat bodoh. Lantas apa alasanmu menyisakan diriku seorang?"
"Dalam permainan catur, tertinggal sendiri di dalam papan adalah hal yang paling menakutkan. Aku ingin memberimu kematian perlahan," jawab Rian dengan senyum smirknya.
"Apakah aku ini penebus untuk kejahatan yang dilakukan oleh orang tua dan orang-orangku?"tanya Abraxas, sendu.
"Anda adalah ketuanya. Seluruh tanggung jawab ada di pundak Anda. Itu adalah resiko Anda," jawab mr. Edward.
"Aku bukan ketua! Aku hanya boneka! Mengapa harus aku yang menerima hukuman atas kejahatan mereka? Aku tidak ingin menjadi ketua! Aku hanya ingin hidup bebas tanpa tanggung jawab!"seru Abraxas menyuarakan keinginan hatinya, lagi.
"Mengapa?"
Suara Abraxas melemah.
"Karena kau adalah ketuanya," tegas Rian, mengeluarkan sebuah botol kecil dari satu celananya.
HAHAHAHAHA
Abraxas tertawa, tawanya terdengar sangat hambar. Matanya meredup dengan penuh penyesalan. Bulir kristal turun dari matanya. Pria itu kini menangis pilu.
"Aku tidak menyesal dilahirkan bodoh. Aku hanya menyesal dilahirkan untuk menjadi boneka. Kini aku hanya raja tanpa pasukan. Aku seorang diri. Ryan, meskipun aku membencimu tapi aku tetap mencintai dirimu. Bisa mati di tanganmu adalah kehormatan dan kebahagian untukku. Aku sudah siap untuk mati!"
"Baiklah. Akan aku kabulkan."
Rian meminumkan isi botol tersebut ke mulut Abraxas. Senyum teduh Abraxas berikan pada Rian.
Salah seorang bawahan Rian melepas semua ikatan Abraxas. Abraxas langsung terjatuh lemah di lantai. Sungguh Rian tidak berbohong.
Seluruh organ tubuhnya terasa sangat sakit. Kepalanya terasa seperti ditusuk paku serta kukitnya terasa dikuliti hidup-hidup.
Teriakan kesakitan tidak mampu Abraxas tahan lagi. Meringkuk merasakan sakit yang luar bicara.
Darah keluar dari mulut dan hidung Abraxas. Sekarang ia merasa sangat panas. Tubuhnya terasa terbakar. Jeritan sakit terus Abraxas keluarkan sampai-sampai ia tak mampu lagi bersuara. Hanya menangis menunjukkan kesakitannya.
Rian menatap datar hal tersebut. Jika Karina yang berada di posisinya sekarang mungkin tubuh Abraxas tidak mulus seperti ini. Pasti tubuh itu akan bermandikan darah dengan luka di sekujur tubuh.
__ADS_1
Rian keluar dari ruangan tersebut setelah Abraxas menghembuskan nafas terakhir dalam kondisi yang cukup mengenaskan. Walaupun tidak ada Karina tubuh itu tetap terluka karena cakaran dan pukulan yang Abraxas lakukan sendiri pada tubuhnya. Sebelum keluar tadi, Rian mengelap tangannya dengan tisu kemudian tisu tersebut ia lemparkan ke jasad Abraxas.
God bye, Axas.