Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 381


__ADS_3

Setelah makan siang, Karina langsung menuju ruang kerja diikuti oleh Elina, Li, dan Gerry. Arion mengobrol bersama dengan Emir, Darwis, Rian, Satya, Rayan, dan Aldric di pendopo halaman utara. Osman sendiri bercengkrama dengan Amri dan Maria. Sedangkan Enji kembali mengajar bahasa untuk Brian, Basurata, dan Bahtiar. 


Di ruang kerja, ketiga bawahan yang memegang tanggung jawab Pedang Biru menyerahkan laporan dalam bentuk fisik. Karina mengerjap menatap puluhan map di atas mejanya, bahkan mejanya kurang untuk map-map itu. 


"Berapa lama aku pergi?"gumam Karina lesu sembari mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja.


"Hanya ini saja laporan baru, yang lain sudah selesai. Anda tinggal memeriksanya saja," ujar Li.


"Ya, kalian boleh keluar." Karina melambaikan tangannya.


"Baik."


"Li kau tinggal sebentar," ucap Karina sebelum Li menutup pintu. Li kembali masuk.


"Ada apa?"tanya Li heran.


"Mana Miu?"tanya Karina. Li diam tidak langsung menjawab. Sorot matanya berubah. 


"Li? Ku tanya di mana Miu?" Mata Karina menatap curiga Li.


"Miu, kucing itu … Miu  … ah aku tidak bisa mengatakannya. Karina, ikutlah denganku, kita akan ke tempat Miu."


"Ada apa dengan Miu?" Perasaan Karina gelisah. 


"Ikuti aku," ucap Li. Karina berdiri, melangkah mengikuti Li. Karina mengeryit dengan perasaan semakin tidak nyaman. Arah jalan ini menuju pemakaman, untuk apa Miu di pemakaman? Jadi penjaga makam? Atau jadi pencuri tulang? Ah mana mungkin, bisa-bisa Miu benar-benar dijadikan jaguar guling.


Dan Li berhenti di sebuah makam yang telah dibatu, ada foto seorang jaguar di sana. Karina berjongkok membaca papan nisan itu. 


"Miu? Apa-apaan ini?!" Karina berteriak kesal pada Li.


"Apa maksudnya ini, Li!?" Menunjuk makam dengan wajah menggelap.


"Ini adalah tempat peristirahatan Miu, Karina. Jaguar itu tewas dua tahun lalu karena menyelamatkan Bintang dari kecelakaan," jelas Li, menatap penuh hormat makam tersebut.


"Katakan dengan jelas!" Mata Karina memerah, mengusap nisan dengan mata terpejam. Sebutir kristal berhasil lolos.


"S-aat itu aku mengantar Biru pulang dari markas. Miu ikut tapi di jalan kami mengalami kecelakaan. Miu tewas karena melindungi Bintang dari kecelakaan itu. Jika … jika Miu tidak melakukan itu mungkin saja masih hidup dan mungkin Bintang tidak ada sampai sekarang. Karina ini salahku yang tidak mengemudi dengan hati-hati."


Li menunduk dalam dengan penuh penyesalan. Karina diam sesaat. 


"Jadi Miu tewas karena melindungi Bintang?"


"Benar."


Karina memejamkan mata sesaat, kemudian berdiri dan membungkuk hormat di depan makam itu.


"Bahkan hewan saja tahu berterima kasih dan berbakti. Lalu bagaimana dengan anak-anak Miu?"


"Mereka baik-baik saja, hanya saja pasangan Miu mati sebulan setelah Miu. Aku menguburnya di sudut sebelah sana."


"Jadi yang tersisa hanya keturunannya? Li rawat mereka dengan baik. Miu adalah penyelamat, tentu saja harus menjaga keturunannya dengan baik," ujar Karina.


"Sudah aku lakukan."


"Baguslah."


Karina beranjak, mengambil setangkai mawar putih dan meletakkannya di atas makam Miu.


"Thank you, Miu."


Karina berbalik,meninggalkan area pemakaman. Li mengikut, dapat ia lihat jelas Karina kehilangan mendalam, tapi Karina menyembunyikan dalam ekspresi datar.


"Lalu bagaimana dengan Elina saat itu?"


"Apalagi kalau bukan menangis. Tiga hari tiga malam," beritahu Li.


"Li aku sangat sedih, tapi inilah kehidupan. Tak ada yang abadi, ditinggal dan meninggalkan adalah hal yang biasa," ujar Karina, datar.


"Ya kau benar."


*


*


*


Karina langsung mengajak Arion pulang setelah dari pemakaman. Suasana hati Karina buruk, berkas yang masih baru ia bawa bersama dengannya. Arion yang merasa aneh menatap Li meminta penjelasan. Hanya satu jawaban Li, Arion mengerti. Merangkul Karina dengan senyum menenangkan.


Emir dan Osman ikut pulang, yang tinggal hanyalah Darwis, Rian, dan Satya. Istri dan anak mereka ikut kembali ke rumah Karina. 


"Ar jam berapa anak-anak pulang?"


"Hari senin mereka ada jadwal les, bisanya jam 3 sudah sampai di rumah," jawab Karina.


"Jam 3?"

__ADS_1


Arion mengangguk.


"Ibunda, apa kami juga akan sekolah?"tanya Brian.


"Tentu. Kalian harus mempunyai pendidikan yang tinggi," jawab Karina.


"Lantas kapan kami sekolah?"tanya Bahtiar, antusias.


"Kemungkinan enam bulan atau satu tahun lagi. Untuk saat kalian home schooling dengan Paman Enji, kakek, dan nenek," jawab Karina.


"Ayah dan Ibunda juga akan mengajari kalian," imbuh Arion.


"Baik. Tapi apa itu h-home schooling?" Basurata susah payah mengucapkan dua kata itu.


"Hahaha itu artinya belajar di rumah," jawab Karina.


"Ibunda …." Basurata merengek malu mendengar Karina tertawa.


*


*


*


"Mama … Papa!" Bintang, Biru, dan Bima langsung berlari masuk ke dalam rumah begitu turun dari mobil. 


"Nona! Tuan Muda!"seru Bik Mirna mengejar mereka.


"Eh?" Langkah ketiga anak itu terhenti mendapati sosok pria asing yang menonton televisi di ruang tengah.


"Kakak kau kenal pria berpedang itu?" Bintang menggeleng. 


"Mengapa tampangnya galak, malah bawa-bawa pedang lagi, memangnya rumah kita medan perang?"gerutu Biru, menatap dingin pria yang duduk di sofa itu. Sedangkan pria yang lain adalah Emir duduk tegak menilik lekat tiga bocah yang tengah berdiskusi itu.


"Tapi ku rasa ia tamu Mama," ucap Bintang.


"Mengapa mirip orang pedalaman gitu? Jika dia keluar ke publik nanti, bukankah ia akan dicap orang gila?"sahut Biru.


"Negara kita berbeda dengan negaranya. Ku rasa dia seperti tante Elina," ujar Bima.


"Benar juga. Tapi yang ini bukankah terlalu angkuh? Lihat dia, rasanya ingin ku congkel matanya."


Emir memang duduk dengan gaya pengerannya. Emir tercengang dengan ucapan Biru.


"Sudahlah, abaikan saja dia. Bibi di mana Mama dan Papa?"tanya Bintang pada Bik Mirna.


"Ayo ke sana!"ajak Bintang, melewati Emir.


"Tunggu!" Langkah ketiganya kembali terhenti, masalah sudah di depan tangga.


"Dia memanggil kita?" Bintang dan Biru menaikkan bahu tidak tahu.


"Apa kalian anak-anak Kaira?"tanya Emir serius, berdiri mendekati ketiga anak itu.


"Dia bilang apa?"tanya Biru pada dua saudaranya.


"Mana ku tahu," sahut Bintang.


"Ku dengar ia bilang Kaira. Ada yang tahu siapa Kaira?" Bima menyentuh dagunya.


"Coba tanya," suruh Bintang.


"Paman Anda bilang apa?"tanya Bima sopan.


"Apa kalian anak-anak Kaira?"


"Paman nggak bisa bahasa indonesia?" Bik Mirna tersenyum geli mendengar percakapan itu.


Emir sontak menggeleng.


"Gimana cara ngobrolnya. Kita kan juga nggak paham bahasa arab," bingung Bintang.


"Anak-anak, di mana alat penerjemah kalian?"


"Alat penerjemah? AH HAMPIR SAJA LUPA!" Ketiganya tertawa kemudian membuka tas mereka masing-masing. 


"Paman bisa pulang pertanyaannya?"tanya Bima. Emir memejamkan matanya, merasa geram dengan tingkah ketiga anak itu. Beraninya memanjat seorang pangeran bertanya tiga kali untuk pertanyaan yang sama! Jika ini di istananya, ketiga anak itu sudah pasti dihukum.


Tenang. Tenang Emir. 


Emir membuka matanya, memberikan senyum terbaiknya.


"Paman tanya apa kalian anak-anak Kaira?"


"Bukan." Serentak menjawab.

__ADS_1


"Bukan? Jadi kalian anak siapa?"


"Anak Mama dan Papa," jawab Bima cepat. 


"Siapa nama mereka?"


"Mama Karina dan Papa Arion," jawab Bintang.


Emir menstabilkan dadanya yang bergejolak kesal.


"Itu artinya kalian artinya anak Kaira."


"Bukan! Mama kami bernama Karina!"seru Bintang, mulai emosi.


"Kaira itu Karina!"balas Emir.


"Oh jadi nama Maroko Mama Kaira." Serentak lagi.


"Kalau iya kenapa Paman?"heran Bima.


"Perkenalan nama …."


"Kami sudah tahu dari adik-adik kami. Nama Paman Emir, berusia 25 tahun. Pangeran kelompok Anfa. Ayah angkat ketiga adik kami juga suami palsu Mama! Benarkan, Pangeran Emir?"


"K-kalian tahu?" Emir terkejut. Biru tersenyum smirk.


"Tentu saja. Kami hanya lupa sesaat wajah Anda."


Menakutkan.


"Sudah selesai, ayo lanjut." Bintang kembali melangkah. Biru mengikut.


"Dah Paman," ujar Bima, menyusul kedua saudaranya.


"Keluarga ini terlalu luar biasa," gumam Emir, menggeleng pelan dan kembali duduk.


*


*


*


"Karina sebenarnya aku masih ingin di sini, tapi tanggung jawab tidak mengizinkan," ucap Joya.


"Huh. Sering-seringlah pulang kampung. Aku juga belum puas melepas rindu dengan kalian," sahut Karina.


"Pasti! Kau juga jaga kesehatanmu."


"Kau juga."


Keduanya berpelukan.


"Selamat jalan," ucap Karina.


Darwis, Rian, Satya serta anak dan istri mereka pulang ke negara K pagi ini. Saling melambaikan tangan. Tak lama kemudian pesawat lepas landas. 


"Karina kami langsung kembali ke markas," ucap Li. Karina mengangguk.


Li, Elina, dan Gerry membungkuk hormat pada Karina kemudian meninggalkan bandara.


"Mama sama Papa juga ada acara. Kami pergi duluan ya," ujar Maria.


"Baiklah."


"Kak aku juga harus ke perusahaan." 


"Ya."


Tinggallah Arion, Karina, Emir, Rayan dan Osman juga tiga bocah kembar. Arion akan kembali ke perusahaan besok, begitu juga dengan Karina.


Hari ini Karina berencana mengajak Emir dan Osman berkeliling ke kota. Emir satu mobil dengan Osman dengan Rayan sebagai pengemudi, mengikuti laju mobil alpha yang digunakan oleh Karina dan keluarga.


"Proyek pemindahan Ibu kota selesai setahun yang lalu. Pembangunan lebih digencarkan di sana." 


"Biarpun begitu, kota ini tetaplah kota termaju. Pusat penyokong utama ekonomi negara ini berada di sini. Ar kota ini tidak sedikitpun kehilangan pesonanya."


"Benar. Sekalipun ibu kota telah pindah, kota ini tetaplah kota utama."


Tempat pertama yang dikunjungi adalah Tirta Garden. Kecuali Karina dan Arion, kagum dengan keindahan yang ditawarkan. Koleksi yang terus bertambah dengan tema yang menarik, Tirta Garden juga dikenal sebagai musium tanaman. beberapa foto diambil sebagai kenangan. 


Tempat selanjutnya adalah taman bermain. Mereka bersenang-senang, kecuali Emir saat naik roller coaster. Osman menatap cemas anaknya dari bawah, ia menjaga tiga anak yang asyik bermain komedi putar.


"Huek!"


Emir langsung muntah begitu turun. Tubuhnya terasa lemas setelah muntah dan pingsan tiga kali sewaktu permainan tadi. Karina dan Arion malah tertawa.

__ADS_1


Tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah warung bakso langganan Karina dan Arion dulu. Emir merasa aneh melihat makanan bulat berwarna putih dengan tekstur kenyal itu. Juga merasa heran dengan tempat makan ini. Bukankah orang kaya identik makan makanan mewah di restoran?


"Gaya hidup orang berbeda-beda. Kaya bukan berarti kemudian harus mewah," ucap Karina menjawab keheranan Emir.


__ADS_2