Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 190


__ADS_3

"Syukurlah sudah stabil. Tapi suhu badannya masih tinggi padahal sudah diberi obat. Tapi untung saja ia berhasil melewati masa kritisnya tadi, kasihan anak sekecil ini sudah menderita," jawab Maria.


"Ya kasihan sekali, karena ia sudah jadi anak yatim," sambung Karina. 


"Hah? Anak yatim? Maksud kamu Karina?" kaget Maria.


"Kakek telah tiada Ma. Dan sekarang bersama Ayah, sedang menuju ke mansion," jawab Arion.


"Innaillahi wa innalillahi rojiun," ucap Maria spontan. Masih tak percaya jika mertuanya meninggal. Baru saja hubungan membaik, eh malah pergi untuk selamanya.


"Kok bisa? Bukankah kakek tadi baik-baik saja?" tanya Maria.


"Dia meninggal sebab peluru yang ditembakkan oleh Nita, ya istri bunuh suami, bukan hal aneh lagi," jawab Karina santai, seolah itu hal biasa baginya. Maria membulatkan matanya percaya.


"Pantas saja reaksi Alia seperti itu, darah memang lebih kental dari pada air," gumam Maria.


"Ya sudah kalau begitu kita harus kembali ke Seoul, Papa pasti butuh dukungan dan penyemangat. Kalian atur supaya Alia bisa segera dipindahkan ke rumah sakit sana. Bukankah di sana ada Tirta Hotel? Oh ya di mana Nita?" tutur Maria memberi perintah.


"Nita ada di ruang rawat sini juga, tadi dia pingsan," jawab Arion.


Arion segera mengurus pemindahan Alia dari rumah sakit ini ke rumah sakit Tirta Hospital. Sedangkan Karina duduk di sofa dan memejamkan matanya. Ada rasa lelah yang terasa. 


Maria membangunkan Enji. Reaksi Enji mendengar berita duka pun tak kalah kaget dari Maria. Maria menyuruh Enji untuk melihat Nita. 


Dengan langkah gontai ia segera melaksanakan perintah. 


"Ini kan ruangannya? Tapi kok gak ada ya?" Enji berkeliling lagi mencari ruangan di mana Nita dirawat.


Setelah bertanya kepada suster dan orang-orang di sana, Enji mendengar ada sebuah keributan.


"Cepat, ada yang mau bunuh diri dari atas gedung!" pekik beberapa satpam, bergegas mencari lift ataupun tangga.


Enji mengeryit. Dan dengan segera mengikut. Sesampainya di rooftop, Enji membulatkan matanya melihat Nita yang berdiri di pinggir rooftop tanpa pembatas itu. Ia berdiri seraya merentangkan tangannya. Wajahnya pucat lebih terkesan dingin. Pakaian yang digunakan pun masih pakaian yang sama dengan yang Enji lihat dari kemera pengintai.


Terlihat beberapa petugas sibuk membujuk dan menasehati Nita. Respon Nita datar dan acuh. Di bawah, petugas lain sibuk membuat tempat pendaratan yang aman sekiranya Nita nekat melompat.


"Nita menjauh dari sana!" seru Enji. Iris mata Nita bergerak menatap Enji. Ia tersenyum tipis.


"Jangan halangi aku Zi! Biarkan aku pergi menyusul Mas Bram. Tolong sampaikan salam dan kata maafku pada Alia," sahut Nita, dengan suara lantang.


"Jangan bertindak bodoh! Kau masih punya banyak tanggung jawab!" ucap tegas Enji. Ia mengesah melihat reaksi Nita yang acuh. Enji maju, Nita mundur beberapa senti, hingga jaraknya hanyalah sekitar 10 cm lagi dan dia akan terjun bebas.


"Mengapa tak kau katakan saja pada Alia langsung Nita?" Suara Maria terdengar, nadanya menahan marah, kecewa dan sedih. Nita tampak tersentak kaget namun tetap mempertahankan wajah datarnya.


"Aku tak punya muka untuk bertemu dengannya. Aku sudah membuatnya menjadi anak yatim. Aku tak ada keberanian," sahut Nita datar.

__ADS_1


"Bagaimana jika itu perintahku Nita? Kau akan tetap lompat atau menjauh dari sana?" tanya Karina dingin.


Nita tersenyum.


"Ya, aku akan tetap lompat. Maafkan aku Nona, kali ini aku akan mengikuti apa yang ku mau, ya ini keinginanku. Aku sudah memikirkannya. Aku tak sanggup hidup dengan semua ini," jawab Nita.


"Lalu kau mau membuat Alia menjadi yatim piatu? Kau ibu macam apa?" tanya Arion sarkas. 


"Ya itu lebih baik daripada dia tahu bahwa aku adalah orang yang membuatnya jadi anak yatim. Jika aku tiada, itu tak akan terbongkar. Lagipula aku yakin kau dan Tuan Amri bisa menjaga dan merawat Alia lebih baik dariku," jawab Nita.


"Tak ada yang lebih baik daripada ibu kandung Nita," ucap Alia. Ia menggendong Alia dan berjalan mendekat.


"Hah, tapi keputusanku sudah bulat, aku tak bisa menbatalkan niat hati ini, aku pergi," ucap Nita, berbalik dan meloncat ke arah yang tidak ada matrasnya.


 Enji, Arion dan lainnya kecuali Karina dan Maria memajukan tangan kanan mereka dan melihat ke bawah. Nita tergeletak dengan darah yang berceceran di sekitarnya.


"Bodoh!" geram Karina mengeraskan wajahnya.


Sedetik kemudian terdengar tangisan khas bayi dari Alia. Maria berusaha menenangkannya. 


Arion menggelengkan kepalanya. Lengkap sudah hari tak menyenangkan liburan kali ini. Orang-orang di bawah segera membereskan kejadian itu. 


Setelah semua beres dengan jenazah Nita yang sudah dikafani, segera Karina dan Arion dan Enji mengendarai mobil masing-masing diikuti suara sirine ambulace yang membawa jenazah Nita dan ambulace yang membawa Alia yang masih dalam perawatan bersama Maria serta satu mobil lagi berisikan pengawal kakek Bram.


Di lain sisi, Raina cemas menunggu Calvin yang tak kunjung sadar setelah pingsan di sungai tadi. Di sofa, Angga dan Santi pun ikut cemas. Angga awalnya menyalakan Santi, mengapa tak melarang Calvin untuk memancing ikan gabus. Yap, Calvin fobia pada ikan gabus. Mendengar namanya saja sudah takut apalagi harus memancingnya. 


Flashback sebelum pergi memancing.


Santi membawa Calvin ke dapur dan menilik kanan kiri, memastikan bahwa Raina tak mendengar ucapan mereka.


"Ma, Mama kan tahu Calvin fobia sama ikan gabus? Kok malah Mama suruh mancing ikan itu sih? Namanya saja membuat aku merinding," protes Calvin pada Santi. Santi membungkam mulut Calvin dengan telunjuknya. 


"Kamu tega lihat Raina begitu? Kamu mau buat anak kamu gugur hah? Belum lagi wajah pucat dan lemasnya itu, bagaimana? Tega kamu? Lagipula, kamu sudah sedewasa ini, masih belum bisa mengatasi masalah kamu itu? Belajar berani dan lupakan itu!" tegas Santi.


"Tapi Ma," ucap Calvin dengan wajah memelasnya. 


"Ya sudah, biarkan saja istrimu bertindak nekat, jika ada apa-apa kamu yang akan menyesal sendiri!" ketus Santi. Calvin terdiam. Setelah beberapa saat, ia mengiyakan dan bertekad untuk melawan fobianya.


Di gudang, Calvin telah melihat Raina mengumpulkan alat pancing. Mulai dari joran pancingnya, tanggok, tepis, serta golok tinggal kurang umpan saja. Biarlah nanti setelah tiba di rawa atau sungai mencari cacing atau anak katak alias bancet.


"Ayo berangkat," ajak Calvin, Raina mengangguk. Segera menaiki mobil dan menuju tempat memancing yang terletak di pinggiran kota, cukup jauh jaraknya dari rumah. 


Tak lupa, Santi membekali mereka dengan makan siang. Setibanya di tempat tujuan, Calvin langsung mencari umpan. Sungai ini terlihat masih sangat asri dan terawat. 


Raina membuka bagasi mobil dan duduk bersila di sana, menanti Calvin memancing dan mendapatkan apa yang ia mau sebagai bahan utamanya.

__ADS_1


Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit kemudian tak ada satu ikan gabus pun yang terangkat. Yang memakan umpannya adalah ikan lain.


Raina yang merasa lapar, ia membuka bekal dan mencomor sedikit lauk yang dibawakan oleh Santi yaitu rendang. Baru satu gigit, Raina kembali menyimpannya.


Tiga puluh menit kemudian, ada yang kembali menyambar umpan joran pancing Calvin, Calvin segera menariknya, dari tarikannya seperti ikan besar. Dar benar, warna ikan yang bersisik gelap alias hitam, terlihat di air. Memberontak hendak melepaskan diri. Calvin menenggak ludahnya takut, ia menarik sembari memejamkan matanya.


"Ra, aku dapat satu, bantuin ikannya besar!" teriak Calvin, membuat Raina segera menghampiri. Raina mengeryit melihat Calvin yang memejamkan matanya. 


"Hei bagaimana kau menarik dengan menutup mata, ikannya bisa lepas!" tegur Raina, menyatukan tangannya dengan Calvin untuk membantunya.


"Aku, aku tak berani melihatnya," ucap lirik Calvin.


"Hah? Gak jelas banget," ucap Raina. Saat ikan mulai pasrah dan berserah diri, Raina menggereknya ke tepi dan mengangkatnya tinggi. 


"Akhirnya dapat juga," seru Raina senang. Calvin membuka matanya sedikit dan kaget saat kepala ikan gabus tepat berada di hadapannya. Dengan segera ia pingsan dan nyebur ke sungai. 


Raina kaget dan langsung ikut nyebur menolong Calvin yang tenggelam. Walaupun hanya di tepi, tetapi kedalamnya tidak bisa dianggap enteng. 


Alhasil sang ikan bergerak ke sana kemari mencari air dan berusaha melepaskan diri. Ukuran ikan sangat besar, jika ditimbang lebih dari 1 kilogram.


Akhirnya setelah berjuang beberapa saat, Raina berhasil membawa Calvin naik. Raina menekan dada Calvin supaya air yang terminum atau masuk keluar, namun tak berhasil. Melihat kanan-kiri sepi tak ada orang, hanya mereka berdua.


"Aku tak sanggup menyetir ataupun membawa Calvin ke mobil, lebih baik aku hubungi kak Gerry saja, jika Mama atau Papa pasti akan lebih riwet nanti," gumam Raina, berusaha berjalan ke mobil dan mengambil tasnya. 


Kurang lebih lima belas menit kemudian, Gerry datang bersama dengan salah seorang anggota wanita.


"Mengapa bisa seperti ini?" tanya Gerry setelah berada di dalam mobil dan berangkat ke rumah sakit.


"Aku tak tahu, tapi sepertinya Calvin fobia ikan gabus, aku sungguh tak tahu kak, andai saja tadi ia mengatakannya aku tak akan memaksanya," jawab Raina dengan menahan tangis. 


 


Gerry menghela nafas. Setibanya di rumah sakit, Calvin segera mendapat pertolongan. Tak lama anggota yang bersama Gerry tadi datang dengan membawa paperbag berisi ganti untuk Raina.


"Gantilah dulu, jangan sampai kau sakit," ujar Gerry. Raina mengangguk. Menunggu Raina berganti, Gerry menghubungi Santi dan Angga.


Flashback off.


 Santi pun hanya bisa menunduk merasa bersalah. Begitupun dengan Raina. Tapi, Angga tak menyalahkan Raina, sebab memang Raina tak tahu menahu tentang hal itu. Orang Calvin tak pernah cerita ataupun ada yang memberitahu padanya tentang hal itu.


Angga pun merasa maklum pada Raina, wajar, keinginan ibu hamil sukar untuk ditebak dan kadang sulit untuk dicerna oleh logika.


Kini mereka berharap Calvin cepat sadar, berharap demam tingginya segera mereda dan Calvin segera membuka mata.


"Maaf Vin," ucap Raina lagi, entah berapa kata maaf yang sudah terlontar dari bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2