
Mira mengerut bingung dimana ia berada sekarang. Sekelilingnya berwarna biru. Sejauh mata memandang, tempat yang tapaki sekarang, semua berwarna biru. Ia mengedarkan pandangannya.
"Tempat apa ini?" tanya Mira, dijawab keheningan.
Ia ingat ia tadi sedang tidur dan begitu membuka mata, ia berada di sini.
"Apa aku sudah mati? Dan sekarang aku berada di alam kematian? Kalau begitu, aku bisa bertemu dengan suamiku. Akan tetapi di mana jalan keluarnya? Tak ada pintu atau warna lain disini selain warna biru."
Mira kemudian melangkah dan berteriak memanggil. Dan ia baru sadar bahwa warna bajunya juga biru muda. Lelah, Mira memutuskan duduk dan menyeka keringat yang terasa dingin.
"Mira." Ada yang memanggil namanya, samar namun masih tertangkap. Mira mengedarkan pandangannya.
"Siapa?" tanya Mira, tak takut atau gentar.
"Mira." Suara itu semakin lama semakin jelas. Membuat Mira bingung dan mengeram kesal.
"Hei siapa kau? Di mana dirimu? Tunjukkan wujudmu! Jangan membuat diriku penasaran!" pekik Mira, kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Aku di sini," jawab suara itu. Tak lama tercipta binar-binar cahaya dari kecil hingga besar menyerupai bentuk manusia kemudian berubah menjadi sesosok pria dengan mengenakan pakaian putih, jangan lupakan juga bibirnya yang tersenyum dan wajahnya menyiratkan kerinduan.
Sedangkan Mira, terpaku tak percaya. Ia membekap mulutnya sendiri. Air mata meleleh. Rasa rindu membuncah dan Mira langsung menghambur ke pelukan pria itu.
"Aku di sini, jangan menangis," ucap pria itu lembut. Mengusap rambut Mira yang dibiarkan tergerai sebahu.
"Mas, ini bukan mimpikan? Kita akan bersama lagi kah? Di dunia kekal abadi ini," ucap Mira, menangis di pelukan pria itu. Pria itu tak lain adalah suami Mira yang telah wafat. Eko Pratama namanya.
"Ini dunia mimpi, Sayang, bukan dunia kekal abadi atau sesudah kematian. Mas kangen dengan dirimu," ucap Eko mencium kening Mira. Mira menatap suaminya tak percaya. Ia menggeleng keras.
"Sayang, dengarkan Mas." Eko memegang kedua pipi Mira lembut.
"Apa itu? Mengapa baru sekarang kamu menemuiku? Tahukah dirimu bagaimana aku setelah mendengar kematianmu dan setelahnya? Aku selalu ingin cepat mati untuk bisa bersamamu. Aku bahkan sudah mengiris nadiku sendiri setelah kau dimakamkan. Tapi Tuhan masih berkehendak lain. Aku masih selamat hingga kini!" tangis Mira. Kembali memeluk Eko.
Eko tersenyum.
"Aku tahu, Sayang. Aku melihatmu dari tempatku. Maafkan aku karena gagal memenuhi janji padamu," ucap Eko.
"Tapi aku bangga kau memenuhi janji pada ibu pertiwi," potong Mira.
"Dengarkan Mas. Kamu masih muda. Dan masih suci. Mas belum menyentuhmu setelah menikah. Mas harap kau membuka hati untuk pria lain. Lanjutkan kisah hidupmu, Sayang. Janganlah kau menutup hati terlalu lama sampai mati. Mas sedih melihatmu setiap hari meratap dan menangis melihatmu bersedih melihat keluarga yang bahagia. Mas ingin kamu menyempurnakan dirimu, Sayang," ucap Eko panjang lebar.
"Apa maksudmu Mas? Kau memintaku untuk membuka hati untuk Pria lain? Padahal kau tahu aku hanya mencintamu?" kesal Mira, memukul dada Eko. Bukannya mundur, Eko malah mulai memudar membuat Mira panik.
"Belajarlah mencintai pria lain Mira. Jika sudah saatnya, kita akan kembali bersatu di keabadian!" tukas Eko, menghilang menjadi serpihan cahaya.
Cahaya itu hinggap sejenak di kening Mira, Mira merasa itu sebuah ciuman. Lalu cahaya itu menghilang dan Mira teriak keras.
"Mas!" panggilnya kuat. Ia membuka mata dan mengerjap lalu mengedarkan pandangannya.
Ini kamarnya. Ia lalu memijat pelipisnya dan mengingat mimpinya.
"Hanya mimpi, namun pesan itu sangatlah nyata," gumam Mira, turun dari ranjang dan bercermin.
Mira menghela nafas lalu menggeleng dan melihat jam lalu memutuskan mandi.
"Tidur sore memang buruk. Bahkan aku bermimpi seperti itu," pikir Mira.
*
*
__ADS_1
*
"Gerry, kamu kapan mendua? Apa tidak bosan selalu sendiri tanpa pasangan?" tanya Elina. Saat ini, ia, Gerry dan Li sedang berada di rooftop markas menikmati senja di pantai yang terlihat jelas.
"Entahlah, aku masing belum memikirkannya," jawab Gerry, menunjukkan wajah cueknya.
Li hanya melirik, ia asyik mengusap perut Elina yang sudah menonjol di usia kehamilam 14 minggu.
Elina mencibir tanpa suara. Ia heran dengan Gerry, umur sudah kepala tiga masih beta melajang dan setahu Elina, Gerry belum pernah berhubungan dengan wanita.
Elina diam sesaat, dan pikiran aneh mulai datang.
"Kau gay ya, jadi kau belum menikah sampai kini. Kau takut kau akan dicibir jika kau menikah dengan seorang pria, benarkah!" tebak Elina, dengan mata membulat. Gerry terlonjak kaget, bahkan menyemburkan kopi sudah berada di dalam mulut. Li terkikik geli dengan reaksi Gerry.
"Sembarangan!" bentak Gerry kesal. Dan sialnya tanpa ia sadari, pijakannya sangatlah berjarak tipis dengan kolam renang. Dan Gerry muncul dengan mengusap noda di bibir.
Byur!
Gerry nyembur dan air cipratannya mengenai Elina dan Li.
"Aduh, sangking benarnya, kau sampai salto Gerry," kekeh Elina, mengusap wajahnya.
"Benar dari mana? Aku masih normal. Bukan penyuka sejenis! Hanya saja memang aku memikirkannya. Aku masih mau bebas tanpa ikatan pernikahan," tegas Gerry, naik dari kolam renang.
"Sampai kapan? Sampai kami jadi kakek dan nenek? Baru kau menikah?" Li ikut menimpali.
"Ya gak selama itu juga kali," tutur Gerry, melemah.
"Jadi, Gerry usiamu sudah cukup. Kartu keluarga juga tinggal namamu seorang. Kapan kau isi nama di bawah namamu? Kapan kau jadi kepala keluarga? Siska saja seminggu lagi akan nikah. Apa tak bosan kau menghadiri pernikahan orang lain terus?" ujar Li serius. Gerry menggumam.
"Kalau ada yang cocok langsung tarik ke pelaminan," jawab Gerry, melenggang turun ke bawah meninggalkan Li dan Elina yang saling pandang dan sama-sama mengangkat kedua bahu mereka.
"Sekali-kali suruh dia keluar, jangan ngandang saja, keluar kalau ada tugas lapangan," ucap Elina.
"Hm," sahut Li. Mengajak Elina kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan bersiap untuk salat.
"Jodoh? Di mana dirimu? Tulang rusukku?" gumam Gerry, selesai mandi lalu menuju meja makan.
*
*
*
Seusai makan malam, Karina dan Arion bersantai di ruang tengah. Karina menonton televisi dan Arion menikmati secangkir kopi. Karina menonton dengan serius, dengan Arion yang menatap wajahnya tersenyum.
Sekitar lima belas menit kemudian, Karina mengalihkan tatapannya dari layar televisi ke arah Arion. Wajah mereka bertatapan. Seakan sedang di mabuk asmara, jantung keduanya berdebar dengan rona merah di pipi.
Karina terbatuk pelan dan segera menetralkan wajahnya. Arion terkekeh dan mencium pipi Karina sekilas.
"Ada apa kamu menatapku?" tanya Arion, penasaran.
"Hm, aku ada permintaan. Boleh?" jawab Karina, dengan wajah ragunya.
Arion mengangkat satu alisnya. Batinnya menerka apa permintaan Karina. Dirinya juga sudah siap dengan permintaan aneh Karina.
"Apa itu? Selagi aku bisa memenuhinya akan ku penuhi. Dan sekalipun aku tak mau, akan ku buat diriku mampu," jelas Arion, namun wajah Karina masih meragu.
"Aku janji. Ayo katakan," imbuh Arion. Karina menghela nafas.
__ADS_1
"Aku ingin membangun sebuah panti asuhan," ucap Karina singkat. Namun bermakna mendalam. Arion terkesiap sejenak, tak lama ia tersenyum lebar dan segera memeluk Karina.
"Jelas akan ku penuhi, Sayang. Itu permintaan yang baik dan mulia," ujar Arion, mencium rambut Karina.
"Hm," gumam Karina, malah memejamkan matanya dan tertidur di pelukan Arion.
"Pasti karena ia melihat anak-anak jalanan tadi di lampu merah, hm kau tak ingin kan mereka merasakan nasib masa kecil sepertimu? Kehilangan masa bermain dan belajar, dan harus mencari uang untuk menyambung hidup," tutur Arion, disahut dengkuran halus Karina. Arion tertawa ringan, dan segera menggendong Karina menaiki tangga menuju kamar.
"Uh, perasaan baru minggu kemarin aku menggendongnya, beratnya sudah bertambah saja," gumam Arion.
Setibanya di kamar, Arion langsung membaringkan Karina di ranjang, membenahi selimut menghangatkan sang istri. Dan terakhir, ia ikut menyusul Karina ke alam mimpi.
***
"Bangun tidur ku terus mandi, habis mandi langsung latihan, lari sepuluh putaran, renang bergaya-gaya lalu istirahat."
Gerry menyapu tubuhnya dengan sabun. Wangi semerbak memenuhi kamar mandinya. Waktu menunjukkan pukul 04.00, waktu bangun dan lari pagi di Pedang Biru.
Selepas mandi, Gerry segera berpakaian khas latihan, menyambar segelas susu dan sepotong roti. Kemudian keluar kamar dan ikut bergabung dengan anggota lainnya yang telah berada di lapangan.
Li juga telah berada di sana. Menyapanya dan mereka segera latihan pemanasan, dilanjut lari dan latihan sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.
*
*
*
"Jangan lupa oleh-olehnya Gerry," ucap Elina melambai pada Gerry yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Hentikan Eli, dia hanya mau ke pelabuhan, bukan jalan-jalan," ujar Li, menggelengkan kepalanya melihat tingkah Elina belakangan ini.
"Hei di pelabuhan itu banyak yang berjualan. Setidaknya dia membelikanku ikan hiu untuk ku gulai," sergah Elina, mendelik kesal pada suaminya. Di mobil, Gerry terkekeh.
"Baiklah Elina, akan ku bawakan padamu ikan itu, atau kau mau paus juga?" balas Gerry, menambahkan ledekan pada Elina.
"Sudahlah Gerry, cepatlah berangkat dan selesaikan transaksi. Kau itu mafia bukan pelaut," suruh Li, mengibaskan tangannya.
Gerry menunjukkan tangannya membentuk huruf O dan segera melajukan mobilnya.
"Jika tak ada ikan, kau bawa calon istri untukmu juga boleh," teriak Elina, Li segera membungkam mulut sang istri dan membawanya masuk ke dalam.
"Memangnya pelabuhan itu tempat mencari istri?" gumam Gerry, tersenyum tipis mendengar teriakan Elina.
*
*
*
Arion melihat dan membaca lampiran tentang lahan yang dijual yang telah Ferry rangkap menjadi satu. Setelah beberapa saat, Arion memilih beberapa dan mengirimnya pada Karina untuk meminta pendapat.
Tak lama, Karina membalas dan menyertakan pilihannya.
"Kita satu hati," gumam Arion, memanggil orangnya dan menyuruh untuk memproses lahan tersebut.
Setelah itu, Arion kembali tenggelam bersama pekerjaannya. Di lain sisi, Karina pun tenggelam dalam pekerjaannya.
"Tuan, Nyonya Aditya beserta sekretarisnya telah tiba," ujar Ferry memberitahu.
__ADS_1
"Langsung saja ke ruang meeting. Aku akan menyusul," ucap Arion tegas. Ferry mengangguk dan segera melakukan perintah Arion.