Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 192


__ADS_3

Karina mengerjap saat alarm berbunyi. Tangannya melepaskan guling yang dia peluk dan mematikan alarm. Dengan wajah khas bangun tidur, Karina bangun dan merenggangkan tubuhnya sejenak. 


Karina mengeryit mendapati bagian ranjang tepat Arion tidur kosong melompong. Padahal waktu masih jam 05.00 lewat beberapa menit saja.


"Kemana Arion?" gumam Karina. Karina mengedarkan pandangan dan menajamkan pendengarannya. 


Tak ada tanda-tanda kehadiran Arion di kamar ini. Karina mendengus dan tak ambil pusing. Dengan segera ia bangkit dari ranjang dan bersiap untuk mandi. Air yang sejuk membuat semangat dan wajahnya bersinar. Pori-pori kulitnya terasa kembali hidup dan segar.


Ketika azan subuh berkumandang di handphone Karina, Arion masuk ke dalam kamar dengan setelan serba putih. Baju putih, celana putih dan jas putih, alas kaki yang ia gunakan pun berwarna putih. 


Arion mengedarkan pandangannya mencari Karina. Masih terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.


"Mandi di saat subuh hari memang menyegarkan," gumam Arion, membuka lemari dan melebarkan sajadah serta mengambil mukenah untuk Karina.


"Dari mana saja kamu Ar? Pagi buta sudah bangun dan setel putih? Mau jadi pangeran berkuda putih?" Suara datar Karina membuat Arion mengangkat pandangannya yang semula dari layar handphone.


Arion tersenyum melihat Karina yang berada di ambang pintu kamar mandi mengenakan dress berwarna putih. 


"Mungkin. Kamu juga setel putih, mau kemana?" sahut Arion berdiri dan bersiap untuk mengambil wudhu.


"Kan aku mau pembukaan resto jam 09.00, nanti, wajarkan aku siap-siap sekarang?" Karina menjawab cuek. Arion ber oh ria dan masuk ke kamar mandi.


"Aneh, apa ada yang spesial ya hari ini? Kayaknya gak ada deh," gumam Karina yang merasa aneh. 


***


Selepas menjalankan sholat subuh, Karina dan Arion menyempatkan diri membaca al-Qur'an. 


Kurang lebih 15 menit kemudian, mereka mengucapkan alhamdullilah dan menyimpan kitab suci tersebut.


Arion mengeluarkan secarik kain panjang dengan lebar sekitar lebar tiga jari berwarna hitam dari saku celananya.


"Yang," panggil Arion.


"Hm," sahut Karina.


"Kamu ingat hari ini hari apa?" tanya Arion, dengan nada bersemangat.


"Tentu saja ingat. Bukankah ini hari Kamis?" jawab Karina santai, namun menatap Arion dengan heran.


"Ya aku tahu ini hari Kamis. Tapi yang spesialnya," ujar Arion, mencoba memperjelas. Karina mengeryit, kemudian menggeleng. Raut wajah Arion terlihat kecewa, namun ia mencoba untuk tersenyum.


Dasar kebanyakan pikiran. Hari spesial saja tak ingat. Tapi tak apa, setelah ini dia akan mengingatnya, batin Arion.


"Memangnya ada apa sih? Ada hubungannya sama aku?" tanya Karina. 


"Tentu saja. Kalau begitu ayo ikut aku, aku yakin setelah ini kamu akan ingat," ujar Arion, bergerak ke belakang tubuh Karina.


"Oh, oke, tapi harus ya pakai acara tutup mata? Memangnya mau kemana sih?" ujar yang menoleh ke belakang dengan Arion yang siap merentangkan secarik kain tersebut.


"Iya, sudah jangan bawel, cepat berbalik, aku akan menutup mata kamu." Karina dengan wajah kesalnya memalingkan wajahnya ke depan dan Arion segera menutup matanya dengan secarik kain tersebut.


"Awasnya kalau kejutannya gak jelas," ketus Karina.


"Awas ya jika kamu peluk aku erat nanti," sahut Arion.


"Hmph. Memangnya ini hari apa sih?" gerutu Karina. Karina tersentak kaget saat Arion menggendongnya tanpa pemberitahuan. Secara spontan ia mengalungkan tangannya ke leher Arion. Arion tersenyum penuh arti. Arion mulai melangkahkan kakinya keluar kamar. 


"Kamu ini aneh deh. Tadi nanyak hari apa, terus bilang mau kasih kejutan, pakai acara tutup mata dan digendong segala lagi," celetuk Karina.


"Hm, biar kamu gak lelah," jawab Arion.

__ADS_1


"By de way, kamu berat juga Yang, perasaan waktu aku terakhir gendong kamu gak seberat ini," ucap Arion yang membuat Karina mencembikkan bibirnya kesal. 


"Ya jelaslah, aku kan bawa dua anak kamu kemana-mana sampai sembilan bulan, makanya kamu makan banyak biar gak kurus keringking kayak gini," ketus Karina. Arion nyengir dan tertawa garing.


"Ini sudah standar badan aku Yang, suami sickpack dibilang kurus, terus maunya kayak mana? Gendut kayak presiden sebelah?" tanya Arion.


"Em, gak gitu juga. Kayak Suga atau Jungkook kayaknya oke," jawab Karina. Membuat Arion memutar bola matanya malas. Sepertinya ia memancing jiwa playgirl Karina. 


"Hmhp," dengus Arion. Menyadari Arion yang cemburu, Karina tersenyum tipis.


"Tapi orang yang aku cintai adalah kamu, bukan mereka. Aku terima kelebihan dan kekurangan kamu, apapun itu. Tapi sepertinya kamu hampir sempurna deh," tutur Karina. Arion hanya menarik seutas senyum tipis. Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya Arion menurunkan Karina di taman yang terletak di tengah mansion. 


Arion segera membuka penutup mata Karina. Karina mengeryit melihat meja berisi berbagai macam sajian ditambah kue berbentuk hati dengan lilin angka satu di atasnya. Di tengahnya terdapat vas bunga mawar. Sekelilingnya terang berderang, guratan menjelang matahari terbit terlukis di langit. 


"Happy aniverserry satu tahun pernikahan kita, Sayang," ucap Arion tersenyum lebar, berlutut di hadapan Karina dan menyodorkan sebucket bunga mawar merah.


 Karina nampak tertegun dan bingung. Setelah diingat-ingat, ini tanggal berapa dan melihat catatan pentingnya di handphone barulah Karina paham. Karina menepuk dahinya pelan dan tertawa. 


Ia melupakan hari dan tanggal penting pernikahannya sendiri. Untung saja Arion paham dan tak ngambek.


"Kamu juga Ar," ucap Karina, menerima bucket mawar itu. Arion berdiri. Karina segera memeluk Arion. 


 "Nah kan benar, kamu yang meluk aku erat," ledek Arion. 


"Gak papa kan?" sahut Karina, melepas pelukannya dan berjinjit mengecup singkat bibir Arion.


Kini Arionlah yang tertegun. Sudah cukup lama mereka tak berciuman ataupun sejenisnya.


Tak ingin melewatkan kesempatan, Arion kembali menarik Karina dalam pelukannya dan menundukkan kepalanya mencium bibir Karina. Karina membulatkan matanya dan mulai membalas ciuman tersebut. 


"Anak kecil gak boleh lihat!" Enji menutup mata Bayu yang terlihat membara melihat adegan ciuman Karina dan Arion. Mereka melihat hal itu dari balkon kamar yang kebetulan langsung menghadap ke taman tengah. 


Arion dan Karina yang terlalu menikmati dan menghayati moment mereka, tak peduli kanan-kiri. Lagian kan cuma ciuman, kalau lebih ya ke tempat tertutup alias kamar.


"Ayah kau bisa melihatnya mengapa aku tidak? Usiaku memang masih delapan tahun tapi pemikiranku lebih tua dari usiaku!" keluh Bayu, merasa rugi.


"Ck, kau masih anak di bawah umur. Sedangkan aku sudah pernah melihat, dan melakukannya bahkan lebih hingga terciptalah dirimu," sahut Enji.


"Hm, bagaimana rasanya yah?" tanya Bayu. Enji terkesiap dan memilih membawa Bayu masuk ke dalam kamar. Sepertinya ia harus mendidik Bayu.


"Ayah aku sudah pernah melihat filmnya, tapi belum pernah merasakannya, Yah ayolah cerita, lagian cepat atau lambat aku akan mengalami hal itu," rengek Bayu, mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan tangannya menuntut.


"Kau?! Astaga! Mata dan pikiran anak ku sudah ternodai. Dia bukan lagi anak yang polos," ucap Enji, mengaduh entah pada siapa.


"Dari mana kau melihatnya? Kau mencarinya atau dari teman-temanmu? Jawab Ayah Nak," tanya Enji. Ia pusing dengan kelakuan Bayu.


"Dari laptop Ayahlah. Pantas saja sabun di kamar mandi cepat habis padahal baru dipakai beberapa kali, ternyata kau pelakunya," ketus Bayu. Enji membelalakan matanya dan segera mengambil laptop dan menghapus vidoe yang dimaksud oleh Bayu.


"Darimana kau tahu password laptopku? Astaga Ya Tuhan, ternyata akulah yang membuat anakku tak polos," panik Enji. 


Bayu berdecak lidah. 


"Sepertinya aku harus minta pada kakak agar mencarikanmu wanita untuk jadi istri. Biar benih-benih calon adikku tak terbuang percuma," tutur Bayu. Semakin membuat Enji merasa terkejut.


"Kata-katamu terlalu vulgar Nak, eh tunggu sebentar, kamu jangan ngadu sama kakak ya tentang ini. Bisa gawat nanti ayah dan kamu tentunya," ujar Enji memperingati Bayu. 


"Aku juga tak sebodoh itu Yah, tapi kalau kau menyimpan dan menontonnya ajak aku ya." Bayu mengedipkan matanya. Enji mendatarkan wajahnya. Ia menatap tajam Bayu. Bayu bergidik dan tersenyum kaku.


"Tak ada lagi melihat atau membahas hal itu. Tunggu kamu nikah nanti baru boleh, ayah akan buat laptopmu dan laptop ayah melarang hal itu untuk ditonton," ucap tegas Enji. Bayu hanya memutar bola matanya tak percaya. 


***

__ADS_1


Kini Arion tengah menikmati sajian yang tersedia di atas meja. Keduanya dengan saling tersenyum, saling suap-menyuapi satu sama lain. Kue tadi sudah duluan mendarat di lambung mereka. 


"Biasanya orang merayakan usia pernikahan mereka dengan makan malam, dan sajiannya seperti steak atau setara. Kamu malah ngerayainnya pagi hari. Menunya roti bakar lagi, unik juga," ucap Karina di sela-sela makan mereka.


"Kalau nanti malam, takutnya gak sempat. Secara kita pulang nanti sore. Mana sempat lagi buat acaranya. Lagipula aku yakin sampai rumah nanti kamu langsung tarik selimut dan meluk guling," jawab Arion. Menghabiskan jus jeruknya. Kemudian mengelap bibirnya dengan tisu.


"Benar juga," sambung Karina setelah diam beberapa saat.


"Sebenarnya aku mau ngerayainnya tengah malam tadi. Tepat jam 00.00, tapi ngelihat kejadian semalan dan rasa lelah kamu dan aku, makanya aku ganti setelah subuh," tutur Arion menceritakan.


Karina menaikkan satu alisnya seraya meminum susunya. 


"Serius, aku nyiapkan ini semua saja mulai jam dua dibantu Lee dan beberapa anggota. Syukurlah semua beres," lanjut Arion lagi, menjawab ketidakpercayaan Karina. 


Karina hanya mengangguk. Ia melihat jam tangannya.


"Aku harus segera berangkat ke restoran," ucap Karina setelah melihat jam tangannya.


"Eits, tunggu dulu, aku belum ngasih hadiah satu tahun pernikahan kita," tahan Arion melihat Karina yang hendak bangkit.


"Oh ada hadiah ya? Aku kira cuma begini saja," ujar Karina, duduk dengan baik.


Arion mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya. Bukan perhiasan, atau hadiah pada umumnya.


Melainkan sebuah nota pembelian. Karina dengan wajah penasaran meraih kertas itu dan melihatnya.


"Hah? Kamu beli jet baru? Kapan belinya? Apa gak terlalu berlebihan? Pesawat aku saja sudah berjajar di garasi, mau ditaruh di mana Ar? Aku saja beberapa hari yang lalu baru memesan pesawat baru. Untung bukan mobil yang kamu beli, kamu boros ah, pasti rekening kamu berkurang banyak," kaget Karina melihat apa yang dibeli dan berapa jumlah harganya. Karina tak suka dengan apa yang Arion lakukan ini. Arion tak minta pendapat atau pertimbangan darinya.


"Ck, siapa yang bilang ini hadiahnya? Ini pesawat untuk keperluan Black Diamond. Kalau ada misi atau pekerjaan gak pakai pesawat kamu. Bukannya aku gak suka atau apa, tapi lebih enak kalau punya kendaraan terbang sendiri," jelas Arion. 


"Oh begitu, aku kira itu hadiahnya. Kalau iya akan ku jual lagi pesawatnya. Lumayan uangnya buat memperbesar kerajaan bisnisku," ucap Karina, ia tertawa kecil dan mengembalikan nota itu pada Arion.


"Ini hadiah buat kamu," ujar Arion mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang. Karina dengan penasaran membukanya. Sebuah pisau dan pena berwarna biru. 


Karina mengambil pisau yang berbentuk seperti bor itu dan menilainya. Ia tersenyum melihat warna pisau yang mengkilap diterpa cahaya serta ketajamannya.


"Jagdkommando, salah satu pisau terbaik di dunia, selera yang bagus," puji Karina. Arion tersenyum. Karina memang suka dengan senjata tajam, oleh karena itu di tasnya ada selalu satu set pisau yang selalu dibawa kemanapun pergi.


Karina meletakkan pisau itu dan mengambil pena. Mengecek setiap sudutnya dan memandang Arion.


"Pena, adalah yang paling dekat dengan seorang pekerja kantoran, terutama CEO," terang Arion.


"Hm, ada namamu dan nama si kembar, aku suka hadiah kamu," ucap Karina. 


"Syukurlah kamu suka," ucap lega Arion.


"Ngomong-ngomong soal pena, sepertinya aku juga punya hal yang sama, tapi di mana ya aku letak? Sebentar aku ke kamar bentar," ucap Karina. Berdiri dan langsung jalan. Arion mendengus dan memilih mengikuti Karina. Dengan membawa kotak hadiahnya, Arion berlari mensejajarkan langkahnya dengan Karina.


Setibanya di kamar, Karina mencari di setiap sudut lemari. Ia berusaha mengingat di mana ia meletakkannya. Arion ikut bantu mencari.


"Kok gak ada sih?" heran Arion.


"Kamu taruh di mana memangnya? Kalau ada di lemari dan kamar, pasti ada," tanya Arion.


"Kalau aku ingat gak bakalan nyari kayak gini," gerutu Karina. Karina memejamkan matanya dan berusaha keras mengingat.


Ayolah Karina. Hanya berselang dua hari saja, mengapa kau pelupa terhadap hal yang penting? Tetapi masalah pekerjaan kau tak pernah lupa. Ck, tapi memang iya sih, tanggal di mana mereka ia menikah saja lupa.


"Aha, ternyata masih di mobil," seru Karina.


"Nanti saja diambilnya. Kita nyamperin Mama dan lainnya saja yuk," ajak Arion.

__ADS_1


"Oh, oke," sahut Karina.


__ADS_2