
Brakk.
Reza memukul keras meja kerjanya. Dua orang yang berdiri di hadapannya menunduk takut melihat wajah merah padam Bosnya. Reza mengusap wajahnya kasar.
"Cari. Temukan putriku secepatnya. Jika tidak kepala kalian menjadi taruhannya," perintah Reza tegas.
"Baik Tuan," jawab salah seorang dari dua pria itu.
Mereka segera menunduk dan keluar dari ruangan Reza. Reza menghembuskan nafas kasar.
Ia marah besar sekaligus khawatir, mendengar dan mengetahui bahwa putrinya hilang. Ini sudah dua hari dua malam. Putrinya tak kunjung kembali. Dilacak pun tak bisa. Alat komunikasi Joya tak berfungsi.
Seluruh pasukan bayangan dikerahkan. Hasilnya juga belum ada kepastian.
"Siapa yang berani menculik Putriku? Berani sekali orang itu," gumam Reza. Reza tahu bahwa Joya diculik, awalnya ia sempat membantah pemikirannya itu, karena ia tahu bahwa Joya memiliki ilmu bela diri yang mumpuni dan kecerdasan untuk melarikan diri dari musuh jika tak ada kemungkinan menang.
Tetapi pada akhirnya dia yakin Joya diculik sebab melihat rekaman CCTV yang ada di pinggir jalan di mana tempat Darwis menculik Joya.
Dan sialnya lagi, plat nomor kendaraan ditutupi dan wajah penculiknya memakai masker.
"Joya, Papa harap kamu baik-baik saja di tangan penculik itu. Tetapi apa sebenarnya motif orang itu? Jika meminta tebusan mengapa tak ada pemberitahuan? Jika tidak uang lantas apa? Atau … jangan-jangan orang itu adalah orang yang membunuh keempat teman lamaku? Dia ingin balas dendam padaku melalui putriku?"
Reza bertanya-tanya. Matanya seketika membulat. Resah dan khawatir. Jika memang pemikirannya benar, maka dia dan putrinya dalam bahaya.
Aku harus meminta bantuan kelompok itu, batin Reza mantap.
Reza mengambil handphonenya, menghubungi seseorang.
"Halo." Terdengar suara wanita datar.
"Aku butuh bantuanmu," ujar Reza serius.
"Woah … seorang Reza Argantara meminta bantuan pada kelompok kecilku?"
Suara wanita itu terdengar tak percaya. Ia terkekeh pelan mendengar ujaran Reza.
"Aku serius," imbuh Reza. Ia mengepalkan tangannya kesal. Berusaha menahan emosi.
"Ya … aku tahu Anda serius. Jika tidak mana mungkin Anda menghubungiku. Apa yang bisa aku bantu?" tanya wanita itu serius.
"Bantu aku menemukan putriku sulungku. Dia diculik oleh seseorang. Tetapi aku tak bisa menemukan maupun melacaknya. Petunjuknya buntu," jawab Reza.
"Oh … Joya diculik. Hebat juga ya yang menculiknya," komentar wanita itu terdengar memuji penculiknya.
"Apa imbalannya?" tanya wanita itu lagi.
Reza melonggarkan dasinya. Kemudian mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.
"Akan kuberikan setelah putriku kembali padaku. Tenang saja aku tak akan berkhianat," ucap Reza.
Wanita itu tertawa di seberang telepon. Menertawakan ucapan Reza lagi. Reza mengerutkan dahinya.
"Ada yang lucu?" tanya Reza kesal.
"Hahaha … Anda pikir aku ini bodoh hah? Senjata kelas S sebanyak lima puluh buah. Akan aku temukan putrimu itu," Wanita itu terang-terangan meminta imbalan.
Reza hampir muntah darah. Yang benar saja? Senjata kelas S, persatu buahnya mencapai 10 sampai 15 juta rupiah. Berarti setidaknya semuanya bernilai 500 juta rupiah.
"Terlalu mahal," tolak Reza tegas.
"Yak ah. 500 juta dibandingkan nyawa ketua muda Black Tiger Mafia. Pentingan mana? Atau jangan-jangan kau lebih sayang uang daripada putrimu? Tapi iya juga sih, kau rela menjadikan putrimu umpan untuk mendapatkan proyek besar di negara K. Aku benar bukan?" sarkas wanita itu.
__ADS_1
Reza terdiam. Hatinya mengumpat kesal. Tak terima cemoohan dari wanita yang ia hubungi ini. Tetapi nalurinya sekarang bertindak sebagai seorang Ayah bukan leader organisasi dan perusahaan.
"Oke. 50 senjata kelas S. Aku tunggu kabar secepatnya."
Reza menyampaikan keputusannya.
"Bagus. Aku tunggu pengirimannya dalam dua minggu ke depan," ucap wanita itu langsung mematikan panggilan sepihak.
Reza menghembuskan nafas pelan.
"Joya, bersabarlah sayang. Papa akan mengerahkan sebanyak mungkin bantuan untuk menemukanmu," gumam Reza.
Reza meraih gelas air mineral di sudut meja. Meminumnya hingga tandas. Tak lama ia kembali mengerjakan tugasnya sebagai CEO Argantara Company. Walaupun hatinya khawatir, kewajibannya sebagai pimpinan tetap ia jalankan. Apalagi sekarang perusahaan lagi down ditekan oleh KS Tirta Grub. Raina dan Lila sudah menunjukkan hasil kerja, hanya menghitung jam.
Apa sebenarnya masalahku dengan perusahaan itu? Mengapa mereka menekan saham Argantara Company? batin Reza bertanya.
Terhitung hanya 2 kali ia bertemu Karina. Waktu pertama pada saat Arion mengantarkan Joya pulang ke rumah dan pertemuan kedua di pertemuan CEO.
"Aku kan tak pernah menyinggungnya. Baik perusahaan maupun mafianya. Lantas apa alasannya?" gumam Reza.
"Tuan, CEO dari KS Tirta Grub ingin bertemu dengan Anda," ucap panik dan serius sekretaris Reza, Dion. Pria berkacamata itu membuka menunjukkan wajah was-was. Reza tercekat.
"Maksudmu?" tanya Reza merasa salah dengar.
"Sekarang beliau bersama asisten dan sekretarisnya berada di lobby. Bagaimana ini Tuan?" terang Dion menyeka keringatnya.
"Biarkan mereka masuk. Mungkin ada hubungannya dengan mereka yang menekan perusahaan kita," titah Reza memperbaiki tampilannya.
"Baik Tuan," ucap Dion segera beranjak untuk mempersilahkan Karina, Lila dan Raina menuju ruangan CEO.
Reza bergegas ke kamar mandi. Membasuh wajah kusutnya agar terlihat lebih fress.
"Mengapa aku berdebar dan gelisah bertemu dengannya?" guman Reza.
Reza menepuk-nepuk pipinya pelan.
Ini bukan jatuh cinta tetapi seperti rasa bersalah. Aih … mengapa aku teringat akan kakak dan keluarganya? batin Reza.
"Tuan, Anda di dalam?" Terdengar suara Dion memanggi seraya mengetuk pintu kamar mandi.
"Ya. Sebentar," sahut Reza memperbaiki kerah bajunya. Reza segera membuka pintu dan keluar dengan langkah tegas. Terlihat Karina dan dua bawahannya duduk santai di sofa tamu. Dengan Karina yang menyilangkan kaki dan tangannya.
"Ada apa gerangan, Anda menemui saya? Apa ada kaitannya dengan Anda yang menekan perusahaan saya?" tanya Reza serius seraya mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal.
Karina menarik senyum tipis sedangkan Lila dan Raina hanya menunjukkan wajah datar mereka.
"Anda sangat peka Tuan Argantara. Aku ingin melakukan penawaran denganmu," sahut Karina santai.
Reza diam. Meneliti Karina.
Tak mengherankan dia bisa memimpin perusahaan raksasa itu. Sikapnya sangat santai, tetapi tidak lola, batin Reza.
Tok.
Tok.
Terdengar suara ketukan pintu. Dion segera membuka pintu. Tak lama masuklah dua office girl dengan satu membawa nampan berisi minuman dan satu lagi membawa makanan ringan.
Dua office girl segera meletakannya nampan di atas meja, lalu bersimpuh menyajikan apa yang mereka bawa.
"Silahkan dinikmati," ujar keduanya ramah.
__ADS_1
Karina mengangguk. Dua office girl itu segera beranjak keluar.
"Bagaimana Tuan?" tanya Karina lagi.
"Hmm … apa aku tak salah dengar? Anda menekan perusahaan saya, dan sekarang Anda ingin melakukan penawaran dengan Saya."
Reza terkekeh pelan. Dia juga tahu bahwa Karina juga adalah leader Pedang Biru. Secara naluriah dia harus berhati-hati pada Karina.
"Eh … Anda benar. Anda salah dengar. Saya bukan ingin melakukan penawaran melainkan menagih hak saya," ralat Karina santai.
Reza menautkan alisnya bingung. Raina dan Lila tersenyum kecil. Karina meraih gelas berisi teh hangat di hadapannya lalu meminumnya. Lila meraih cemilan, menikmatinya perlahan.
"Hak? Hak apa? Apa saya pernah berhutang pada Anda? Atau apa?" tanya Reza tak mengerti.
Ia tak pernah berhubungan dengan Karina sebelumnya. Bagaimana Karina bisa menagih hak?
"Hak atas saham dan keuntungan atas nama Arsuf Stephanson," ucap Karina santai.
"Arsuf Stephanson?" gumam Reza. Berusaha mengingat. Tak lama ia mengintruksikan Dion yang berada di belakangnya untuk mendekat.
"Temukan data tentang saham itu. Aku lupa," bisik Reza pada Dion.
Dion mengangguk dan segera permisi keluar.
"Apa hubungannya dengan Anda?" tanya Reza serius, menatap lekat Karina.
"Dia Ayahku," jawab Karina membalas tatapan Reza dengan tajam. Reza terperangah. Sontak terlonjak dari duduknya.
"Ayah Anda?" beo Reza memastikan.
Karina mengangguk. Raina menyerahkan beberapa dokumen pada Reza. Reza menerimanya ragu. Reza membaca satu demi satu lembaran dokumen.
"Ini adalah buktinya. Terlihat jelas di sana Tuan Arsuf memiliki saham sebesar 25%. Karena beliau telah lama meninggal maka saham itu otomatis jatuh ke tangan Nona Karina. Di situ sudah sudah terdapat amanat dari Tuan untuk hal itu," terang Raina tegas.
Lima menit kemudian, Reza selesai membaca lembaran dokumen. Meletakkannya di atas meja. Wajahnya tampak kembali lesu.
Pikirannya bertambah. Tak lama Dion masuk dengan membawa sesuatu di tangannya, apalagi kalau bukan sebuah map dan isinya.
"Tuan, hasilnya ada di sini," ujar Dion menyerahkan map di tangannya. Reza membacanya sekilas. Kesimpulannya adalah apa yang disampaikan Karina sesuai dengan apa yang Dion serahkan pada map di tangannya.
"Saya akan menyerahkan hak saya. Bagaimana pun beliau pernah berjasa pada saya. Ya walaupun saya dikenal licik saya akan tetap menyerahkan hak Anda," ucap Reza.
"Bagus jika begitu," sahut Karina.
"Seluruh keuntungan atas saham tersebut ada di sini. Semuanya saya kumpulkan menjadi di dalam kartu ini. Sandinya adalah ulang tahun putriku. JOYA," imbuh Reza menyerahkan kartu hitam kilat mengkilap pada Karina. Karina menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih banyak atas kerja samanya Tuan Reza. Saya pamit," ucap Karina berdiri dan mengulurkan tangannya.
Berniat berjabat tangan. Di ikuti Lila dan Raina. Lila memang tak turut andil dalam berbicara kali ini, hanya menemani Karina.
"Sama-sama," balas Reza menjabat uluran tangan Karina. Bergantian dengan Lila dan Raina.
"Lalu bagaimana dengan Anda yang menekan perusahaan saya? Saya harap Anda segera menarik tekanan Anda," ucap Reza.
"Akan saya pikirkan lagi. Oh ya jika ingin tekanannya cepat ditarik maka minta putrimu berhenti mengusikku serta keluarga dan aku mau saham perusahaan ini," jawab Karina tersenyum licik.
Reza geram. Namun ditahan agar tak meledak.
"Saya juga akan memikirkannya lagi," sahut Reza tersenyum masam.
Kemudian Karina, Lila dan Raina segera meninggalkan ruangan Reza dan Argantara Company.
__ADS_1
"Tuan, Anda memberikan itu begitu saja?" tanya Dion was-was.
"Ya. Aku tak sanggup untuk melawannya. Apalagi dia itu tidak takut dengan apapun. Lebih baik dituruti saja. Kendali perusahaan secara tidak langsung berada dalam genggamannya. Sedangkan putriku belum ditemukan. Tunggu hingga Joya kembali maka aku akan menyusun rencana untuknya," jawab Reza merentangkan tangannya di sandaran sofa. Mengusap senyum misterius. Dion hanya mengangguk paham.