
Dia adalah sosok yang mulia. Dia adalah sosok yang mempunyai cinta yang amat murni. Dia adalah sosok yang bisa mengerti sesuatu yang tidak dikatakan. Dia adalah guru pertama di dalam hidup ini.
Pengorbanannya tiada mengharap balas. Kasih sayangnya tulus dan terus mengalir. Dia adalah tempat berlindung yang paling aman. Padanya kita selalu merasa tenang dan nyaman.
Rumah seakan tidak hidup tanpa kehadirannya. Pada saat memasuki rumah, pasti yang kita cari adalah dirinya. Bahkan dia adalah rumah pertama saat hidup di dunia ini. Sembilan bulan kita menyatu dalam tubuhnya. Membawa kita kemanapun ia pergi selama itu, menahan berat dan sakit yang ia rasa kan. Bertaruh nyawa demi melahirkan kita. Dialah ibu, sosok paling mulia di dunia ini.
Tempat kita bersandar di saat terpuruk dan rapuh. Ibu adalah surya bagi setiap anak. Kasih sayang dan cintanya tak akan pernah pudar ditelan masa. Ibu, dia bisa melakukan apapun demi anaknya, benar atau salah kadang bukan halangan baginya. Melihat anak bahagia adalah impian semua ibu. Tapi percayalah, ibu memang bisa menjadi apapun, akan tetapi tidak seorangpun bisa menggantikan sosoknya.
Akan tetapi, terkadang kita sering melupakan pengorbanannya. Tak jarang sering membantah ucapannya. Tak jarang sering melawan kata-katanya, tak jarang melanggar pesan-pesannya, padahal mengatakan ah saja sudah sebuah dosa, lantas bagaimana dengan melawan? Surga seorang anak berada di telapak kakinya. Lantas apakah kita bisa mencium dan menginjak surga kelak jika menyakiti hatinya?
Doa ibu adalah doa yang paling mujarab. Tapi, hati Ibu adalah yang paling suci, bahkan saat dia sudah disakiti, kasih dan cintanya tetap tulus, memohon pada Allah untuk yang terbaik untuk anaknya. Bagi Ibu, tidak apa ia menderita, asalkan anaknya bahagia.
Namun, saat dia pergi selamanya yang paling sedih adalah anak. Ibu adalah rumah, tidak peduli bagaimana kondisinya, dia adalah malaikat tak bersayap yang selalu melindungi buah hatinya dari marabahaya.
Ibu, tidak mengharap balas, hanya ingin bahagia dengan anaknya. Menua dengan bahagia ditemani anak dan keturunannya. Cukup menurut dan menghormatinya, sudah membuat hatinya puas. Saat seorang anak salah jalan, ibu lah yang akan membawa kembali ke jalan yang benar.
Tidak akan ada habisnya mendeskripsikan seorang ibu. Tiada cinta, harta, atau apapun yang sebanding dengannya, kecuali sang pencipta. Happy mother day.
*
*
*
Hari Ibu selalu diperingati setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya. Di hari ini, biasanya banyak yang akan memposting moment kebersamaan bersama Ibu dengan menyertakan ucapan selamat hari ibu dan bersama kata-kata mutiara yang berkaitan dengan sosok ibu. Tidak peduli setinggi apapun jabatan dan posisinya, pasti ucapan selamat hari ibu akan terucap, baik lisan, tertulis maupun di dalam batin.
Banyak juga event yang bertemakan hari Ibu, misalnya kegiatan sekolah, di mana setiap siswa disuruh membawa ibunya ke sekolah untuk merayakan hari ibu dengan membasuh dan mencuci kaki sang Ibu. Event seperti itu biasanya diiringi dengan tangis haru.
Happy mother day, bisa menjadi ajang mengingat dan meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat terhadap ibu. Hal itu juga berlaku bagi keluarga Wijaya. Pagi setelah subuh, Karina dan Arion bergegas menuju kediaman Wijaya. Begitupun dengan Enji dan Bayu. Mereka berkumpul di kediaman Wijaya untuk merayakan hati ibu.
Maria bahkan sampai terkejut dan menangis dengan ucapan hari ibu dari anak-anaknya. Bahkan dia belum berganti pakaian saat mendapat kejutan. Dipeluk dan diciumnya satu persatu anak-anaknya. Karina, Arion, Enji dan Bayu bergantian menyuapi Maria kue yang sengaja dipersiapkan untuk Maria, demi menghindari kecemburuan, mereka juga menyuapi Amri. Pria tua itu tampak tercengang dan terkejut. Dikunyahnya kue suapan keempat anaknya dengan haru.
__ADS_1
Seusai sarapan pagi, Maria yang telah mandi dan tampil cantik, didudukkan di kursi di depan rumah. Telapak kakinya berada di sebuah wadah yang cukup besar berisi air bersih. Maria menyentuh lembut rambut keempat anaknya secara bergantian. Saat ini Arion, Enji, Karina dan Bayu tengah bersama-sama membasuh dan mencuci kaki Maria. Wajah mereka sangat serius, dengan pikiran yang berbeda tapi satu tema yaitu Ibu.
Karina, mengingat ibunya, wajah ibunya yang bisa ia lihat jelas melalui foto. Bisa dikatakan ini adalah kali keduanya ia merayakan hari ibu dengan membasuh dan mencuci kaki Maria, sebelumnya ia hanya menatap liontin foto ibunya. Bersyukur, Karina sangat bersyukur masuk di keluarga yang sangat baik dan ppengertian. Maria tidak membedakan mana menantu dan anak kandung ataupun anak angkat, semua sama. Kasih sayangnya seimbang.
Arion, Arion mengingat dan merenung tentang perlakuan kurang baik yang pernah ia lakukan pada Maria. Mengingat usaha Maria untuk mendapatkan maaf dan pengakuan dari dirinya. Arion menyesali perbuatan kurang baik di masa lalu, bersyukur ia masih dibeli kesempatan serta penyesalannya tidak terlambat.
Arion menyadari, bahwa seharusnya bukan ia yang harus memberi maaf, tapi sebaliknya, ialah yang harus meminta maaf. Semua tidak terlepas dari kehadiran Karina, istri esnya itu bisa membawa kehangatan bagi sekitarnya. Bahkan Arion menitikkan air mata, saat menyentuh dan menggosok pelan kaki sang ibu.
Lalu bagaimana dengan Bayu dan Enji? Enji teringat dengan wajah sang ibu sebelum wanita yang melahirkannya itu pergi untuk selamanya. Itulah salah satu alasan ia dibuang oleh keluarganya, ayahnya menikah lagi dengan wanita licik dan haus harta, sebagai anak tunggal, pasti Enji akan menjadi ancaman bagi ibu tirinya.
Dasar ayahnya saja yang sudah tidak menganggapnya setelah ibunya wafat, alhasil ayah dan ibu tirinya membuangnya dengan tega di tempat pembuangan sampah. Beruntung Karina datang, dia sangat bersyukur bisa bertemu Karina, dan sejak ia kembali lagi ke keluarga Sanjaya, ia bisa merasakan kasih sayang tulus seorang ibu dari Maria.
Bayu, pemuda cilik itu terisak, Maria adalah orang yang memberinya kasih sayang seorang ibu yang sangat melekat di hati selain ibu panti asuhannya. Aura keibuan dapat Bayu rasakan saat pertama kali melihat Maria. Mata coklat yang sendu dan penuh arti itu sanggup membuat Bayu merasa nyaman.
Mengenai ibu biologisnya, bahkan wajah dan namanya saja baru ia ketahui saat bertemu dengan ayah kandungnya. Sejak kecil, setetes air susu ibunya pun belum pernah rasakan. Seusai dilahirkan, Bayu langsung dibuang di depan panti. Ibunya yang mengalami pendarahan berujung kematian, tidak sanggup menahan tindakan orang tuanya.
"Sudah jangan menangis. Masa lalu bukan untuk disesali dan ditangisi. Cukup terima dan jadikan mereka pelajaran hidup yang berharga. Menjadi Mama kalian adalah sesuatu yang sangat membanggakan, tidak terlukiskan dengan kata. Terima kasih banyak untuk kejutan di hari spesial bagi seluruh ibu. Sebenarnya, tanpa kalian katakan dan rayakan, Mama dan semesta tahu, kalian menyayangi Mama, terlebih Mama kalian masing-masing," tutur Maria yang melihat mata menahan tangis ketiga anak lelakinya. Sedangkan anak perempuannya itu tampak diam dengan mata yang sukar Maria artikan, tapi itu bukan masalah.
"Ma, maafkan kesalahan Arion selama ini sama Mama ya, begitu banyak dosa yang Arion lakukan pada Mama. Kata maaf bahkan tidak cukup untuk mendapatkan maaf Mama. Maafkan anakmu yang bod*h ini Ma, Arion sudah pernah jadi anak yang durhaka," pinta Arion menangis dan memeluk Maria erat. Maria membalas pelukan Arion, dengan air mata yang menetes mendengar setiap ucapan Arion yang penuh penyesalan dan kesungguhan.
"Ma, terima kasih sudah menjadi Mama yang baik untuk Bayu dan Ayah." Bayu hanya mengatakan hal singkat, tetapi menyentuh. Maria mengangguk dan tersenyum lembut.
"Terima kasih sudah melahirkan pria tampan dan suami berharga untuk Karina." Maria menatap Karina heran, Karina balas menatap datar. Maria tersenyum. Arion melepas pelukannya dan menyeka air matanya.
Arion lantas tersenyum lembut pada Karina.
"Tentu saja harus berterima kasih. Terima kasih karena telah melahirkan pria tertampan di dunia ini. Suami berbakat sepertiku memang pantas mendapatkan istri seperti dirimu. Kau harus bangga Sayang, pria rupawan ini menjadi milikmu dan kau dimiliki olehnya." Karina mendengus dengan ucapan merak suaminya. Maria tersenyum geli, sedangkan Bayu dan Enji memutar bola mata malas. Apa yang harus dibanggakan? Bagi mereka tampan tanpa akhlak, tiada artinya.
"Ehem, mentang-mentang hari Ibu, kalian melupakan pimpinan keluarga ini. Ingat Ar, tanpa genku kau bukan apa-apa." Semua menatap Amri yang tengah menggendong Alia, wajah Amri cemberut dan menatap kesal kelima anggota keluarganya itu.
"Wah Papa cemburu. Papa mau dirayakan juga?"sahut Bayu segera menghampiri Amri dan memegang ujung baju Amri.
__ADS_1
"Eh?" Amri sekarang malah kaget sendiri.
"Tapi hari ayah kan masih lama? Masa' Papa mau jadi ibu sih di hari ibu ini?" Maria menatap Amri dengan tatapan geli.
"Tidak masalah," ucap Karina. Karina melirik Enji dan Arion. Paham kode, keduanya bergerak. Maria memperhatikan apa yang akan oleh anak-anaknya ini. Enji mengambil alih Alia dari tangan Amri dan Arion merangkul Amri lalu memintanya duduk di tempat Maria duduk lagi. Karina meminta pelayan mengambilkan air baru. Sekarang, ketiga anak lelaki itu membasuh dan mencuci telapak kaki Amri.
Alia yang kini berada di dalam gendongan Maria melihat dengan senyum lucu. Amri tampak terkaku dengan perbuatan ketiga pria kebanggaannya itu.
"Kedudukan kalian itu sama, sama-sama orang tua kami, walaupun ibu tiga tingkat lebih tinggi dari pada ayah, ayah akan menjadi ibu saat ibu tiada, kalian saling melengkapi dan bisa melengkapi," ucap Karina.
Amri tersenyum lebar. Kini kakinya sudah selesai dibasuh dan dilap.
"Hm, mumpung kita sekeluarga kumpul, bagaimana kalau kita ke mall? Kita kan belum pernah belanja bareng. Dan ini bukan permintaan tetapi perintah, tahukan kalian akibatnya menolak perintah ibu?"ujar Maria tegas. Mau tidak mau, kelima orang itu mengangguk. Mereka bersiap berangkat ke mall.
...****************...
...****************...
...****************...
Di sebuah ruang inap yang sangat pekat dengan aroma obat-obatan, terlihat dua orang berbeda usia dan kelamin tengah bekerja sama membersihkan tubuh seorang wanita yang terbaring lemah di ranjang, tubuhnya yang kurus dengan cekungan mata yang lebar. Senyum diwajahnya sangat kontras dengan pipi tirus dan kulit pucatnya. Matanya mengikuti pergerakan kedua orang itu terhadapnya. Kedua orang itu memakai peralatan jenguk yang lengkap mengingat wanita itu menderita penyakit yang serius.
"Terima kasih," ucap wanita itu lirik menahan tangis. Anak perempuan itu mengangkat pandangannya menatap wanita itu. Wajahnya tersenyum cerah.
"Ibu harus tetap berjuang. Jangan kenal menyerah. Ayah sudah berubah, ibu juga harus sembuh. Anakmu ini akan terus berusaha mencari biaya agar ibu bisa sembuh," tuturnya lemah.
"Erin, maafkan kebodohan suamimu ini. Karena aku, kamu menanggung penyakit ini. Karena ambisiku memiliki anak lelaki keluarga kita jadi berantakan. Tapi, sekarang aku sudah sadar, aku akan mencari uang untuk biaya pengobatanmu. Tetaplah semangat dan berjuang, aku mencintaimu," ucap pria itu. Wanita yang terbaring itu menggeleng lemah.
"Ini salahku juga. Akulah yang ambisius sebelum dirimu. Ini adalah karma perbuatanku. Kamu berubah, sudah menjadi hadiah terbaik di hari ibu ini, Mas," ucap lemahnya.
"Ibu, ibu harus sembuh ya. Jessica mau kita seperti dulu lagi, Jesica mohon Bu." Mereka adalah Rudi, Jesica yang tengah mengunjungi Erin, Ibu dari Jesica.
__ADS_1
Mata Erin berkaca-kaca lalu mengangguk pelan.
"Ibu akan berusaha Nak."