
Setelah memesan dan membayar biaya menginap selama seminggu ke depan, Rian melangkahkan kaki menuju lift, naik ke lantai kamar hotelnya. Dengan diantar seorang karyawan, Rian bersandar di dinding lift sembari memainkan handphone. Koper miliknya dibawa oleh karyawan tersebut.
Ting.
Lift berdenting nyaring ketika tiba di lantai tujuan.
"Thank you," ucap Rian ketika tiba di depan pintu kamarnya.
Karyawan tersebut mengangguk kemudian menunduk hormat pada Rian.
Rian meletakkan asal kopernya ketika sudah berada di dalam kamar. Dengan cepat Rian melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.
Rian meletakkan kedua tangan di belakang kepala, menatap langit-langit dengan tatapan rumit. Dahi Rian mengernyit tipis. Matanya mengerjap perlahan. Menghembuskan nafas kasar.
"Karina sudah mau melahirkan, Li juga sebentar lagi memiliki putra, Darwis juga, Gerry dan Satya sudah menikah, tinggal aku sendiri yang masih lajang," gumam Rian dengan nada yang sedikit iri.
"Apakah aku harus segera menikah juga?"gumam Rian lagi, bertanya pada dirinya sendiri.
Manik coklatnya menerawang jauh, mengingat wanita yang pernah ia kencani tanpa perasaan.
Sebagai seorang pria dewasa yang berstatus sebagai Tuan Muda sebuah kasino, mustahil rasanya jika Rian tidak pernah berhubungan dengan wanita. Sebagai pria normal, ia juga butuh yang namanya kebutuhan batin.
Tapi di antara semua wanita yang pernah tidur dengannya, tidak sedikitpun hati Rian berdebar. Semua hanya atas dasar memenuhi kebutuhan birahi dan berlangsung hanya one stand night.
Ah.
Rian mendesah pelan. Rian tidak punya tipe ideal untuk menjadi istrinya, asalnya bisa membuat hatinya berdebar serta membuat dirinya nyaman di sisi wanita itu, Rian akan menjadikan wanita tersebut sebagai pendampingnya. Tidak peduli dari mana asalnya, latar belakangnya, Rian akan menikahi wanita tersebut.
"Haruskah aku berbicara dengan Karina mengenai calon istriku kelak?"gumam Rian lagi.
"Atau aku mencarinya sendiri baru berbicara dengan Karina?"
Rian beranjak duduk, menyandarkan punggung pada kepala ranjang yang telah dilapisi dengan bantal.
"Tapi dimana aku mencarinya?"
Rian menghela nafas kasar. Menyibak rambut ke belakang. Rian kemudian melepaskan dua kancing kemeja atas.
Rian mengedarkan pandangan mencari jam dinding. Sudah hampir pukul 12.00 siang.
"Ah lupakan saja. Sekarang misiku lebih penting juga membuatku merinding. Hahaha … aku pasti sudah gila setuju pura-pura jadi penyuka sesama jenis. Sialan!"
Rian kembali misruh - misruh kesal dengan Darwis dan Satya. Rian turun dari ranjang menuju kamar mandi. Ia butuh kesegaran agar pikirannya tetap tertuju pada misi.
*
*
*
Selesai makan siang, Rian melangkahkan kakinya keluar dari hotel menuju suatu tempat. Dengan mengendarai Nissan Magnite berwarna merah yang ia sewa selama dua hari, Rian menyusuri jalanan kota ke tempat yang ia inginkan.
Menurut Rian lebih efesien menyewa mobil daripada naik-turun kendaraan umum. Rian mengemudi dengan kecepatan sedang.
Sekitar 30 menit kemudian, Rian memarkir mobilnya di tempat parkir sebuah kolam renang yang cukup besar.
Rian turun, menurunkan kacamata menatap pintu masuk kolam renang. Di kirinya, Rian membawa tas kecil berisi perlengkapan renangnya. Rian tersenyum tipis. Rian mengantri sejenak untuk mendapatkan tiket masuk.
Kolam renang ramai dengan pengunjung. Maklum lagi musim panas, tempat rekreasi air pasti akan sangat ramai. Rian berdecak sebal. Untung saja di sini tersedia lemari penyimpanan, ya walaupun ada biaya tambahan tidak masalah.
Rian segera menuju kamar mandi untuk bertukar pakaian. Sekitar lima menit kemudian, Rian keluar dengan celana renang di atas lutut, juga penutup kepala.
Setelah menyimpan pakaiannya, Rian segera menuju kolam renang. Kolam renang di sini terdiri atas beberapa kolam. Ada yang untuk anak kecil, remaja, dan dewasa.
Rian masuk ke kolam renang yang dikhususkan oleh pengunjung yang ia berenang bukan bermain air. Jadi ia bisa berenang dengan bebas tanpa harus menabrak pengunjung lain.
Rian melakukan pemasaran sejenak agar ototnya tidak cedera. Setelah merasa tubuhnya ringan, Rian memakai kacamata renang.
Byur.
Rian langsung loncat ke kolam renang, melakukan gaya kupu-kupu yang terkenal sulit.
Panjang kolam sekitar 50 meter, Rian pulang pergi tanpa berhenti. Seratus meter ia tempuh dalam waktu yang cukup cepat. Rian mengatur pernapasannya. Naik ke atas dan duduk di tepi kolam.
Rian melepas kacamata berikut penutup kepalanya. Rian mengedarkan pandangan kemudian melihat jam tangannya.
"Harusnya sekarang," gumam Rian menatap pintu masuk kolam renang ini.
__ADS_1
Senyum Rian mengembang melihat orang yang ia tunggu tiga, Abraxas!
Rian kembali mengenakan perlengkapan renangnya, kembali berenang dengan gaya punggung.
Abraxas yang baru tiba, terpana dengan Rian yang berenang layaknya seorang atlet. Abraxas terpana dengan tubuh Rian yang terlihat jelas dari tempatnya berada.
Abraxas bergegas menuju pinggir kolam tempat Rian akan berhenti nanti. Rian yang sedang akting, pura-pura terkejut saat kepalanya menabrak sesuatu tapi bukan dinding kolam.
Rian melihat ke belakang. Terkesiap saat tahu yang ia tabrak tadi adalah dada Abraxas.
Mereka berbicara dalam bahasa spanyol yang jika diartikan adalah ….
"Hei Bung. Kau seorang atlet?"tanya Abraxas ramah.
"You? Kamu orang yang sama dengan yang di restoran pagi tadi kan?"
Rian melepas kacamata renangnya. Menatap Abraxas terkejut. Abraxas juga tampak terkejut, kemudian ia tertawa.
"Jodoh tidak akan kemana," ujar Abraxas, tanpa pemberitahuan langsung memeluk Rian erat.
Rian mati-matian menahan rasa enggannya, membalas pelukan Abraxas.
"Kawan, tapi kau mengatakan apa? Jodoh? Apakah kita sama?"
Rian bertanya dengan nada polos.
"Kau hadiah yang dikirim Tuhan untukku. Aku jatuh hati padamu saat di restoran tadi," ungkap Abraxas tanpa pikir panjang menyatakan ketertarikannya.
Rian sudah mau muntah mendengarnya. Tapi ia tahan dengan tersenyum lebar.
Jatuh hati matamu! Cinta pandangan pertama? Bulshit!umpat Rian dalam hati.
"Apakah kau sudah punya pasangan?"tanya Abraxas.
"Pasangan? Jika ada mana mungkin aku bisa berkeliaran begini," jawab Rian tersenyum.
"Good!"seru Abraxas.
"Tapi aku tidak mengenalmu. Kesimpulan yang ku ambil dari pertemuan pertama dan kedua kita, aku rasa kita berbeda jauh. Tadi pagi kau muncul dengan gaya gangster lengkap dengan pengawal bersenjata. Kini kau muncul seorang diri, sebenarnya siapa dirimu?"tanya Rian dengan ekspresi bingung.
"Aku …."
Rian melihat jam tangannya. Satu jam lagi ia ada meeting online dengan Satya. Rian harus segera kembali ke hotel.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi jika kau ingin mengetahui siapa diriku, datanglah ke Starbar pukul 19.00 nanti," ujar Abraxas yang membuat Rian menampilkan ekspresi kecewa.
"Baikkah. Tapi bisakah kita berkenalan?"tanya Rian.
"Tentu. Namaku Abraxas dan kau?"
"Namaku Luca," jawab Rian.
"Luca? Nama yang cocok denganmu," puji Abraxas.
"Thank you. But aku harus pergi lebih dulu. Masih ada tempat yang ingin aku kunjungi," pamit Rian.
"Baiklah. Sampai jumpa nanti malam," ujar Abraxas.
Rian segera naik dan berjalan cepat menuju tempat ia menyimpan pakaiannya. Di dalam kamar mandi, Rian berdiam diri sejenak. Ia merinding hebat kini.
Huek.
Makan siang yang ingin Rian muntahkan berhasil keluar. Rian menyeka bibirnya kemudian menyiram muntahan yang berceceran di lantai.
"Aku harus tahan. Pria itu begitu blak-blakan. Bisa- bisa dalam waktu dekat dia tidak bisa menahan diri dan … ahh tidak! Lebih baik aku mati daripada disentuh olehnya!"
Dengan langkah yang sedikit lesu, Rian keluar dari area kolam renang menuju tempat parkir. Mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-tata, Rian tiba lebih cepat di hotel.
*
*
*
Matahari telah terbenam. Rian kini mengemudi menuju bar dimana ia dan Abraxas akan bertemu. Abraxas ternyata sudah tiba lebih dulu. Ia mengenakan setelan jas. Rian yang juga menggunakan setelan jas langsung melepas jasnya.
"Maaf aku terlambat," sesal Rian.
__ADS_1
"No problem, Luca. Aku terlalu bersemangat hingga datang lebih awal. Hehehe …."
Rian tersenyum lebar. Pelayan datang membawakan mereka minuman.
"Ayo kita mulai perkenalan kita," ujar Abraxas setelah minum.
"Hm."
Abraxas menyodorkan kartu nama miliknya, begitu juga Rian yang memberikan kartu nama samarannya.
"Pengusaha kuliner? Apa kau seorang chef?"tanya Abraxas merasa terkejut dengan pekerjaan Rian.
"Ah tidak. Aku hanya penikmat kuliner yang ingin berbagi rasa dengan banyak orang. Itu adalah alasan aku sering bepergian ke berbagai tempat," jawab Rian.
"Sedangkan dirimu, pemilik toko senjata?"heran Rian.
"Itu hanya identitas samaran," bisik Abraxas sudah mulai mabuk.
"Samaran?"beo Rian.
"Aku ini seorang ketua mafia. Keluarga kami bergerak di bidang narkoba dan senjata," ujar Abraxas.
"Kalian kriminal?"
"Hanya mereka bukan aku. Aku ini hanya boneka."
Aihs efek minuman memang luar biasa.
"Aku tidak mengerti," ucap Rian.
Abraxas bangkit dari duduknya, menggeser kursi menjadi di samping Rian. Rian ingin bergeser tapi ditahan oleh Abraxas.
"Aku ini hanya boneka ibuku," ujar Abraxas.
"Dalam keluarga kami hanya anak laki-laki kandung dari ketua yang bisa menggantikan posisi ketua. Saudara kandung ketua yang laki-laki tidak bisa menjadi ketua," jelas Abraxas dengan nada bicara khas orang mabuk.
"Lantas apakah kamu anak pertama?"tanya Rian.
"Tidak. Aku anak ketiga. Dari kelima anak ayahku, akulah yang paling terbelakang. Semua saudaraku cerdas dan sangat dibanggakan oleh ayahku. Hanya aku sendiri yang diabaikan. Tapi semua itu berubah saat satu persatu saudaraku tewas berikut dengan ayahku. Ibuku tidak punya anak lagi selain aku. Karena aturan keluarga, aku harus menjadi ketua. Tapi itu hanya gelar. Hahaha," papar Abraxas tertawa, bersandar pada bahu Rian.
Rian sedikit menjauh tapi tangan Abraxas lebih cepat memeluk pinggangnya.
"Bahkan pasanganku juga tewas. Aku ini bagai kaktus di padang pasir."
Abraxas kini malah berbaring di paha Rian. Rian mendongak menahan emosinya.
Sabar Rian. Dia ini keledai jangan meledak!
"Sebelum keluarga kami kehilangan ketua dan pewaris, hidupku sangatlah tenang. Aku bisa bepergian kemanapun aku mau. Aku menjadi orang yang bebas tanpa dikekang. Kini … semua gerak-gerikku diawasi oleh ibuku. Luca aku memang menyukaimu. Tapi aku lebih mementingkan keselamatan dirimu. Setelah ini kau pergilah dari kota ini. Kembali ke negaramu. Jangan pernah kembali ke negara ini. Jika kita memang ditakdirkan bersama, kita pasti akan bertemu lagi."
Rian tertegun dengan penuturan Abraxas. Ini tidak tertulis di informasi. Mabuk bisa membuat kita melihat sisi lain seseorang.
Tapi ini adalah sesuatu yang bagus. Rian bisa masuk ke keluarga Abraxas dengan mudah.
"Axas, bagaimana jika kita gulingkan ibumu agar kita bisa bersama?"tanya Rian yang membuat Abraxas langsung berdiri tegak.
"Tidak! Itu sangat berbahaya. Ibuku sangat kejam. Kau bisa dalam mati!"seru Abraxas.
"Aku tidak takut mati. Mari gulingkan ibumu agar kita bisa bersama," jawab Rian.
"Aku bukan hanya seorang pengusaha kuliner tetapi mantan mafia. Aku jago menggunakan senjata, apapun itu," ucap Rian.
"Benarkah? Kau sangat hebat. Aku menggunakan pistol saja masih meleset," kagum Abraxas.
"Bagaimana? Kau setuju?"
"Hehehehe aku setuju. Aku muak jadi boneka," jawab Abraxas, kembali memeluk Rian.
Rian tersenyum tipis.
"Kau tahu mengapa aku sendiri saat di kolam renang dan di sini?"tanya Abraxas melipat kedua tangan di atas perut.
Rian menggeleng.
"Karena hanya di dua tempat ini aku tidak diawasi. Dua tempat ini adalah tempat favoritku sebelum aku menjadi ketua. Ibuku merasa aku kemari hanya untuk bermain-main dan menghamburkan uang. Ibuku merasa bahkan ini bukan ancaman. Ya aku ini bodoh. Tapi bertemu denganmu adalah keberuntungan yang sangat besar. Thank you," ujar Abraxas.
Rian hanya tersenyum sebagai jawaban.
__ADS_1
Aku akan membunuhmu saat ibumu telah tergulingkan!