
Lagi-lagi Jesica harus dihadapkan dengan pemandangan yang menggiurkan tapi membuat mata ternoda. Ini sudah hari kesekiannya, ia harus dihadapkan dengan roti Enji.
Enji, pria itu malah dengan santainya berjalan di apartemen tanpa baju, hanya mengenakan celana pendek. Wajahnya masih khas bangun tidur, dan memang Enji baru bangun tidur, pria itu kini tengah mengambil air minum di kulkas. Jesica yang sedang membuat sarapan tidak fokus dibuatnya. Sudah payah ia menelan ludah dan berusaha fokus.
Untunglah dia tidak mimisan seperti hari pertama, atau bisa saja darahnya sudah habis gara-gara keseringan mimisan beberapa hari belakang selama bekerja dengan Enji. Ayo lah, pria itu masih bertingkah seolah di rumah ini hanya dia sendiri bersama Bayu. Kemarin lebih menggoda, pria itu hanya menggunakan handuk menutupi aset berharganya. Walaupun sekarang status Jesica adalah asisten, pacar dan karyawan Enji, tapi tidak seterbuka itu dong.
Aku rasa aku akan cepat mati jika menikah dengannya, pria ini terlalu menggoda dan suka menggoda, runtuk Jesica dalam hati.
Byur.
"Segarnya."
Jessica membelalakkan matanya melihat Enji yang menyiramkan air di botol ke wajah dan rambutnya. Jessica meringis, apakah tidak beku tuh wajah disiram air langsung dari kulkas? Malah AC nyala lagi.
Jessica kini kembali menelan ludah saat Enji mengibaskan rambut dan air mengalir ke lehernya. Astaga, pemandangan yang menggoda iman.
Tiba-tiba saja pandangan Enji beralih menatap Jesica. Jessica terkesiap dan tersenyum canggung.
"Kamu masak apa? Kok bau gosong?" tanya Enji penasaran. Setahu dan selama pengalamannya memasak, belum pernah ia mendengar atau melihat tingkat kematangan masakan sampai bau gosong, apakah Jesica membuat resep baru? Tapi siapa yang mau mencoba? Wanginya saja sudah tidak enak.
"Hah?" kaget Jesica kemudian mencium.
Jessica melihat ke arah wajan yang ia gunakan, matanya membulat dengan wajah panik melihat ikan yang ia goreng gosong hangus.
"Gosong?" pekik Jesica yang membuat Enji ikut terperanjat kaget. Bentuk ikan bahkan sudah tidak seperti ikan lagi, hitam sekali. Segera Jesica mematikan kompor gas dan mengangkat ikannya. Enji mendekat.
"Kau mau membuat kami mati ya? Siapa yang mau makan ikan tidak berbentuk itu? Kucing si pencinta daging saja tidak mau memakannya. Atau, kau sengaja membuatnya untuk dirimu? Kau tidak sayang gigi kah? Gigi putih susu jadi hitam arang, iya kah?" omel Enji kesal dengan perbuatan Jesica, padahal ini dampak dari ulahnya, secara tidak langsung. Jessica menatap Enji dengan kesal.
"Hei Tuan, ini dampak dari kelakuan Anda! Tidak tahukah Anda bahwa kegiatan Anda barusan sangat mengganggu konsentrasi saya? Kemarin hanya pakai handuk, hari ini pakai celana pendek, Anda kira ini kamar Anda yang bebas mau melakukan apa saja? Atau jangan-jangan besok Anda hanya memakai celana dalam saja? Tuan, saya bisa gila lama-lama dengan kelakuan Anda, sungguh," balas Jesica tidak mau disalahkan.
Ia menatap Enji menantang. Enji menarik senyum tipis. Ia suka dengan Jesica yang blak-blakan.
"Jika keinginanmu aku telanjang besok, akan aku penuhi. Lagipula kamu kekasihku dan calon isteriku. Jadi, sebelum menjadi istri, kamu harus terbiasa denganku," ucap Enji dengan santainya sembari melipat kedua tangan di dada. Jessica kembali membulatkan matanya.
"Apa? Apa maksudnya? Sejak kapan saya setuju menjadi istri Anda? Kapan pula Anda melamar saya? Pacaran saja baru dua hari belum genap 48 jam. Dan satu lagi, saya sepertinya harus resign dari pekerjaan saya," protes Jesica tidak terima. Enji masih dengan wajah santainya, Enji kini menumpukan kedua tangan pada meja.
"Kau mau resign?" tanya Enji. Jessica menggangguk.
"Jika Anda tidak merubah kelakuan Anda," tambah Jesica mantap.
Enji memajukan bibirnya beberapa senti seraya mengangguk-anggukan kepalanya kecil.
"Apakah kamu punya uang membayar gaji dibayar dimuka kamu? Apakah kamu punya uang untuk membayar pinalti? Kamu sudah tanda tangan kontrak, tidak bisa seenak jidatmu saja mau resign. Apakah kamu mau ibumu tidak mendapat perawatan dan lebih cepat pergi? Semua ada di tanganmu. Kau resign atau tidak, tidak ada dampaknya bagiku. Tapi berdampak besar bagiku," papar Enji dengan nada meledek Jesica.
Awalnya wajah Jesica merah kesal, tapi kini Jessica diam memikirkan ucapan Enji. Enji tersenyum miring melihat wajah bingung Jesica. Enji kemudian menjentikkan jarinya menyadarkan Jesica, saat Jesica tersadar Enji sudah berbalik dan berjalan menjauhinya. Lima langkah Enji berhenti dan menoleh ke belakang.
"Dan masalah lamaran, tunggu saja. Aku pasti akan melamarmu cepat atau lambat. Restu mereka sudah kamu kantongi, kamu tetaplah kekasihku terlepas kau resign atau tidak, dan jangan lupa pel lantainya," tambah Enji. Jessica masih terdiam. Enji melanjutkan langkahnya dan memasuki kamar.
Memangnya aku pembantu? batin Jesica.
"Ah ya, Tuan kita sarapan apa?" tanya Jesica berteriak pada Enji. Percuma saja.
Jessica kemudian menghela nafas kasar dan menyapu kasar wajahnya. Ia tidak bisa resign, banyak yang harus ia tanggung. Jessica menyadari bahwa ini sudah resikonya bekerja dengan bos yang punya tingkat kepercayaan diri melebihi 100%.
"Tapi memang pantas sih dia percaya diri. Wajah tampan, kaya, duda keren, stylish, dan dari keluarga terpandang, kurang apa lagi?" monolog Jesica memuji Enji.
__ADS_1
"Sudah berhenti melamun. Kamu ini sama itu saja sudah tidak tahan. Segera bersiap, jangan lupa mandi lagi. Bau angus kamu. Ini pakaian untukmu, masalah sarapan kita akan sarapan di luar," tegur Bayu sembari menyodorkan sebuah paper bag pada Jesica. Jessica melihat ke bawah dan menerima ragu paper bag itu.
"Saya, ikut juga?" tanya Jesica heran.
"Hm," sahut Bayu kemudian berbalik dan menghilang masuk ke dalam kamar. Jessica menghela nafas.
Tugas triple ternyata berat ya, asisten dan kekasih, Jesica bahkan tidak tahu kapan ia bertindak sebagai asisten dan kekasih. Jujur saja, Jesica sudah ada rasa pada Enji sejak pertemuan pertama, bahkan saat itu Jesica mengira Enji tukang ojek.
Pukul 07.00, mereka berkumpul di ruang tengah. Jessica merasa canggung dengan pakaiannya. Jessica tampil menawan dengan dress batik berwarna maroon pada bagian tengah horizontal selebihnya warna hitam dengan motif bunga berwarna merah dan putih.
Enji dan Bayu dengan setelan batik biru mereka. Enji tampak merapikan lengan baju dan rambutnya. Sedangkan Bayu merapikan jam tangannya. Kedua cukup tertegun dengan penampilan Jesica. Hanya sebentar, mereka langsung mendatarkan wajar mereka.
"Kunci mobil," ucap Enji menyodorkan tangannya.
"Untuk?" tanya Jesica, biasanya ia yang menyetir.
"Terserah saya, itukan mobil saya," sahut Enji. Jessica kesal dan memberikan kasar kunci mobil pada Enji. Bayu mendengus jengah. Ia memutar bola matanya malas dan berjalan duluan diikuti Enji dan Jesica.
"Duduk di depan," titah Enji saat melihat Jesica membuka pintu belakang.
"Saya bukan supirmu!" lanjut Enji yang melihat Jessica bengong. Jessica segera membuka pintu depan dengan mulut bergerak menggerutu tanpa suara.
"Kamu datang sebagai kekasihku bukan sebagai asisten. Jadi silahkan duduk manis dan nikmati perjalanannya," ucap Enji dengan nada datar tanpa menatap Jesica. Jessica terkesiap, tak lama ia tersenyum. Ya hatinya menghangat.
*
*
*
"Tuan," panggil Jesica ragu. Enji menatap Jesica.
"Ya."
"Saya gugup," ucap Jesica.
"Ada aku di sampingmu."
"Tanganku sudah dingin," aduh Jesica.
"Pegang tanganku," jawab Enji. Dengan ragu, Jesica menyentuh jemari Enji dan menggenggamnya. Rasa hangat menjalar pada telapak tangan kanan Jesica. Jessica tersentak merasakan jemari kirinya digenggam. Bayu tersenyum menatap Jesica.
Begini rasanya berkeluarga? batin Jesica dengan perasaan haru.
"Ingat, jangan panggil aku dan Bayu dengan sebutan Tuan," tegas Enji.
"Okey aku akan memanggil Anda dengan sebutan Mas dan Bayu, Abang," sahut Jesica mantap.
"Mas, mas … enggak. Ganti yang lain!"tolak Enji. Jessica mengeryit.
"Abang?"
"Memangnya saya kakakmu?"
"Hubby?"
__ADS_1
"Belum sah!"
"Sayang?"
"Terlalu biasa!"
"Baby?"
"Saya bukan bayi!"
"So?" tanya Jesice kesal plus ngegas.
"Pikir sendiri. Tugas kamu," sahut Enji. Jessica menggertakkan giginya kesal. Ia menatap kesal Enji.
"Lalu apa panggilanmu terhadapku?" tanya Jesica.
"Jesy," jawab Enji santai. Jessica mengerjap cepat, agaknya ia tidak menyangka panggilan Enji terharapnya. Jessica menghela nafas.
"Kalau begitu, Zizi bagaimana?"
"No. Itu hanya untuk kakakku!"
"Okey. My Future, you are my future husband. Terserah suka atau enggak!" putus Jesica. Enji tersenyum.
"Deal!" Selanjutnya mereka segera mengambil tempat duduk sembari menunggu kehadiran Karina. Terlihat beberapa orang dengan seragam mereka yang merupakan bagian dari anggota pelaksaan acara lalu lalang memastikan kesiapan acara. Panggung ditata sedemikian rupa. Di bagian belakang bintang berwarna biru yang menjadi simbol panti terpampang jelas.
Tak berselang lama, dua mobil berwarna hitam dan putih memasuki tempat acara. Itu adalah mobil Arion dan Karina. Enji menatap mereka yang baru keluar dari mobil dengan tatapan datar.
Karina hanya menampilkan raut wajah dinginnya. Sudah hal biasa, sedangkan Arion datar dan menyapa para tamu yang sebahagian besar adalah kolega bisnisnya.
Kedatangan Karina disusul dengan kedatangan Maria, Amri, dan Alia.
Mereka segera mengambil tempat yang disediakan untuk tuan rumah. Acara segera dimulai. Dimulai dari kata sambutan dan harapan, lalu ada sesi hiburan yang menampilkan kesenian daerah. Untuk sambutan dan harapan sendiri Arion yang mewakili.
Ia hanya menyampaikan bahwa pembangunan panti ini adalah bentuk rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa ada kehadiran dua buah hati mereka yang tinggal menunggu kelahiran. Harapannya, panti ini dapat menjadi tempat bernaung bagi anak-anak yang kurang beruntung. Menjadi rumah bagi mereka yang membutuhkan dan menjadi ladang kebaikan mereka. Menjadi pelindung bagi yang lemah.
Dan terakhir adalah acara puncak, peletakan batu pertama sebagai inti acara ini. Karina, Arion, Enji, Amri dan Maria maju menuju tempat peletakan. Dimulai dari Karina diikuti Arion, Amri, Maria dan Enji. Semua itu tidak lepas dari jepretan kamera untuk dokumentasi Karina bukan publik sebab acara tertutup untuk media. Dan acara ditutup dengan foto bersama dimana Bayu dan Jesica ikut di dalamnya.
"Akhirnya selesai juga," ucap lega Karina. Arion mengangguk. Satu persatu tamu meninggalkan tempat acara.
"Secepat ini, ya sudah Papa dan Mama sama keponakan kalian ini mau pulang dulu," ujar Maria.
"Eh, Mama lupa? Kita harus ke rumah sakit check up Alia," ucap Amri.
"Oh iya Mama lupa." Maria terkekeh sendiri.
"Kalau begitu aku juga pamit, aku dan Jesy harus ke kantor," ujar Enji. Karina dan lainnya tidak heran karena sudah tahu.
"Bayu ikut Mama dan Papa, malas ikut Ayah ke kantor." Bayu berpindah ke samping Maria.
Enji hanya menyetujui, Maria dan Amri tentu tidak keberatan.
"Ya sudah, hati-hati di jalan," tukas Arion menyetujui.
Arion pun ikut pamit pada Karina. Karina mengangguk, tak lupa mencium punggung tangan kanan Arion. Arion pun tidak lupa mencium kening Karina. Karina melambaikan tangannya saat mobil Arion melaju perlahan. Saat mobil Arion hilang dari pandangannya, Karina juga bergegas meninggalkan tempat acara.
__ADS_1