Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 268


__ADS_3

Gerry dengan cepat memeriksa ruang demi ruangan di lantai empat, satu lantai lebih tinggi dari ballroom. Para pengawal juga bergerak menyusuri semua seluk beluk hotel. Rian sendiri menuju ruang pemantauan. Bukan hal sulit bagi mereka, siapa yang berani melarang pemiliknya sendiri?


Perasaan Gerry harap-harap cemas. Berharap Mira baik-baik saja, berharap Satya tidak berbuat yang tidak pantas pada Mira serta cemas apabila harapannya meleset. 


Di antara semua pintu ruangan, hanya kamar nomor 155 yang tidak bisa dibuka. Diketuk pun tidak ada sahutan. Gerry menempelkan telinganya di daun pintu, tidak ada suara yang terdengar. Wajar, ruangan kedap suara.


Saat hendak mendobrak pintu memastikan, handphone yang berada di saku celana berdering. Gerry mengaktifkan earphone di telinganya.


"Ya?"jawab Gerry. 


"Satya sudah merencanakan semua ini. Ia meretas CCTV dan memanipulasi rekamannya. Ia mengubah rekaman menjadi rekaman beberapa waktu lalu, kamar 155, Satya dan Mira berada di sana," ucap Rian. Gerry mengangguk. 


"Dia memang ahli perencanaan!"geram Gerry. 


Dalam dua kali dobrak pintu kamar 155 terbuka. Kini terdengar jelas suara penolakan yang disertai gejolak hasrat yang membuncah. Gerry mengeraskan rahangnya melihat Satya yang hendak melecehkan Mira. Di atas ranjang, Satya mengurung Mira dalam kungkungannya, bagian dada Mira sudah terekspos menampakan bra miliknya. Satya sendiri masih berpakaian lengkap. Mata tajam Gerry menangkap ada tanda merah di sekitar leher Mira. 


Mira wajahnya memerah, kedua tangannya dicengkeram oleh Satya. Satya menunjukkan wajah kesalnya. 


"Pergi!"seru Satya tanpa mengubah posisinya.


"Brengs*k!"balas Gerry, segera menerjang Satya hingga terjatuh ke lantai, Mira menarik selimut menutupi dirinya. Rasa terkejut menguasai dirinya, Mira diam membisu.


"Jangan ganggu urusanku!"hardik Satya yang berusaha berdiri. 


Cih!


Gerry meludah, merasa sangat marah melihat Satya.


"Brengs*k! Beraninya kau melecehkan kekasihku!"kecam Gerry sangat emosi. Satya tersenyum sinis.


"Kau yang brengs*k Gerry! Kau merebut Mira dariku! Hanya aku yang bisa bersama Mira!"balas Satya dengan kekehan sinisnya. Kembali Gerry menendang Satya, Satya menghindar, tendangan Gerry menghantam dinding. Kedua pria itu berkelahi, saling pukul, tinju dan tendang.


Mira menunjukkan wajah ketakutannya, juga wajah menggodanya. Tubuhnya terasa sangat panas.


"Gerry panas!"racau Mira menunjukkan wajahmu sayunya. Gerry melirik sekilas, Mira membuang selimutnya dan hendak membuka gaunnya. 


Bugh.


Pukulan Satya menghantam dinding, Gerry menahan tangan Satya, kedua tangan kanan Karina itu beradu pandang dengan tatapan membunuh yang kental.


"Kau pecundang Ya, kau pengecut! Caramu menjijikan!"desis Gerry. Satya tidak membalas, ia sangat geram ketika Mira memanggil nama Gerry begitu lembut, ia tidak terima Mira mengadu pada Gerry. Otak Satya hanya tertuju pada Mira, bagaimana caranya agar Mira menjadi miliknya, apapun caranya, jalur obat pun ia tempuh. Satya sudah mempersiapkan semua sejak berangkat ke pesta ini, awalnya ia ingin berangkat lebih dulu, terpisah dari Rian, Darwis dan Satya. Namun niatnya tertahan oleh ketegasan Darwis, sorot mata tegas Darwis tidak mampu ia lawan. 


"Gerry, panas … sangat tidak nyaman. Tolong aku …," pinta Mira lagi yang dressnya sudah luruh mencapai pinggang, menampakkan bagian atas Mira yang putih bersih, Gerry menelan ludah kasar. 

__ADS_1


"Kau tidak pantas untuk Mira!" Gerry kembali melayangkan pukulan, kali ini Satya diam tidak membalas, ia menjadi bulan-bulanan Gerry. Setelah memastikan Satya tidak akan mampu melawan lagi, Gerry menghampiri Mira. Membungkusnya dengan selimut walaupun Mira meronta lalu menggendong Mira.


"Panas Gerry," racau Mira dengan mata sayu menggodanya. Rian dan Gerry berpapasan di depan pintu. Rian menilik, ia tertegun dengan kondisi Satya yang terbaring lemah di atas lantai, tubuhnya penuh luka. 


"Urus dia!"ucap Gerry. Tanpa diminta pun pasti akan Rian lakukan. Niatnya ingin mencegah Satya dan Gerry berkelahi, tapi tidak tercapai.


"Hm, lebih baik kau urus Mira. Dia harus segera dipadamkan," ucap Rian merasa aneh dengan Mira yang tangannya bergerak membuka kancing kemeja Gerry. Gerry menatap datar Rian. 


"Akan aku tangani!" Gerry segera melangkah pergi. 


Rian masuk dan merangkul Satya, mata Satya menatap kepergian Gerry dan Mira dengan tidak rela.


Ia akui, dalam hal bertarung, ia memang kalah telak dari Gerry. Tugas Satya hanya di bidang perencanaan, pemantauan dan keuangan, berbeda dengan Gerry yang tugas lapangan.


"Aku tidak rela! Aku tidak rela! Mira hanya milikku!"gumam Satya. Rian prihatin, Satya meronta, berusaha melepaskan diri dari Rian. Terpaksa Rian memukul tengkuk Satya membuatnya tidak sadarkan diri.


Di koridor lantai empat, Gerry berjalan dengan bingung. Ia harus menyelamatkan Mira dari pengaruh obat. Ia tidak membawa Mira ke kamar sebab takut khilaf kalau tidak ada cara tanpa hubungan seksual.


Mira semakin beringas, Mira berusaha meraih bibir Gerry, tidak dapat sebab Gerry menaikan pandangannya lurus ke depan. Dahi Gerry mengerut dalam. Jujur saja, birahinya sebagai pria terbakar melihat penampilan Mira. Tapi ia bukan lelaki kurang ajar yang melakukan hubungan seksual sebelum sah kepada wanita yang ia cintai. 


Gerry terasa tersengat listrik saat bibir Mira menyentuh lehernya, Gerry membiarkan saja Mira melakukan hal itu.


"Mir jangan menyulut api lebih besar," ucap Gerry pelan. Mira acuh dan terus melakukan kegiatannya. 


Gerry pernah membacanya, saat senggang ia memang suka membaca novel dan komik, baik online maupun fisik, di dalam kamarnya ada satu lemari besar berisi komik dan novel dari komikus dan penulis ternama.


"Gerry, dadamu membuatku nyaman, rasanya dingin." Mira bersandar pada dada Satya yang sudah kancingnya sudah terbuka sampai perut akibat ulah tangan Mira. 


Dingin? Benar! Mira harus didinginkan. Benar, cara itu paling atas sekarang. Mira, aku akan meminta hakku saat aku sudah sah menjadi suamimu. Walaupun kau janda, aku harus menjaga kehormatanmu.


Gerry memasuki salah satu kamar secara random dan langsung menuju kamar mandi. Gerry menurunkan Mira di dalam bath up, Mira merengek tidak mau melepas pelukannya pada leher Gerry.


Gerry menghela nafas, bisa jebol pertahanannya jika Mira terus begini, tangannya memutar keran mengisi bath up kosong dengan air dingin. Mira terkesiap saat air dingin menyentuh tubuhnya. Mira refleks melepas pelukannya dan menarik selimut. Gerry bernafas lega. 


Mira hendak bangkit, karena tidak tahan dengan air yang rasanya habis keluar dari kulkas setelah didinginkan selama satu malaman. Air itu kini hampir menenggelamkan dirinya, Satya mematikan keran. Ia duduk di pinggir bath up dengan tangan menahan kepala Mira. Mira menunjukkan mata memelasnya, tubuhnya sekarang dingin, tapi ada yang masih membara, gejolak hasrat masih ada.


"Tetap di sana, kamu masih dalam pengaruh obat," ucap Gerry.


"Ini dingin. Aku tidak kuat. Gerry aku mau keluar!"protes Mira. Gerry tersenyum tipis.


"Sebentar saja. Aku keluar dulu," bujuk Gerry mengusap rambut Mira. Mira tersipu, perlakuan Gerry sangat manis baginya. Gerry berdiri dan melangkah keluar. Mira meringkuk, menekuk dalam lututnya. Selimut ia pegang erat menutupi tubuhnya. Pikiran Mira kini berkecamuk. Ia sangat takut pada Satya tadi, ia tidak pernah menyangka Satya bisa senekat itu. 


Mira meruntuki kelalaiannya sendiri. Sudah jelas ia melihat Satya menatap lekat seperti menemukan mangsa saat di acara potong kue tadi, harusnya ia waspada. Jika ia waspada, mungkin kejadian memalukan ini tidak akan terjadi. Beruntunglah Gerry hadir tepat waktu, tadi ia sangat takut, Satya memaksanya berhubungan seksual. 

__ADS_1


Mira merasa sekarang, panas di dalam tubuhnya sudah berkurang drastis. Ia ingin berdiri namun terhenti sebab pakaiannya yang robek parah. 


Tak lama Gerry kembali dengan membawa sebuah paper bag dan nampan berisi handuk dan segelas susu yang asapnya masih terlihat. Mira menaikkan pandangannya, bingung dari mana Gerry mendapatkan semuanya dalam waktu singkat. 


"Segeralah berganti, minum susunya agar tubuhmu kembali hangat. Aku tunggu di luar. Kira harus segera kembali ke ballroom.


Mira mengangguk, Gerry kembali keluar setelah mencuri kesempatan mencium bibirnya. Sudah pasti Mira membeku dan matanya membulat sempurna.


"Bukankah tadi kami sangat ingin bibirku? Lihat ini, bibir tidak dapat, leher pun jadi," ledek Gerry dari pintu menunjukkan bekas kecupan di leher dan dadanya. Mira jadi salah tingkah, ia hanya tersenyum canggung. Setelah itu Gerry menutup rapat pintu, suara langkah kakinya menjauh.


Astaga, apa yang sudah aku lakukan? Sangat memalukan!pikir Mira. Wajahnya kembali memanas, ia segera keluar dari bath up dan meraih gelas susu lalu menghabiskannya. 


Mengapa ukurannya pas semua? Apa dia playboy yang bisa melihat ukuran tubuh wanita tanpa bertanya? Ah sudahlah, lupakan saja. Intinya aku sangat bersyukur Gerry menjadi kekasihku. Dia bisa menjaga kehormatanku, dia pantas menjadi suamiku, monolog Mira segera berganti pakaian.


*


*


*


Di ballroom ketegangan terjadi. Tuan Adiguna tidak terima dengan pernyataan Darwis yang menyatakan bahwa Eko sudah tiada. Wajah Tuan Adiguna memerah padam, matanya menatap tajam Darwis. Tangannya mengepal dengan dada naik turun. Karina yang sudah selesai makan hanya menatap acuh hal itu. Gerry menatap datar Tuan Adiguna.


"Nyonya, walaupun saya menghormati Anda, Anda tidak bisa mengatakan hal tidak menyenangkan itu pada saya. Anda tidak bisa mengatakan bahwa putraku telah tiada. Segera tarik kata-kata kalian sebelum saya memberi kalian pembalasan. Saya tegaskan sekali lagi, Eko masih hidup dan tengah bertugas!"tegas Tuan Adiguna dingin menatap dingin Karina dan Darwis. Karina tetap acuh. 


Intan memegang lengan suami nya, memberikan suaminya ketenangan.


"Papa tenang dulu, jangan emosi!"ucap Intan.


"Bagaimana Papa bisa sabar, mendengar anak kita dikatakan sudah mati? Eko masih hidup Ma!"sahut Tuan Adiguna datar. Intan menghela nafas. Jujur, ia cemas dan berharap.


 Ia berharap Darwis dan Karina bisa menyadarkan Tuan Adiguna bahwa Eko telah tiada, ucapan Darwis yang gamblang tidak kenal takut menjadi faktor keyakinan Intan. Tapi, Intan juga cemas suaminya terlalu emosi dan berujung pada drop.


Intan melirik Rena, memberi anak sulungnya itu isyarat untuk tidak berada di sini, Rena mengerti dan mengajak suaminya serta Baby Reksa beranjak menjauh menuju kamar yang dimasuki Riska dan Joya tadi, masalah Mira mereka juga khawatir, tetapi dengan adanya orang Karina, mereka sedikit lega.


"Anda terlalu berkeras hati Tuan," ucap Karina menyindir Tuan Adiguna. Tuan Adiguna mengeryit. Tidak paham dengan ucapan Karina. 


" apa maksudmu?" tanya Tuan adiguna tidak mengerti. Karina tersenyum tipis, matanya melirik Intan. Darwis  yang paham langsung menyampaikan apa arti lirikan Karina.


"Nyonya bisakah Anda meninggalkan kami bertiga? Kami perlu membahas ini semua hanya dengan 6 mata, Intan menatap suaminya meminta persetujuan, Tuan adiguna mengangguk pelan, Intan segera undur diri. 


Setelah Intan keluar dari ballroom, suasana hening. Karina tersenyum tipis, kedua tangannya bersandar pada sofa, matanya melirik Tuan Adiguna serta Darwis, menyisakan rasa penasaran di hari Darwis dan Tuan Adiguna.


"Saatnya menyelesaikan masalah!" 

__ADS_1


__ADS_2