
Satya mengemudi dengan kecepatan sedang, kaca jendela ia buka setengah. Satya teringat saat Riska dan Excel berpapasan di depan ruang makan tadi. Rasa penasaran menggelitik dirinya.
Ayolah! Untuk apa gengsi? Toh ini untuk kebaikkanmu juga!batin Satya.
"Keberatan aku merokok?"tanya Satya, tangan kirinya bergerak menjangkau rokok dan korek di dashboard. Riska yang sedari tadi melamun, terkesiap dan menatap Satya polos.
"Hm?" Satya melirik sekilas, laju kendaraan ia turunkan.
"Keberatan!"sahut Riska spontan.
"Oh." Satya melepaskan kembali kotak rokok yang sudah ia ambil.
tangannya kembali pada kemudi, kecepatan kendaraan ia tambah.
Riska, memang tidak bisa berdampingan dengan orang yang sedang merokok. Rasanya sesak, Riska akan batuk hebat jika mencium aroma asap rokok.
Satya bukan perokok aktif, ia hanya akan merokok jika ada sesuatu yang sangat membebani dirinya. Jika ia sedang stres, frustrasi, juga dilema juga gundah. Saat ini, Satya gundah dengan keputusannya menikah dengan Riska. Ia tidak keberatan, akan tetapi untuk Riska sendiri, gadis itu memang mengatakan tidak masalah, tapi tatapan matanya masih ada penolakan.
Belum sempat Satya mengajukan pertanyaannya, Riska sudah bertanya duluan "apakah Anda masih ada rasa dengan Kak Mira? Apakah saya akan jadi pelarian Anda? Rasanya sulit percaya bahwa Anda baik-baik saja setelah ditinggal nikah oleh Kak Mira," tanya Riska. Satya tersenyum tipis.
"Rasa itu … harus dikubur dan hilang, bersamaan dengan menyatunya Mira dan Gerry. Aku sadari, jika memang bukan jodoh, sekeras apapun kamu mencoba meraihnya, tidak akan terjangkau. Tapi kalau sudah jodoh, tanpa diminta ataupun dikejar, sudah datang duluan. Walaupun sekarang, masih ada rasa untuk Mira, akan ku hapus sebelum kita menikah. Kamu bukan pelampiasan, terlalu jantan diriku jika menjadikan adik ipar Mira sebagai pelarian," jelas Satya. Rasa berbeda ia dapatkan saat di samping Riska.
"Lalu kejadian itu?"
"Anggap saja aku buta pikiran dan hati. Otakku konslet, jadi tidak bisa berpikir jernih," jawab Satya. Riska mengangguk, hati Riska merasa tenang.
"Aku juga ada pertanyaan."
"Apa itu?"
"Jujurlah padaku! Apa kamu punya pria yang kamu sukai dan cintai?"tanya Satya serius, tetap fokus pada jalanan yang cukup padat.
Riska kembali menoleh ke arah Satya, gadis itu mengerjap pelan.
"Tidak ada," jawab Riska tegas setelah berpikir beberapa saat.
"Benarkah?" Satya mendesak, ia ingin kejujuran.
"Iya!" Riska menjawab cepat dan tegas.
"Lalu lelaki muda tadi? Ku lihat tadi kamu gugup dan canggung berpapasan dengannya. Lelaki itu juga menatapmu dengan rasa suka di mata. Walaupun ditutupi, tetap saja kelihatan," selidik Satya, biarpun pernikahan ini akan terjadi atas dasar kesalahpahaman, Satya serius dengan pernikahan ini.
Sama seperti rekan-rekannya, pernikahan hanya sekali seumur hidup baginya. Mereka terkenal dengan kesetiaan jika sudah serius menjalin suatu hubungan. Satya ingin, jika sudah menikah nanti, tidak ada orang masa lalu yang muncul dan menganggu rumah tangganya. Sekalipun ada, jangan dari masa lalu.
"Ah Excel … dia teman SMP-ku. Aku tadi begitu … sebab … aku … meninggalkan acara reuni tadi malam dengan alasan mau pulang, tapi aku malah terjebak sama Om. Sebenarnya aku enggak bohong sepenuhnya kok. Kan benar, tadi malam kita ada acara keluarga," jelas Riska, entah mengapa ia tidak mau Satya salah paham.
Riska juga tidak mau berbohong, ia tahu akibat dari kebohongan. Menyelamatkan sesaat, tapi akhirnya kebanyakan buruk. Membohongi pria dewasa seperti Satya yang kekuasaannya hampir menutupi seluruh negara K terutama kota ini, sama saja cari mati. Satya melirik sinis pada Riska. Riska yang menatap ke depan dengan dahi mengeryit tentu saja tidak menyadari lirikan sinis Satya.
Anak kecil ini!geram Satya dalam hati.
"Aku tahu ia suka padaku, semasa SMP, dia sering mencari perhatianku. Aku tidak mengerti alasan ia suka padaku. Padahal aku dulu orangnya pendiam, dingin, acuh, bahkan aku mengubah penampilanku jadi cupu . Om tahu, semua siswi tergila-gila padanya. Aku hampir gila setiap kali pria itu mencari perhatianku. Rasanya aku jadi musuh penggemarnya. Waktu itu aku juga menyembunyikan identitasku sebagai anak jenderal. Terbongkar saat pesta kelulusan. Apa dia sudah tahu duluan ya aku ini sebenarnya cantik, juga putri petinggi militer, juga kaya?"papar Riska dengan nada tidak percayanya.
Dua kali! Awas saja kau anak kecil!batin Satya, bertambah kesal.
"Karena itu ia suka padaku!"jawab Satya pelan, dengan nada kesal yang tampak jelas.
"Karena aku berbeda begitu?"terka Riska memalingkan wajahnya menatap Satya. Satya mengangguk pelan.
"Aih!! Sudahlah. Lagian dia ciut waktu tahu siapa keluargaku. Pria itu bukan tipeku. Dia itu perokok aktif. Om tenang saja, sampai saat ini hatiku tetaplah milikku sendiri," jelas Riska dengan nada sungguh-sungguh.
"Tiga kali," gumam Satya, menambah kecepatan saat jalanan sudah lenggang.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Om? Apa Om punya kekasih di luar sana? Apa Om tertekan dengan pernikahan ini?"tanya Riska penasaran. Jika ia didesak oleh Satya, ia juga harus balas mendesak dong.
Satya menghembuskan nafas kesal.
"Aku masih single!" Satya mengatakan kalimat itu dua kali. Riska saja yang pelupa. Riska mengangguk.
"Ada pertanyaan lain?" Riska mengajukan diri, mengisi waktu sebelum tiba di depan gerbang rumahnya.
"Hm, sebagai calon isteriku, kamu harus paham tentang pekerjaanku. Aku tidak bisa terus berada di sampingmu kelak. Kamu harus terampil dalam hal bela diri, terutama menggunakan senjata. Aku memang akan mengarahkan pengawal untuk menjaga dirimu saat kita tidak bersama, tapi tetap saja, itu tidak menjamin keselamatanmu. Akan lebih yakin, jika kamu menguasai bela diri. Jika kamu belum bisa, ataupun belum mampu dan mahir, aku akan mengajarimu," tutur Satya. Riska sejenak merasa terharu. Ia tersenyum.
"Om tenang saja. Sejak kecil, aku sudah dikenalkan pada bela diri. Senjata, adalah bagian dari pelatihanku. Hanya saja, aku menggunakannya di saat-saat tertentu. Papa dan aku juga tidak terlalu mengandalkan pengawal. Aku tahu, sebaik apapun penjagaan dari orang lain, penjagaan diri oleh diri sendiri lebih baik. Terlebih, mustahil juga seorang ayah pemimpin militer tidak mengajari anaknya bela diri," jelas Riska.
"Baiklah. Jika kedepannya, kamu ada keraguan, ataupun hal yang ingin kamu katakan padaku, kamu bisa menghubungi ataupun mendatangi diriku, pastinya sebelum pernikahan." Satya berujar setelah tiba di depan pintu gerbang kediaman Adiguna.
"Ini kartu namaku." Satya mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, Riska menerima lalu membacanya.
"Okey," ucap Riska seraya membuka sabuk pengamannya. Saat hendak membuka pintu, Satya menahannya.
"Ada lagi?"tanya Riska heran. Satya tidak menjawab, pria itu ternyata juga membuka sabuk pengamannya.
Satya menahan tangan Riska, dalam sekali sentakan, Riska tertarik menubruk dada Satya. Satya tampak menyeringai. Riska, jantungnya berdegub kencang disertai dengan perasaan was-was. Riska teringat kejadian tadi malam saat Satya memeluknya paksa. Spontan, Riska mulai berontak. Satya menahan gerakan Riska.
"Kau harus dihukum anak kecil!"ucap Satya pelan, langsung mencium bibir Riska. Riska tertegun, ia tidak mengerti maksud Satya. Riska terus berontak, tetap saja, Riska tidak mampu melepaskan diri dari Satya. Tenaga Satya terlalu besar untuk Riska.
Setelah merasa cukup, Satya melepas ciuman, juga pelukannya. Pria itu bersandar pada kursi dengan wajah yang lega. Riska, wajahnya memerah, antara malu juga kesal. Ia dicium paksa dua kali, bedanya kemarin Satya mabuk, sekarang sadar. Riska memberikan tatapan protesnya. Satya menanggapinya dengan senyum lebar.
"Sudah ku katakan jangan panggil aku Om! Sudah sana keluar. Aku harus segera pulang," usir Satya dengan santai.
"Karena itu?" Riska berseru, mata gadis itu berapi-api. Dengan kesal, Riska bergerak, menarik kerah baju Satya. Satya yang tidak siap, tertarik. Ia membulatkan mata saat Riska mencium bibirnya walaupun hanya sejenak, rasanya sungguh berbeda. Satya terdiam. Seusai itu, Riska langsung keluar mobil.
"Dan jangan panggil aku anak kecil lagi!"ucap Riska sebelum menutup pintu dengan keras. Satya tersadar, lalu tersenyum dan mengusap bibir dengan ibu jarinya.
"Balas dendam. Satya ingatlah tentangnya. Tidak mau kalah dan mengalah. Sepertinya kamu harus menyiapkan nyawa cadangan," gumam Satya melajukan mobil kembali pulang. Satya mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, tidak mau kena omel Karina seandainya ia telah.
Tiga mobil sport mewah dan mahal itu membelah jalanan siang. Cahaya membuat body mobil berkilau. Karina mengangkat panggilan dari Bayu.
Karina hampir saja melempar gawainya saat Bayu berteriak kencang menyapa sekaligus memarahi dirinya. Arion, Li, dan Elina yang melihat itu tentu saja menahan tawa.
Karina berdecak sebal dan balik memarahi Bayu.
"Kau masih ujian! Lagipula ini urusan pekerjaan bukan liburan! Jangan manja!"tegas Karina.
"Aku sudah libur sebelum hari ibu Kak!"protes Bayu.
"Lupa!"
"Ck!"
"Kapan Kakak pulang? Aku bosan di rumah saja!"tanya Bayu.
"Sore ini aku pulang, mengapa tidak ke rumah Papa dan Mama?"tanya Karina.
"Papa dan Mama bekerja. Alia juga dibawa. Di rumah hanya ada beberapa pelayan. Mereka sangat buruk dan membosankan diajak bermain. Lebih baik aku tetap di apartemen melatih skill."
"Ayahmu?"
"Setelah ia dan nona Jesica resmi pacaran, mereka sibuk membangun hubungan. Terlebih saat Ayah ke rumahnya kemarin, malah aku ditinggal sendiri di rumah lagi. Tadi pagi saja, ayah hanya membuatkanku roti bakar, ia dan nona Jessica sarapan di luar. Bahkan ia hanya meninggalkan sarden untuk makan siang. Ayah tidak adil. Aku kesal padanya," aduh Bayu dengan nada ketusnya.
"Ayahmu fokus PDKT. Tinggallah di rumahku mulai nanti malam, Kakak akan menjemputmu," ucap Karina.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Hm."
"Okey! Aku menunggu. Jangan lupa buah tangannya ya, dah, Assalamualaikum Kak," ucap Bayu senang.
"Waalaikumsalam," jawab Karina, menghela nafas kasar.
"Apa Enji membuat masalah?"tanya Arion.
"Anak itu merasa dirinya hanya sendiri. Aku aku memperingatkannya."
"Apa yang akan kamu lakukan?"tanya Arion.
"Membuat Bayu menghilang dari pandangannya," jawab Karina. Arion mengeryit, tak lama tersenyum mengerti.
Setibanya di zoo aquarium, setelah memarkirkan kendaraan mereka berdiri di depan mobil Karina.
"Tunggu apa lagi?"tanya Karina heran sembari memainkan ponselnya.
"Siapa yang akan membeli tiket?"tanya Darwis, ia tidak bisa menjauh dari Joya.
"Aku saja," ucap Rian mengajukan diri namun tidak kunjung membeli karcis.
"Uangnya," ucap Rian lagi, menjawab tatapan heran rekan-rekannya.
Semua menatap Karina, Karina mengangkat wajahnya, mengeryit dengan tatapan suami dan bawahannya.
"Tidak ada! Aku tidak akan membayarnya, kalian yang menahanku untuk pulang, kalian yang harus membayarnya!"tolak Karina.
Gerry dan Li tersenyum lega. Mereka kan mendukung, bukan menahan.
"Aku tidak ada uang cash," ucap Rian cepat.
"Dompetku ketinggalan di kamar," ucap Satya setelah memeriksa seluruh kantongnya.
"Aku juga tidak bawa uang cash, aku kira Karina yang akan membayar semuanya, jadi aku juga meninggalkan dompetku di rumah," lanjut Darwis. Karina mendengus.
Arion berdecak sebal. Ia tidak mengira bahwa bawahan Karina sangat meniru sifat Karina.
"Alasan kalian terlalu jelas. Karena aku yang menyarankan maka aku yang akan membayar," putus Arion segera menuju loket membeli tiket. Karina tersenyum tipis.
"Tidak bawa uang cash. Lucu sekali. Dompet ketinggalan, apa gunanya itu handphone?"cibir Karina segera menyusul Arion.
"Huh klasik!"ledek Gerry pada Tiga Tuan Muda itu.
"Pelit, medit!" Li ikut meledek. Bukannya marah, ketiga pria itu malah tersenyum lebar.
"Makan siang, Satya yang traktir, fiks no debat!"ujar Rian langsung berlalu menghampiri Karina sebelum Satya memukul dirinya. Sadar mendengus kesal. Ia melenggang menyusul Rian.
"Kalian sudah dewasa tapi masih kekanakan," ucap Elina.
"Uangku habis bayar hutang, Elina," sahut Gerry.
"Sudahlah, ayo kita ke sana. Lihat tatapan Karina, kita bersiap saja setelah hari ini berakhir, kita akan membayar apa yang terjadi hari ini," ajak Li.
"Seketika aku menyesal," tutur Darwis merasa tidak nyaman setelah mendengar ucapan Li.
"Kita senang kan hatinya biar tidak marah lagi," saran Gerry.
"Aihs, kau seperti tidak tahu saja Karina bagaimana?"kesal Li. Gerry langsung diam. Mira yang masih belum tahu semuanya hanya menatap bingung. Ia menerka dalam hati, bagaimana kalau Karina murka beneran.
"Sudah ayo. Jangan sesali yang sudah terjadi. Berani berbuat, berani bertanggung jawab." Joya menarik lengan Darwis mendekati Karina. Disusul oleh dua pasangan yang tertinggal.
__ADS_1