
Gerbang tinggi kediaman Wijaya terbuka, sebuah mobil masuk dan berhenti di halaman. Pintu mobil terbuka, sepasang kaki jenjang menapakkan kaki di bumi.
Sorot mata dingin diberikan pada rumah mewah ini. Dengan langkah mantap, Jessica masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu hanya ada Amri yang menyambut Jessica. Jessica membungkuk hormat.
Amri mempersilahkan Jessica duduk. Jessica mengeluarkan sebuah amplop yang tebal lalu diletakkan di atas meja.
"Tuan, terima kasih atas pinjaman Anda kemari. Hari ini saya mengembalikannya utuh tanpa kurang sepeserpun," ucap Jesissa, dengan nada sopan serta sorot mata yang berubah.
Ia juga bukan orang gila yang berani mencari masalah dengan penguasa ekonomi kota dan negara ini.
"Darimana kau mendapatkan uang sebanyak ini dalam waktu singkat?"
Amri bertanya heran.
"Saya tidak mengunakan uang tersebut. Ibu saya dinyatakan meninggal di saat saya dalam perjalanan ke rumah sakit. Uang itu sudah tidak berguna lagi sekarang," jelas Jessica.
Mata Jessica menunjukkan kesedihan mendalam. Bahkan ia menengadah ke atas menghindari tumpahnya air mata.
Amri menutup mata, turut bersedih.
"Semoga ibumu diberikan tempat yang baik di sana. Sakit adalah bentuk pengguguran dosa. Allah menyayangi ibumu. Dia mengakhiri penderitaan ibumu di dunia ini. Semoga ibumu khusnul khotimah," ujar Amri.
Jessica mengangguk pelan lalu berdiri.
"Kalau begitu saya pamit, Tuan. Sekali lagi terima kasih atas bantuan Anda," pamit Jessica.
Jessica membungkuk hormat dan dibalas anggukkan Amri.
"Berhati-hatilah membawa kendaraan. Hati yang sedih terkadang membuat seseorang melupakan akal sehatnya," pesan Amri.
Jessica yang sudah melangkah, berbalik dan mengangguk paham.
Amri menghembuskan nafas pelan ketika Jessica sudah meninggalkan kediaman Ini. Ia menatap datar amplop tebal di atas meja.
Hanya kerena keterlambatan biaya, nyawa seseorang melayang. Hah … tapi ini bukan salah siapapun. Jika sudah ajal, sekuat apapun berusaha untuk mencegah semua hanya sia-sia.
Amri mengusap wajah kasar.
"Eh ada amplop tebal. Tambahan uang saku Mama ya Pa?"
Maria muncul dari arah dapur dengan membawa mangkuk kecil berisi puding. Maria meletakkan nampan di atas meja kemudian mengambil amplop tersebut.
Amri kalah cepat. Pria itu mendengus sebal melihat Maria yang menaksir jumlah uang di dalam amplop.
"Seratus juta? Papa baik banget deh, tambah cinta Mama jadinya," ucap Maria.
"Yak ah Ma? Jangan mengatakan hal seperti itu, perut Papa rasanya mual. Mama bukan wanita mata duitan jadi jangan bersikap seperti wanita matre," kesal Amri.
Maria terkekeh pelan. Maria kembali meletakkan amplop tersebut di atas meja.
"Jadi uang apa ini?"tanya Maria, penasaran.
"Uang yang kemarin dipinjam sama Jessica. Ibunya meninggal saat ia dalam perjalanan ke rumah sakit. Uang ini tidak digunakan, jadi ia segera mengembalikannya," jelas Amri.
"Innalillahi, serius ibunya meninggal Pa?" Maria terkejut. Amri mengangguk.
"Kasihan anak itu, semoga ia tabah menghadapi cobaannya," tutur Maria, turut berduka untuk Jessica.
"Karina yakin ia pasti kecewa dengan Enji."
Karina muncul dari arah depan dengan membawa beberapa tangkai bunga mawar merah. Maria dan Amri kompak menoleh dengan mata bertanya.
"Saat ditimpa musibah terutama mengenai keuangan, yang paling pertama dicari adalah keluarga. Dia tidak ada keluarga lain selain ayahnya. Yang kedua adalah orang terdekat, bisa sahabat atau kekasih. Dan kemungkinan ketiga adalah meminjam uang dari seseorang atau badan yang memang bergerak dibidang pinjaman. Dari ketiga opsi itu, pasti Jessica meminta bantuan Enji, sayangnya ia tidak tahu apa yang terjadi pada Enji. Enji tidak berhasil, ia mencariku. Sayangnya aku sama seperti Enji. Dan terakhir ia meminta bantuan kalian. Melihat kedekatan Enji dan Jessica serta kalian yang menyukainya, kalian pasti tidak akan menolak. Aku benarkan?"
Karina menjelaskan seraya merangkai bunga di dalam vas. Tatapan yang semula fokus pada rangkaian kini beralih menatap Amri dan Maria.
"Ya itu memang benar. Tapi tahu dari mana kamu bahwa Jessica sebelum kemari meminta bantuanmu dulu?"
Maria penasaran.
__ADS_1
"Pak Anton yang memberitahu," jawab Karina.
"Hubungan mereka sepertinya akan terjadi sebuah kesalahpahaman. Akankah hubungan mereka merenggang?"
Amri berspekulasi. Karina mengangguk membenarkan.
"Hati yang kecewa lebih sulit disembuhkan daripada hati yang bersedih. Jessica kecewa terhadap Enji. Hari ini ia menyerahkan surat pengunduran diri akan tetapi itu tidak berguna. Selain masalah kontrak, juga tidak ada persetujuan dari Enji. Terakhir ia hanya bisa meminta cuti. Hubungan mereka diuji. Mari menjadi saksi untuk hubungan mereka."
Karina tersenyum. Bagi Amri dan Maria, senyum itu mengandung sebuah misteri. Mereka berdua hanya tahu bahwa Karina belum menyampaikan sikapnya terhadap hubungan Enji dan Jessica. Yang mereka lihat Karina hanya bersikap datar serta acuh. Tidak mendukung ataupun menentang.
Tapi benar kata Karina, mereka akan menjadi saksi hubungan Enji dan Jessica. Akankah itu happy atau sad ending? Biar waktu yang menjawab.
*
*
*
Suasana haru menyelimuti Gerry dan Mira karena mereka akan berpisah selama sebulan. Hari ini, sesuai perintah Mira akan berangkat menuju markas cabang di luar kota untuk memulai pembelajaran.
Mira berangkat bersama lima anggota lainnya yang semua berjenis kelamin perempuan.
Gerry dan Mira kembali berpelukan sebelum Mira masuk ke dalam mobil.
"Tunggu aku kembali. Aku akan kembali dengan lebih baik lagi. Aku akan jadi wanita kuat dan cerdas," bisik Mira.
"Aku akan menunggumu, Sayang. Jaga dirimu baik-baik di sana. Aku berharap saat kau pulang nanti kau tidak pulang sendiri," balas Gerry.
Mira sedikit mengeryit dengan ucapan Gerry.
"Apa pembelajaran ini sangat berbahaya? Apa akan ada yang mati?"
Mira mendadak takut. Gerry tersenyum, ia melepas pelukan dan memegang pundak Mira.
"Tentu saja tidak. Ah lupakan. Segeralah naik," jawab Gerry.
"Hah … kau menakutiku," kesal Mira.
"Yo kau jangan kesepian ditinggal Mira. Ini hanya sementara bukan selamanya," celetuk seseorang dari belakang.
Gerry berbalik. Li menghampirinya dengan senyum tengil.
"Imanku tidak lemah. Kesetiaanku sangat besar. Pantang bagiku untuk berpaling!"sahut Gerry mantap.
"Tatapan apa itu? Kau meragukanku?"seru Gerry melihat tatapan mengejek Li.
"Ya … ya aku percaya. Apa kau tidak tahu aku hanya menggoda? Ayolah kita sudah mengenal sangat lama dan kau masih tidak tahu bagaimana aku? Aku sedih, sangat sedih."
Li berkata dengan wajah yang dibuat bersedih.
"Hmph. Jangan bercanda dengan wajah serius. Jika kau melakukannya lagi aku akan menghajar dirimu!"ancam Gerry, bersedikap tangan dengan mata menatap tajam Li.
Li malah tertawa. Gerry kesal.
Bugh!
"Uh."
Li mengeluh sakit saat kakinya ditendang oleh Gerry. Gerry malah dengan santainya melenggang pergi dengan wajah tersenyum puas.
"Sialan kau Ger!"seru Li, mengejar Gerry untuk membalas tendangan Gerry.
Alhasil mereka malah kejar-kejaran. Satu meledek dan satu lagi meledak. Penghuni markas yang menyaksikan kekonyolan dua orang itu hanya menahan tawa serta menggelengkan kepala.
"Wow … Raj dan Meera versi BL," gumam Elina yang melihat dari lantai dua.
*
*
__ADS_1
*
Di belahan dunia lain, Syaka tengah mencak-mencak marah terhadap dokter yang menangani Bayu.
Aleza bahkan harus menahan kerah baju Syaka agar Syaka tidak lagi memukul dokter yang berdiri diam dengan wajah tanpa dosa. Dokter itu malah tersenyum sembari menyentuh sudut bibir yang lebam, bekas pukulan Syaka.
"Katamu ia akan bangun di pagi hari. Tapi nyatanya, ini sudah hampir tengah hari. Bagaimana bisa kau salah analisis? Kau dokter dengan pendidikan tinggi dan mumpuni bukan?"bentak Syaka yang emosi, terus meronta ingin memukul dokter.
Aleza mendengus sebal. Dengan kesal Aleza menarik kasar Syaka ke belakang dirinya.
"Dengarkan dulu penjelasannya. Kau harus belajar mengatur emosi. Anak muda tidak baik sering emosi, cepat tua nanti," ujar Aleza, tegas memerintah. Syaka melengos, masih menatap kesal sang dokter.
"Jelaskan!"
"Jadi begini. Kemarin saya mengatakan bahwa Tuan Muda Bayu akan sadar besok, tapi saya tidak mengatakan bahwa ia akan sadar di pagi hari. Saya tidak bisa memastikan di jam berapa ia akan sadar, saya hanya bisa memperkirakan. Tuan muda ini apa Anda tuli atau menderita ? Sehingga Anda tidak mendengar dan mengingat dengan baik apa yang saya sampaikan?"papar dokter tegas.
Aleza melirik Syaka yang kini wajahnya merah padam. Entah itu marah atau malu, Aleza menebak itu keduanya.
"Kita hanya bisa menunggu. Saya dan tim akan terus memantau kondisi mereka berdua. Karena saya sudah menjelaskan, saya mohon undur diri," ujar dokter membungkuk hormat.
Aleza mengangguk. Syaka membuang muka kesal.
"Bersabarlah. Bayu juga berjuang. Lebih baik kamu berdoa agar ia cepat sadar. Marah-marah tidak jelas tidak ada gunanya, habis suara iya."
Aleza menatap Syaka dengan tatapan memberi nasehat. Syaka membalas tatapan Aleza.
"Wajah santainya membuatku tambah kesal. Apa semua dokter di sini tengil seperti dia? Beraninya mengatakan aku tuli dan pelupa!"geram Syaka, menggepalkan kedua tangan erat.
"Sudahlah. Ia memang begitu. Lebih baik kamu berdoa untuk kesembuhan Bayu dan Enji."
"Baik."
*
*
*
"Bagaimana kondisi mereka?"
Karina menghubungi Aleza setelah selesai mandi. Ia dan Maria berencana untuk berbelanja.
"Kondisi Tuan Muda Bayu cukup stabil, tinggal menunggu beliau sadar saja. Akan tetapi, kondisi Tuan Muda Enji mengalami penurunan. Tadi pagi beliau mengalami kejang dan muntah darah. Beruntung Tuan Muda Enji berhasil melewati masa kritis untuk kedua kalinya. Apakah saya perlu memindahkan mereka ke rumah sakit, Queen?"
"Peralatan di markas sangat lengkap Aleza. Kamu terus kabari aku mengenai kondisi mereka. Ingat jangan sampai berita mereka terekspos ke publik!" Karina kembali memberi penekanan.
"Mengerti, Queen!"jawab Aleza.
Panggilan diakhiri.
Karina mengusap wajahnya dengan kasar. Sorot mata kesedihan terpancar.
"Bertahanlah Zi. Kau masih punya tanggung jawab!"gumam Karina.
Perusahaan Enji kini berada di bawah pengawasan KS Tirta Grub.
Karina menatap layar televisi ketika mendengar nama entertainment miliknya disebut dalam berita. Mata Karina menyipit melihat keterangan.
"Dunia hiburan negeri ini digegerkan dengan kasus yang menjerat aktor yang tengah naik daun. Aktor Jonathan terjerat kasus pembullyan yang dilakukan beberapa tahun silam. Akibatnya, aktor Jonathan terancam didepak dari dunia hiburan. Beberapa drama yang telah rilis juga terancam dihapus serta telah dilakukan penghentian aktivitas syuting untuk drama terbarunya. Sampai saat ini, agensi Jonathan belum mengeluarkan keputusan dan penjelasan pasti."
Karina berdecak sebal mendengar penjelasan pembaca berita itu.
Karina langsung mengambil handphone, melihat email. Benar saja, ada email masuk mengenai masalah yang baru saja diberitakan.
"Tenang saja. Agensi akan melindungi artisnya," gumam Karina.
"Karina, Sayang apa kau sudah selesai?"
Maria bertanya sembari mengetuk pintu.
__ADS_1
"Iya Ma, sebentar," sahut Karina. Karina keluar dengan membawa tas dan laptop.