
Darwis tersedak kaget dengan ucapan Intan, matanya melirik Intan remeh. Li dan Elina saling tatap, tersenyum santai. Karina, hanya menaikkan satu alisnya. Gerry ia kesal mengepalkan kedua tangannya.
"Mafia? Presdir, Anda mafia?" tanya Tuan Adiguna.
"Pedang Biru," jawab Karina singkat.
Tuan Adiguna terbelalak kaget. Pantas saja ia merasakan aura yang sangat kuat dari Karina. Tenyata ia tidak hanya berhadapan dengan CEO perusahaan raksasa juga seorang Queen Mafia.
Anakmu adalah penguasa. Kamu melahirkan seorang yang luar biasa. Dia membuktikan bahwa seorang wanita mampu menahan dan mengatur dunia. Sungguh keluarga yang luar biasa. Keluarga Tirta Sanjaya. Dia seorang saja sudah mampu mengguncang dunia. Apa jadinya jika kalian tetap hidup? Aku sangat yakin semua aspek akan kalian kuasai.
Tuan Adiguna bermonolog dalam hati.
"Mira juga Pedang Biru. Dia sudah menandatangi kontrak kerja dan masuk organisasi mafia. Dia kan bekerja di Tirta Hospital. Asal Anda tahu, KS Tirta Grub dan Pedang Biru adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kasino Heart of Queen juga bagian Pedang Biru. Apakah kita bertentangan Tuan Adiguna? Seingatku sebagian besar persenjataan militer negara ini adalah produksi Pedang Biru," papar Li.
Intan menatap Mira tajam. Mira mengangguk pelan. Intan membeku. Ia tahu siapa Pedang Biru. Mereka sudah seperti pasukan khusus yang akan turun saat negara yang mereka tempati terancam.
Hubungannya dengan militer dan pemerintahan sangatlah kuat. Akan tetapi Pedang Biru tidak mau bergabung ke negara dan bagian manapun. Mereka berdiri sendiri.
Mereka tidak membutuhkan bantuan negara ataupun siapapun. Orang-oranglah yang butuh Pedang Biru.
"Kalian menerima atau tidak, tidak berdampak pada organisasi dan perusahaanku," ucap Karina dingin.
"Aku harap Papa dan Mama menerima hubungan kami. Mira meminta restu kalian," ucap Mira tegas.
"Bagaimana Ma?"
Intan masih berkelut dengan batinnya sendiri. Tuan Adiguna sebenarnya sudah memberi restu lewat sorot matanya pada Gerry. Menjadi mertua dari salah satu tangan kanan Pedang Biru adalah kehormatan tersendiri.
Terlebih Gerry memiliki bibit, bobot dan finansial yang mencukupi. Sorot matanya pada Mira juga penuh dengan ketulusan. Tidak ada bagian yang bisa ia cela atau protes.
"Jika Mira sudah menerimanya, Papa juga tidak keberatan, apa protesan Mama akan dianggap?" ucap Intan serius.
"Kalau Mama belum setuju, Mira dan Gerry akan berusaha keras mengejar restu Mama sampai dapat. Kalian adalah orang tuaku, restu kalian sangat berarti," ucap Mira.
Intan tersenyum tipis.
"Tidak perlu, Mama setuju. Nak Gerry, apa kau mau menjadi menantu kami?" tanya Intan.
Gerry terkekeh.
"Tentu saja," jawab Gerry.
"Ih Mama, kok malah Mama yang melamar Gerry untuk Mira sih?" protes Mira.
Kecuali Karina, yang lain tersenyum dengan protesan Mira.
"Ngomong-ngomong masalah lamaran, sepertinya kurang cocok melamar anak jenderal melalui telepon. Jari Mira juga tidak ada cincin tunangan. Itu kan cincin nikah Mira dengan Eko," ucap Intan memegang tangan Mira dan mengangkat tangan kanan kiri Mira menunjukkan cincin berwarna silver melingkar manis di jari manis.
"Kalau begitu, kita adakan lamaran ulang," saran Li.
Gerry menoleh kepada Li. Li tersenyum dan mengeluarkan sebuah kotak merah berbentuk hati dan menunjukkannya pada Gerry.
"Sedia payung sebelum hujan," ucap Li bangga.
Karina memang menyuruhnya mengambil cincin di mall sebelum berangkat. Mata Li mengkode Karina. Karina tersenyum.
Gerry beranjak, mengambil kotak cincin yang Li tunjukkan. Mira hatinya berdegup kencang, berdebar saat Gerry melangkah tenang mendekatinya. Intan menyingkir, menjadi di belakang Tuan Adiguna.
Mira berdiri dengan dada yang semakin tak karuan. Ia terbelalak saat Gerry berlutut di hadapannya dengan membuka kontak cincin hati itu. Dua cincin berwarna perak dengan permata berlian itu berkilau diterpa sorot lampu ballroom.
Gerry menaikkan pandangannya, menatap Mira penuh harap dan ketulusan. Tuan Adiguna tersenyum lebar. Setidaknya ia memiliki anak lelaki yang bisa ia banggakan.
"Mira Rahmawati, will you marry me?" tanya Gerry.
Mira dengan cepat mengangguk.
"Yes. I will. I will to be your wife," jawab Mira cepat.
__ADS_1
Gerry tersenyum puas. Li tepuk tangan sebagai pembuka, diikuti tepuk tangan yang lain.
Karina, hanya dua kali tepuk lalu menguap. Ia merasa ngantuk. Para bawahannya hanya bisa mendengus senyum.
"Cepatlah sedikit. Wanita hamil perlu istirahat," ucap Karina datar.
"Baiklah Queen tercinta kami," jawab Gerry, meminta Mira mengulurkan tangannya.
Mira menutup mulutnya merasa sangat bahagia dan terharu. Gerry tidak tegang ataupun tidak percaya diri berhadapan dengan keluarganya.
Gerry segera mengambil cincin dan hendak menyematkannya di jari manis Mira. Namun terhalang dengan cincin yang masih melingkar di sana.
"Boleh aku lepas ini?" tanya Gerry hati-hati.
Takut menyinggung Tuan Adiguna dan Intan. Mira meminta pendapat Tuan Adiguna dan Intan.
Kedua orang tua itu saling tatap kemudian menatap Mira dan mengangguk.
Mira mengangguk. Gerry melepas cincin itu perlahan lalu memasang cincin perak itu.
Mas, aku sudah menemukan tambatan hatiku. Berbahagialah kamu di sana. Kamu tetaplah cinta pertamaku dan akan menjadi masa laluku. Semua keluarga sudah ikhlas kamu pergi. Semoga kita bisa bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Terima kasih telah mewarnai hariku dengan senyum dan cintamu, hari ini aku lepas cincin kita. Tapi hubungan yang pernah di antara kita tidak akan pernah terlepas dari sejarah. Selamat tinggal, batin Mira.
Gerry berdiri. Mira gantian memasangkan cincin di jari manis Gerry.
"Akhirnya jari ini tidak kosong. Terima kasih sudah bersedia menjadi pengisi dan pemilik hatiku. Aku berjanji dan bersumpah akan setia dan menjagamu selamanya," tutur Gerry, mengecup punggung tangan Mira.
Akhirnya semua masalah ini beres. Tepuk tangan meriah kembali dibuat.
"Masalah tunangan sudah beres. Sekarang tinggal masalah pernikahan. Besok siang, pukul 02.00 di gereja terbesar di kota ini. Kalian berdua akan menikah," ucap Karina tegas.
Sudah pasti mereka terkejut. Bukankah itu terlalu cepat? Belum genap 24 jam mereka tunangan sudah mau menikah. Jujur Mira belum siap kalau secepat ini.
"Aku setuju, lebih cepat lebih baik," ucap Gerry setelah menimang perintah Karina.
"Tapi itu terlalu cepat. Mana mungkin persiapan hanya memakan waktu setengah hari, belum lagi para tamu undangan, harus ada persiapan yang matang pernikahan Mira dan Gerry. Terus fitting baju pengantin juga belum, pihak gereja juga belum dihubungi, terus surat-suratnya juga belum. Tidak, setidaknya 3-4 hari setelah lamaran baru pernikahan," sanggah Tuan Adiguna tidak setuju yang didukung oleh Intan.
"Semua sudah aku urus. Maaf data kalian sudah aku serahkan jauh sebelum hari ini tiba. Tepatnya setelah pesta pernikahan Ferry dan Siska. Bagaimana? Aku pemimpin yang perhatian kan? Ya walaupun caraku cukup bar-bar tapi demi kebahagian anggotaku, aku rasa itu biasa saja."
Karina dengan entengnya berbicara. Tidak memperhatikan reaksi orang-orang disekitarnya.
"Baiklah. Kalau Anda sudah berkata begitu kami mengikut saja. Kami yakin Anda paham tradisi dan adat dari setiap agama anggota Anda. Bukankah Pedang Biru terdiri atas beberapa agama?" tanya Tuan Adiguna yang pasrah saja.
"Mas kawinnya bagaimana?" tanya Intan.
"Gampang. Sebutkan saja apa yang kalian inginkan," jawab Karina.
"Queen," tahan Gerry.
Ia merasa ia tinggal terima beres.
Gerry menyesal pernah bersikap tidak sopan pada Karina.
"Kami tidak ingin apapun. Cukup kebahagian Mira kalian penuhi, kami sudah terima," ucap Tuan Adiguna.
"Tidak bisa begitu Tuan, saya sebagai calon suami Mira akan memberikan mas kawin yang pantas. Bagaimana dengan seperangkat perhiasan berlian, uang tunai, beberapa vila, kendaraan atau apapun itu. Mintalah biar saya merasa nyaman," sangkal Gerry.
Intan dan Tuan Adiguna menghela nafas kasar.
"Baiklah jika kamu memaksa. Tapi sebelum kami ada baiknya calonmu dulu yang meminta," ujar Intan.
"Mir," panggil Gerry lembut.
"Aku … aku tidak ingin apapun. Bisa bersama denganmu sudah cukup, tapi jika kamu memaksa aku tidak akan sungkan. Aku ingin kalung ruby berbentuk hati, di dalamnya ada nama kita berdua," ucap Mira cepat, kemudian menunduk malu.
Gerry tersenyum gemas.
Intan dan Tuan Adiguna menyampaikan keinginan mereka. Rena yang turut dipanggil. Awalnya kaget kemudian juga meminta keinginannya.
Gerry menyanggupinya. Mereka hanya minta sesuatu yang baginya sangat sederhana namun bermakna.
__ADS_1
Karena malam yang sudah semakin larut. mereka memutuskan pulang. Tuan Adiguna menyerahkan selembar cek mengganti kerusakan yang ia perbuat. Tanpa pandang bulu Karina menerimanya dengan senyum lebar.
Darwis melangkah menuju kamar di mana Riska dan Joya berada. Dilihatnya kedua wanita itu sudah tertidur. Darwis membangunkan Riska. Riska terbangun sembari mengucek matanya.
"Lekaslah ke ballroom. Keluargamu sudah menunggu untuk pulang," ucap Darwis.
Riska mengangguk. Dengan langkah gontai, Riska keluar kamar.
Darwis menggendong Joya, ditatapnya wajah damai Joya dengan lembut. Darwis segera melangkah keluar kamar dan menuju lobby.
Di depan lobby, mobil orange Karina menunggu manis. Darwis menghampirinya sejenak.
"Kau menginap di rumah kami kan?"
Karina mengangguk. Darwis lalu melangkah menuju mobilnya.
*
*
*
Tiba di kediaman Darwis, Rian dan Satya, Karina dikejutkan dengan kehadiran Arion yang menunggu bosan di ruang tamu.
Arion langsung berdiri dan memeluk Karina dengan mengucapkan kata maaf berulang kali. Tanpa diminta, Arion menjelaskan semuanya, dan memohon Karina memaafkannya.
Karina menyuruh bawahannya untuk memasuki kamar mereka masing-masing. Untuk Rian dan Satya, kedua orang itu berada di rumah sakit.
"Sayang, aku sungguh tidak mengenalnya, aku hanya menolongnya. Karena panik aku tanpa sengaja menabrak wanita itu. Aku tidak mau menambah masalah. Aku menggendong wanita itu ke klinik yang berada tepat di depan lokasi tabrakan. Aku tidak tahu jika ada yang memotret kami dan menuliskan hal yang tidak benar sama sekali. Sayang, aku janji sepanik dan sepenting apapun itu, aku pasti akan izin padamu. Aku mohon, kamu jangan kabur seperti. Apa kau tahu betapa paniknya aku mendengar kamu mengatakan minggat? Karina Sayang, maafkan suami tampanmu ini ya. Aku mohon," ucap Arion panjang lebar, memegang kedua tangan Karina dan diletakkan di dadanya.
"Oh," respon Karina datar.
Arion tidak kesal, heran atau terkejut, sudah hal biasa.
"Sudah kamu bereskan mereka?" tanya Karina mengubah topik pembicaraan.
Ia jengah mendengar kata maaf. Satu hari ini sudah tidak terhitung kata maaf yang ia dengar.
"Sudah. Aku jebloskan ke penjara. Terlalu rendah jika aku membunuhnya," jawab Arion.
"Oh, kamu lacak ponselku?" tanya Karina.
Arion mengangguk.
"Tidak cuma tampan, aku juga cerdas, walaupun masih di bawahmu," jawab Arion bangga.
"Narsisme memang tidak ada obatnya. Untung aku pulang kemari," ejek Karina.
Arion menaikkan alisnya.
"Jadi kamu sudah memaafkanku kan?"
Arion memastikan.
"Sebenarnya aku tidak minggat. Mana mungkin aku meninggalkan rumahku sendiri. Tanpa masalah hari ini pun aku akan tetap kemari. Hanya saja aku pergi diam-diam agar kamu tidak melarangku," jelas Karina.
"Jadi, ah Karina kamu memang luar biasa. Apa ini mengenai Mira dan Gerry? Oh ya, kau akan meminta izinku begitu kamu mendarat di sini, itukan maksudmu?"
Karina terkekeh dan mengangguk. Arion gemas, mencubit pipi dan hidung Karina.
"Kau membuatku ketakutan setengah mati," keluh Arion.
"Hahaha .... Mengerjaimu memang menyenangkan," ujar Karina tertawa lepas.
"Lusa kita pulang atau kamu pulang duluan. Aku masih ada urusan sampai lusa," ucap Karina.
"Lihat situasinya. Sudahlah sekarang aku sudah lega. Ada baiknya kita istirahat sekarang. Sudah tengah malam, waktunya tidur," sahut Arion.
Karina mengangguk, keduanya berjalan menaiki tangga menuju kamar.
__ADS_1