Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 199


__ADS_3

Raina masih menunggu Calvin sadar. Ya tak terasa sudah dua hari dua malam Calvin tak sadarkan diri. Dipandanginya wajah Calvin yang tampak damai dalam tidurnya. 


Raina menghela nafas panjang. Tubuhnya mulai terasa pegal-pegal akibat tak istirahat dengan cukup. Untunglah Santi yang mengeluarkan ucapan-ucapan yang membuatnya kesal ataupun tersinggung.


Kini ia hanya sendiri bersama Calvin di ruang rawatnya. Santi dan Angga baru saja pulang setelah menjenguk dan mengantarkan makan malam untuknya.


"Vin, cepatlah sadar, apa kamu gak kasihan sama aku dan anak kita? Jangan buat aku merasa semakin bersalah," pinta Raina lirik.


"Assalamualaikum," sapa dua suara diikuti suara pintu yang terbuka. Raina mengangkat pandangannya, melihat ke arah pintu.


"Waalaikumsalam, Sam, Lila," sahut Raina cepat, melihat Sam dan Lila yang datang berkunjung. 


Lila meletakkan parsel buah yang ia bawa di nakas. Sam melihat kondisi Calvin. 


"Ck, apa kau mau ikut sakit juga? Lihat kantung matamu itu," ketus Lila, memegang pundak Raina dan memijatnya pelan.


"Mana bisa aku tidur dengan nyenyak Lil, sementara Calvin tak kunjung sadar," ucap pelan Raina. 


"Haih." Sam menghembuskan nafas, prihatin dengan Raina. Tapi, ia juga tersenyum simpul setelahnya.


"Kau tidak perlu berlebihan seperti itu, aku lupa memberitahamu, bahwa jika fobianya kambuh maka ia akan pingsan selama dua hari dua malam, dan setelah itu ia akan bangun. Tetapi Calvin akan melupakan saat fobianya kambuh," terang Sam, menenangkan Raina. Seakan hujan di tanah tandus, angin segar membuat Raina tersenyum dan menghela nafas lega.


"Mengapa kau tak katakan dari kemarin? Kasihan Raina dan apakah om Angga dan tante Santi tak tahu mengenai hal itu?" tanya Lila kesal dengan suaminya. 


"Benar itu, mereka tak ada memberitahuku, apakah mereka tak tahu apa pura-pura tak tahu?" timpal Raina, menatap Sam meminta penjelasan. Sam merasa dirinya sekarang seperti kelinci di hadapan dua singa betina.


Tatapan tajam Raina dan Lila, membuatnya tersenyum terpaksa. 


"Kan sudah aku katakan aku lupa. Jika Arion tak mengatakannya kemarin pagi, dan kemungkinan dia akan sadar besok pagi. Masalah tante dan om Alantas tentang itu, mereka tahu dan aku rasa mereka sengaja tak memberitahu padamu. Bisa jadi saja sebagai hukuman," jelas Sam, harap-harap cemas agar tak salah kata dan membuat Lila dan Murka.


"Ck, sialan! Dia tak mengucapkan kata-kata menyakitkan, tapi malah membuat badanku yang sakit, emangnya sepenuhnya ini salahku?" kesal Raina pada mertuanya.


"Shut, jangan begitu Ra, yang penting sekarang kamu istirahat nyenyak dan jika Calvin bangun, gantian balas dendam," tegur Lila, eh teguran apa dorongan?


Sam mengeryit. Raina paham dan tersenyum, diikuti senyum Lila.


"Hei, kalian berdua merencanakan apa?" seru Sam.


"Rahasia!" jawab Lila dan Raina penuh tekanan.


"Wanita memang sulit dipahami," gumam Sam. 


Setelah berbincang beberapa saat, Sam dan Lila pamit pulang. Tak lupa juga mereka memanjatkan doa untuk Calvin. Raina tersenyum lebar dan melangkahkan kakinya menuju dinding. Mencari sebuah tombol dan menekannya. Dinding berubah menjadi semua ranjang, ranjang sama sama seperti yang ada di ruangan rawat Arion kemarin.


"Akhirnya bisa tidur nyenyak," gumam Raina. Memejamkan matanya dan mulai beranjak ke alam mimpi.


***


Setelah mengudara selama kurang lebih tiga jam, akhirnya pesawat yang dinaiki  Karina dan keluarga Wijaya mendarat di bandar negara B. Di sini waktu sudah menunjukkan pukul 00.00, ya tengah malam. Tiga mobil sudah menunggu cantik di sana, lengkap dengan sopirnya. Karina dan Arion menaiki mobil yang berada paling depan. 


Perlahan, ketiga mobil itu meninggalkan bandara dan melesat dengan kecepatan sedang menuju High City Residence, yap menuju kediaman Karina yang mana merupakan satu kompleks dengan kediaman kakek Bram, yang mana hanya beda blok. Kediaman Karina lah yang paling besar dan mewah di antara kediaman keluarga lain.


"Loh Pa, kok jalannya yang ini ya? Rumah ayah kan jalan yang sebelumnya tadi?" heran Maria. Walaupun malam, penerangan di wilayah ini sangatlah terang.


"Papa juga lupa Ma, sudah lama kita tak pulang kemari," sahut Amri, mengikut saja kemana Karina membawa mereka.

__ADS_1


*


*


*


Gerbang tinggi dan megah itu terbuka saat mobil yang ditumpangi Karina dan Arion membunyikan klakson, menitahkan agar gerbang dibuka.


Arion kagum, dengan apa yang ada di hadapannya kini. Ia tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Gelora dan semangat mengejar ketertinggalannya dalam bidang aset dan prestasi dan usaha menggebu di dadanya. Ia ingin menyetarakan kedudukannya dengan Karina, dalam bidang bisnis.


Di teras, para pelayan telah berbaris rapi menunggu kedatangan Karina. Mereka tampak heran dengan dua mobil yang mengikut di belakang mobil nona mereka.


"Welcome in my home," ucap Karina seraya melepaskan kacamata hitamnya. Enji tampak senang bisa kembali menginjakkan kaki di kediaman ini lagi. 


Amri, Maria dan Bayu pun kagum dengan luasnya, penataan, dekorasi dan asitektur mansion ini.


"Nona, welcome back," sambut Bik Uci diikuti pelayan yang lain.


"Hm," sahut Karina.


"Ah, Bik Uci, Bik Intan," pekik Enji senang langsung memeluk kedua wanita paruh baya itu.


Bik Uci dan Bik Intan tampak terperangah dengan hal itu. Karina hanya tersenyum.


"Anda? Den Enji?" tanya ragu Bik Intan setelah melihat wajah Bayu.


"Ah kalian tak asyik melupakan diriku ini," rengek Enji.


"Astaga? Aden sudah sedewasa ini. Pangling kami Den. Maafkan kami ya Den," kaget Bik Uci. Memeluk Enji sekali lagi.


"Uluh, tambah tampan Aden. Sudah ada yang punya? Jika belum, bisalah bibi kenali sama anak kompleks sebelah," seloroh Bik Intan.


"Wah, duda ya? Aduh kasihan anak Bibi ini," ucap Bik Intan spontan.


"Mana anaknya Den? Anak ini ya?" tanya penasaran Bik Uci menunjuk Bayu. Enji mengangguk. Bayu tersenyum dan memperkenalkan dirinya. Untuk yang lain, tentu saja pelayan sudah tahu, sebabkan sudah diumumkan ke publik.


"Sudah! Nanti lagi reuninya, mari kita istirahat," titah Karina. Jengah dengan adegan tanya jawab di hadapannya.


Enji dan lainnya menurut. Kamar telah disiapkan saat Karina mengabari bahwa ia akan kemari. Barang bawaan mereka dibawakan oleh para pelayan. Dua mobil yang membawa Amri, Maria, Alia, Bayu dan Enji tadi sudah kembali pulang ke markas.


Karina dan Arion langsung melemparkan tubuh mereka ke atas ranjang. Saat hendak memejamkan mata, ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Dengan langkah gontai, Arion bangkit membuka pintu.


"Maaf mengganggu Tuan, silahkan diminum dulu coklat hangatnya sebelum tidur, Nona biasanya begini saat kemari," ujar Bik Intan sopan, menyodorkan nampan berisi dua gelas coklat hangat.


"Baiklah," jawab Arion, mengambil nampan dan membawanya ke dalam. Bik Intan menunggu di luar. Arion meletakkan nampan di nakas.


"Yang, bangun dulu, minum dulu coklat hangatnya," ujar Arion, menggoyangkan pelan tubuh Karina. Karina menggumam dan bangun. Aroma pekat coklat menyapa penciumannya.


Dengan beberapa tenggukan, coklat hangat di cangkir habis tak tersisa. Arion pun ikut menghabiskan minumannya.


"Dah, aku balik tidur," ujar Karina. Arion mengangguk dan segera kembali menuju pintu membawa nampan dan cangkir kosong.


"Terima kasih Bik," ujar Arion, ramah dan tersenyum.


"Sama-sama Tuan," jawab Bik Intan, izin undur diri.

__ADS_1


Arion segera mengunci pintu dan mematikan lampu kamar. Suasana gelap seketika. Hanya ada biasan cahaya rembulan yang menerobos masuk melalui jendela kaca.


"Good night, Honey," ucap Arion, mengecup kening Karina lalu turun ke bibir..


***


Pagi telah datang di negara Y, perbedaan waktu negara Y dan B hanya sekitar satu jam. Jika di negara Y pukul tujuh maka di negara B masih pukul enam.


Pukul 07.00, Raina masih meringkuk nyenyak di bawah selimut dan di atas empuknya ranjang. Udara dingin yang dihasilkan dari AC menambah kenyenyakan tidurnya.


Di ranjang yang ditiduri Calvin, mata Calvin tampak bergerak. Jari telunjuknya ikut bergerak juga. Perlahan tapi pasti, mata yang telah menutup selama dua hari dua malam itu terbuka. Menyipit, menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya. 


Ia tahu ia ini rumah sakit, sebab saat membuka mata, di langit-langit ruangan tertulis besar kalimat.


INI RUMAH SAKIT, JANGAN BANYAK TANYA ATAU BERTANYA DI MANA DIRI ANDA!


Kepala Calvin rasanya pusing. Ia mengingat apa yang terjadi padanya. Ya terakhir ia ingat adalah saat ia berada di kamarnya dan sedang bekerja.


"Aih, pusingnya," keluh Calvin. Calvin memalingkan wajahnya ke kanan dan kiri, melihat siapa saja yang ada di ruangan ini. Calvin tersenyum lebar mendapati Raina yang tertidur, terlihat nyaman dan nyenyak sekali.


"Pasti dia lelah, biarkan saja ia istirahat. Aku lanjut tidur saja," gumam Calvin, kembali memejamkan matanya.


Tiga puluh menit kemudian, Raina membuka matanya. Bangun dan merenggangkan tubuhnya. Tubuhnya kembali terasa kesegaran. Dengan segera Raina segera berdiri dan mengembalikkan ranjang menjadi dinding. 


Setelah itu, menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya. Segarnya air, menambah semangatnya. Dengan bersenandung kecil, Raina keluar kamar mandi dan mendekati ranjang Calvin.


"Astaga, cairan impusnya sekarat, nanti bisa kejang-kejang pula dia," pekik Raina dan segera menekan bel memanggil dokter, perawat apapun itu asalkan bisa mengganti impus Calvin.


Calvin merasa terganggu. Ia membuka matanya perlahan dan mendapati sang istri dengan wajah panik. Menatap ke arah pintu, menantikan dokter dan perawat. Tak berapa lama kemudian, dokter dan perawat datang. Raina belum menyadari bahwa Calvin telah sadar. Calvin malah memejamkan matanya lagi.


"Ada apa Nyonya?" tanya dokter dengan wajah khawatir.


"Impusnya habis, segera ganti," ucap Raina. Dokter dan perawat saling pandang, gara-gara impus mereka harus lari. Dengan segera sang perawat mengganti impus yang sudah ia bawa.


Dokter memeriksa keadaan Calvin. Calvin merasakan geli saat dokter memeriksa matanya dan mengecek detak jantungnya.


"Semua oke, tinggal tunggu sadar saja," ucap sang dokter. Raina mengangguk. Dokter dan perawat get out setelah urusannya selesai.


"Aneh, kata Sam, Calvin akan sadar pagi hari, ini kok belum sadar? Malah dokter itu cuma bilang kondisinya baik dan tinggal tunggu sadar, kapan sadarnya? Hei Pipin, cepatlah sadar, aku rindu bekerja dan sekarang aku ngidam!" celoteh Raina, memangku wajahnya dengan kedua tangannya dan menatap Calvin curiga.


Eh? Kasihan Raina. Apa? Anakku ingin sesuatu di dalam sana? Aku harus bangun, eh buka mata, kan aku sudah bangun, batin Calvin, membuka matanya langsung dan menatap Raina penuh kasih. Raina bukannya memeluk Calvin, malah tersentak kaget dan melompat ke belakang.


"Hantu!" pekik Raina.


"Ck, suami bangun dibilang hantu, kejam kamu!" kesal Calvin, bangkit dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


"Oh, suamiku bangun, syukurlah, lagian kamu biasanya itu orang tak sadarkan diri itu, sebelum bangun, telunjuknya itu gerak kecil mata kelopak matanya itu gerak dulu, baru matanya terbuka lebar, ini malah langsung buka dan menatapku mesum!" terang santai Raina, kembali duduk. 


"Aku sudah bangun sebelum kamu bangun tadi, ngomong-ngomong aku kok bisa di rumah sakit?" sahut Calvin. 


"Minum dulu nih," ujar Raina, menyodorkan gelas berisi air mineral.


Calvin segera meminumnya.


"Kamu pingsan di kamar, kata dokter kamu kelelahan dan baru sadar setelah dua hari dua malam," jelas Raina.

__ADS_1


Benar, dia tak ingat apapun.


"Oh pantas saja aku hanya mengingat saat aku bekerja di kamar," ucap Calvin, percaya dengan Raina.


__ADS_2