Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 323


__ADS_3

Api unggun menjadi penerangan di pantai satu. Karina duduk di kursi, Tim Sinus berada di samping kanan dan kiri kecuali J yang menahan pundak Jaksa agar tetap berlutut.


"Jika aku mengatakannya, kau akan melepaskanku, bukan?"tanya Jaksa.


"Hm, aku akan melepaskanmu," jawab Karina.


"Kau juga akan menjaga rahasiaku juga kan? Kau juga tidak akan mengganggu diriku seterusnya kan?"


"Iya," jawab Karina singkat.


"Baiklah, akan aku katakan," ucap Jaksa.


*


*


*


Setelah mendapatkan apa yang Karina inginkan dari sang jaksa, J memukul keras pundak Jaksa. Jaksa pingsan seketika. J bertugas mengantarkan jaksa tersebut pulang.


K, L, M kembali naik ke lantai dua untuk mengurus ke tujuh orang yang masih keras kepala padahal teriakan ketakutan terdengar jelas. Karina cukup mengurus satu orang saja. 


N mengantar Karina ke lantai tiga. Karina berniat mengurus hantu yang tadi menatapnya marah penuh kebencian.


Sesampainya di lantai tiga, Karina mengedarkan pandangan. Ia tidak melihat satupun hantu yang biasanya mendekat padanya. Karina menatap N yang wajahnya tampak tegang. Bulu kuduk N berdiri merasakan aura kebencian yang pekat.


Whuss.


Sekelebat bayangan merah melintas tepat di hadapan Karina dan N. Karina mengubah raut wajahnya menjadi dingin dengan sorot mata terganggu.


"Keluar!"desis Karina dingin, mata menilik tajam sekitar. 


Hawa dingin menyapa, membuat dress Karina bergerak tertiup angin. N bergerak menjadi di belakang Karina. Jujur ia sangat ketakutan sekarang. Di antara anggota Tim Sinus, hanya dia sendiri yang kemampuan spiritualnya masih KKM.


"Keluar! Jangan sampai aku menangkapmu!"bentak Karina merasa jengah dengan kelakuan mahkluk yang satu ini. 


Seketika, sosok wanita berpakaian merah dengan mata yang memerah muncul di harapan Karina. Tatapannya penuh kebencian, tertuju pada perut Karina.


"Siapa kau? Mengapa menggangu di sini? Mengapa kau menatap perutku begitu? Apa yang menyebabkan kau mati?"tanya Karina beruntun. 


N yang menutup mata mendengar wanita itu tertawa nyaring. Karina tersenyum tipis.


"Ah sepertinya aku tahu penyebab kematianmu. Kau ditusuk oleh orang terdekatmu, bukan? Siapa dia? Mengapa kau tidak menghantuinya saja?"tanya Karina. 


Karina sendiri tidak merasa takut. Hantu yang ia lihat ini fisiknya masih bagus dan utuh. Auranya juga menurut Karina biasa saja.


"Oh cukup tragis. Tapi kau juga seharusnya tidak membenci seorang ibu hamil. Itu adalah jalan hidupmu. Jika kau tidak tenang sekarang, balaskan saja dendammu pada mereka berdua. Kau boleh tinggal di sini, tapi jangan membuat masalah dengan penghuni lainnya juga daerah sekitar!"tegas Karina.


"Aku? Kau memintaku menggantikan dirimu membalas dendam?"


"Jangan konyol! Aku tidak akan membunuh seorang wanita yang hamil! Kalau pria itu, aku tidak masalah."


"Begitukah? Akan aku pikirkan. Aku tegaskan sekali lagi, jangan menganggu siapapun!"tegas Karina.


"N buka matamu. Kita kembali!" 


Karina berbalik dan menepuk pundak N. N membuka matanya sedikit. Hantu merah itu sudah tidak ada. N bernafas lega. 


"Queen siapa hantu itu?"tanya N mengekor di belakang Karina.


"Hanya hantu yang dendam pada suami dan seorang wanita karena perselingkuhan," jawab Karina.


"Apa alasan perselingkuhan itu?" 


N tertarik.


"Anak," jawab Karina.


"Anak? Apakah suaminya selingkuh karena dia itu tidak bisa memiliki anak? Apakah selingkuhan suaminya hamil?"tanya N beruntun.


Karina mengangguk membenarkan.


"Suaminya yang menusuknya?"


Karina kembali mengangguk. 


"Kasihan sekali," gumam N merasa simpatik.


"Kau berani sendiri kan ke lantai dua?"tanya Karina setelah sampai di samping mobil.


"Em … berani," jawab N dengan nada yang tidak meyakinkan. 


"Benarkah?"


Karina tersenyum meledek.


"Agak takut," jawab N kemudian. 


Karina tertawa. 


"Apa perlu aku menyuruh mereka mengantarnya?"tanya Karina memalingkan wajah ke arah gerbang. 

__ADS_1


N menyipitkan mata ke arah yang dipandang Karina. 


"Mobil? Siapa mereka? Mereka kawan atau lawan?"tanya N.


"Ternyata kau sangat cerewet," ledek Karina lagi. 


N tersenyum kaku sembari menggaruk kepala. Ia menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Panggil mereka kemari," ujar Karina.


N menurut. Berarti itu adalah kawan. Tak lama, N kembali dengan empat orang pria berpakaian kasual lengkap dengan masker mereka.


"Apa suamiku tidak memberi tahu kalian untuk melindungiku secara terang-terangan? Kalau bukan karena suamiku memberitahuku mengenai kalian, kalian pasti sudah mati!"


Karina melempar tatapan tajam. Keempat pria itu saling tatap dengan mata takut. Keempat serentak membuka masker.


"Maafkan kami, Nyonya. Kami tidak berani masuk ke dalam gedung ini untuk menyusul Nyonya. Mohon ampuni kami." 


Keempat pria itu malah berlutut. 


"Haih. Memangnya ada apa di gedung ini? Hantu juga pilih-pilih kali," sahut Karina acuh.


N menahan tawa. 


"Ah sudahlah. Tugas kalian sekarang adalah mengantarnya ke lantai tiga. Tenang saja, mereka tidak akan mengganggu kalian. Aku akan menunggu di mobil," suruh Karina.


Mata keempat orang itu melebar. Mereka saling tatap tidak percaya.


"Cepat, aku sudah lelah. Atau aku pulang sendiri saja?"


Karina menaikkan satu alisnya tersenyum. 


"Baiklah. Mari, Tuan."


Sembari menunggu keempat pengawal dari Arion itu kembali, Karina memeriksa beberapa hal penting dari tablet.


"White, tampilkan gaun desainer terbaik minggu ini," ucap Karina.


Memproses ….


"Boneka ini … mari buat dia berguna."


Karina kembali menunjukkan senyum smirk. Di otaknya sudah tertata skema rancangan yang akan dia lakukan. 


"Nyonya."


Keempat pria itu sudah kembali, kembali dengan wajah yang pucat. Karina mengeryit.


Menyentuh telinga.


"Aku juga. Tapi aku di dada."


Menyentuh dada.


"Aku merasa ada yang memegang pipiku tadi."


Memegang pipi yang terasa dingin.


"Kalau kau?"tanya Karina.


"Saya? Saya merasa ada yang menyentuh 'itu'," jawabnya menunduk malu. 


Karina tertawa mendengar aduan keempat orang itu. 


"Kalian bertemu dengan hantu mesum rupanya. Jadikan itu pengalaman terbaik kalian ya. Digoda hantu, hahaha."


Karina tertawa lepas. Keempat orang itu tersipu.


"Apa kami akan diikuti?"


"Tidak. Anggap saja kalian baru selesai keluar dari wahana rumah hantu," jawab Karina.


Rumah hantu? Kalau hantunya bohongan enggak masalah, ini hantu asli cuy!


Karina menggeleng pelan melihat reaksi keempat orang itu. Karina lantas memerintahkan White untuk melaju. Keempat pria itu baru sadar ketika mobil Karina sudah melewati gerbang. Sontak mereka langsung berlari keluar gerbang menuju mobil. Mereka menyusul mobil Karina.


*


*


*


Karina langsung menuju kamar begitu keluar dari mobil. Keempat pengawal tersebut berjaga di pos bersama penjaga gerbang. 


Dengan hanya mencuci muka, Karina segera naik ke atas ranjang. Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Karina menatap langit-langit kamar.


"Angkasa Grub, hancurkan atau ambil alih?"


Karina bimbang apa yang harus ia lakukan kepala perusahan tersebut. Bukan pada orangnya tapi perusahannya. Karina merasa sayang jika perusahaan tersebut hancur seutuhnya. 


Tapi di sisi lain, Karina merasa perusahaan itu harus hancur sampai akarnya. Telah banyak kerugian jiwa yang diciptakan perusahaan tersebut. 

__ADS_1


Karina menggembungkan kedua pipi menimbang. Mata bergerak ke kanan, kiri dan atas. 


Ah.


Karina menghela nafas. Ia belum menemukan hasilnya. Matanya sudah lelah. Otak dan tubuhnya sudah butuh istirahat. Perlahan mata Karina tertutup, menuju alam bawah sadar.


*


*


*


Alarm berbunyi sesuai dengan waktu yang telah diatur, pukul 05.00 pagi. Mata Karina terbuka perlahan, mengerjap. Karina duduk dan menyalakan lampu kamar. Karina menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya. 


"Apa dia sudah tidur?" 


Karina ingin menghubungi Arion tapi mengingat di Jerman ini tengah malam, Karina mengurungkan niatnya. Karina hanya mengirim pesan singkat.


Karina menurunkan kedua kaki menginjak lantai. 


"Aku masih ngantuk," gumam Karina. 


Wajahnya memang terlihat masih lelah, ada lingkaran hitam di bawah mata. 


Tak berapa lama terdengar suara azan berkumandang. Karina menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. 


Seulas senyum terpatri di wajah Karina. 


"Aku akan tidur sejenak setelah salat. Aku butuh istirahat lebih," putus Karina.


*


*


Karina terbangun saat waktu menunjukkan pukul 08.00. Kepala Karina terasa sedikit pusing.


"Nona, Anda sudah bangun?"


Karina menoleh ke arah pintu saat mendengar suara ketukan pintu diikuti suara Bik Mirna.


Karina meriah remote untuk membuka pintu. Bik Mirna masuk, menunduk hormat pada Karina.


"Apa pengawal itu sudah pergi?"tanya Karina.


"Belum Nona. Mereka akan pergi ketika Tuan sudah kembali," jawab Bik Mirna.


"Hm. Aku akan mandi," ujar Karina melangkah menuju kamar mandi.


"Baiklah, Nona. Sarapan Anda akan segera saya siapkan," sahut Bik Mirna, membereskan ranjang Karina terlebih dahulu kemudian keluar dari kamar Karina menuju dapur.


*


*


*


Dengan dress biru muda di bawah lutut, rambut digerai dan riasan simple natural seperti biasa, Karina menuruni tangga perlahan. Senyum tipis Karina sunggingkan.


Bik Mirna menarik kursi untuk Karina. Karina duduk dan melihat menu sarapan yang ada.


"Chilaquiles? Anda mengingatkanku dengan Satya dan Rian yang berada di Mexico," ujar Karina.


Bik Mirna tersenyum.


"Tuan Rian pasti sudah menambahkan menu ini ke daftar menu ya Nona," ujar Bik Mirna.


"Benar. Dia memang pecinta kuliner," setuju Karina.


Selain menu tersebut, di meja makan juga terdapat segelas cappuccino klasik dan roti kering yang diolesi selai khas Italia. Karina lebih dulu menyeruput cappuccino dilanjutkan dengan menyantap Chilaquiles.


Bik Mirna menghidupkan televisi untuk mengurangi suasana hening di meja makan. Mata Karina langsung tertuju pada televisi begitu telinganya mendengar berita sebuah mobil ditemukan tenggelam di sungai dengan empat orang berada di dalamnya.


Karina mengeryit melihat plat nomor mobil ketika mobil diangkat dari dalam sungai.


"Wow. Mereka mendapat balasan yang sama," kagum Karina mendengus senyum.


Bik Mirna menunjukkan wajah bertanya, penasaran dengan apa yang Karina maksud. 


"Karma itu berlaku. Beberapa hari yang lalu mereka membunuh beberapa orang dengan menenggelamkan mobil di sungai. Kini mereka yang merenggang nyawa dengan cara yang sama. Sebenarnya ada banyak cara yang lebih baik dari itu, tapi lebih baik membunuh mereka perlahan di dalam air dan ketakutan. Mereka sudah merasakan bagaimana rasanya putus asa. Bagaimana rasanya saat meminta pertolongan, tidak ada seorangpun yang datang. Jangankan datang, didengar dan dilihat saja tidak," tutur Karina. 


"Jadi itu adalah ulah Nona?"tanya Bik Mirna mematikan.


"Menurut Bibi?"tanya balik Karina.


Bik Mirna langsung mengangguk. 


"Aku akan menghancurkan Angkasa Grub!"


Karina menancapkan garpu di meja. Mata Karina berkilat tajam.


"Anda pasti akan berhasil, Nona."

__ADS_1


__ADS_2