Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 217


__ADS_3

Karina tiba di rumah setelah azan Isya berkumandang. Wajahnya juga tampak lelah, belum lagi perutnya yang sudah membuncit memasuki usia kandungan bulan ke-5. Dengan memegang perutnya, Karina memasuki rumah. Di ruang tengah, ia mengedarkan pandangannya. 


"Non, duduk dan minum dulu," tutur Bik Mirna yang datang dari dapur membawa nampan berisi gelas air berikut isinya. Karina mengangguk dan duduk di sofa.


Meraih gelas yang disodorkan Bik Mirna dan menenggaknya. Dua tenggukan, Karina meletakkan gelas di atas meja. Menyeka sisa air di bibir kemudian memejamkan mata sejenak.


"Arion sudah pulang Bik?" tanya Karina, menatap Bik Mirna. Bik Mirna tersenyum.


"Sudah Non, kalau tidak salah sekitar jam 17.00 gitu. Terus Tuan juga memasak makan malam, sekarang sih masih berada di kamar," jawab Bik Mirna.


Karina satu menaikkan alisnya tak percaya. Selama menikah, ia tidak pernah sekalipun melihat Arion memasak, yang ada yang menemaninya memasak. Ya, terkadang hal kecil adalah hal yang paling membahagiakan.


"Hm, perutku dan Blue Star sudah minta diisi, saya ke kamar dulu ya, Bik," ujar Karina, berdiri dan melangkah menaiki anak tangga perlahan, tangannya memegang pegangan tangga.


Usia kandungan dan juga kehamilan kembarnya, membuatnya agak kesulitan menaiki anak tangga. Malah semua kamar, letakkan di lantai atas lagi, kecuali kamar para pekerja. 


Bik Mirna menatap datar Nonanya. Hatinya merasa sedih melihat Nonanya kesulitan, tapi itu adalah suatu hal mutlak bagi seorang ibu dan itu dianggap sebagai proses dan kebahagian. 


"Bahagia selalu My Queen," gumam Bik Mirna, mengambil gelas di meja yang masih ada isinya dan kembali ke dapur.


Setibanya di depan pintu, Karina memutar handle pintu dan mendorongnya perlahan. Ia melangkah pelan memasuki kamar. Harum semerbak menyapa penciumannya. Karina meletakkan tasnya di atas meja.


Karina mengendus dan mengikuti sumber wangi tersebut. Perutnya semakin meronta minta diisi. Dan jujur, wangi ini sangat mengundang selera makannya. Karina mengeryit saat berada di depan pintu balkon, pintu itu memang dilapisi dengan tirai berwarna gelap, akan tetapi samar, Karina melihat ada sebuah cahaya di sana. 


"Ar," panggil Karina, menggeser pintu balkon ke samping dan melangkah memasuki balkon. 


Karina terdiam, melihat pemandangan di hadapannya. Sebuah meja, dengan dua kursi. Dengan makanan, minuman, lilin dan bunga mawar biru campur putih tersaji di atas meja. Dilengkapi lagi dengan senyum lebar Arion yang tampil menahan, cahaya bulan menjadi lampu alam yang meneranginya. 


"Lama sekali kamu pulang," ujar Arion, berdiri dan mengecup kening Karina.


Karina menyalami Arion dan menatap bingung Arion. Arion tersenyum menanggapi keheranan istrinya. Ia malah merangkul dan membawa Karina untuk duduk. Karina menurut, setelah duduk dan Arion duduk di kursi satu lagi, Karina melipat kedua tangan di atas meja.


"Dalam rangka apa?" tanya Karina penasaran juga selidik.


"Gak dalam rangka apa-apa, cuma mau buat makan malam spesial untuk kita berdua dengan diriku yang menjadi chefnya," jawab Arion, menggerakkan tangannya menyentuh tangan Karina. 


"Hm, wanginya enak, tapi rasanya apa seenak wanginya? Setahuku kamu gak pernah masak." Karina kembali mencium wangi makanan. 


"Coba saja, awas ketagihan," ucap Arion percaya diri. Karina membalikkan piringnya dan hendak mengambil nasi akan tetapi terhenti. Arion mengeryit dan menunjukkan wajah bertanyanya.


"Walaupun aku lapar, tapi jika nanti aku makan duluan, aku akan mengantuk lalu tidur," ujar Karina mengusap perut.


"Lantas? Bukankah wajar?" heran Arion.


"Iya, kalau aku sudah salat dan aku belum salat Ar, kamu sudah belum?" Karina berdiri diikuti Arion.


"Ah ya, kamu benar. Baiklah kita salat dulu," sahut Arion. Mendekati Karina lalu memehang jemari sang pemilik hati dan masuk ke dalam kamar.


"Sabar ya sayang," ujar Karina pada kedua anaknya yang masih berada di kandungan.

__ADS_1


Seusai menjalankan kewajiban secara berjama'ah, mereka kembali ke balkon. Dengan bantuan teknologi, nasi jadinya tetap hangat. Karina dengan mata berbinar mengambil satu persatu makanan yang Arion buat. 


Saat hendak menyantap, Karina menghentikan laju sendok yang sudah hendak masuk mulut dan melirik Arion.


"Sekretaris kamu pria apa wanita?" tanya Karina jadi serius, menurunkan sendoknya dan menatap Arion.


"Wanita, tapi aku sudah meminta HRD menggantinya dengan pria. Kau tahu, dia tadi membuatkanku kopi tanpa ku minta, aku curiga ada sesuatu di dalamnya," jawab Arion jujur. Kunci suatu hubungan salah satunya adalah saling terbuka, daripada Karina tahu sendiri dan akibatnya lebih fatal. 


"Makanlah, perutmu sudah berbunyi terus, pasti Blue Star tak sabar menyicipi masakan Papanya," imbuh Arion, mengambil alih sendok Karina dan menyuapi Karina. Sedangkan makanannya ia anggurin dulu. Karina menerimanya dengan semburat merah di wajah. 


"Setiap aku makan denganmu, aku seperti jadi orang sakit, kau selalu menyuapiku," ujar pelan Karina. Arion tersenyum, senyumnya tak luntur atau berganti.


"Kamu adalah istriku, perlakuan kecil seperti ini bukan masalah, aku memanjakanmu setiap kita bersama Sayang. Kamu adalah tulang rusuk dan ibu dari anak-anakku. Sudah sepantasnya aku melayanimu," tutur Arion.


"No! Jangan katakan kamu pantas melayaniku, kamu adalah suamiku, seharusnya akulah yang melayanimu, My Hubby," ucap tegas Karina. 


"Kalau begitu, mari saling melayani, ayolah untuk apa ini dipersoalkan? Lebih baik kamu nilai rasanya? Lezatkan? Gak kalah sama masakan kamu, Mama dan restoran bintang 5?" tukas Arion, menjadi merak di akhir kalimat. Karina terkekeh setelah menelan makanannya.


"Enak, semuanya pas. Kamu jangan-jangan pensiunan chef bintang 5 ya?" jawab Karina, melakar pada Arion. Arion tersenyum puas. Hatinya terbang tinggi, ternyata ada gunanya juga ia masak sendiri waktu muda, maksudnya saat masa-masa SMA. Dan ia memang tinggal sendiri apartement sejak kelas XI SMA.


"Kamu makan juga," ucap Karina, menyodorkan sendok lengkap dengan makanan, Arion membuka mulutnya dan menerima suapan Karina.


Kurang lebih 15 menit kemudian, semua makanan di atas meja berpindah tempat dari piring ke lambung Arion dan Karina. Karina bersendawa kecil sangking kenyangnya. Perutnya terasa membesar. Piring kotor di atas meja sudah dibereskan oleh Bik Mirna.


"Heihei, mereka menyapa lagi!" pekik Karina girang merasakan gerakan dari perutnya. Arion segera mendekat dan berlutut di samping Karina. Kepalanya dia tempelkan di perut Karina dengan indera dipertajam.


"Wah, kau benar, Sayang!"seru Arion berbinar, menatap Karina bahagia. Karina tersenyum lebar dan mengusap rambut Arion.


"Yang, apakah berat membawa mereka kemana-mana? Kamu bekerja dari rumah saja ya, biar tidak terlalu lelah agar tidak terjadi hal-hal buruk," ujar Arion, menatap Karina dengan kedua tangan di pundak Karina.


Karina menghela nafas dan kembali duduk.


"Untuk masalah aku bekerja, ya akan lelah juga sih, tapi mungkin di bulan ke enam atau ke tujuh aku bekerja dari rumah. Mengenai ini berat atau tidak, kamu bisa rasakan sendiri. Kan ada itu bola basket atau voli, itu kamu satuin ke perut sickpack kamu dan jangan pernah dilepas, mau kamu ngapainpun jangan dilepas! Tahan seminggu, aku kasih kamu 4 jempol," ujar Karina, memberi tantangan pada Arion.


Arion membayangkan jika ia menjalankan tantangan ucapan Karina. Berarti perutnya akan membesar dan ia akan dipandang aneh oleh publik nantinya. Bisa-bisa ia jadi trending topi. Dalam semalam, perut sickpack presdir Jaya Company berubah menjadi buncit, apa rahasianya? 


Kan tidak lucu, malu iya. 


"Hehehe, tidak deh, aku hanya bertanya," ucap Arion cengengesan.


"Heh? Kau malu kan?" cibir Karina.


"Aku tak mau menggantikan posisi seorang ibu," kilah Arion tegas.


"Ya, terserahmu," ucap malas Karina. Karina lalu memalingkan tatapannya ke arah langit. Arion meraih setangkai bunga mawar putih dan menyelipkannya di telinga Karina. Karina memejamkan matanya.


"Cantik, dewi bulan," puji Arion.


"Hm, anak langit malam muncul semua. Walaupun mereka bersinar di siang hari, namun sinarnya kalah dengan anak langit siang. Ternyata memang semua sudah diatur, kapan tenggelam dan bersinar," ujar Karina. Arion menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Ya, begitulah ketetapannya. Hiduppun seperti itu, ada saatnya kita bersinar dan tenggelam, tapi percayalah, semua selalu ada hikmahnya. Kita memang tidak bisa merubah takdir, tapi kita bisa melukis takdir kita sendiri, berhasil atau tidaknya, adalah hasil dari goresan takdir kita," ujar Arion, menurunkan satu tangannya dan menaikkan sebotol wine.


"Mau minum?" tawar Arion, menuangkan wine ke gelas kecil. Karina membuka matanya dan menatap senang wine yang sudah berada di gelas.


"Tentu! Lama sekali aku tidak minum. Aku rindu kehangatannya. Saat aku kedinginan, dialah yang menghangatkanku," jawab Karina, segera mengambil gelas tersebut dan menyesapnya dan meminumnya perlahan.


Arion mengangguk dan menenggak wine langsung dari botol.


"Hei, kau curang! Aku hanya minum sedikit, kau satu botol! Tidak adil, aku mau sebotol juga!" seru Karina tidak terima dan menggebrak meja.


"Wanita hamil, tidak baik mengonsumsi alkohol berlebihan. Dan itu tadi adalah porsi yang cukup," jawab Arion lembut.


"Ckck, jangan minum di hadapanku! Darahku menginginkannya lebih. Itukan kadar rendah, tak akan masalah!" Karina membujuk Arion.


"No! Cuma satu botol dan ini sudah habis," tolak Arion tegas, menyembunyikan botol kosong dan menatap Karina.


Karina berdecak lidah dan bersedikap dada. Tak lama, matanya membulat.


"Kau mengambil minumanku di belakang televisi?" tanya selidik Karina. Karina mendelik kesal saat Arion menjawab ya. Dengan kesal, Karina berdiri dan memeriksa bar mini yang sudah lama tak ia jenguk.


"Minuman sebanyak itu, untuk apa jika tidak untuk dikonsumsi?" pikir Arion heran dan melangkah masuk setelah mematikan lilin. Melangkah masuk dan menutup serta mengunci pintu balkon.


"Kau minum diam-diam di belakangku? Dan ini sudah hilang banyak! Ar …," kesal Karina setelah memeriksa bar mininya.


Arion hanya nyengir dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Melangkah pelan dan memeluk Karina dari belakang.


"Maafkan aku menghabiskan minumanmu. Jangan marah, besok akan aku ganti," bujuk Arion merasa Karina akan ngambek.


"Janji ya? Yang benar kamu?" Masih dengan nada ketusnya.


"Aku janji!" tegas Arion. Karina menarik senyum tipis.


Mereka lalu duduk di sofa dan menikmati siaran televisi. Karina yang ingin menonton film dramapun menyambukkan laptop dan televisinya.


Sebuah film drama romantis, komedi pun menjadi pilihan.


"Alat sinyal itu, seperti chip pada tubuh anggotaku, asal masih dalam jangkauan satelit, masih bisa dilacak," ujar Karina.


"Ya, jangan-jangan teknologinya dari sana," lakar Arion memeluk Karina.


"Eh? Penghenti waktu? Keren tuh, tapi yang cowoknya kok gak beku ya? Kasihan juga punya gangguan hilang ingatan walaupun tidak kecelakaan," komentar Arion.


"Hei Ar, jika seandainya para mantanmu  seperti itu apa yang akan kau lakukan?" tanya penasaran Arion.


"Mungkin melakukan hal yang sama namun itu tidak akan mungkin, sebab mantanku sudah bahagia dengan pria pilihannya dan aku telah menjadi milikmu," jawab Arion.


"Kalau kamu?" tanya Arion.


"Sama, gak mungkin sebab aku gak punya mantan yang ada hanyalah seorang suami!" jawab Karina. Arion tertawa puas dan mengecup rambut Karina.

__ADS_1


Setelah berakhir satu episode, Karina dan Arion memutuskan tidur. Melakukan hal-hal yang dianjurkan sebelum tidur lalu bersama memasuki alam mimpi


__ADS_2