Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 358


__ADS_3

Arion membuka lebar jendela kamar. Menikmati desiran angin pantai, menatap pepohonan serta pantai yang membentang luas. Arion merentangkan kedua tangannya, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, menikmati suara deburan suara ombak yang sedang kejar-kejaran. Melihat burung-burung yang terbang berkelompok untuk kembali ke sarang. Tersenyum lembut manakala guratan jingga mewarnai langit barat pertanda matahari akan segera tenggelam. 


"Sayang, senja kali ini terasa begitu indah. Pantai memanglah tempat yang cocok untuk menikmati keindahan dan kehangatan senja. Bagaimana jika kita menghabiskan masa tua di sini?"


Arion berbalik, menatap Karina yang masih sibuk mengganti pakaian ketiga anaknya. Karina menoleh sekilas searah Arion.


"Kau ingin menghabiskan hari tua di sini denganku atau menikmati keindahan senja?"tanya Karina datar.


"Keduanya. Tapi yang paling utama adalah aku ingin menghabiskan hari tua denganmu di sini sembari menikmati kehangatan senja. Senja hanya pelengkap, kaulah yang paling utama. Senja memang indah tapi kau yang terindah di hatiku," jawab Arion, melangkah menghampiri Karina.


Arion duduk di tepi ranjang sembari memperhatikan Karina yang tengah memakaikan pakaian pada Bima. 


"Sebenarnya di manapun kita berpijak kelak asalkan aku bersama denganmu, tempat itu akan terasa sangat indah dan hangat. Hanya saja … setiap manusia pasti punya impian masing-masing. Begitu juga denganku. Setelah anak-anak kita kelak sudah mampu menggantikan kita, aku ingin tinggal di tempat yang jauh dari keramaian. Sebuah tempat yang masih alami, jauh dari segala urusan yang aku biasa lakukan saat masih memimpin. Kau dapat menganggap ini sebagai sebuah pengasingan … tapi inikah yang aku inginkan. Jauh dari segala intrik-intrik yang biasa aku lihat dan alami," tutur Arion, merangkul pinggang Bintang kala anak itu berdiri dengan berpegangan pada tubuhnya. 


"Jika memang begitu, apakah aku bisa menolak?"


Karina menatap lembut Arion. Senyum Arion merekah.


"Aku membangun istana ini karena alasan yang telah kau sebutkan itu," tambah Karina.


"Thank you, Sayang," ujar Arion.


"Anak-anak sudah segar dan wangi. Saatnya aku yang mandi. Ar … kau asuh mereka sebentar ya," ucap Karina sembari melepas ikat rambutnya.


"Sudah tugasku. Ah apa kau mau keramas?"tanya Arion.


Karina mengangguk.


"Sebaiknya jangan sekarang sebab nanti malam kau akan keramas lagi. Aku takut kau nanti sakit," saran Arion, tersenyum menggoda Karina.


Karina terkesiap sesaat.


"Ah … dasar mesum!"pekik Karina, secepat kilat lari menuju kamar mandi. 


Arion tertawa melihat ekspresi malu Karina. Arion mengalihkan tatapannya pada tiga anaknya ketika mereka mengikuti Arion tertawa. Tawa mereka sungguh menggemaskan.


Menyemangati Bima kala anak itu mulai merangkak mendekati dirinya. Biru sendiri masih menatap Arion dengan tatapan yang sulit Arion artinya. 


"Biru, ada apa? Hm?"


Arion yang sudah duduk bersila di tengah ranjang dan kini tengah dikerumuni oleh Bintang dan Biru menatap Biru dengan kedua tangan menjulur ke depan, meminta Biru agar datang padanya.


"Pa-pa," ucap Bintang yang sudah pandai memanggil Arion walaupun masih terdapat jeda. 


"Iya, Starnya Papa. Ada apa?"


"Pa-pa," ucap Bintang lagi. 


"Terus panggil Papa, Bintang," ujar Arion, memberikan ciuman di pipi putri kecilnya itu.


Bintang tertawa lepas dengan terus memanggil Arion papa. Biru menatap Bintang, dahi kecilnya mengeryit tipis.


"Pa-pa?"


Arion menatap Biru kala putra pertamanya itu memanggilnya untuk pertama kalinya. Hati Arion semakin menghangat. 


"Yes!"girang Arion. 


Biru merangkak dan kini duduk di pangkuan Arion.

__ADS_1


Biru berdiri dengan berpegangan pada dada Arion. Tangan kecilnya menjulur ke atas, menjangkau dahi Arion. Arion sedikit bingung dengan tingkah Biru ditambah dengan tingkah Bintang dan Bima yang kini kompak memegang kedua telinganya. 


Ketiga anak itu kini saling lirik. Seakan mereka sudah pandai menghitung, saat hitungan ketiga, Arion terdiam kala Biru menepuk dahinya, Bintang dan Bima serentak menarik daun telinganya.


Sama sekali tidak sakit. Arion yang terdiam mencari alasan mengapa ketiga anaknya ini menganiaya dirinya. Apa salahnya? Akankah?


Apakah mereka sudah mengerti aku menggoda Karina tadi? Tapi iya kali. Tapi darimana mereka belajar? Ataukah jiwa untuk melindungi Karina sudah tertanam dalam hati mereka? Dan Bima ini juga tak kalah pintar dengan Bintang dan Biru. Aku semakin penasaran dengan latar belakangnya. Aku masih tidak yakin bahwa anak ini didapat dari jalanan dan hanya karena kasihan langsung mengangkatnya jadi anak. Haruskah ku tanya pada Karina?pikir Arion dalam hati.


Arion langsung pura-pura pingsan, menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang setelah melihat senyum Biru.


Akankah anak-anakku punya jiwa psychopath sama seperti mamanya?


Arion mendadak merinding sendiri membayangkan hal itu.


Karina yang baru selesai mandi, sembari mengenakan handuk kimono mengeryit heran mendengar suara berisik dari luar.


Apa yang mereka lakukan?batin Karina, segera keluar dari kamar mandi. 


Karina menghentikan langkah tak jauh dari ranjang dengan wajah heran. Melihat Arion yang terbaring dengan ketiga anaknya yang menduduki tubuh Arion. Ketiga anaknya itu terlihat sangat bersemangat memukul-mukulkan tangan kecil mereka ke tubuh Arion. 


"Apa yang kalian lakukan?"tanya Karina yang sontak membuat tiga balita itu menoleh. 


Arion membuka matanya, melirik Karina tersenyum.


Tiga balita itu langsung menjelaskan dengan gaya masing-masing yang bisa Karina simpulkan bahwa ketiga anaknya itu tidak suka jika Arion menyakiti dirinya. 


Karina tertawa lepas.


"My baby triplet, Papa tidak menyakiti Mama. Menggoda antara suami dan istri itu wajar. Kelak Karina akan mengalaminya sendiri saat sudah mengenal yang namanya cinta," jelas Karina, menurunkan satu persatu anaknya dari tubuh Arion.


Arion duduk sembari membenarkan posisi bajunya.


Bintang, Biru, dan Bima langsung memeluk Karina setelah menatap Arion dengan tatapan peringatan. Arion menelan ludah kasar, menatap Karina dengan mata memelas. Karina menjawab dengan senyuman penuh kemenangan.


"Mama."


"Mama."


"Mama."


Balita triplet itu memanggil Karina saling bersahutan. 


"Yes, my baby triplet. Mommy here," sahut Karina.


"Bagaimana dengan Papa? Kalian hanya menyayangi Mama? Papa cemburu loh."


"Pa-pa."


Bintang mengulurkan satu tangannya menunjuk Arion.


"Pppa-pa."


Biru menyusul. 


"P-a-p-a Bima," ujar Karina menuntun Bima yang terlihat masih asing.


"P-a-p-a?"


Arion mendekat, merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Karina dan baby tripletnya.

__ADS_1


Saat keluarga kecil itu terhanyut dalam hangatnya pelukan keluarga, pintu kamar mereka diketuk. Untunglah kamar ini dilengkapi dengan remote control dan bisa diaktifkan hanya dengan perintah suara.


Ternyata Amri, Maria, dan Enji. Ketiga orang itu masuk, menyampaikan maksud untuk mengasuh cucu dan keponakan mereka. Karina dan Arion setuju. Cucu, kakek, nenek, dan paman juga butuh quality time.


Setelah ketiga balita itu keluar bersama dengan kakek, nenek, dan paman mereka, Arion kini menatap Karina serius.


"Sayang ada yang ingin aku tanyakan," ucap Arion.


Karina menaikkan alisnya.


"Tanyakan saja," sahut Karina.


"Ini mengenai Bima. Sayang apa benar latar belakang Bima hanyalah anak yang kamu temukan di jalan dan diangkat hanya karena simpatik?"


Karina diam sebentar kemudian menghembuskan nafas pelan.


"Awalnya aku tidak masalah dari mana dan bagaimana latar belakang Bima. Akan tetapi aku merasa bahwa Bima punya latar belakang yang cukup penting, terlebih setelah melihat kecerdasannya. Tidak mungkin ada orang tua yang rela membuang anak seimut dan secerdas Bima," tambah Arion.


Karina kembali menghela nafas.


"Bima akan semakin dewasa dari hari ke hari. Sedikit atau banyaknya pasti akan ada kemiripan dengan orang tua kandungnya. Aku hanya takut, takut kelak jika Bima sudah dewasa dan seandainya keluarga kandungnya masih hidup menuntut kita untuk mengembalikan Bima," tutur Arion, sangat bersungguh-sungguh.


"Kau benar," jawab Karina.


Terlihat ada keraguan di matanya.


"Akan tetapi jika aku mengatakan yang sebenarnya, kau harus berjanji tidak boleh malu atau jijik dengan Bima. Apapun latar belakangnya, kau tidak akan kehilangan kasih sayangmu terhadapnya. Dan di masa depan jangan pernah mengungkit mengenai masa lalunya. Bima Areksa Tirta Wijaya adalah anak ketiga kita. Itu adalah identitasnya sekarang!"lanjut Karina dengan nada yang sangat serius.


Arion diam mencerna ucapan Karina. Berarti benar dugaannya. 


"Aku berjanji. Apapun latar belakang Bima, dia adalah anak ketiga kita!"jawab Arion tak kalah serius.


Karina kembali menghela nafas.


"Bima adalah anak dari wanita simpanan seorang pengusaha. Ia lahir karena pernikahan siri. Ibunya tiada setelah menitipkan Bima padaku. Itu adalah ulah dari istri sah pengusaha itu!"jelas Karina.


"Siapa dia?"tanya Arion.


"Wiratama," jawab Karina.


"Jadi Bima adalah anak kandung dari Wiratama? Pengusaha di bidang tekstil itu kan? Setahuku jika anak dari pernikahan siri tidak punya kekuataan di keluarga suami. Jika masalahnya mengenai warisan, Bima tidak punya kekuatan untuk menuntut," ucap Arion.


"Ar-Ar. Bagi wanita mau itu siri, sah, ataupun tidak menikah, tetap saja istri pertama akan merasa terancam. Tadinya memang siri tapi apakah akan tetap siri selamanya? Jalan terbaik untuk mengamankan posisi mereka jika menyuap tidak mempan maka menghilangkan nyawa adalah pilihan."


"Jika aku adalah wanita itu, aku juga akan melakukan hal yang sama ditambah aku juga akan membunuhmu!"ancam Karina dengan sorot mata tajam.


"Untuk apa aku selingkuh?"balas Arion serius.


"Hm."


"Jika memang begitu, Bima mempunyai darah Wiratama. Yang aku cemaskan hanya satu … jika keluarga Wiratama tahu mengenai hal ini, apakah mereka akan meminta kembali Bima? Sekarang memang tidak, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan," cemas Arion.


"Apapun itu, aku tidak akan menyerahkan Bima pada mereka baik sekarang ataupun di masa depan!"tegas Karina.


"Akupun begitu," sahut Arion.


"Tapi Ar, aku juga tidak bisa menutupi jati diri Bima yang sebenarnya. Cepat atau lambat ia akan melihat perbedaan antara ia dengan Bintang dan Biru. Semakin dewasa ... ia juga akan melihat kemiripannya dengan Wiratama," ucap Karina ragu.


"Jika memang begitu ... menceritakan yang sebenarnya adalah pilihan," jawab Arion.

__ADS_1


Karina menimbang kemudian mengangguk.


__ADS_2