Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 213


__ADS_3

Gerry merenggangkan tubuhnya saat semua urusannya di pelabuhan tuntas. Ia berjalan menuju mobil diikuti empat orang bawahannya. Wajah lelah tergambar jelas padanya.


Saat hendak masuk ke dalam mobil, pandangannya terkunci pada seorang wanita yang mengejar selendangnya. Memang angin di sini cukup kencang. Gerry mengamati wajah wanita itu. 


Darwis menutup pintu mobil. Entah itu kebetulan atau memang sudah takdir, selendang tersebut hinggap di wajahnya, menutupi pandangannya. Gerry dapat mencium jelas wangi mint, wangi kesukaannya.


"Maaf, Tuan. Anginnya cukup kencang dan aku tidak mengenakannya dengan benar."


Suara wanita itu terdengar menyesal. Gerry meraih selendang yang menutupi wajahnya. Kini di hadapannya seorang wanita berdiri tegak seraya menyodorkan tangannya meminta kembali selendangnya.


Gerry terpaku beberapa saat. Jantungnya berdebar lebih kencang. 


"Tuan, are you okey?" tanya wanita itu, menunjukkan wajah khawatirnya. 


"Siapa namamu?" tanya Gerry serius. Dahi wanita itu mengeryit.


"Namaku? Aku rasa itu tidak ada hubungannya dengan selendang tersebut. Mohon segera kembalikan Tuan. Saya akan segera pulang," ujar tegas wanita itu, ia berulang kali melihat jam tangannya.


"Beritahu aku namamu maka akan ku kembalikan selendang ini. Sekarang ia adalah milikku sebab dia memilihku sebagai tempat pemberhentian," ucap Gerry, melilitkan selendang itu pada lengan kanannya.


Wajah wanita itu kesal, ia mencoba merebut selendangnya, namun Gerry mengangkat tinggi tangannya.


Gerry merasakan senang melihat wajah wanita itu lebih dekat. Tanpa sengaja, pijakan wanita tersebut tidak seimbang dan jatuh pada pelukannya.


"Hei Nona, aku hanya ini tahu siapa namamu, kau malah menghambur dalam pelukanku," bisik Gerry, membuat wanita itu memerah marah atau malu.


Wanita itu segera melepaskan diri dari Gerry, wajahnya mengeras. Ingin menghajar Gerry dengan kemampuan yang ia kuasai.


Gerry malah mengerut heran. Ia menangkis setiap pukulan dan tendangan wanita tersebut. Hingga akhirnya, wanita itu diam sejenak lalu terduduk lesu. Tak lama ia menangis. Gerry kebingungan sendiri, gara-gara selendang ia menjadi pusat perhatian. Tapi untunglah bawahannya bisa mengalihkan perhatian para penonton.


"Hei-hei, jangan menangis! Aku hanya ini tahu siapa namamu. Dan demi selendang tipis dan kasar ini kau rela bertarung?"


Gerry mengulurkan tangannya hendak membantu wanita tersebut. Wanita itu menepisnya.


"Walaupun itu tipis, kasar dan murahan, tapi itu berharga bagiku! Itu adalah pemberian suamiku!"


Wanita itu mengangkat pandangannya dan menatap tajam Gerry. Gerry terperajat kaget. Ia mengerjap cepat dan mencerna.


"Kau sudah menikah?" tanya Gerry pelan. Wanita itu mengangguk. 


Deg.


Deg.


Ada yang terasa sakit namun tidak berdarah. Ia merasa ada yang tak mengenakkan di hatinya.


"Hm, kalau begitu aku kembalikan padamu. Maaf dan jangan menangis. Jika suamimu tahu aku tidak akan aman," ucap Gerry, memberikan kembali selendang berwarna putih tersebut pada wanita itu.


Wanita itu segera menyambarnya dan memeluknya. Gerry menunjukkan wajah datarnya dan segera masuk ke dalam mobil. Mobilnya segera melaju diikuti satu mobil lagi keluar area pelabuhan.


"Hampir saja aku kehilangannya," gumam wanita tersebut menyeka keringatnya dan berdiri.

__ADS_1


"Tapi, aku seakan pernah melihat pria itu?" pikir wanita itu lagi, kemudian mengangkat bahunya acuh dan segera melangkah menuju mobilnya. Meninggalkan senja yang sudah terlihat. Meninggalkan kenangan yang mengharukan sekaligus menyedihkan. 


Sepanjang perjalanan pulang, Gerry melamun. Pikirannya tertuju hanya pada satu orang, yaitu wanita tadi. Bahkan setelah mengetahui wanita itu sudah menikah, debaran jantungnya masih kencang. 


"Sayang dia sudah ada yang punya. Dan apakah itu tadi yang namanya suka atau cinta?" gumam Gerry. 


*


*


*


Waktu terus berlalu. Bumi terus berputar. Menyisahkan kenangan dan pelajaran. Tak terasa hari pernikahan Siska dan Ferry pun tiba. Hari Senin sekitar pukul 10.00, satu persatu mobil mewah datang dan berhenti di parkiran kantor urusan agama. Yap, sah di sini baru resepsi di gedung yang telah dipersiapkan.


Ferry berserta keluargalah yang tiba paling awal. Dengan jas dan celana berwarna hitam, kemeja putih serta dasi kupu-kupu membuat Ferry tampil menawan. 


"Cei, yang mau nikah gugup nih," ledek Wulan pada kakaknya. Memang benar, tangan Ferry dingin, bahkan mereka masih berada di depan pintu, belum masuk. 


"Yang jelas, Sayang, Kakakmu ini gugup. Dia bukan hanya hendak menjadikan Siska istrinya tetapi juga tanggung jawabnya," jelas Nia. Ferry tersenyum tipis mendengar ucapan sang mama. 


Beberapa menit kemudian, tiga mobil memasuki halaman parkir. Arion, Karina, Amri dan Maria berjalan mendekati mereka. Disusul oleh Siska yang diampit Aleza dan Sasha. Siska tampak anggun dan feminin dari biasanya. Dengan kebaya ia berjalan dengan perlahan bak seorang putri keraton.


Wajah Ferry tersenyum sekaligus memerah. Keluarganya menyambut Siska. Siska sama dengan Ferry, malu-malu.


"Sudah ayo," ajak Amri. Segera disetujui. Di ruangan yang cukup lebar bercat putih, dengan full ac.


Tanpa membuang banyak waktu, Siska dan Ferry segera mengambil tempat di tempat yang telah disediakan untuk mereka. Sebuah meja dengan lima kursi. Di sisi kanan, Andi sebagai orang tua Ferry, di sisi kiri, seorang wali hakim sebagai wali nikah Siska. Dan di depan mereka, seorang penghulu yang siap menikahkan mereka berdua.


"Bagaimana? Sudah siap?" tanya penghulu. Ferry mengangguk dan Siska meremas tangannya gugup. Kain putih di letakkan di atas kepala mereka.


"Bismillahirahmanirrahim … saya nikahkan dan kawinkan engkau, Ferry Nurwahyu bin Andi Nurwahyu dengan Siska Indriani binti Indra dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap lantang penghulu. Ferry menarik nafas sejenak.


"Saya terima nikah dan kawinnya Siska Indriani binti Indra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" jawab Ferry lantang, dan tegas. Seperti biasa, ucapan syukur alhamdulillah terucap, diikuti dengan berdoa, menandatangi buku pernikahan, lalu mencium tangan suami dan kening istri dan terakhir memakaikan cincin di jari manis masing-masing. 


Tepuk tangan menyusul. Siska dan Ferry saling tatap dan tersenyum lebar. Kegugupan berhasil mereka lewati. 


"Akhirnya kita sah juga, setelah beberapa cobaan," ucap Ferry, menggenggam erat jemari tangan Siska.


"Setialah padaku. Hatiku telah ku berikan seutuhnya padamu. Jangan buat dia terluka atau tersakiti. Jika iya, kau tak akan mampu menerima dan menjalani akibatnya," tutur Siska. 


"Tak akan pernah ku sakiti hatimu. Kau hanya akan menangis untuk suka, bukan duka," janji Ferry.


Siska tersenyum. Arion dan Karina saling pandang. 


Karina mengangkat alisnya dan menatap curiga Arion yang tersenyum padanya.


"Apa?" ketus Karina, mode galak aktif. Arion tetap tersenyum dan memeluk Karina.


"Mereka yang menikah, kita yang akan malam pengantin," bisik Arion, Karina merinding geli dan ngeri. Wajahnya memanas dan segera mendorong Arion menjauh.


"Dasar mesum kau!" gerutu Karina pelan.

__ADS_1


"Aku mesum padamu seorang, tidak salah bukan?" Arion berdiri. Karina waspada. Orang-orang tak memperhatikan mereka. 


Dan kesempatan, Arion menggendong Karina dan segera membawanya keluar. Karina memekik dan membuat orang-orang menoleh ke arah mereka.


"Kau ini," ketus Karina, mencubit pinggang Arion.


"Sakit, nanti saja cubitnya," pinta Arion.


Semua yang berada di ruang ijab qabul terdiam dan saling melempar pandang, tak terkecuali sang bintang hari ini yaitu Ferry dan Siska.


"Ehem, kalau begitu ayo kita ke gedung resepsi. Kalian juga harus bersiap bukan?" Andi memecah suasana hening, koor setuju langsung menyambut. 


"Sa, kita ke mana? Kantor apa ikut ke gedung resepsi?" tanya Aleza yang lupa.


"Hari ini kita disuruh menemani Siska, urusan kantor Lila dan Raina yang memegang," jawab Sasha. Aleza ber-oh-ria dan segera masuk mobil. 


"Tunggu, Sis kamu kok masuk ke sini? Harusnya kan sama suamimu?" tanya heran Aleza yang melihat Siska membuka pintu mobil bagian penumpang dan masuk lalu menghela nafas.


"Aih, di sana tak muat. Jadi aku dan Ferry naik di sini," jelas Siska. Tak lama Ferry memasuki mobil.


"Oh, ya sudah. Jangan bermesraan di belakang kami okey!" ucap tegas Sasha memberi peringatan. Maklum, jika pengantin baru itu bermesraan, jiwa jomblo mereka berdua akan menguap dan akhirnya bisa mengesal.


"Ya baiklah," jawab Siska. Memejamkan matanya. Aleza segera menjalankan mobil. Diikuti mobil keluarga Ferry dan keluarga Wijaya. Sedangkan untuk Arion dan Karina sudah pergi duluan.


"Jangan tidur, masih jam segini," ucap Ferry. Siska menggumam. 


Keluarga Wijaya tak langsung menuju gedung resepsi, toh mereka juga hanya menghadiri pernikahan Ferry yang sudah dianggap anak sendiri. Mereka akan datang lagi pada jam resepsinya saja. Biarlah keluarga inti Ferry yang mengatur dan menangani.


*


*


*


"Jangan lupa jemput aku," ucap Karina sebelum turun dari mobil. 


"Tentu," jawab Arion. Karina mengangguk. Arion segera menjalankan mobil keluar dari depan lobby perusahaan sang istri menuju perusahaannya sendiri. 


Karina menatap kepergian Arion hingga mobilnya hilang di balik gerbang. Karina segera menuju lift khusus untuknya, naik ke lantai ruang kerjanya. Lila dan Raina menunduk hormat saat Karina melewati mereka dan langsung masuk tanpa sepatah katapun.


"Lil," panggil Raina pelan. Lila menoleh dan mengangkat dahunya bertanya.


"Nona kenapa? Wajahnya tak bersahabat," lanjut Raina.


"Entahlah Ra, aku tidak tahu," jawab Lila. Duduk dan melanjutkan pekerjaannya.


"Aih, semoga saja hanya pikiranku," ucap Raina, menghela nafas dan kembali bekerja.


Sedangkan di dalam ruangannya, Karina menunjukkan wajah gelapnya. Ia dengan serius mengetikan jemarinya pada keyboard laptop.


"Sialan! Siapa yang berani mencuri rancangan senjata yang aku dan Elina kerjakan? Bahkan mereka sudah menyatakan bahwa itu adalah hak cipta dan hak paten mereka!" desis Karina. Saat di lift tadi, ia menerima kabar bahwa perusahaan lawan di bidang senjata, telah me-lauching sebuah senjata yang seharusnya adalah milik perusahaannya. Seharusnya jadwal launching mereka adalah hari ini.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Karina menutup laptopnya dan beranjak keluar ruangan. Lila dan Raina kembali bingung dengan langkah tergesa Nonanya. Hendak bertanya, Karina sudah memasuki lift dan turun ke lantai bawah. Di basement, Pak Anton dan si putih sudah menunggu. 


"Markas!" ucap dingin Karina. Pak Anton mengangguk dan segera melajukan mobil menuju markas Pedang Biru.


__ADS_2