
Arion menepikan mobilnya. Setelah menepi, ia keluar mobil dan mencari sebuah toko atau minimarket.
Karina masih diam dalam lamunannya. Bayu mulai bernafas lega dan menyeka keringat yang lolos keluar dari dahiya.
Tak berselang lama, ArionArion kembali dengan dua botol air mineral berukuran sedang.
"Sayang minum dulu, agar kamu lebih tenang," ujar Arion menyodorkan satu botol air mineral yang telah ia buka. Karina menoleh ke arah Arion dan menerima botol itu.
"Thanks My Hubby," ucap Karina, segera menenggak air dalam botol itu. Arion tersenyum.
"Sama-sama Sayang. Bayu, kamu minum juga. Kakak tahu kamu kaget dengan cara kakak mengemudi tadi."
Arion melihat Bayu dan menyodorkan botol air mineral satu lagi. Bayu mengangguk dan menerimanya.
"Sayang, sebenarnya siapa tadi itu? Mengapa kamu menggumamkan nama Enji? Jangan bilang kamu melihat yang di mobil itu adalah Enji."
Arion bertanya seraya memegang tangan Karina. Karina menarik nafas panjang.
"Yang kau katakan benar. Aku melihat sosok Enji di sana. Makanya aku memintamu mengejar mobil itu untuk memastikannya. Sayangnya kita kehilangan jejak. Malah plat nomornya ditutupi lagi," jawab Karina.
Arion diam. Bingung. Bagaimana orang yang sudah tiada, Karina bisa melihatnya berada di dalam mobil? Ah, Arion ingat. Karina punya kemampuan melihat dan berbicara dengan makhluk tak kasat mata.
Arion menghela nafas pelan.
"Sepertinya kau kelelahan Sayang, sampai-sampai kau berhalusinasi," ujar Arion, Karina menoleh dan mengerjap.
"Halusinasi?" gumam Karina. Akan tetapi, Karina amat yakin dengan apa yang ia lihat. Karina mendesah.
"Hmm … mungkin saja. Aku memang merasa lelah," sahut Karina.
Karina lantas memejamkan matanya. Arion mengusap kepala Karina.
"Jangan banyak pikiran. Kasihan anak kita." Karina mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Kakak, sebenarnya siapa paman Enji ini?" Bayu menanyakan pertanyaan yang mengusik darinya. Andaikan saja tadi tak mengejar pasti ia sudah tahu jawabannya.
"Dia bukan pamanmu," jawab Karina.
Arion mengernyit. Oke. Memang Enji bukan paman kandung Bayu, tetapi jawaban itu agak kasar.
"Lantas?" tanya Bayu tak sabar.
"Dia … ada saatnya Bayu. Kakak belum bisa memberitahumu," jawab Karina yang membuat Bayu mendesah pelan.
"Baiklah," ucap Bayu kecewa. Arion tersenyum simpul. Dengan segera kembali melajukan mobilnya menuju hotel.
Sesampainya di hotel, waktu menunjukkan saatnya makan siang. Karina, Arion dan Bayu segera melangkahkan kaki menuju restoran hotel. Ternyata di sana sudah ada kedua pasangan pengantin baru beserta keluarga, Maria dan Amri tentunya.
Bayu melangkahkan kakinya menuju meja Maria dan Amri. Bermanja pada dua orang tua itu.
"Bagaimana? Sukses kah tadi malam?" tanya Arion menggoda Calvin dan Sam. Wajah Calvin dan Sam berbinar. Lila dan Raina menyingkir dan bergabung dengan nona mereka. Biarlah para suami mereka menggosip dulu.
"Tentu," jawab Calvin mantap.
Terima kasih untuk mamanya tersayang. Telah membantu kesuksesan malam bersejarahnya.
"Loe Sam?" tanya Arion.
__ADS_1
"Gue? Ya sama dong," sahut Sam meliril Lila.
Mereka akhirnya bertukar cerita, walaupun hal itu sensitif tapi bagi mereka itu hal biasa.
"Sesudah menikah jangan lupakan tugas kalian," ucap Karina, mulai menyantap makan siang pesanannya.
"Baik Nona. Kami akan menjalankan tugas sebaik mungkin. Sebagai istri dan juga sekretaris Anda," jawab Raina tegas.
"Saya juga Nona," timpal Lila.
"Honey, panggillah kakak ipar dengan sebutan kakak ipar, kau sudah menjadi istriku. Kakak iparku adalah kakak iparmu," ujar Sam yang mendengar istrinya masih memanggil Karina dengan sebutan Nona. Hal itu diangguki oleh Calvin.
"Benar Lil, Ra, kalian dapat memanggilku nona jika di lingkungan kerja. Sekarang kita berkumpul bukan membahas bisnis, tetapi sebagai keluarga. Jadi panggillah aku dengan panggilan yang sama dengan panggilan suami kalian."
Karina menyetujui ujaran Sam. Lila dan Raina bertatapan ragu. Akhirnya mereka mengangguk. Menyetujui dan menuruti perintah suami dan nona mereka.
"Baiklah, Kakak ipar," ucap Lila dengan senyum manisnya.
"Satu hal lagi, untuk kalian berdua, jangan sampai menyakiti kedua orangku ini. Jika tidak kalian pasti sudah tahu akibatnya bukan? Aku tak menuntut kalian membahagiakan mereka dengan harta, sebab harta mereka berdua sudah lebih dari cukup sampai mereka tua nanti. Aku mau kalian bahagiakan kedua orangku ini dengan cinta dan kasih sayang yang melimpah, mungkin saja jika mereka tak bertemu denganmu kala pernikahanku dengan Arion, mereka masih jomblo," terang Karina panjang lebar.
"Kakak ipar, Anda berlebihan. Kekayaan kami tak sebanding denganmu." Lila menyangkal ucapan Karina.
"Tenang kakak ipar. Kami sudah berjanji kepada Tuhan. Kami tak akan menyakiti pasangan kami. Kami akan membahagiakan mereka. Hanya maut yang dapat memisahkan kami," jawab Calvin mantap, mengangkat jari tengah dan telunjuknya bersamaan. Raina tersenyum tipis.
Karina mengangguk.
"Aku akan memberikan yang terbaik untuknya. Aku tahu Lila tak menjadikan harta sebagai syarat pertama, akan tetapi kesetiaan dan cinta serta kasih dan sayang. Aku akan sebisa mungkin mewujudkan cita-cita pernikahan, sakinah, mawaddah, warrohmah bersama Lila," ucap Sam mengucapkan janjinya pada Karina.
"Itu baru anakku. Mama padamu Samsyul," seru Rasti mengacungkan kedua jempol tangannya ke atas. Sam tersenyum tipis. Namun matanya melebar mendengar nama yang disebutkan Rasti.
"Ma, nama Sam itu Samuel bukan Samsyul," rengek Sam.
Hati Sam menghangat. Tak apalah mau dipanggil Sam, Syamsyul, yang penting orang terdekatnya yang memanggilnya dengan nama itu. Asalkan jangan dipanggil Sampah saja, jika tidak orang yang memanggilnya dengan nama itu, tinggal milih mau ke ruang ICU atau kuburan sekalian.
"Eh, Ra dimana pendampingmu kemari? Mama tak melihatnya sejak resepsi. Siapa sih namanya, A …," tanya Rasti. Rasti mencoba mengingat nama Aleza.
"Aleza maksud Mama?" tanya Raina.
"Hah iya. Aleza. Di mana dia?" Rasti mengangguk membenarkan.
"Aleza kembali ke negara B dan Sasha kembali ke negara A. Persiapan mereka pindah tugas ke kantor pusat, membantu dan bekerja sama dengan Lila dan Raina. Saya akan jarang ke perusahaan. Lagipula, Lila dan Raina sekarang sudah punya tanggung jawab lain. Saya tak mau nama saya jadi trending topik karena dilabrak mertua asisten dan sekretaris pribadi saya," jawab Karina, menyindir Rasti. Rasti yang merasa pernah mengucapkan hal itu tersipu malu. Sam menepuk dahinya pelan. Sedangkan yang lain, terkekeh geli.
"Jangan menyindirku, Karina," ucap Santi.
"Hm," gumam Karina singkat.
***
Tepat pukul 14.00, mereka semua meninggalkan Tirta Hotel. Lila, Riana, Sam dan Calvin menuju apartemen Lila dan Raina sebelum pulang ke kediaman suami masing-masing. Apartemen Lila dan Raina nantinya akan ditempati oleh Sasha dan Aleza.
Sedangkan orang tua Sam dan Calvin meluncur langsung pulang ke rumah masing-masing, bukan rumah tetangga, bisa jadi hadiah sendal terbang yang didapat.
Arion dan keluarga pulang ke rumah mereka tentunya. Sesampainya di rumah, Arion dan Karina langsung ke kamar, membereskan beberapa potong pakaian ke dalam koper. Arion dan Karina sepakat untuk tinggal di rumah Karina sementara waktu.
Alasannya simple, Karina butuh kedamaian dan menyegarkan matanya dengan warna hijau yang hidup. Bukannya di kediaman Wijaya tak hijau, akan tetapi lebih hijau lagi kediaman Karina.
Lagipula, di rumahnya sendiri, Karina bisa bermain dengan hewan-hewan periharaannya. Ia juga berniat membawa Miu ke rumah.
__ADS_1
Sebenarnya bisa saja, Karina membawa Miu ke kediaman Wijaya, akan tetapi takutnya nanti Maria dan Amri shock sebab Miu kan hewan yang termasuk buas.
"Ar, Karina, kalian serius mau tinggal di rumah kamu Sayang?" tanya Maria dengan nada sedih saat melihat Karina dan Arion menuruni tangga dengan Arion yang membawa koper.
Karina tak membawa bajunya, sebab pakaian di rumahnya sudah banyak. Untuk apa bawa lagi? Berat-beratin saja.pikir Karina.
"Iya Ma," jawab Arion.
"Mama gak papakan?" tanya Karina. Maria tersenyum simpul.
"Mama sih maunya kamu gak usah pulang ke sana. Tapi demi keinginan cucu Mama, ya mama mau gak mau ya harus setuju," jawab Maria.
"Papa sama Mama akan mengunjungi rumahmu nanti," ucap Amri.
"Bayu ikut Kakak," ucap Bayu. Karina menoleh ke arah Bayu.
"Bayu di sini saja. Temani mama sama papa. Entar kalau Bayu ikut sama kakak, mama sama papa kesepian dong jadinya? Kakak gak bakal lama-lama kok. Asal pikiran kakak sudah tenang dan segar kakak akan tinggal di sini lagi," ujar Karina. Bayu diam dan berpikir.
"Okelah. Tapi Bayu akan sering mengunjungi kakak nantinya sama Mama dan Papa."
Bayu tersenyum ke arah Maria dan Amri. Maria dan Amri berpandangan dan mengangguk.
"Ya sudah. Ar sama Karina pamit ya Ma," ujar Arion mencium telapak tangan kanan Maria dan memeluk Amri ala pria.
"Hati-hati. Jaga kesehatanmu dan anakmu Karina."
Maria mengelus kepala Karina saat Karina mencium telapak tangannya.
"Oke Ma," jawab Karina.
Arion dan Karina segera menuju mobil. Mereka membawa mobil masing-masing. Karina yang setia dengan mobil putihnya dan Arion yang membawa mobil hitam favoritnya. Mereka berjalan beriringan keluar dari kediaman Wijaya.
Lalu lintas yang lumayan padat akibat weekend membuat jarak tempuh menuju kediaman Karina lumayan lama. Biasanya empat puluh lima menit sudah memasuki gerbang rumah Karina. Sedangkan sekarang, masih berada di jalan.
Pukul 16.40 akhirnya mereka tiba di kediaman Karina. Indahnya pohon pinus dan cemara menyambut mata. Para pelayan Karina segera berbaris rapi menyambut kepulangan majikan mereka.
"Selamat datang kembali Nona," sambut Pak Anton mewakili para pelayan.
Karina mengangguk dan segera melangkahkan kakinya memasuki rumah, diikuti oleh Arion. Tak ada yang berubah. Tetap sama, selama ditinggal olehnya, para pelayannya sangat rajin membersihkan rumah, debu pun tak ada yang menempel. Karina mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Bik Mirna menuju kamar Karina untuk meletakkan koper Arion.
Arion meregangkan tubuhnya sejenak dan duduk di samping Karina. Tak lama, pelayan menyajikan minuman dan makanan ringan di meja.
"Kamu masih memikirkan kejadian tadi?" tanya Arion yang melihat wajah lesu Karina.
"Entahlah Ar. Aku berniat membongkar makam Enji untuk memastikan apakah itu Enji atau bukan," jawab Karina.
Karina memang masih ragu dengan niatannya. Enji meninggal dalam pelukannya, dia melihat sendiri saat detak jantung Enji berhenti berdetak. Serta hembusan nafas terakhir Enji masih tersimpan rapi di ingatan Karina.
Akan tetapi sosok di mobil putih itu sangat mengganggu pikirannya. Pagi setelah Enji meninggal, mayatnya langsung dibawa ke pemakaman, tak disemayangkan lagi di rumah duka. Dan setelah Enji meninggal dalam pelukan Karina, Karina tak menengok lagi mayat yang dimakamkan itu.
Rumah sakit miliknya tak mungkin melakukan penukaran mayat atau keliru saat memulangkan jenazah. Satu-satunya cara adalah memastikan siapa yang dikubur dengan nama nisan Enji itu.
"Sayang, kamu yakin? Bukankah itu akan menganggu istirahat Enji?"Arion tak setuju niatan Karina. Hanya gara-gara sosok sekilas lihat, harus membongkar makam?"
"Aku harus melakukannya untuk meyakinkan diriku. Jika memang mayat itu Enji, maka pikiranku bisa tenang. Jika memang bukan, lantas di mana Enji sekarang? Mengapa dia memalsukan kematiannya? Apa alasannya!" tegas Karina, namun dengan suara tak menentu. Masih terselip keraguan di mata dan suaranya.
"Baiklah. Jika itu bisa membuatmu tenang, maka lakukanlah. Tapi kau harap kau memikirkannya kembali," ujar Arion memeluk pinggang Karina. Karina menyandarkan pundaknya di dada Arion.
__ADS_1
Hatinya muram, tak ceria bagai senja di luar. Senja yang indah pun tak mampu menenangkan Karina. Hanya ada satu cara, jawaban pasti akan keraguan hatilah yang membuatnya tenang.