
Pukul 20.00 malam, Amri bersama Maria tiba di ruangan Arion. Keduanya mengernyit melihat ada banyak orang di dalam sana. Posisinya membelakangi mereka. Mereka tak bisa melihat wajah para pria itu.
Bukankah kedua orang ini tidak punya banyak teman? Malah jantan semua lagi, batin keduanya saling tatap. Langkah mereka masih terhenti di daun pintu.
Karina yang sedang menyuapi Arion makan menoleh dan tersenyum mendapati kedua orang itu.
"Mama sama Papa datang," ucap Karina pada Arion.
"Benarkah?" tanya Arion.
"Hm, Ma, Pa ngapain bengong di sana? Ayo masuk dong," ujar Karina pada kedua mertuanya.
"Eh iya," sahut Maria tergagap. Dengan langkah penasaran keduanya melangkah masuk. Blue Boys sedang menikmati makan malam mereka juga , duduk setengah lingkaran mengikuti bentuk sofa.
Meja penuh dengan santap makan makan dan antek-anteknya. Mereka hanya fokus pada apa yang di hadapan mereka. Tak peduli dengan yang lain.
"Lah mereka kan," tunjuk Amri setelah melihat jelas wajah ketujuh member.
"Iya Pa," jawab Karina menyela ucapan Amri.
"Kok bisa mereka di sini?" tanya heran Maria.
"Karina booking Ma," sahut Arion.
"Astaga?!" Amri dan Maria mengelus dada mereka. Di saat para fans setia mereka ingin bertemu walau di alam mimpi dan nyata pastinya, anak dan mertuanya malah tinggal satu atap.
"Woi hening dan fokus serta khidmat sekali kalian makan, salami tuh Mama dan Papa saya," tegur Karina. Membuat ketujuh orang itu mengangkat wajah dan tersenyum.
"Hallo. We are Blue Boys," sapa ketujuh member seraya membungkuk. Mereka kemudian bangkit seraya mengelap bibir mereka dengan tisu dan menyalami Amri dan Maria.
"Nice too meet you," ujar Amri.
"We too," balas Koya.
"Hyung, kami lanjut makan ya, nanggung," ujar Kuki.
"Hm," gumam Karina.
Amri dan Maria kemudian mendekati ranjang Arion. Maria dengan lembut mengusap rambut anak sulungnya tersebut.
"Doain ya Ma, supaya besok lancar," pinta Arion.
"Tentu saya, Mama sama Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, dan kita semua tentunya," ucap Maria menyentil kening Arion.
Arion meringis sakit. Ia mencembikkan bibirnya. Karina terkekeh dengannya.
"Cepatlah sembuh. Papa sudah lelah dengan perusahaan. Rasanya tubuh rentaku ini ngilu tiap malam setelah seharian bekerja," ucap Amri.
"Makanya Papa doain Arion. Arion juga kangen bekerja dan memerintah. Ah ya apa Papa tahu Ferry sudah sadar?" Arion bertanya dengan wajah penasaran.
"Ferry sudah sadar? Benarkah itu? Karina?" tanya Maria seraya menggerakkan tangannya.
Karina menangguk. Otomatis kedua orang itu mengucap syukur.
"Aneh mengapa Ayahnya tak memberi tahu kita? Ada masalah apa lagi dengan Ferry?" tanya Amri merasa janggal.
"Ya dia amnesia, Papa tahukan dia luka seriusnya di kepala," jawab Arion.
"Huh, semoga dia cepat mendapatkan ingatannya lagi," harap Maria. Karina, Arion dan Amri mengangguo menyetujui.
"Em Hyung," panggil Agus mengangkat salah satu tangannya.
"Ya?" sahut Arion.
"Dari dari kami kalian menyebut nama Ferry, Ferry itu siapa? Adikmu Hyung?" tanya Agus, mewakili rasa penasaran keenam lainnya yang sedari tadi menyimak.
Mang serta RJ dan Kuki membersihkan meja seraya menoleh serentak ke arah Karina dan Arion.
"Dia itu sekretarisku. Tapi sudah seperti adik bagiku," jelas Arion.
"Oh begitu. Semoga dia cepat sembuh ya," harap Tata.
Amri dan Maria lantas menuju sofa, duduk bergabung dengan para darah muda. Mereka bertukar cerita. Menyampaikan pengalaman mereka tanpa canggung serta juga cerita hidup mereka. Amri dan Maria juga memberi sedikit nasehat dan juga pengalaman hidup mereka.
Termasuk cara mereka bersatu. Para daun muda itu mendengarkan dengan serius. Mereka berbicara dalam bahasa Inggris. Keduanya belum tahu bahwa di masing-masing telinga Blue Boys adalah alat yang dapat menerjemahkan bahasa apapun ke dalam bahasa yang dipahami oleh mereka.
"Ma, Pa semuanya, Karina keluar sebentar ya," ujar Karina berjalan mendekati sofa. Arion sudah tertidur.
"Mau ke mana?" tanya Maria.
"Iya sudah jam segini mau ke mana?" timpal Amri seraya melihat jam tangannya.
"Keluar bentar Ma, Pa Karina ada urusan penting banget," tegas Karina.
__ADS_1
"Sepenting apa? Ini sudah malam loh. Kasihan kandungan kamu. Sebaiknya kamu istirahat saja," saran Maria khawatir jika Karina keluar sendirian.
"Sangat penting Ma. Karina mau ke lantai atas. Karina gak lelah kok, kalau gitu Karina pamit Ya, Assalamualaikum," pamit Karina menyalami singkat Amri dan Maria lalu ngacir keluar ruangan, tanpa menunggu persetujuan keduanya.
"Waalaikumsalam," balas Amri dan Maria refleks.
"Papa gak yakin dia ke lantai atas," ujar Amri curiga.
"Memangnya itu hal yang aneh bagi Karina? Papa lupakah siapa menantu kita itu?" tanya Maria.
"Hm, tidak mungkin Papa lupa siapa dia," jawab Amri.
"Mau ke mana tadi dia?" tanya Koya.
"Ke lantai atas kalau gak salah," jawab Mang.
"Mengapa?" tanya Kuki.
"Aku mau ikut," ucap Koya berdiri. Ia membungkuk sedikit pada Amri dan Maria dan segera menyusul Karina.
"Kalian mau ikut juga?" tanya Maria lembut.
Keenam member saling tatap dan mengangguk. Mereka mengikut leader mereka.
"Sudah sana, pakai masker dan topi kalian, awas ketahuan para fans kalian. Kalau tidak aku tak tahu kalian jadi apa nantinya jika itu terjadi," ucap Amri.
"Baik," jawab patuh keenamnya. Segera bangkit dan menyusul leader mereka.
****
Di luar ruangan Arion, tepatnya masih di depan pintu. Keenamnya mengedarkan pandangan mencari jejak Koya dan Karina.
Mereka menemukan sang leader berada di depan pintu ruangan yang berjarak dua ruangan dari ruangan Arion. Agus memberi kode agar mereka menghampiri leader mereka itu.
"Mana Karina?" tanya Kuki.
"Masuk ke dalam ruangan ini," jawab Koya.
"Kita masuk atau menunggu di sini?" tanya Kuki lagi.
"Di sini sajalah. Itu mungkin ada hal pribadi," ujar Chimmy.
"Ya aku setuju, kita tunggu saja Karina keluar," timpal Mang.
Sekitar lima belas menit kemudian, Karina keluar dengan wajah datarnya. Ia tersentak dan mengerjap melihat ketujuh orang yang tidur saling bersandar bahu di depannya.
Karina menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli. Karina segera mendekati mereka.
Karina memilih membangunkan sang leader dulu. Ia adalah pangkal dari sandaran para membernya.
"Ayo, kalian tidur di penthouse saja. Di sini dingin dan banyak nyamuknya," ajak Karina tersenyum seraya menepuk pundak kiri Koya.
Koya menggerakkan kelopak matanya dan menguap sekali. Matanya serasa buram, rasa kantuk sudah naik ke ubun-ubun.
"Baiklah," sahut Koya, membangunkan berantai anggotanya. Dengan wajah yang sudah kusut, mereka dengan langkah gontai dan menguap beberapa kali mengikuti ke mana arah langkah Karina.
Tak perlu waktu lama, kini mereka telah berada di pentahousenya. Konsepnya sama saja dengan pentahouse yang berada di setiap bangunan besar yang ia bangun. Karina mencari saklar dan menghidupkannya.
"Tidurlah di mana kalian mau tidur. Tapi di sini hanya ada satu kamar, ranjangnya mampu menampung kalian semua," ujar Karina.
Ketujuh member itu segera menuju kamar yang Karina tunjuk. Sebelum tidur mereka pastinya gosok gigi dan melakukan rutinitas sebelum tidur.
Sedangkan Karina duduk di sofa yang tepat berada di samping jendela kaca, Karina membuka lebar tirainya. Laptop berada di pangkuannya.
Karina memeriksa laporan yang dikirimkan oleh para tangan kanannya. Di sampingnya juga terdapat sebuah meja, di atasnya terdapat segelas coklat panas. Karina dengan kacamatanya dengan serius mengerjakan pekerjaannya.
Tepat tengah malamlah barulah Karina menutup dan menyimpan laptopnya. Karina menguap sesaat dan mengucek matanya. Rasa lelah menyapanya.
Karina menenggak sisa coklatnya lalu berdiri. Ia berjalan menuju kamar untuk melihat para member tidur. Setelah memastikan semuanya aman, barulah Karina melangkahkan kakinya menuju kembali ke ruangan Arion. Tak enak juga rasanya ia belum kembali, sedangkan Amri dan Maria masih di sana.
Keadaan benar-benar sepi. Karina dengan wajah datarnya dan tatapan fokus ke depan melangkah tanpa rasa takut. Udara dingin menyapa kulitnya yang tak terlindungi oleh sweaternya.
"Halo, masih betah saja kamu di situ," sapa Karina berhenti dan melirik ke arah salah satu sudut koridor yang ia lewati.
"Kalau begitu jangan mengganggu ya," ucap Karina datar dan kembali melangkahkan kakinya.
"Hais, ada-ada saja ulah penghuni rumah sakit ini," keluh Karina melihat ke arah kanannya, tangannya telah berada di gagang pintu.
"Hai," sapa Karina. Setelah itu Karina memutar gagang pintu dan masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Di dalam, Karina tak menemukan kedua mertuanya, malah menemukan Enji dan Bayu yang tidur berpelukan di ranjang portabel. Karina menerka bahwa kedua mertuanya itu sudah kembali ke kediaman mereka tanpa pamit darinya. Tak masalah.
"Anak ini tahu saja," gumam Karina. Menarik dan membenarkan selimut yang melorot dari tubuh keduanya.
Setelah itu, Karina mengecek Arion sejenak kemudian kembali melangkah menuju sofa. Karina menaikkan kedua kalinya ke atas sofa dan membaringkan tubuhnya. Setelah membaca doa dan menyampaikan harapannya Karina memejamkan matanya untuk tidur.
***
Setelah beberapa jam penerbangan yang terasa sangat lama dan melelahkan, akhirnya Siska mendarat di negara F. Dengan memakai celana jeans dan baju kaos lengan panjang, serta kacamata hitamnya dan tas hitam di punggung, Siska berjalan melangkahkan kakinya keluar bandara.
Siska melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 10.00, artinya tiga jam ia mengudara.
Siska segera mencari taksi. Setelah dapat, Karina segera naik dan memberi tahu tujuannya.
Perasaan Siska campur aduk. Gelisah, sedih, senang dan was-was. Sepanjang jalan ia melihat ke arah gedung-gedung tinggi. Tangannya bersatu namun tak tenang. Dalam hatinya ia berharap agar Ferry mengenalinya.
"Non, sudah sampai," ujar sang sopir taksi menyadarkan lamunan Siska.
Siska mengerjap dan segera bertanya biaya taksinya.
Setelah pembayaran, Siska segera keluar dari taksi dan menatap bangunan empat lantai di hadapannya. Catnya didominasi warna biru dan putih. Tamannya rimbun dan hijau, membuat mata fresh kalah sudah jenuh dengan kesibukan aktivitas.
Siska segera menghibungi Wulan ketika tiba di lobby.
"Lan jemput Kakak di lobby ya, kakak gak tahu ruangan Kakak kamu di mana," ujar Siska.
"Kak Wulan gak di rumah sakit. Wulan di sekolah sekarang. Cuma Mama yang di sana," jawab Wulan.
"Kakak sudah sampai di rumah sakit?" tanya Wulan.
"Iya, makanya kakak minta jemput. Oh ya nama ruangan kakakmu apa? Biar kakak cari sendiri. Kasihan juga kalau Mama naik turun nanti," ucap Wulan.
"Oh oke kak. Ruangannya Lily nomor 2 lantai 3," tutur Wulan.
"Makasih ya," ujar Siska.
"Sama-sama kak," balas Wulan.
Panggilan segera berakhir. Siska melangkahkan kakinya mencari lift. Setelah menemukannya, dengan cepat Siska memasukinya dan menuju lantai 3.
Deting lift berbunyi setelah tiba di lantai tiga. Siska segera mencari nama ruangan yang Wulan sebutkan.
"Lily nomor 2," gumam Siska.
Setelah beberapa saat, akhirnya Siska menemukannya. Dengan hati berdebar-debar, Siska membuka perlahan pintu ruangan.
Saat pintu terbuka sempurna, Siska malah mengeryit mendapati Nia yang kebingungan. Terlihat Nia memijat pelipisnya dengan wajah gusar. Lebib heran lagi tak ada Ferry di dalamnya.
Siska segera menghampirinya.
"Ma," panggil pelan Siska.
"Eh Siska? Sudah datang saja kamu." Nia tampak kaget dan membulatkan matanya.
"Iya Ma. Baru saja tiba dan langsung kemari," jelas Siska.
"Oh, kamu sendiri?" tanya Nia. Siska mengangguk.
"Hm, Ferry mana ya Ma?" tanya Siska penasaran.
"Astaga! Nah itu dia, Ferry gak ada di sini, di koridor ini pun gak ada, dia melepas jarum infusnya secara paksa," panik Nia memegang tangan Siska.
Sisk berkerut dahi. Ia mencoba tenang dan berpikir jernih serta dingin. Tak langsung panik dan gelagapan.
"Papa sudah tahu?" tanya Siska. Nia menggeleng. Ia tak mau menambah beban pikiran sang suami. Siska menghela nafas dan tersenyum.
"Ayo kita cek CCTV, Ferry kan pasien ada nama Bos saya, jadi jika Ferry tidak ada di tempatnya, bisa mengerahkan seluruh kekuatan rumah sakit ini untuk mencarinya," ujar Siska mencoba menenangkan Nia.
"Baiklah, ayo," sahut Nia. Siska dan Nia mencari ruang CCTV. Letaknya di ruangan paling ujung koridor, benar-benar di pinggir.
"Tolong rekaman CCTV di depan ruangan Lily nomor dua sekitar lima belas menit yang lalu," pinta Siska menunjukkan kartu akses milik Karina yang memang sengaja Karina berikan, agar Siska tak menemukan hambatan selama di sini.
Petugas CCTV yang tahu kartu itu langsung membuka dan memperlihatkan rekaman CCTV.
Ternyata setelah diselidiki, Ferry keluar dari ruangannya berjalan berdasarkan arah langkah kakinya dan berakhir di taman utara rumah sakit. Duduk di salah satu bangku di bawah pohon mangga yang tengah berbunga lebat.
Setelah dapat lokasinya, Nia dan Siska segera mengucapkan terima kasih dan keluar menuju taman di mana Ferry berada.
"Ferry," panggil Siska dengan nada menahan tangis, tangannya menyentuh pundak Ferry dari belakang. Ferry menoleh ke belakang dan mendapati wanita yang mengaku sebagai ibunya dan wanita asing yang baru ia lihat, setidaknya setelah ia bangun dari koma.
"Ma," ujar Ferry pelan.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, lain kali jika mau ke mana-mana bilang sama Mama, biar Mama temani, jangan sendirian," ucap Nia mengusap rambut Ferry.
__ADS_1
Ferry mengangguk pelan. Ia beralih menatap Siska. Wajahnya bingung dan heran.
"Dia siapa Ma?" tanya Ferry menatap lekat Siska.